Suara mesin kendaraan berat menggema di luar gedung. Renji dan kelompoknya langsung bersembunyi di balik reruntuhan sambil mengintip ke luar jendela.
Di jalanan yang dipenuhi mayat, puluhan pria bersenjata lengkap turun dari truk lapis baja.
Di tengah mereka berdiri seseorang dengan mantel hitam panjang, tubuhnya tegap, wajahnya tertutup separuh topeng besi. Dialah The Warlord, pemimpin kelompok bandit yang menguasai kota-kota mati.
"Orang ini bukan musuh biasa," pikir Renji.
"Keluar dari persembunyian kalian," suara The Warlord menggema melalui pengeras suara di bahunya. "Kami tahu kalian di dalam."
Kenta mengepalkan tinjunya. "Kalau kita tetap diam, mereka akan menyerbu masuk."
Aoi menatap Renji. "Apa rencanamu?"
Renji menarik napas dalam. "Kita harus mencari celah untuk kabur."
Namun sebelum mereka bisa bergerak, suara tembakan terdengar.
DOR! DOR!
Peluru menghantam dinding dekat mereka, membuat debu beterbangan.
"Dengar baik-baik," lanjut The Warlord. "Kami hanya menginginkan bocah itu… si kebal."
Renji membelalak. Bagaimana mereka tahu tentang itu?
Dr. Shiori mencengkeram lengan Renji. "Mereka pasti punya informan atau alat pelacak. Ini buruk."
"Tidak ada waktu untuk berdebat!" Kenta melirik ke arah pintu belakang. "Kita harus keluar lewat sana!"
Mereka segera bergerak, tapi tepat saat itu, sebuah granat gas dilempar masuk melalui jendela.
PSHHH!!
Asap putih menyebar dengan cepat. Napas Renji mulai berat, pandangannya berputar.
"Tutupi hidung kalian!" Aoi berusaha menahan batuk.
Namun semuanya terlambat.
Dalam hitungan detik, Renji kehilangan kesadaran.