Melisa menatap tak percaya dengan pengakuan anak didiknya. Ia mengalihkan pandangan ke arah Ragil dan lelaki itu tersenyum miring. Tidak. Melisa jelas-jelas melihat lelaki ini mengusap-usap paha Putri saat ia lewat. Jadi, Melisa masih tidak akan percaya.
“Putri kamu jangan membela orang yang salah. Itu nggak baik dan ibu tadi jelas-jelas liat kamu dipegang-pegang sama dia. Katakan sama ibu kamu diapain aja tadi? Jangan takut. Semua akan berjalan lebih baik kalo kamu jujur akan kebenaran.”
Melisa berusaha membuat Putri mengakui semua. Ia tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Putri, apalagi ekspresi wajah Putri yang terlihat tidak meyakinkan sama sekali. Melisa tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak percayanya, apalagi ekspresi wajah lelaki itu juga mengejek. Sedangkan Putri lantas membuka rok yang ia kenakan, menunjukkan ada luka di pahanya pada Melisa hingga gurunya itu membulatkan mata melihat luka di paha Putri.
“Kakak ini hapusin kotoran diluka Putri karena batu di tanah tadi. Kalo nggak dipegang mana bisa bersih, Bu guru?” tanya Putri lebih polos.
Mendengar ucapan dan luka dipaha Putri membuat Melisa merasa malu. Apalagi kekehan Ragil saat ini yang seakan mengejeknya semakin membuat Melisa tidak mau kalah telak dengan ragil meski ia sudah melihat kenyataannya.
“Makanya jangan suka main hakim sendiri. Malu kan jadinya.” Ragil berujar sinis pada Melisa setelah Putri mengatakan kejadian yang sebenarnya.
Melisa berdehem. Menetralkan rasa malu juga khawatirnya saat ini. Ia malu pada Ragil namun juga khawatir dengan keadaan Putri yang cukup parah hanya karena jatuh dari kursi roda. “Kita ke UKS sekolah ya buat ngobatin luka kamu?”
Putri mengangguk.
Melisa lantas berdiri dengan wajah menahan malu. Ia menundukkan pandangannya. Sengaja tidak mau melihat Ragil yang sepertinya menahan tawa melihat wajah malunya kini.
“Maafkan saya yang salah paham dengan tindakan anda, Pak. Saya mengakui kesalahan saya,” ucap Melisa tanpa melihat ke arah Ragil dan setia dengan pandangan menunduknya.
Ragil menahan senyumnya mendengar permintaan maaf Melisa yang terdengar begitu canggung. Mengingat betapa kekehnya perempuan ini mengelak kenyataan justru membuat ragil tidak mau memaafkannya begitu saja. Akan tidak adil jika sebelumnya Melisa terus menuduhnya sedangkan Ragil malah mudah memaafkan.
“Saya tidak terbiasa dengan kata maaf, apalagi memaafkan dengan mudah.”
Melisa menampakkan senyum canggung setelah mendengar pernyataan Ragil. Ia memberanikan diri menatap Ragil setelah menyadari kesalahannya. Sungguh Melisa menyesali perbuatannya.
“Lalu apa yang harus saya lakukan agar anda bisa memaafkan saya? Saya sungguh menyesali perbuatan saya hari ini,” ujar Melisa berusaha memperlihatkan ketulusannya.
Ragil melirik pada name tag yang dikenakan dibaju bagian d**a perempuan di depannya. Melisa. Nama yang bagus dengan wajah yang cantik. Pikir Ragil dengan menahan senyumnya.
Melisa yang melihat gerakan mata Ragil menatap sesuatu pada tubuhnya lantas berdehem. Lelaki di depannya ini sungguh memiliki pikiran yang kotor. Terlihat jelas dari mata lelaki ini yang suka sekali menatap tubuh orang dari atas ke bawah. Melisa tentu saja merasa tidak nyaman.
“Apa saja yang penting bisa membuat saya mau memaafkan kamu sebab saya tidak gampang memaafkan orang yang sudah bersalah kepada saya. Dan satu hal lagi, kamu bahkan terus menuduh saya yang berusaha menjelaskan,” ucap ragil dengan wajah mengejek.
Melisa merasa malu dengan pernyataan Ragil hingga reflek meninju bagian perut ragil saking kesalnya dengan ucapan semena-mena Ragil. Bisa-bisanya lelaki itu malah membuatnya kembali memiliki emosi setelah beberapa saat berhasil tenang dengan segala kecanggungan yang semakin terlihat jelas di antara mereka. Apalagi rasa malu yang Melisa miliki dengan pernyataan Ragil yang terkesan buruk.
“Akh,” ringis ragil dengan satu tangan yang memegangi bagian perutnya dengan ekspresi kesakitan setelah mendapat tinju dari Melisa.
Melisa mengerutkan kening melihat wajah dan suara Ragil yang melemah. Lelaki ini sungguh pandai berakting, pikir Melisa. Baru saja Melisa melihat bahwa Ragil menahan senyumnya dan kini sudah memperlihatkan ekspresi kesakitan hanya karena mendapat tinju kecil dari Melisa. Sungguh luar biasa cara bermainnya. Melisa tidak akan menggubrisnya hanya dengan akting tidak bermutu seperti itu.
“Ibu guru, kakak ini kesakitan.” Putri berujar setelah sejak tadi memerhatikan raut wajah kesakitan yang Ragil tampakkan dan Ragil yang tidak berhenti mengaduh seraya memegangi perutnya.
Melisa menghela napas pelan. Keputusannya untuk tidak mau menggubris Ragil harus gugur sebab laporan Putri dengan suara yang khawatir. Melisa memerhatikan sebentar wajah Ragil yang masih kesakitan dan pura-pura ikut meringis. Seolah dirinya juga merasakan sakit seperti yang Ragil rasakan, dan itu adalah sebuah ejekan untuk Ragil.
“Bagian mana yang sakit?” tanya Melisa mencoba sedikit perhatian meski ia sungguh malas melihat tingkah menjengkelkan Ragil.
Ragil mencengkeram bahu Melisa hingga membuat gadis itu kaget sebelum akhirnya menunjuk perutnya yang masih terbungkus pakaian. Melisa ikut melihat ke arah yang ditunjukkan Ragil. Ia mencoba mengecek dengan menekan bagian yang ditunjukkan Ragil hingga Ragil kembali mengaduh kesakitan dan Melisa yang kembali meringis secara otomatis. Melisa yang melihat wajah kesakitan Ragil menjadi tidak tega. Mungkin lelaki ini memang sakit dibagian perutnya.
“Kamu tunggu sebentar di sini, saya akan bawa Putri ke ruang UKS dulu lalu kembali dan membawa kamu ke sana,” ujar Melisa dengan wajah yang masih ikut meringis karena melihat wajah kesakitan Ragil.
Ragil mengangguk dengan wajah yang masih menampakkan kesakitan. Membiarkan Melisa mengantarkan anak didiknya terlebih dahulu dan akhirnya ia terkekeh melihat wajah khawatir perempuan itu. Senyuman puas terukir di bibir Ragil begitu melihat kepergian perempuan cantik itu. Detak jantungnya mulai berdetak tidak normal setelah bertemu dengan melisa. Ragil rasa ia jatuh cinta pada pandang pertama. Sungguh tidak pernah disangka.
Tak lama menunggu, Melisa kembali berada di depan Ragil dan tanpa berkata lantas menarik tangan kiri Ragil untuk dirangkul. Ragil juga kembali meringis kesakitan dan memegangi perutnya. Mereka berjalan dengan perlahan dengan Ragil yang menahan senyum melihat Melisa yang begitu perhatian saat ini. Tidak seperti sebelumnya yang terkesan galak.
“Mel!”
Melisa menghentikan langkahnya begitu mendengar suara yang tak asing dan Ragil yang juga ikut berhenti. Mereka menoleh keseumber suara dan mendapati Evan selaku teman Melisa mulai berjalan mendekat ke arah mereka dengan kamera yang berada di tangan. Melisa menampakkan senyum menunggu Evan sampai di depannya. Sedangkan Ragil menatap datar lelaki itu.
Begitu berada di depan Melisa, Evan justru terfokus pada seorang lelaki yang dirangkul oleh Melisa. Melihat dua orang di depannya ini yang terlihat nyaman dengan posisi mereka tanpa jarak dan saling merangkul satu sama lain. Hal itu membuat Evan tersenyum tipis dan mengalihkan pandangan ke arah Melisa.