Saat Renji sadar, dia berada di ruangan gelap. Tangan dan kakinya terikat.
Di depannya, pria besar tadi menatapnya.
"Selamat pagi, bocah."
"Di mana teman-temanku?" Renji mendesis.
Pria itu tertawa. "Mereka masih hidup. Untuk sekarang."
Renji menggertakkan gigi. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin tahu… bagaimana kau bisa bertahan dari virus ini? Kenapa kau tidak berubah? Atau mungkin… kau sudah berubah?"
Renji tidak menjawab, tapi sesuatu dalam dirinya mulai bereaksi. Luka di tangannya yang seharusnya sembuh… berdenyut dengan warna hitam pekat.
Pria itu tersenyum. "Ya… kau berbeda. Kau bisa menjadi senjata yang sempurna."
Tiba-tiba, pintu ruangan meledak.
"Renji!" suara Aoi terdengar.
Aoi dan Kenta menerobos masuk dengan senjata di tangan. Tanpa pikir panjang, mereka menembaki pria itu.
Namun, sebelum mereka bisa kabur, pria itu tersenyum. "Bermainlah dengan ini."
Dari belakangnya, zombie raksasa muncul—berbeda dari yang lain. Matanya merah menyala, tubuhnya lebih besar dari manusia biasa.
Aoi menelan ludah. "Kita punya masalah."
Renji menarik napas, lalu merasakan sesuatu dalam dirinya…
Dan saat zombie itu menerjang, dia menyadari satu hal:
Dia bukan manusia biasa lagi.
To Be Continued…
Renji Akatsuki berlari secepat mungkin melewati gang sempit yang dipenuhi bau busuk. Keringat menetes di dahinya, namun ia tidak bisa berhenti. Di belakangnya, puluhan zombie bergerak liar, mulut mereka mengeluarkan suara geraman mengerikan.