Renji Akatsuki berlari secepat mungkin melewati gang sempit yang dipenuhi bau busuk. Keringat menetes di dahinya, namun ia tidak bisa berhenti. Di belakangnya, puluhan zombie bergerak liar, mulut mereka mengeluarkan suara geraman mengerikan.
"Sial!" Renji mengumpat sambil melompati pagar yang sudah berkarat. Tangannya hampir tergelincir, tapi ia berhasil mendarat di seberang.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari atas gedung.
DOR! DOR! DOR!
Beberapa zombie di belakangnya roboh dengan kepala hancur. Renji menoleh ke arah sumber suara dan melihat Aoi Kanzaki berdiri di atap sebuah bangunan, senapan di tangannya masih mengepulkan asap.
"Apa kau mau mati begitu saja, Renji?!" teriak Aoi.
Renji mengangkat bahu sambil tersenyum kecil. "Aku hanya ingin sedikit olahraga."
"Dasar bodoh! Lari ke arah kanan, aku akan menutup jalan mereka!"
Renji menurut dan berlari menuju sebuah gedung tua tempat mereka bersembunyi. Begitu ia sampai, seseorang menariknya masuk dan segera menutup pintu.
"Kau selalu membawa masalah," ujar Kenta Sagara, pria bertubuh kekar dengan mata tajam seperti elang.
Renji terkekeh. "Setidaknya aku masih hidup."
Di dalam ruangan yang remang-remang, mereka melihat Dr. Shiori Nakamura duduk di sudut, mengamati monitor kecil yang menunjukkan kondisi kota. Wajahnya serius.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama. The Warlord dan anak buahnya sedang bergerak ke arah selatan, mendekati tempat ini," kata Dr. Shiori.
Aoi menggertakkan giginya. "Para zombie saja sudah cukup buruk, sekarang kita harus berurusan dengan manusia gila itu juga?"
Renji menghela napas. "Kita harus pergi sebelum mereka menemukan kita."
Namun, tepat saat itu, suara keras terdengar dari lantai atas.
BRAK! BRAK!
Langkah kaki menghentak, dan suara erangan terdengar semakin dekat.
"Kita kedatangan tamu," bisik Kenta sambil mengangkat kapaknya.
Renji meraih pisaunya, sementara Aoi mengokang senapannya.
Pintu di lantai atas terbuka paksa, dan seseorang terjatuh ke bawah. Tubuhnya penuh darah, tapi itu bukan zombie. Itu seorang pria dengan seragam militer yang sudah lusuh.
"To...long..." suaranya lemah, lalu kepalanya meledak seketika oleh sesuatu yang bergerak di belakangnya.
Mereka semua terkejut saat melihat sesosok zombie aneh dengan tubuh yang jauh lebih besar dari biasanya. Kulitnya kelam dengan urat merah menyala. Ia mengeluarkan raungan mengerikan sebelum melompat ke arah mereka.
"Lari!" teriak Dr. Shiori.
Zombie raksasa itu mengayunkan lengannya dan menghancurkan meja di dekat mereka. Debu beterbangan.
Aoi langsung melepaskan tembakan bertubi-tubi ke kepalanya, tapi makhluk itu tak juga tumbang.
"Ini bukan zombie biasa!" seru Kenta.
Renji merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya tiba-tiba bergetar, matanya memanas. Darahnya terasa bergejolak. Lagi.
Tapi ini bukan waktunya untuk berpikir.
Renji menerjang ke depan, melompat ke punggung monster itu, dan menusukkan pisaunya ke tengkuknya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.
"MATI KAU!"
Zombie itu menggeram keras dan bergetar sebelum akhirnya jatuh ke lantai dengan suara dentuman keras.
Hening.
Semua orang menatap Renji dengan ekspresi terkejut.
"Apa yang barusan kau lakukan?" tanya Aoi, matanya menyipit curiga.
Renji terengah-engah. Ia menatap tangannya yang bergetar, menyadari bahwa kukunya mulai memanjang, pupil matanya berpendar merah untuk sesaat sebelum kembali normal.
"Aku... aku juga tidak tahu," jawabnya.
Namun sebelum mereka bisa mendalami apa yang terjadi, suara kendaraan terdengar dari luar.
The Warlord telah tiba.