Hanya rindu dan ingin bertemu. Itulah yang dirasakan Lova saat ini. Tak bisa memiliki Gaara adalah hantaman terhebat dalam dirinya.
"Tuhan, boleh nggak sih aku dikasih sakit yang lain?" gumam Lova seraya jarinya mengetuk-ngetuk aquarium raksasa di rumahnya. Pipinya bahkan dia tempelkan di sisi kaca aquarium. Dia memiliki sepasang Angel fish berwarna kuning dan biru. Sejak mendengar jika Gisela menjalani pengobatan di luar negeri, Lova lebih suka mengatakan apapun pada ikan yang di beri nama Nail dan Nila itu. Padahal, mereka bukan ikan nila.
"Aku bukannya nggak bisa nerima kenyataan. Aku hanya rindu," lanjutnya sendu.
Dewanti dan Regina yang berdiri tak jauh darisana hanya saling pandang. Lova terlihat seperti orang gila. Namun, mereka bisa apa?
"Tante, kenapa nggak bilang yang sebenarnya aja sih ke Lova kalau Gaara itu belum menikah. Aku kasihan sama dia. Lova kayak orang gila." Regina meringis melihat temannya berbicara dengan ikan.
"Om Arion harus memastikan dulu kalau Lova akan benar-benar bisa bersama Gaara walaupun hanya sementara, Re," jawab Dewanti.
"Tinggal bilang kebenarannya aja, Tante. Urusan mereka bisa bersama atau tidak itu biar Lova yang usaha. Aku tau persis Lova itu seperti apa. Dia pasti akan berjuang seperti waktu masih SMA dulu."
"Re, ini nggak segampang itu. Lova sudah banyak menderita. Tante tidak ingin dia berjuang lagi. Tante ingin kepastian bahwa Lova bisa bersama Gaara."
"Tapi, Tante. Membiarkan Lova seperti ini itu sama saja nambahin beban di pikiran dia."
Benar, kata-kata Regina sangat benar. Tapi Dewanti tetap ingin memastikan dulu jika Gaara bisa bersama Lova. Dia sungguh merasa tidak adil jika Lova harus berjuang untuk mendapatkan Gaara. Lebih baik melihat Lova seperti ini, daripada melihatnya mengemis cinta pada Gaara. Apa yang diceritakan Lova tempo hari itu, sudah menunjukkan penolakan dari Gaara untuk Lova.
"Nyonya, dokter sudah datang," suara salah satu maid-nya itu membuat Regina terlonjak kaget.
"Astaga! Ngagetin aja sih, Bik!" Teriak Regina kesal.
"Iya, Bik Sum. Suruh tunggu sebentar," jawab Dewanti pada maid itu.
"Lova," panggil Dewanti lirih. Takut menganggu acara curhat-nya dengan si Nila dan Nail. Regina yang sedari tadi menatap Lova kini mencebikkan bibirnya.
Dia sangat tidak suka melihat Lova sedih seperti sekarang ini. Karena hal itu akan memupuk rasa bersalah pada dirinya. Dan lagi, entah penjelasan seperti apa yang akan dia katakan nanti pada temannya itu. Jika suatu saat Lova mengetahui kebenaran tentang kematian Gisela. Regina merasa posisinya sekarang sungguh sulit.
#
Sementara itu, Gaara dan Arion duduk berseberangan di salah satu meja yang berada di lantai 2 restonya. Gaara membatalkan rencananya untuk menilik Paradise Food. Dia sedang memeriksa beberapa catatan medis Lova.
"Saya fikir amnesia seperti ini hanya fiksi. Ternyata benar-benar terjadi," komentar Gaara.
"Iya, aku juga awalnya sangat syok saat mendengarnya langsung dari Dokter Daniel."
"Lalu, apa tujuan anda yang sebenarnya datang kemari, Tuan Arion?" Gaara seraya merapikan susunan lembar catatan medis itu, kemudian memasukkannya ke map.
"Aku ingin kau bersama Lova untuk beberapa saat. Tidak untuk selamanya, aku tau kau sudah menolak Lova sejak awal."
Gaara mengembuskan napas berat sambil membuang muka ke arah lain. Kenapa dirinya selalu akan direpotkan dengan wanita? Urusannya bersama Helena belum selesai dan sekarang di hadapkan dengan wanita lain. Menyebalkan sekali menjadi tampan.
Arion yang paham reaksi Gaara hanya tersenyum kecil. Kemudian meraih kopi dan menyesapnya.
"Tuan-" panggilan Gaara terpotong oleh ucapan Arion.
"Panggil saja aku, Om. Karena akan terdengar aneh saat calon menantu memanggil calon mertuanya dengan sebutan 'Tuan'."
Apa-apaan ini? Calon menantu? Calon mertua? Memangnya siapa yang mau menikah dengan siapa? Dasar pak tua aneh! batin Gaara.
Tunggu dulu!! Bukankah dia tadi mengatakan 'hanya untuk sementara?' Apa dia pikir menikah itu hal kecil dan sekedar bermain-main? Ayah macam apa dia ini? Menawarkan anak gadisnya hanya untuk menikah sementara?
"Oke, Om. Om Arion." Gaara meralat panggilannya.
'Haaassst... Ini malah terdengar lebih aneh! Dasar pak tua!' batin Gaara lagi.
"Jadi begini Om Arion. Saya tadi hanya tidak sengaja menyebut nama Lova. Jika-pun ada nama wanita lain yang muncul di kepala saya, saya akan menyebut nama lain itu."
"Tapi kenyataannya nama Lova yang ada di kepalamu tadi."
Gaara mengusap wajahnya. Dia sungguh tak ingin repot. Dia ingin fokus pada ketiga usahanya, membayangkan bersama Lova itu hanya akan membuang waktu saja. Tapi pak tua bernama Arion ini meminta dirinya untuk menjaga Lova. Bukankah dia bisa menyewa 100 bodyguard jika dia mau. Kenapa harus Gaara?
"Tapi, Om. Saya tetap akan mengatakan tidak. Maaf mengecewakan anda. Saya rasa, ada Gaara lain yang dimaksud Lova. Dan itu bukan saya."
"Pada akhirnya kau tetap menolak Lova. Aku jadi berfikir, apa kau juga melakukan hal yang sama seperti tadi waktu di rumah sakit kemarin?" selidik Arion. "Kau sadar kalau itu sangat menyakitkan, Gaara?!"
Gaara bergeming, dia hanya menggigit bibir bawahnya. Menampakkan tahi lalat yang terlihat seperti titik hitam di sana. Dan tahi lalat itu adalah salah satu hal yang disukai Lova. Sekalipun mungkin Gaara tak menyadarinya.
"Efeknya sangat luar biasa. Dia pulih dengan cepat tapi dia juga kesakitan di lain tempat. Tentu saja di hatinya. Dan sebagai seorang ayah, aku sangat sedih melihat anak kesayanganku seperti itu."
Arion berdiri, disusul oleh Afandi yang juga berada disana namun di meja yang berbeda. Afandi berjalan ke arah Arion lalu mengambil cacatan medis Lova yang teronggok di meja.
"Katakan selamat tinggal untuk ketiga Paradise-mu. Aku akan membeli seluruh aset yang ada dari Muga," ucapnya kemudian pergi begitu saja.
Gaara terhenyak untuk beberapa saat. Tubuhnya bahkan tidak bisa merespon apapun. Otaknya juga lamban mencerna. Bagaimana Arion bisa tau kalau usahanya ini berada di tangan Muga sekarang? Dan apakah ayahnya akan begitu saja memberikan semuanya pada Arion? Apa Paradise-nya ini sebuah barang? Yang bisa di oper sana oper sini? Kenapa ayahnya juga mengenal Arion? Begitu banyak pertanyaan menggerayangi pikiran Gaara.
"Om Arion, tunggu!" Gaara segera bangkit dan mengejar keduanya. Tapi, baik Arion atau Afandi, mereka tidak menghiraukan. Sikap Gaara tadi terkesan sangat sombong dan arogan. Padahal, Gaara sudah berusaha se-sopan mungkin menolak Lova. Namun, ayah mana yang tidak sakit hati menerima penolakan secara gamblang seperti tadi.
Gaara segera berlari menuruni tangga. Namun, yang dia dapati adalah Arjuna dengan wajah tampannya.
"Ada apa, Ga?"
Gaara tak menghiraukan, dia melewati Arjuna begitu saja. Menuruni tangga dengan sedikit berlari. Tapi sia-sia saja. Arion dan orang kepercayaannya itu sudah melesat pergi dengan mobil silver miliknya. Gaara hanya bisa pasrah seraya mengatur nafasnya yang terengah.
Arjuna ikut berlari keluar menyusul Gaara. Lalu menepuk bahu Gaara. "Ada apa?" tanyanya lagi.
"Kau tau? Semua orang mempermainkan ku, Jun. Tidak ayahku, tidak juga ayahnya Lova. Mereka seakan menganggap Paradise-ku adalah barang yang bisa diombang-ambingkan kesana kemari."
"Ayah Lova? Maksudmu Tuan Arion?"
"Kau mengenalnya?"
"Aku yang mendesain rumah di Pakuwon City. Dia pemilik properti itu."
"Apaaa?!!"
"Jika benar iya, maka habis riwayatmu, Ga. Dia bisa saja menaruh bom di kafe-mu tanpa harus dipenjara."
Gaara syok, sementara Arjuna berlalu begitu saja. Dia harus mengambil flashdisk di laci, tempat dimana Rose memberi tahunya tadi. Sebenarnya banyak pertanyaan dibenak Arjuna, tapi dia tak punya banyak waktu sekarang. Mungkin nanti malam dia akan menemui Gaara lagi. Dia harus menyelesaikan desain mall yang akan berdiri megah di bagian Surabaya timur.
Habis? Apa maksudnya habis? Apa dia akan menghancurkanku demi Lova? Yang katanya anak kesayangannya itu? Awas kamu Lova, aku benci cintamu padaku!!
****
to be continue.....
terimakasih banyak untuk kalian yang mengikuti kisah mereka. dukungan kalian sungguh berarti untuk saya. terimakasih banyak sekali.....