Arjuna keluar dengan memainkan flashdisk ditangannya. Dia melihat temannya itu masih terpaku di tempat tadi. Arjuna mengerutkan dahi mencoba menebak apa yang sedang Gaara pikirkan. Mobil Arion sudah jelas tak terlihat, tapi tatapan Gaara seakan menembus seluruh jagad.
"Ga," panggil Arjuna.
Gaara menoleh pada Arjuna tanpa mengatakan apapun. Ada kesedihan dalam wajah Gaara. Tapi, Arjuna tak tahu apa penyebabnya. Apa umpatannya tadi menyakitinya?
"Are you okay?" tanyanya lagi.
"Aku harus menemui Muga sekarang," jawab Gaara sambil berlalu. Meninggalkan Arjuna yang hanya bisa menatap iba. Bagaimana bisa dia memanggil papanya sendiri hanya dengan nama tanpa embel-embel.
Arjuna melihat jelas ada kegelisahan di wajah Gaara. Namun apapun itu, dia harus segera pergi ke tempat kerjanya. Arjuna akan melakukan survei hari ini.
***
"Amnesia disosiatif yang di sandang Lova bisa berlangsung jangka panjang atau jangka pendek. Dia layaknya manusia normal lainnya. Jangan membuat dia merasa seolah dia bukan dirinya sendiri," saran Dokter Daniel pada Dewanti dan Regina seraya menyiapkan obat yang memang masih harus dikonsumsi Lova.
"Kalau aku mengatakan sesuatu yang membuat dia berfikir lebih jauh, bagaimana, Dok?"
"Dia akan mengalami nyeri hebat dan berakibat fatal. Tolong hindari hal itu," jawab Dokter Daniel. "Lova mengingat memori secara acak. Amnesia jenis ini membuat penderita mengingat tentang apa yang seharusnya dia lupakan. Dan dia melupakan apa yang seharusnya dia ingat. Dia pasti tahu kalau dirinya kecelakaan. Tapi pastikan, Lova tidak berusaha keras mengingat sesuatu. Itu akan membuatnya bingung dengan dirinya sendiri nantinya," lanjut Dokter Daniel.
Lova bahkan tidak tahu kalau dia sempat memiliki mobil BMW keluaran terbaru, batin Regina.
"Regina, jangan macam-macam kamu!" Dewanti memperingati Regina dengan wajah serius.
Bukan mau macam-macam. Regina hanya takut suatu saat mulutnya tiba-tiba mengatakan tentang hal-hal yang membuat Lova ingat segalanya. Secara tidak langsung, Gisela meninggal karena Regina. Dan dia tentu saja tidak ingin Lova mengalami hal yang serupa. Sudah dia putuskan untuk melindungi Lova dari segala hal buruk. Termasuk mengatur mulutnya sendiri.
"Re...," panggil Lova yang kepalanya menyempul dari dalam kamarnya.
"Iya, Lova!" jawab Regina yang langsung berdiri. Mereka duduk dan membicarakan hal tadi di ruang santai keluarga yang berada dilantai dua rumah Arion. Gadis berperawakan ramping itu sangat ingin tahu dengan perkembangan kesehatan Lova. Jadi, Regina mengintil Dewanti dan dokter Daniel.
"Apa?" tanya Regina setelah berada di depan Lova.
"Sini deh, Re." Lova menarik tangan Regina sampai ke depan lemari besarnya. Lova membuka semua pintu lemarinya lebar-lebar. "Aku koma berapa bulan sih? Kok bajuku berubah ukuran semua?" tanyanya kemudian.
Regina seketika menoleh heran sekaligus terkejut pada Lova. Dia meneliti tubuh Lova dari atas sampai bawah. Ah, benar! Lova memang semakin kurus.
"Nanti beli aja yuk yang baru ke PTC atau Galaxy mall. Aku bakal beliin kamu baju baru yang banyak," ajak Regina. "Kamu pakai yang ini dulu." Regina meraih salah satu sleeveless dan shot pant yang dia ingat betul jika itu adalah baju favorit Lova.
Apa amnesia juga akan mengubah selera? Lova bahkan tidak mengenali baju mana yang dia suka sekarang.
Lova menerima keduanya dari Regina, menimbang-nimbang jika sleeveless mustar memang bagus untuk short pant berwarna denim, "Ini bagus juga. Tapi kayaknya kegedean deh, Re." Lova menempelkan sleeveless itu ke badannya.
Lova memang penyuka pakaian jenis casual short, Hampir sebagian besar koleksi pakaian Lova adalah short pant, rok mini, dan dress super pendek.
"Iya nanti beli yang pas di body kamu yang tinggal tulang ini."
Lova mengerucutkan bibirnya, "Nanti sekalian traktir aku makanan yang enak. Biar aku punya daging dikit aja. Lihat deh drees ini, aku pakai ini kayak pakai daster." Lova memamerkan drees abu-abu yang dulunya seksi ketika dia pakai.
Regina terkekeh. Benar, padahal dulu drees abu-abu itu sangat pas di tubuh Lova. Sekarang jadi seperti memakai daster.
"Siap! Nanti aku traktir kamu makan-makanan yang enak." Regina tahu jika Lova bosan terus memakan menu sehat dari dokter. "Sekarang kamu makan, minum obat, terus tidur. Nnti sore aku bangunin." Regina tersenyum tulus.
Lova hanya mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar tutur kata Regina.
"Kenapa?" tanya Regina, dia bingung dengan expresi yang diberikan Lova.
"Kamu kayak mama aku sekarang."
"Hahaha... Iya. Emang!" Regina kan tertimbun rasa bersalah yang luar biasa besar. "Udah deh, Va. Nurut aja. Nanti aku ajak ke mall. Kamu ngumpulin energi dulu. Aku siapin makan bentar." Regina langsung melesat keluar kamar Lova.
Sebenarnya, Regina diburu rasa ingin tahu tentang Lova bisa sembuh atau tidak. Dia akan menyambung percakapannya yang tertunda tadi dengan dokter Daniel.
Tapi, saat keluar dari kamar Lova, dokter Daniel dan Dewanti sudah tidak ada disana. Padahal, dia di dalam kamar Lova hanya beberapa menit saja.
"Ah, sial!" umpatnya kesal.
Akhirnya dia menuruni tangga menuju dapur, Regina akan menyiapkan makan siang untuk Lova.
***
Amarah Gaara masih membuncah, tapi sekuat tenaga dia tekan. Membiarkan Muga menyelesaikan rapatnya dan baru membahas tentang masalah aset Paradise miliknya.
Tadi, sesampainya di kantor Muga, Gaara tak mendapati papanya di ruang kerja. Dan ternyata sedang ada meeting diluar. Tak ayal, dia hanya bisa menunggu.
Sambil menanti Muga selesai dan kembali, Gaara mengitari meja kerja ayahnya itu. Langkahnya terhenti pada figura dimana keluarga kecil terpampang jelas disana.
"Mamaku diganti dengan mudahnya olehmu," gumam Gaara sambil menyentuh foto yang bertengger rapi di sudut meja kerja Muga. Tatapan Gaara penuh kesakitan mengingat masa mudanya yang berantakan.
"Ck! Aku anak yang menyedihkan," ucapnya sambil meletakkan foto itu kembali dengan kasar.
Ingatan Gaara tiba-tiba memutar kenangan buruk beberapa tahun silam. Dimana pertengkaran hebat antara papa dan mamanya masih melekat kuat dibenaknya.
"Biarkan Gaara pergi bersamaku!" teriak Sonia.
"Tidak! Gaara tetap bersamaku!" Muga balas berteriak.
Sosok Gaara berada di balik pintu kamar orang tuanya yang menyisakan celah. Dia baru saja sampai di rumah setelah seharian hangout bersama ketiga temannya.
Langkah Gaara terhenti ketika dia mendengar suara memekik dari dalam kamar orang tuanya. Dan dia dengan jelas mendengar semuanya. Usia Gaara sudah 18 tahun. Tentulah dia bukan bocah ingusan yang bisa dibius dengan berbagai hasutan.
"10 tahun aku menekan perasaan ku kuat-kuat. Dipisahkan dengan mamaku begitu saja. Tapi setelahnya kau tampak lebih bahagia, Muga Kusuma!" lanjutnya dengan tatapan ingin membanting foto keluarga yang sungguh terlihat bahagia itu.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar. Gaara mengalihkan tatapannya.
"Kau datang,"tanya Muga basa basi.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Kau tidak suka aku tiba-tiba kemari?" jawab Gaara sarkastik.
"Ada apa?" Muga tau, Gaara tidak akan datang dengan tanpa embel-embel. Dia bahkan sudah terbiasa dengan tatapan kebencian dari anaknya.
"Apa Papa benar-benar menjual Paradise-ku pada Arion?" tanya Gaara yang langsung menuju pada inti pembicaraan.
"Arion?" tanya Muga bingung. Dia kini duduk di sofa yang menghadap ke jendela. Mengabaikan Gaara yang masih berdiri di sisi meja kerja miliknya.
"Tidak usah berpura-pura tidak tau. Aku yakin betul kalian sedang mempermainkan ku."
"Apa yang kau katakan itu? Kenapa tiba-tiba kau datang dan membawa nama Arion?"
Gaara bergeming. Muga nampak kebingungan. Apa Arion hanya mengertak-ku?
"Ada apa dengan Arion?" tanya Muga lagi.
Dengan santainya Gaara mendekati Muga. Alih-alih untuk duduk disebelahnya, Gaara memilih berdiri sambil melipat tangannya di daada.
"Arion bilang dia akan membeli seluruh aset Paradise-ku yang ada padamu jika aku tidak mau menikah dengan anaknya. Papa tau betul bagaimana aku, aku tidak akan menikah sampai mama kembali." kata Gaara seraya retinanya melihat keluar jendela kaca. Pemandangan kota Surabaya terlihat jelas dari sana.
Muga terhenyak. Arion melakukan hal seperti itu pada Gaara atas dasar apa?
"Atas dasar apa Arion menemuimu?" Muga menyuarakan isi kepalanya.
"Atas dasar kebodohan anaknya. Bukankah Helena juga sama bodohnya dengan dia?"
"Gaara! Jaga ucapanmu?"
Gaara tertawa sumbang, "Lihat, kau bahkan bisa marah saat aku mengatai Helena bodoh."
"Gaara! Sejak kapan sopan-santunmu meninggalkan dirimu? Apa kau juga setidak sopan ini pada Arion?"
"Iya. Kenapa Papa terkejut? Bukankah aku seperti ini karena ulahmu juga?"
Gaara membalas tatapan mata Muga, tak ada rasa takut sedikitpun disana.
"Katakan saja langsung apa yang ingin kau katakan."
"Jangan berikan Paradise-ku pada Arion."
"Baik. Aku tidak akan memberikan Paradisemu pada Arion," jawab Muga enteng.
Melegakan sekali jawaban ayahnya ini. Namun, seketika kelegaan itu runtuh tatkala Muga menyambung kata-katanya, "Asal kau mau menerima Helena," lanjutnya.
"Apa kau masih berdiri di pihak Helena, Pa?" Mata Gaara menyelami retina yang sama seperti miliknya.
Muga bergeming, Gaara benar. Dia memang dari awal berdiri di pihak Helena. Mengecam Gaara dengan berbagai kata-kata dan yang terakhir, mengambil aset miliknya. Sekalipun Gaara masih mengelola Paradise-nya.
"Aku mau menikahi Helena asal Papa bisa membawa mama kembali."
"Gaara!"
Itu hal yang mustahil bagi Muga.
"Penawaran yang seimbang, bukan?" Gaara menarik satu sudut bibirnya.
"Kau!"
"Kau ingin aku menikahi Helena dan aku ingin kau membawa kembali mama."
"Aku sudah berjanji pada almarhum Nugroho untuk menikahkanmu dengan Helena."
"Kau yang berjanji. Bukan aku. Seenaknya mengatur hidupku. Tanpa peduli perasaan ku. Aku kadang bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa aku mewarisi semua fisik yang ada padamu? Aku bahkan ingin sekali menghancurkan cermin setiap kali mereka memantulkan wajahku yang sangat mirip denganmu."
Muga diam seribu bahasa. Dia tahu anak laki-lakinya ini membenci dirinya. Tapi tidak pernah tahu bahwa sedalam itu kebenciannya.
Sudah cukup. Gaara merasa ini sudah cukup untuk membuat papanya tidak memberikan Paradise-nya pada Arion.
"Ck! Sangat menyedihkan aku terlahir dari papa sepertimu."
Muga sudah kebal dengan kata-kata itu. Dia hanya bergeming. Hatinya hancur, tapi dia sadar. Diapun juga sudah menghancurkan hati Gaara hingga kesulitan memaafkannya.
Gaara berjalan keluar dari ruangan Muga. Berlalu tanpa mengatakan apa-apa. Berharap pembicaraan tadi mampu merubah pola pikir Muga untuk tidak memberikan Paradise-nya pada Arion. Jika nanti Arion datang pada Muga.
Gaara, seandainya saja kau tau kebenaran tentang Sonia, mama tercintamu itu. batin Muga geram.
Namun bagi seorang anak lelaki, tak menemukan sang mama di pagi hari dan seterusnya adalah definisi patah hati yang mungkin saja bisa membuat pikiran menjadi mati?
Lalu, siapa yang egois sekarang?
***
to be continued....
saran, kritik, pertanyaan, coret-coret di kolom komen, kak.
fb Naomi Pranestie
ig Naomi Pranestie