"Appaaa??!" teriak Gaara.
Devon mengernyitkan dahi mendengar jawaban Arjuna. Sementara Arjuna yang tadinya berbaring di sofa, kini menegakkan punggungnya. Memandang pada dua sahabatnya yang nampak aneh dimatanya.
"Kenapa kalian terkejut?" tanya Arjuna pada kedua temannya. Karena dia juga melihat raut Devon yang bingung.
Jelas saja Devon bingung. Kenapa tiba-tiba Gaara bertanya tentang Lova jika dia sendiri tidak mengenalnya?
"Ga, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Devon.
Gaara bangkit dari kursi kerjanya, dia segera duduk tepat di sebelah Arjuna. Matanya menyorot penuh tanda tanya pada playboy tengik itu. Dia bahkan mendekatkan wajahnya ke wajah Arjuna. Sontak saja membuat Arjuna memundurkan wajahnya. Kalau Calista yang seperti itu, akan dia sergap bibirnya. Hanya saja ini Gaara. Bukan Calista. Huh!
"Kamu serius kenal sama Lova?" Gaara mengabaikan Devon yang bahkan masih menunggu jawaban.
"Kenapa hanya aku? Kau, Kau, dan Gama, kita sama-sama mengenal Lova." ujar Arjuna sambil menunjuk Gaara kemudian menunjuk Devon.
Gaara mengalihkan pandangannya ke arah Devon. "Apa itu benar?"
Devon memutar bola matanya ke atas. Dia seolah membuka memori di otaknya. "Apa maksudnya Lova Meyga?" katanya kemudian. Dia baru ingat kalau memang ada adik kelasnya yang bernama Lova dulu.
Tapi percayalah! Gaara sama sekali tidak mengenal siapa Lova Meyga. Sungguh, dia bukan pelupa atau penyandang amnesia. Semakin dia ingin mengingat Lova, semakin sakit pula kelapanya.
Arjuna mengangguk. "Yang aku maksud memang Lova Meyga. Memangnya yang kamu maksud Lova yang mana?" Arjuna balik bertanya pada Gaara.
Gaara menghela nafas, "Sudah ku bilang! Aku tidak mengenal Lova!" sentaknya.
"Lalu, kenapa tadi siang kau menelfonku dan bertanya soal Lova?"
Gaara menyunggar rambutnya frustasi. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan kasar.
"Tadi siang ada seseorang yang menemuiku dan mengatakan jika orang yang bernama Lova itu kecelakaan. Dia koma 8 bulan. Setelah bangun dia berteriak-teriak memanggil namaku. Aku merasa ini sangat konyol. Aku pikir dia salah satu wanita yang dulu pernah ku kencani. Tapi, setelah aku melihat wajahnya di rumah sakit, aku sungguh tidak mengenal dia."
"Aku tau sewaktu kita masih SMA kau terkenal playboy, Ga. Tapi Lova memang salah satu di antara mereka," ucapan Arjuna di angguki Devon.
"Kalian jangan bercanda! Bagaimana mungkin kalian bisa berkata seperti itu sementara aku tidak merasa berpacaran dengannya!" Gaara masih kukuh pada dirinya sendiri. Dia sangat yakin jika tak mengenal Lova.
"Jun, yang ada di pikiranku adalah gadis yang ada di parkiran motor waktu kita masih SMA ." Devon berkata pada Arjuna meminta konfirmasi.
Arjuna meletakkan ponselnya ke meja, dia baru saja membalas pesan dari Calista, "Dia memang satu-satunya Lova Meyga yang aku kenal, Dev." jawabnya kemudian.
Gaara terbius! Tidak mungkin kalau dia adalah siswi gendut dan manja itu. Ya, Gaara sangat membenci siswi itu dulu. Gadis itu selalu menaruh makanan di motor sportnya. Tak jarang Gaara membuang makanan itu atau memberikannya pada temannya.
Pikiran Gaara melayang pada kejadian bertahun-tahun lalu. Mencoba mengingat masa-masa SMA. Dimana seorang siswi yang menurutnya aneh, selalu mengikuti dan menganggunya. Saking bencinya, dia juga tak ingin tahu siapa nama siswi aneh itu. Jadi, apa benar dia Lova?
"Ga," panggil Arjuna. "Kau sudah ingat sekarang?"
Gaara menoleh pada Arjuna dengan raut wajah yang tak bisa dijabarkan. "Apa dia siswi gendut dan manja itu?" tanya Gaara memastikan.
Arjuna mengangguk. "Hanya dia satu-satunya manusia yang memiliki nama Lova. Dan kau memacarinya hanya 5 menit. Jika aku jadi Lova, untuk melihat wajahmu saja aku tak akan sudi, Ga."
"Tidak mungkin!" bantah Gaara. Dia sungguh tidak ingin percaya dengan kenyataan yang menimpanya. Dia berharap semoga kedua temannya ini salah orang.
"Apanya yang tidak mungkin?" sahut Devon. "Memangnya seperti apa perempuan yang kamu temui tadi siang?"
"Aku tau, kau mengatakan sedikit cantik'kan tadi. Jadi bisa aku simpulkan kalau sekarang dia cantik. Iya kan?" tuduh Arjuna. "Iya'kan, Dev. Kamu setuju kan sama aku?" lanjutnya.
"Iya. Aku setuju, Jun. Terakhir kali Gaara mengatakan sedikit cantik itu hanya pada Mahda. Dan sekarang dia mengatakannya lagi." Devon menjentikkan jarinya.
"Ini takdir atau cinta sejati? Aku bahkan masih ingat apa yang kamu katakan padanya di hari itu," ucap Arjuna. "Ah, aku jadi penasaran. Seperti apa Lova sekarang." Arjuna terkekeh sendiri.
Sementara Devon mengangguk setuju dengan pernyataan Arjuna. Dia sambil memijit pelipisnya. Kepalanya masih terasa pusing. Dan obrolan tadi sedikit menyita rasa sakitnya.
Terdengar pintu di ketuk dari luar. Itu pasti Rose dengan kopi milik Devon.
"Masuk!!" Gaara sedikit terselamatkan dari olok-kan mereka.
Seorang pelayan dengan appron merah marun masuk. Rambutnya dia ikat tinggi. Nampan ditangannya mendarat sempurna diatas meja bundar di sudut ruangan itu. Gaara yang sedang kesal seketika salah satu alisnya terangkat heran ke arah Devon.
Lelaki itu menatap lekat pada sang pelayan yang sedang menaruh kopinya. Bola matanya terus bergerak seiring mendaratnya jus alpukat di depan Gaara dan kopi milik Arjuna. Ada sorot ketertarikan disana. Gaara sangat mengenal Devon, tentu saja dia seakan bisa membaca pikiran temannya itu.
"Namanya Marisa," ucap Gaara setelah pelayan tadi keluar. Gaara mencoba mengalihkan pembicaraan agar terhindar dari olokan mereka lagi.
"Aku tidak bertanya," sergah Devon.
"Oh, ya? Mungkin saja kau ingin tau."
"Kau ada penambahan karyawan?" tanya Arjuna.
Gaara mengangguk seraya meraih jus alpukat-nya. "Ketiga Paradise-ku semakin membaik. Tapi ayahku begitu kejam, dia mencekik-ku dengan bunga pinjaman. Dan beruntungnya dia, aku menandatangi perjanjian diatas materai."
"Kau dan ayahmu belum menemukan titik terang?" Devon seraya menyeruput kopinya.
"Aku rasa tidak ada yang salah dengan Helena. Kenapa kau terus saja menolaknya?"
"Aku tidak mencintainya. Jangan bahas Helena, perutku bisa mual!"
Tentu saja ada yang mendasari hal itu. Namun, Gaara tak ingin membahasnya.
***
Waktu terus berlalu, tahun berganti tapi dunia tetap gila. Segila perasaan Lova terhadap Gaara. Regina menyaksikan sendiri bagaimana Lova menangis di dalam selimutnya. Suaranya teredam di dalam sana.
Dia merasa aneh dengan temannya itu. Sudah 10 tahun berlalu tapi Lova masih memendam rasa yang begitu besar pada sosok Gaara. Terakhir kali yang terjadi saat itu adalah luka mendalam yang di goreskan Gaara di hati Lova. Dia dan Gisela melihat sendiri bagaimana Gaara memperlakukan Lova dengan tanpa perasaan.
"Va! Udah deh jangan nangis terus gitu. Kalau Gaara udah nikah ya udah, itu tandanya kamu itu nggak berarti apa-apa buat dia. Kayak laki cuma dia aja." Gisela menyibak selimut Lova. Lova meringkuk seperti bayi.
Susah seminggu berlalu, Regina menghabiskan waktu di rumah Lova. Dia sangat bahagia saat mendapat kabar jika Lova sudah pulang. Apa yang terjadi diantara dua temannya itu tentu saja membuatnya ikut merasa bersalah jua. Mau bagaimanapun, Regina yang mencekoki Gisela dan Lova alkohol.
"Tapi, Re. Aku cinta sama Gaara."
'Sepuluh tahun yang lalu Lova juga mengatakan hal serupa,' batin Regina.
"Itu sudah 10 tahun yang lalu, Va. Udah berlalu. Mending kamu sekarang mulai hidup yang baru."
Ya, hanya itu yang bisa Regina katakan. Tante Dewanti sudah menceritakan semuanya dan memberi ultimatum padanya untuk tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuat kepala Lova sakit. Jadi dia hanya menyambung ocehan Lova. Walau terkadang mulutnya tak bisa di-rem karena dia tipe wanita yang ceplas-ceplos.
Ah, seandainya saja Lova ingat apa yang pernah Gaara lakukan, dia pasti akan membenci lelaki itu seumur hidupnya. Seperti 10 tahun terakhir. Dia sama sekali tak membahas perihal Gaara.
"Aku pengen ketemu sama Gaara, Re." katanya masih dengan isakan tangis.
"Kamu mau jadi pelakor? Sekalipun jadi pelakor lagi nge-trend, aku saranin kamu nggak usah jadi salah satu orang nge-trend itu. Malu-maluin, Va."
Mungkin akan berbeda jika Gisela yang diajak bicara oleh Lova. Tapi sayang, tuhan sudah memanggilnya terlebih dahulu. Kebenaran tentang kematian Gisela juga disembunyikan pada Lova. Baik Regina atau Dewanti, mereka mengatakan jika Gisela pergi ke luar negeri.
Regina sempat mendebat Dewanti saat itu. Karena kebohongan satu pasti akan berbuntut pada kebohongan yang lain. Masalahnya, Regina ini tipikal orang yang ceplas-ceplos, dia takut kelepasan bicara di saat yang tidak tepat.
***
to be continue ........