Helena selalu tampil menawan dengan apapun yang melekat di tubuhnya. Dia berjalan dengan anggun dan wajah ramah seperti biasanya. Pagi ini gadis cantik itu sengaja berkunjung ke kantor Muga. Ada hal yang harus dia bahas dengan ayah Gaara tersebut.
Helena mengetuk pintu salah satu ruangan disana. Dia mengabaikan keberadaan sekertaris Muga. Tanpa menunggu sahutan dari dalam, dia memutar kenop pintu kemudian masuk begitu saja.
"Om, bagaimana? Apa Gaara belum mau menyerah?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Siapa yang bisa mengira jika dibalik wajah cantik dan ramah itu, tersemat watak yang tidak sabaran.
Muga menutup dokumen yang sedang di periksa-nya. Kemudian berdiri dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk di sofa yang menghadap ke jendela. Helena mengikuti perintah tanpa membantah.
"Om, aku ingin secepatnya menikah dengan Gaara. Apa Om tidak ada rencana lain untuk segera mengabulkan permintaan ku?"
"Sabar dulu, Helen. Gaara sebentar lagi pasti akan menikahimu. Kita hanya menunggu waktu saja," jawab Muga.
"Tapi, Om. Sudah hampir 8 bulan berlalu sejak Gaara masuk perangkap kita. Tapi sampai sekarang dia juga belum menyerah." protes Helena.
"Helen, Gaara sangat mengutamakan ketiga Paradise-nya. Dan sekarang ketiga Paradise itu ada di tangan-ku. Aku bahkan bisa saja mengambilnya dari Gaara besok ataupun hari ini. Tapi kamu tentunya tak ingin dia tau tentang rencana kita ini 'kan?"
Ketika pembangunan Paradise Food berlangsung, Helena dan Muga menyabotase beberapa bagian keuangan Gaara dengan sangat rapi. Ada keterlibatan beberapa tukang dan kontraktor juga pastinya. Di tambah lagi dengan runtuhnya bangunan lantai dua yang bahkan baru dua hari selesai di-cor. Kerugian Gaara tak main-main. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, bisa-bisa semua Paradise-nya di tutup pemerintah jika tak mengganti kerugian finansial.
Arsitek yang mendesain Paradise Food adalah Arjuna. Dia sudah memperingatkan Gaara jika ada orang dibalik semua kejadian ini. Tapi, Gaara tak pernah menganggap pendapat temannya itu benar.
Gaara berfikir rasional saja, jika sang kontraktor salah memilih kualitas bahan. Padahal, Arjuna adalah arsitek. Dia lebih tau akan hal itu.
"Tapi Om, aku sudah menunggu sangat lama."
"Sabarlah sebentar lagi, Helen."
Muga memang sengaja mengulur waktu. Meski begitu, pernikahan antara Helana dan Gaara pasti akan berlangsung. Mengingat janji antara dirinya dan alm. Adi Nugroho, ayah Helena.
"Kalau dalam dua minggu ke depan Om Muga belum bisa menepati janji. Aku akan memakai caraku sendiri." ancam Helena. "Om sangat tau, betapa aku terobsesi dengan Gaara. Dan lagi, papaku dan Om sudah menjodohkan aku dan Gaara sejak kecil. Aku harap Om bisa bersikap bijak."
Setelah mengatakan itu, Helena pergi begitu saja. Ketidak sopanan yang dimiliki Helena tentu menjadikan salah satu alasan Muga mengulur waktu. Sebenarnya Muga merasa ragu untuk menikahkan keduanya, tapi janji tetaplah harus ditepati.
Helena melangkah dengan mimik wajah penuh emosi. Namun ketika membuka pintu dan keluar, dia merubah mimik wajahnya seramah mungkin. Ada jiwa kemunafikan yang dibalut oleh indahnya penampilan dari seorang Helena Maudy Nugroho.
Dengan langkah pasti gadis berparas ayu itu melihat arlojinya. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya," gumamnya seraya membuka pintu mobilnya kemudian melesat ke Paradise life.
***
"Rose." panggil Gaara saat menuruni tangga kafenya dan melihat Rose melintas.
"Iya, Pak."
"Aku mau cek Paradise Food sebentar. Arjuna tadi bilang akan kesini mengambil flashdisk, aku menaruhnya di laci seperti biasa. Aku sudah menelponnya tapi tidak direspon." pesan Gaara panjang lebar yang di angguki Rose.
"Iya, Pak."
"Terimakasih, Rose. Aku pergi dulu." Gaara tersenyum.
"Iya, Pak Gaara. Hati-hati dijalan." jawabnya.
Namun saat membalikkan badan hendak keluar, senyumannya Gaara musnah. Retina matanya menangkap sosok gadis yang tidak ingin dia temui sedang menggeser pintu kaca. Gadis itu berjalan se-anggun mungkin saat mendekati Gaara.
"Hai, Ga." sapanya kemudian di iringi dengan senyuman manis. Namun terlihat pahit dimata Gaara.
"Kamu nggak lihat ada tulisan 'close' disana?" tanya Gaara sambil menunjuk pintu sliding yang baru saja di geser Helena.
Helena menoleh ke arah pintu, kemudian tertawa kecil, "Ya, aku melihatnya. Tapi aku juga melihatmu dari sana. Jadi aku masuk saja. Maaf aku lupa menutup pintunya kembali."
"Tidak usah! Aku akan menutupnya dari luar." Gaara beranjak melewati Helena begitu saja.
"Ga!" teriak Helena lantang.
Gaara yang mendengar pekikan keras itu sontak menghentikan langkahnya. Tak urung, teriakan Helena juga menarik perhatian beberapa karyawan yang bersiap untuk buka 1 jam lagi.
"Sampai kapan kamu bakalan nolak aku?"
"Sampai kapanpun." jawabnya setelah membalikkan badan menghadap lawan bicaranya.
"Ga! Kita sudah di jodohkan sejak kecil. Apa kamu lupa?"
"Aku tidak lupa. Tapi lebih ke tidak peduli."
"Apa yang kurang dariku, Ga?! Aku cantik, aku kaya, aku bahkan pintar." protes Helena. Matanya seketika terasa panas oleh respon Gaara yang selalu menolak dan selalu terkesan menghindarinya.
Ini pertama kali bagi Gaara meladeni Helena. Jika sebelumnya dia hanya akan pergi dan diam. Namun kali ini, kehadiran gadis itu sungguh membuatnya naik pitam. Dia sudah muak mendengar kata perjodohan dan pernikahan yang keluar dari bibir gadis itu. Beberapa karyawan menoleh satu sama lain. Namun, mereka hanya bisa diam dan menyaksikan.
"Kurang apa? Kau tidak kurang apa-apa, Helena. Benar adanya kalau kau cantik, kaya, dan pintar. Tapi aku mencintai gadis lain," ucap Gaara yakin. Padahal, dia tak tau gadis mana yang dia maksud.
"Apa dia lebih dariku?" Air mata itu sekarang sudah merebak tanpa permisi di wajah cantik Helena. Orang yang selalu dia cintai ternyata mencintai orang lain.
"Dia lebih segalanya darimu," jawab Gaara yakin.
Tidak mungkin! Gaara tidak pernah peduli dengan gadis manapun. Jika saja iya, Om Muga pasti akan memberitahu dirinya.
"Siapa?" tanya Helena menyelidik.
"Kau sungguh ingin tau?" Gaara melangkah mendekati Helena. Otaknya memutar nama siapa saja asal Helena pergi. Sama halnya ketika dia berada di rumah sakit tempo hari. Lelaki itu akan mengatakan apa saja asal Lova patah hati kemudian melupakannya.
Tunggu! Lova? Lova Meyga? Gaara ingat nama itu saat Arjuna dan Devon membahas tentang dirinya seminggu yang lalu.
"Namanya Lova. Lova Meyga."
"Tidak mungkin!!" teriak Helena.
Gaara benar-benar menyebut nama seorang wanita. Ini hal yang tidak mungkin bagi Helena.
Sementara itu, Rose ingin sekali menengahi pertengkaran itu. Tapi, Gaara pasti tidak akan menyukainya. Padahal, ada seseorang lain disana. Mendengar dengan jelas pertengkaran keduanya dari awal. Rose ingin sekali memberitahu keberadaan tamu tempo hari yang memberikan kartu nama itu. Tapi, tentu saja tidak bisa. Dan Gaara tak menyadari hal itu karena posisinya yang membelakangi pintu.
"Di dunia ini serba mungkin, Helena. Jadi lupakan saja tentang perjodohan dan pernikahan. Itu tidak akan terjadi karena satu-satunya wanita yang akan aku nikahi hanyalah Lova Meyga. Kau dengar?!" Ucap Gaara penuh penekanan.
"Ga! Kau sangat jahat."
"Dari awal aku sudah jahat, jadi berhentilah mengungkit tentang perjodohan dan pernikahan. Karena di antara kita sungguh tidak ada apa-apa. Jadi pergilah. Aku juga akan pergi ke rumah Lova. Aku sangat merindukannya," sahut Gaara asal.
Plaaakkk!! Satu tamparan mendarat di pipi kiri Gaara dengan begitu kerasnya. "Aku akan tetap meminta pada Om Muga untuk semuanya. Semuanya, Ga! Camkan itu!"
Ya, tentu saja Om Muga bisa mengatur semuanya. Ayah Gaara sendiri yang mengatakan jika Paradise milik Gaara sudah di tangannya.
Setelah mengatakan itu, Helena pergi dengan linangan air mata kesakitan. Dia tidak sengaja menyenggol bahu pria paruh baya yang berdiri terpaku di depan pintu. Alih-alih meminta maaf, Helena malah mengumpat tidak jelas. Namun, Arion tak menghiraukan hal itu.
Gaara meyunggar rambutnya. Dia frustasi, Helena terus saja begini tanpa mau berubah. Lelaki itu melihat Rose dan karyawan lain sedang memandang kasihan ke arahnya. Namun, menyadari tatapan Gaara mengarah pada mereka, sontak saja semua karyawan itu langsung bubar. Mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing karena 1 jam lagi Paradise Life sudah harus buka.
Saat membalikkan badan, jantung Gaara hampir saja lepas. Dia terkejut bukan main. Ada customer yang melihatnya bertengkar tentulah hal buruk. Dan itu bisa saja merusak reputasi cafe-nya.
"Selamat pagi, Pak Gaara." Afandi menyapa Gaara hanya untuk memecah keterkejutan disana. Sementara orang di depannya yang tak lain adalah Arion, mulai melangkah mendekati Gaara yang masih bergeming.
Lelaki yang tak lagi muda itu mengulurkan tangannya. Gaara refleks menjabat tangannya. "Aku Arion, orang yang menunggu untuk kau temui. Tapi sudah seminggu lebih berlalu kau tak datang juga."
"Gaara Kusuma." jawabnya singkat setelah sebelumnya memandang tangan mereka yang terpaut.
"Apa yang baru saja aku dengar tadi itu suatu kebenaran?"
Gaara melepas tautan tangannya. Dia memandang bingung pada sosok di depannya. "Saya rasa itu bukan urusan anda, Tuan Arion."
"Hahaha... Tentu saja itu urusanku. Kau menyebut nama anak ku."
"Anak?" gumam Gaara bingung.
Memangnya tadi dia menyebut nama siapa? Tatapan mata Gaara kemudian teralih pada Afandi. Bukankah kemarin dulu Afandi membahas soal nona muda bos-nya? Apa jangan-jangan?!
Mata Gaara membelalak tak percaya. Tangannya sontak menutup mulutnya yang mengangga. Ya Tuhan! Pingsan-kan aku sekarang!!
***