(Flashback on)
Gaara merebahkan dirinya di sofa yang berada di sudut ruang kerjanya. Kepalanya pening. Dia memijat pangkal hidungnya. Gaara tak ingin memikirkan seseorang bernama Lova itu. Tapi satu sudut hatinya berkata lain.
Dia melirik tong sampah di samping pintu, dilihatnya kertas yang tadi dia remas. Ya, Gaara sempat meraih kertas yang disodorkan Afandi tadi. Tapi, saat menaiki tangga, dia meremasnya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Haaah?!" desahnya kasar seraya meraup wajahnya. "Kenapa aku selalu merasa kasihan pada orang lain? Aku bahkan tak memgenal siapa gadis itu!" umpatnya kesal namun tetap berdiri dan memungut kertas bertuliskan nomor ruang rawat inap Lova.
"Rumah Sakit Premier Surabaya?" gumamnya pelan. "Orang tadi bilang kalau dia kecelakaan. Jika benar dia amnesia, seharusnya lupa segalanya bukan malah ingat satu nama." Gaara terus saja mengoceh seraya kembali ke sofanya.
Otak Gaara terus mengingat nama Lova. Namun dia tetap tidak ingat. Terlalu banyak wanita yang menemaninya di masa lalu. Hingga akhirnya, dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Devon. Dia lebih bisa diajak bicara daripada si tengil Arjuna.
"Ada apa? Kau ingin bantuan apa lagi sekarang? Alih pindahkan saja Paradise-mu itu pada ayahmu, Ga. Kamu sudah kalah sekarang. Dan menikahlah dengan Helena. Bukankah itu perjanjian yang kalian buat. Aku heran, ayah dan anak sama saja keras kepalanya," cerocos seseorang di sambungan teleponnya.
Gaara melihat layar handphonenya. Memastikan jika yang dia telepon adalah Devon, bukan Arjuna.
"Sejak kapan kamu bisa berkata sebanyak itu tanpa mengatakan hallo terlebih dulu? Aku hampir saja mematikan telepon ini karena ku pikir aku salah men-dial nomor Arjuna."
Seseorang itu terdengar berdecak, "Katakan! Ada apa?"
Nah, ini baru Devon. Dia selalu bisa menebak arah pikiran Gaara.
"Kau mengenal Lova?"
"Sialan! Kau menelponku di jam kerja hanya untuk menanyakan perempuan?" Devon terdengar sangat kesal.
"Aku serius, Dev." jawab Gaara malas. Gaara tau pasti Devon sedang sangat sibuk. Makanya nada bicaranya langsung meninggi.
"Aku tidak mengenalnya, kenapa tidak kau tanyakan saja pada Arjuna. Dia pasti kenal perempuan seisi Surabaya."
Gaara terkekeh, "Baiklah, aku tau kau sibuk. Kembalilah bekerja anak yang berbakti. Aku akan memastikan sendiri si Lova itu."
Gaara mematikan sambungan teleponnya. Dia jadi berfikir, apa dia menelpon Arjuna saja?
"Ah, tidak usah. Akan ku pastikan sendiri seperti apa Lova ini. Awas saja kalau tidak cantik. Akan aku hancurkan kepalanya," umpat Gaara seraya berjalan keluar dan mengambil kunci mobilnya.
(Flashback off)
***
Dan kini, Gaara termangu sendirian di rootof Paradise life. Sore hari di rootof adalah favorit Gaara. Dia sudah tidak pernah pulang ke rumah ayahnya, Muga Hardi Kusuma. Tentu saja semenjak ayahnya menikah lagi dengan Stevani. Perempuan yang dulunya adalah sekertaris ayahnya. Oleh karena itu, Gaara membeli rumah sendiri di Citraland. Perumahan dengan sebutan Singapura of Surabaya itu sangat membuat Gaara nyaman.
Gaara merindukan ibunya yang kini hidup bersama orang yang dia cintai di Australia. Tapi sejak 10 tahun terakhir, dia sama sekali tak mendengar kabar tentang wanita yang melahirkannya itu. Yang Gaara tau, ibunya menikah dengan milyader disana.
Stevani memperlakukan Gaara dengan baik. Tapi, entah kenapa Gaara merasa tidak nyaman tinggal satu atap dengan ibu tirinya itu. Namun begitu, lelaki itu selalu menyayangi adik tirinya, Eveline Nandira Kusuma yang kini berusia 8 tahun.
Gadis kecil itu sering datang ke rumah atau resto Gaara. Dia sangat manis dan selalu memanggil Gaara dengan sebutan Daddy. Awalnya Gaara menolak, tapi tangis Eve membuatnya tak bisa berkutik dan akhirnya panggilan Daddy tersemat dengan permanen pada sosok Gaara sejak gadis kecil itu berusia 5 tahun.
"Pak Gaara." panggilan itu membuat Gaara tersadar dari lamunannya.
"Tadi ada yang mencari, Bapak. Dia meninggalkan kartu nama. Berharap Pak Gaara akan menghubunginya," ucap Rose seraya memberikan kartu nama yang dia maksud.
"Apa kau tidak mengenal siapa dia?"
Rose menggeleng. "Tidak, Pak."
"Dia tidak mengatakan apapun lagi?" tanyanya sambil membaca nama di kartu itu. Apalagi ini? Tadi Affandi sekarang, "Arion?" gumamnya pelan membaca nama yang tertera disana.
"Dia ingin menemui Bapak. Itu saja."
"Baiklah, terimakasih. Kembalilah bekerja."
Rose mengangguk kemudian pamit. Perempuan berusia 35 tahun itu sudah Gaara rekrut sejak pembukaan awal Paradise Life. Kepiawaiannya dalam mengatur urusan menu sangat membuat Gaara bersyukur bisa memiliki pekerja seperti Rose.
***
Dewanti membereskan barang-barang milik Lova. Anak gadisnya itu tertidur lelap setelah minum obat. Dokter mengatakan jika Lova sudah diperbolehkan pulang besok. Gerakan Dewanti terhenti saat Arion masuk ke ruang rawat inap anak semata wayangnya itu.
"Sayaaang, dari mana saja kamu?"
"Tentu saja menemui Gaara."
Jawaban Arion membuat Dewanti segera mendekatinya. "Apa Gaara kesini karena kamu yang menyuruh?"
"Apa Gaara dari sini?" Arion nampak bingung. Karena dia belum bertemu Gaara. Saat dia mendatangi Kafe Paradise life bersama Affandi tadi, seorang pelayan memberi tahu jika bos-nya baru saja pergi.
"Lova bilang Gaara tadi dari sini dan menyuapinya makan. Tapi....."
"Tapi apa, Ma?" Arion mulai was-was. Apa terjadi sesuatu dengan Lova? Pikirannya mulai tidak enak. Pandangannya langsung tertuju pada Lova yang terlelap.
"Gaara sudah menikah, Pa. Lova baru saja berhenti menangis. Mama pikir, Gaara itu masih single sampai mama berfikir untuk menikahkan mereka saja."
Sontak Arion tertawa namun segera menutup mulutnya. Takut jika Lova terbangun dengan suara tawanya yang keras. Sementara istrinya mengerutkan kening. Tidak ada hal lucu disini.
"Papa, apanya yang lucu? Lova patah hati, Pa. Tapi, Papa malah tertawa?" Dewanti mulai emosi, kebahagiaan Lova adalah segalanya bagi Dewanti. Tapi suaminya malah menertawakan nasib anaknya.
"Mama tau darimana kalau Gaara sudah menikah?" tanya Arion yang langsung menghentikan tawanya. "Dia baru berusia 28 tahun. Dia belum menikah." Arion seraya memegang bahu istrinya. Meyakinkan bahwa ucapannya adalah benar.
Sekarang Dewanti yang kebingungan. "Tadi Lova bilang Gaara sendiri yang mengatakan hal itu."
"Ma, usaha Gaara sedang kacau. Kalau papa berada di posisi Gaara, papa juga akan mengatakan hal yang sama."
"Apa maksud, Papa?"
"Ketiga Paradise milik Gaara sebentar lagi akan alih kepemilikan. Dan yang mengintimidasinya adalah ayahnya sendiri. Mama tau? Siapa ayah Gaara?"
Dewanti menggeleng.
"Muga Hardi Kusuma."
Dewanti menutup mulutnya. Ya, dia kenal betul siapa Muga. Dia adalah kolega Arion. Hubungan mereka sangat baik. Apa ini suatu kebetulan?
"Apa ini suatu kebetulan?" Dewanti menyuarakan isi hatinya.
Arion menggeleng, "Entahlah, Ma. Gaara dan Muga sepertinya tidak memiliki hubungan yang baik. Muga berusaha merebut usaha Gaara. Entah atas dasar apa Muga melakukan hal sekejam itu."
"Apa kamu akan menanyakannya langsung pada Muga?"
Arion menggeleng, "Tidak, Sayang. Tapi aku akan melakukan rencana lain. Akan ku pastikan Lova memiliki Gaara."
Setelah mendengar penuturan sang istri, Arion bisa menyimpulkan jika Gaara bukanlah lelaki sembarangan.
"Rencana apa itu? Papa jangan macam-macam!" Dewanti mencoba memperingati.
"Ini urusan lelaki. Mama tenang saja. Papa tidak melanggar hukum hahaha..." jawab Arion. Namun dia segera menutup mulutnya. Tawanya seakan ingin meledak membayangkan Gaara akan tunduk padanya.
***
Gaara memarkirkan mobilnya tepat di depan Paradise Life. Matanya menyipit saat melihat sahabatnya bermain gila dengan kekasih barunya di dalam mobil yang terparkir tepat di sebelahnya.
Arjuna masih melumat bibir mungil Calista di dalam mobilnya. Gaara yang melihat hal itu dan hanya berdecih pelan. Bisa-bisanya Arjuna menjadi playboy tengik amatiran dan tidak berkelas seperti ini? Lelaki itu akhirnya menyeret langkahnya menuju mobil Arjuna yang terparkir rapi di pelataran Paradise Life.
"Tau tempat!" ucap Gaara seraya mengetuk kaca mobil temannya itu.
Sontak saja kedua insan itu salah tingkah. Arjuna segera menurunkan kaca mobilnya.
"Heii, Bung! Apa masalahmu?"
"Jangan sampai acara m***m kalian ini membuat Paradise Life ketiban sial," jawab Gaara lalu pergi begitu saja. Dia masuk ke kafe dan menuju ruang pribadinya.
"Sayang! Aku malu." suara Calista terdengar lain di telinga Arjuna. Lelaki itu menyeringai. "Sayang, suaramu terdengar seperti, aku mauuu?!"
Calista memukul lengan Arjuna pelan. "Dasar m***m! Antar aku pulang sekarang." Bahkan nada bicara Calista terdengar seperti rengekan seorang jalang bagi Arjuna. Namun, lelaki itu segera mengenyahkan pikiran-pikiran kotor itu.
"Kamu pulang naik taksi saja ya? Aku ada perlu dengan lelaki tadi."
Calista hanya mengangguk. Dia bisa berkencan dengan si tampan Arjuna saja sudah merasa sangat bahagia.
Setelah memastikan Calista pulang, Arjuna segera menyusul Gaara. Namun, belum sempat dia masuk, mata elangnya menangkap sosok teman baiknya, Devon.
Tak menunggu lama Devonpun menghampirinya. "Gaara udah datang? Tadi pas aku telfon katanya masih di rumah." tanyanya saat sudah berada di depan Arjuna.
"Udah. Tadi dia mergoki aku lagi enak-enaknya menikmati momen sama Calista." Arjuna memasang wajah kesal. Padahal, jika dipikir-pikir memang dia sendiri yang salah.
Devon terkekeh, "Kamu m***m dimana?" Devon sangat tahu karakter Arjuna.
Arjuna hanya menggerakkan dagunya ke arah mobilnya terparkir.
"Nah kamu yang gila, Jun! Hahaha...."
"Kayaknya Gaara kelamaan jomlo deh, Dev. Dia resek banget."
"Apa iya?" Devon berjalan masuk ke kafe di ikuti Arjuna.
Semua mata memandang pada dua pria berkharisma itu. Selain Gaara, dua temannya itu memang sangat tampan. Namun, hanya Arjuna yang selalu mempermainkan wanita.
Sebenarnya, mereka adalah 4 sekawan yang sangat mempesona, hanya saja Gama berada di Jepang sementara waktu untuk meninjau pekerjaan disana.
Devon mulai naik ke lantai dua diikuti Arjuna dibelakangnya. Resto dan kafe yang tidak pernah sepi pengunjung itu terlihat elegan dengan penataan desain sedemikian rupa.
Konsep Instagrameble yang diusung Gaara membuat Paradise Life semakin di kenal masyarakat awam. Hanya saja, kepemilikannya sebentar lagi akan beralih pada Muga, ayahnya.
"Ga," panggilan Devon membuat Gaara mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dia sedang mengecek pendapatannya hari ini.
"Kalian sudah datang."
"Ada apa?" seru Arjuna dengan wajah masam. Dia masih jengkel dengan perlakuan Gaara tadi.
Menyadari hal itu, Gaara tertawa geli. "Besok jangan kayak gitu lagi deh, Jun. Aku merasa hidupku akhir-akhir ini sial karena ulahmu."
"Kamu aja yang kelamaan jomlo. Makanya cari pacar sana! Apa gunanya pesonamu itu kalau pacar saja tidak punya? Unfaedah!" sentak Arjuna berapi-api.
"Ga, bisa kau pesankan aku kopi pada Rose. Kepalaku terasa pusing," ujar Devon mengabaikan pertengkaran antara dua sahabat itu. Gaara mengangguk. Dia lalu menghubungi Rose melalui intercom yang terhubung langsung dengan dapur restonya.
"Ga," panggil Devon lagi, "Tentang tadi siang, apa kau sudah menemui orang itu."
Gaara jadi ingat kejadian tadi siang bersama Lova. "Namanya Lova. Tapi setelah aku menemuinya, aku sama sekali tidak ingat siapa dia. Rasanya aku seperti mengingat seseorang yang tidak pernah aku kenal."
"Apa dia cantik sekarang?" tanya Arjuna antusias. Dia memang selalu cepat tanggap kalau urusan perempuan.
Gaara nampak berfikir. "Eemmmm... Sedikit."
"Lova?" Arjuna mengulang nama itu. Dia seperti ingat seseorang. "Memangnya ada apa dengan Lova?"
"Apa kau mengenalnya?" tanya Devon pada Arjuna bersamaan.
"Bukankah dia teman SMA kita." jawab Arjuna santai. Namun, tanpa dia sangka. Jawabannya itu membuat Gaara sontak berteriak.
"Apaaa?!"
Mungkin memang benar kata Devon tadi siang jika Arjuna mengenal wanita seisi Surabaya.
***