Affandi masuk ke ruang Arion setelah sebelumnya mengetuk pintu besar nan kokoh itu. Membuka pembicaraan tanpa bertele-tele dan langsung menuju pada pokok inti permasalahannya.
Arion memindai dari berkas satu ke berkas yang lain. "Jadi dia pemilik ketiga Paradise itu?" tanya Arion.
Affandi mengangguk. "Benar tuan, Paradise Life berupa resto dan cafe. Paradise Night sebuah club, dan Paradise Food berupa rumah makan lesehan yang berada di daerah Sedati."
Arion mengangguk samar, "Usianya masih 28 tahun dan sudah memiliki 3 usaha sekaligus. Hebat sekali dia. Apa dia sudah menikah?"
"Belum Tuan. Dia juga memiliki rumah di Citraland."
"Wow! Kenapa dia tak membeli rumah di Graha Famili saja? Aku rasa salah satu usahanya ini bisa berdiri kokoh disana."
"Mungkin dia menyukai perumahan Singapura of Surabaya itu, Tuan."
Arion bergeming. Di kawasan elite Citraland itu harga rumah tidaklah murah. Akan tetapi, lelaki semuda Gaara bisa membeli salah satunya disana. Dia dibuat semakin penasaran dengan sosok Gaara. Arion bahkan berfikir jika Lova tak salah memilih pria untuk bersanding dengannya.
"Dia bangkrut?" Arion menunjuk salah satu berkas di meja dengan pulpennya.
"Bukan bangkrut, Tuan. Tapi pemindahan kepemilikan. Dan dia adalah ayahnya sendiri, Muga Hardi Kusuma." jelas Afandi.
"Apa ayah dan anak itu memiliki hubungan yang tidak baik? Aku lihat disini Gaara membutuhkan kucuran dana." tanya Arion lagi.
"Ada sesuatu yang mendasari hal itu, Tuan. Tapi saya benar-benar tidak bisa mendapatkan informasi perihal itu. Untuk data-data ini saja saya harus melakukan kerja extra."
Arion terkekeh. Ini seperti sebuah jalan menuju Gaara. "Biar aku sendiri yang akan menemuinya," ucap Arion. "Siapkan mobil sekarang."
Affandi mengangguk.
#
Kenop pintu ruang rawat inap Lova berputar dan pintupun terbuka. Seseorang dengan gaya rambut man bun itu melangkah masuk. Di lihatnya sosok gadis manis tertidur lelap. Tak ada siapapun yang menungguinya. Suster juga tidak ada.
Lelaki itu mendekati Lova, "Apa aku mengenalnya?" lirih pria itu.
Lova perlahan membuka matanya lalu terpejam kembali. Namun di detik berikutnya matanya terbuka lebar. "Gaara!!" pekiknya senang. Tangannya ingin menggapai badan Gaara yang memang berdiri 3 langkah lebih jauh dari ranjang Lova. Mengabaikan infus yang masih tertancap rapi dipunggung tangannya.
Melihat Lova akan jatuh, Gaara sontak mendekat dan menahan tubuh Lova. Tak menyia-nyiakan hal itu. Lova langsung memeluk erat tubuh tegap nan berotot milik Gaara.
Pria itu meringis, tangannya reflek terangkat ke atas seperti napi yang siap menyerahkan diri pada polisi. Posisi mereka sungguh menggelikan. Beberapa menit telah berlalu dan posisi mereka masih tetap sama. Gaara sedikit pegal dengan posisi seperti itu.
"Gaara, aku merindukanmu." Lova terlihat begitu bahagia. Dia tak jua melepas pelukannya. Gaara akhirnya melepas secara paksa. Dirinya sungguh tak nyaman dengan wanita ini.
Lova menatap Gaara denga mata berkaca-kaca, "Kenapa baru datang? Aku sudah kelaparan menunggumu. Kata mama tadi kamu masih di jalan. Jadi, aku menunggu untuk kamu suapi," celoteh Lova seraya menghapus air mata bahagia-nya.
Gaara masih diam bergeming. Retina hitam pekat milik pria itu menatap Lova dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Gaara?" panggil Lova lagi. Dia sedikit kesal dengan Gaara yang sejak tadi hanya diam saja.
"Apa aku mengenalmu?"
Blammm!!!
Hati Lova hancur seketika. Dia Gaara, orang yang selalu dicintai oleh Lova. Seseorang yang begitu berarti bagi Lova setelah kedua orang tuanya. Tapi dia sama sekali tidak mengingat Lova barang sedikit. Apa tak seberarti itu Lova bagi Gaara?
"Kenapa kau mencariku? Aku bahkan tak mengenalmu? Apa kau salah satu dari wanita yang pernah aku koleksi di masa lalu? Jika iya, maafkan aku. Aku sudah beristri sekarang. Aku juga sudah memiliki seorang anak yang lucu. Aku ingin mengajaknya kesini tadi, tapi istriku tak menginjinkannya," ucap Gaara.
"K-k-amu sudah menikah?" suara Lova terdengar bergetar. Air matanya luruh tanpa bisa ditahan.
Gaara mengangguk.
Sedetik kemudian pintu ruang rawat terbuka dari luar. Ada suster yang membawa nampan untuk makan siang Lova. Suster tersebut tampak terkesima dengan ketampanan Gaara, hingga membuat nampan itu hampir saja jatuh.
Melihat hal itu, Gaara yang tadinya bersedekap d**a segera menghampiri suster dan mengambil alih nampan di tangannya. "Biar aku saja yang menyuapinya," ucapnya. Lalu, duduk di kursi samping ranjang Lova.
Sekalipun keberatan, pria tampan yang mengikat sedikit rambutnya itu memang memiliki kepribadian yang lembut. Kebohongan yang baru saja terucap membuatnya merasa bersalah. Namun, sebisa mungkin dia menekan rasa bersalah itu kuat-kuat.
"Kau bilang tadi menungguku untuk menyuapimu. Sekarang aku sudah disini menyuapimu, setelah ini jangan menungguku lagi. Hiduplah dengan baik sekalipun tidak bersamaku."
Gaara mulai menyuap Lova sesendok demi sesendok. Lova menikmati setiap suapan bubur dari tangan pria yang dinantikan itu. Walau sebenarnya dia sudah tidak selera makan. Hatinya hancur, Gaara sudah menikah. Bahkan sudah memiliki anak. Jelas sudah, tak ada harapan lagi untuknya.
"Apa..... kau.... sungguh sudah menikah?" tanya Lova ragu.
Gaara mengangguk. "Habiskan, tinggal satu sendok lagi." ucapnya acuh dengan suasana hati Lova yang jelas-jelas sangat hancur.
'Aku harus segera pergi dari sini,' pikirnya. Dia sungguh tak tega melihat gadis yang bernama Lova ini menangis lagi.
Suapan terakhir. Gaara menunggu Lova menelan buburnya. Kemudian mengambil segelas air hangat dan mengarahkan sedotan ke mulut Lova. Gadis itu minum dengan baik. Pandangannya tak lepas dari wajah tampan di hadapannya.
Gaara yang sudah terbiasa dengan lawan jenis yang selalu memujanya, tentu nampak biasa saja.
"Tugasku sudah selesai. Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik dan semoga cepat pulih. Carilah laki-laki yang lebih baik dariku, Lova!" setelah mengatakan itu, Gaara pergi begitu saja.
'Satu masalah, sudah selesai.' pikirnya.
Lova memandangi punggung Gaara yang hilang dibalik pintu. Buliran bening itu jatuh lagi dari pelupuk matanya.
'Perlakuan Gaara ini sungguh kejam' batin Lova sakit.
Sangat sakit. Gaara dengan sangat manis menyuapinya makan. Tapi setelah itu pergi dengan mengucapkan kata perpisahan. Lova meneteskan air matanya lagi dan lagi.
Tepat saat Gaara keluar dan berjalan ke arah kanan lorong rumah sakit. Saat itu pula muncul Dewanti dari sisi kiri lorong rumah sakit tersebut. Berbelok ke kanan dan sempat melihat pria tegap berbaju hitam lengan panjang berjalan dengan santai. Namun, ibu paruh baya itu tak memikirkan apa-apa. Dia lalu membuka pintu dan mendapati Lova menangis sesenggukan.
"Kamu kenapa, Lova sayang?!" Dewanti segera menghampiri Lova dengan raut panik. Gadis itu memeluk ibunya dengan isakan tangis tiada henti. Dewanti sampai bingung harus bagaimana.
"Lova." Dewanti mengusap punggung anaknya dengan sayang.
"Gaara, Ma. Dia sudah menikah." lagi, Lova menangis sejadi-jadinya.
"Darimana kamu tau, Va? Itu tidak benar," ucap Dewanti terkejut.
"Dia sendiri yang bilang, Ma. Dia tadi dari sini. Gaara, Ma. Gaara dari sini..... hiks..." Lova masih terus menangis.
Dewanti dibuat bingung dengan ucapan anaknya itu. Info yang di berikan Affandi mengatakan jika Gaara belum menikah. Tapi kenapa tiba-tiba Lova menangis dan berkata yang sebaliknya?
"Apa Gaara dari sini?" tanya Dewanti memastikannya lagi. Dan hanya dibalas anggukan oleh sang anak. Ibu itu kemudian melihat ada bekas makan yang sudah kosong. Itu artinya Lova sudah makan.
"Apa Gaara yang menyuapimu?"
Gadis yang masih menangis di pelukan ibunya itu mengangguk lagi.
Ibu itu berfikir, bukannya tadi Gaara menolak? Dewanti harus memastikan sesuatu, siapa yang salah informasi disini? Affandi atau Lova?
Lalu, atas dasar apa lelaki bernama Gaara itu kemari? Sehebat apa dia sampai Lova begitu memujanya?
***
apa yang sebenarnya terjadi, gaes? simak chapter selanjutnya yaakk ??