“HEH! APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADA PUTRI?!”
Ragil. Lelaki dengan seragam khas tentara yang baru saja menolong anak kecil itu segera berdiri setelah mendengar suara teriakan seseorang. Ia melihat anak kecil di depannya yang sudah terduduk lagi di kursi rodanya setelah tadi terjatuh dengan seorang perempuan yang lantas berjongkok di depan anak kecil itu dengan wajah khawatir. Perempuan itu yang berteriak sebelumnya.
Melisa. Perempuan yang melihat perbuatan tidak senonoh anggota militer langsung menghindarkan anak didiknya dari lelaki kurang ajar seperti lelaki di sampingnya ini. Ia segera berdiri dan melindungi anak didiknya di belakang tubuhnya seraya menghadap lelaki itu dengan tatapan berani. Ia tidak terima anak didiknya menjadi korban p****************g seperti tentara kurang ajar ini. Dunia Putri masih panjang dan tidak seharusnya mendapatkan perlakuan buruk dari seorang lelaki dewasa, apalagi berstatus tentara.
“Apa yang kamu lakuin sama anak didik saya, huh? Jangan mentang-mentang karena di sini sepi kamu bisa berbuat hal yang buruk pada anak kecil. Kalau ada yang salah sama Putri kamu orang pertama yang akan saya tuntut untuk tanggung jawab. Jangan mencoba melakukan apapun untuk menghindar hanya karena kamu sudah dewasa dan memiliki pangkat bagus.”
Ragil mengerutkan kening mendengar ucapan tidak sopan perempuan yang tidak ia kenal ini. perempuan ini baru datang dan sudah menuduhnya yang tidak-tidak. Jujur saja harga diri Ragil terasa runtuh seketika.
“Apa yang mendasari kamu dengan saya harus bertanggung jawab? Memangnya apa yang saya lakukan?” tanya Ragil mencoba mencari tahu letak kesalahannya hingga membuat seorang perempuan langsung menuduhnya seperti ini.
Melisa memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan sok polos dari lelaki di hadapannya. Ia melirik sekilas ke bagian d**a lelaki itu yang menunjukkan namanya. Ragil A. melisa sudah tahu nama lelaki kurang ajar ini dan ia akan melakukan apapun untuk membela anak didiknya.
“Jangan berpura-pura tidak tahu apapun, Bapak Ragil yang terhormat. Saya melihat sendiri kamu melakukan hal buruk kepada anak didik saya dan saya akan menuntut perbuatan kamu ini. Dasar lelaki tidak bermoral,” ujar Melisa dengan amat berani.
Ragil melirik ke nama yang tersemat dalam seragamnya. Selain begitu mudah menuduh seseorang ternyata perempuan ini juga diam-diam melihat identitasnya. Sungguh tidak bisa dipercaya.
Ragil lalu geleng-geleng kepala mendengar kata-kata kasar dan salah paham dari perempuan di depannya. Ia bersedekap d**a dengan wajah tenang. Sedangkan Melisa yang melihat reaksi tenang lelaki di depannya merasa diejek. Ia semakin memperlihatkan wajah beraninya serta ikut bersedekap d**a. Tidak takut salah sedikitpun dan semakin berani.
“Atas dasar apa kamu nuduh saya melakukan perbuatan buruk, hm? Saya nolongin dia yang baru aja jatuh dari kursi roda. Apa menolong orang harus bertanggung jawab? Bukankah seharusnya menerima ucapan terimakasih?” tanya Ragil dengan tenang sembari nunjuk anak kecil di belakang Melisa.
Melisa tersenyum sinis. Ia tidak bisa dibodohi dengan wajah tenang lelaki ini dan segala yang lelaki ini lontarkan. Melisa melihat sendiri dengan matanya dan itu tidak mungkin salah. tidak mungkin jatuh dari kursi roda dan lelaki ini bisa mengelus-elus paha Putri dengan seenaknya. Itu menyalahi aturan dalam menolong, pikir melisa.
“Saya nggak percaya. Sangat jelas saya melihat kamu pegang-pegang paha Putri dan tubuh Putri ada di depan kamu. Jadi jangan mengelak. Untung saja saya kebetulan lewat sini, kalo tidak? Sudah dipastikan kamu akan berbuat lebih jauh. Pokoknya saya nggak mau tahu kamu harus tanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan anak didik saya nanti,” tuntut Melisa tidak gentar.
Ragil menghela napas lelah lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa gatal. Ia menatap Melisa tajam dan berjalan mendekat. Membuat Melisa sontak berjalan mundur karena kaget dan sedikit khawatir. Tak lupa melindungi Putri selaku anak didiknya di belakang tubuh. Ia tidak akan takut dengan lelaki hidung belang seperti lelaki tentara ini. Melisa akan menegakkan hokum demi kehormatan anak didiknya.
“Jangan buat saya teriak karena perbuatan kamu!” ancam Melisa dengan jari telunjuk menuntut Ragil tepat di hadapan wajah lelaki itu. Posisi tubuhnya sudah hampir tanpa jarak dengan Ragil tetapi lelaki itu tidak kunjung menghentikan langkah. Membuat melisa semakin khawatir.
“Seharusnya kalau tidak tahu apa-apa itu bertanya, bukan main hakim sendiri dengan menuduh orang dengan dasar ‘melihat sendiri’. Bahkan berpikir buruk tentang apa yang nggak bener-bener terjadi.” Ragil berujar sinis dan menegakkan tubuhnya kembali. Berjalan mundur selangkah menjauhi Melisa yang sudah menahan marah juga malu dengan wajah memerah itu.
Melisa ikut menegakkan tubuhnya dan bersikap angkuh. Ia mengalihkan pandangn sebentar sebelum kembali menatap Ragil dengan berani. Masih tidak mau mengalah dengan keyakinannya yang kuat. Maling tidak mungkin mengaku sebab penjara akan penuh. Begitulah pemikiran Melisa saat ini.
“Kenapa juga saya harus bertanya kepada pelaku? Kamu juga nggak mungkin menjawab jujur. Benar, bukan?” tanya Melisa mencoba menyembunyikan rasa malunya dengan memutar balikkan fakta. Masih tidak terima dengan ucapan Ragil yang mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan berkeyakinan dengan apa yang ia lihat.
Ragil menghela napas panjang. Ia merasa lelah sendiri menghadapi perempuan ini yang keras kepala dan tidak mau menerima kenyataan. Ia melirik ke arah anak kecil di belakang Melisa sebentar. “Hei, Nak. Katakan pada wanita ini kejadian yang sebenarnya. Kau tidak boleh menyembunyikan kebenaran.”
Melisa menoleh ke belakang dan melihat Putri yang mengangguk menanggapi ucapan Ragil. Membuat Melisa mengerutkan kening, dan mencoba melihat keraguan yang ada pada Putri. Namun tidak ada. Anak didiknya itu terlihat setuju begitu saja dengan perintah Ragil.
“Bu guru,” panggil Putri setelahnya.
Melisa kembali melihat ke arah Ragil tetapi lelaki itu justru mengisyaratkan untuk mendengarkan perkataan Putri. Melisa lantas berjongkok. Menyetarakan tingginya dengan tubuh Putri yang berada di kursi roda. “Jangan takut sama dia, Putri. Katakan saja sama ibu semuanya. Ibu nggak akan biarin kamu kenapa-kenapa, okey? Kita bisa menuntut dia kalau ada sesuatu yang terjadi sama kamu nanti.”
Melisa berusaha membuat Putri tidak takut untuk mengungkapkan kebenaran. Ia menatap penuh perhatian agar Putri tidak merasa tertekan dan bahkan menggenggam tangan Putri. Melisa tidak mau terjadi sesuatu yang buruk hingga mental anak berusia tujuh tahun ini menjadi korbannya. Melihat berita buruk tentang anak kecil yang mendapat pelecehan juga menjadi pikiran Melisa hingga ia tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Ragil.
Putri menggeleng. “Kakak ini nolongin Putri yang tadi jatuh, Bu. Kakak ini nggak ngelakuin apa-apa sama Putri kok. Dia baik,” ujar Putri dengan nada polos khas anak berusia tujuh tahunan yang tengah mengungkapkan perasaannya.