“Mau kemana?” tanya Evan dengan senyum lebarnya.
Melisa melihat ke arah Ragil sebentar. “Dia sakit perut, Van. Mau ku bawa ke UKS sekolah.”
Evan mengangguk mengerti. “Aku yang bantu aja. Kamu bawain kameraku. Kasian kamu pasti capek,” ujar Evan yang lantas memberikan kamera pada Melisa dan mengambil alih tangan kiri Ragil dari rangkulan Melisa.
Ragil menatap tak suka dengan keputusan Melisa yang menyetujui begitu saja permintaan lelaki itu. Ragil merasa sedikit jauh untuk menggapai Melisa dengan kehadiran lelaki tidak diundang ini. sedangkan Melisa tersenyum dengan anggukan kecil. Ia berjalan lebih dulu dengan Evan yang membantu merangkul Ragil.
Sampai di ruang UKS, Evan menghentikan langkahnya dengan Ragil yang di duduk di sebuah kursi yang telah Melisa persiapkan. Ragil menyapa Putri yang sibuk dibersihkan lukanya oleh seorang guru lain dan Melisa yang kembali di dekat Ragil dan berniat memberikan obat. Ragil yang tidak menyukai jenis obat lantas menggeleng. Ragil hampir tidak pernah meminum obat sejak kecil karena dia tidak suka.
“Saya nggak suka minum obat,” ucap Ragil.
Melisa mengerutkan kening mendengar pernyataan Ragil. “Kenapa nggak suka? Kamu bohongin saya dengan pura-pura sakit perut? Minum obatnya dan kamu akan baik lagi.”
Ragil kembali menggeleng. “Saya nggak pernah minum obat.”
“Nggak ada yang percaya. Kamu itu sudah bukan anak-anak dan minum obat nggak akan buat kamu mati saat ini juga,” kekeh Melisa dengan terus menyodorkan satu pill kepada Ragil dan Ragil yang terus menolak.
Ragil bingung harus berbuat apa. Disisi lain ia benar-benar tidak menyukai jenis obat dan disisi lain ia juga tidak mau kebohongannya terbongkar hanya karena Melisa terus memaksanya meminum obat.
Evan yang sejak tadi hanya diam dan memerhatikan keduanya mulai mengambil tindakan. Sedangkan Ragil masih terus mengelak tidak mau minum obat dan Melisa yang terus memaksa. Keduanya saling berkehendak sampai akhirnya Evan membantu mencoba menekan bagian perut Ragil dan lelaki itu tidak merasa kesakitan sedikitpun. Bahkan tidak ada satu ringisan yang keluar.
Melisa yang menyaksikan itu membulatkan mata tidak percaya. Dia sudah merasa kasihan dan tidak mau melihat Ragil kesakitan karena tinjunya, tetapi siapa yang bisa menyangka lelaki ini justru membohonginya dengan berpura-pura sakit perut. Melisa yang memang tidak suka sekali dengan kebohongan langsung pergi begitu saja. Mengabaikan Evan dan Ragil yang saling pandang dan berakhir Evan pura-pura tidak tahu. Hal itu membuat Ragil merasa bersalah karena Melisa tahu dirinya berbohong.
Evan yang menjengkelkan!
Ragil menghela napas pelan sebelum akhirnya beranjak untuk mengikuti Melisa. Sedangkan Evan hanya diam dan melihat dari tempatnya. Melisa dan lelaki itu tampak akrab meski mereka berdua tidak saling mengenal, dan itu membuat Evan merasa dirinya tidak dibutuhkan. Jujur saja Evan merasa tidak nyaman, tetapi Evan tidak akan menampakkannya.
“Mel,” panggil Ragil begitu berada di belakang Melisa yang ada di depan ruang UKS dengan kedua tangan bersedekap d**a.
Melisa tidak menghiraukan. Ia sibuk melihat ke arah lain hanya demi tidak melihat Ragil. Memang masalah sepele, tetapi Melisa sungguh tidak menyukai jenis kebohongan apapun. Apalagi Ragil berpura-pura sakit yang mana hal itu sudah membuat Melisa khawatir. Ragil sungguh keterlaluan.
Ragil menghela napas beberapa kali. Ia bingung harus bagaimana mengatakan permintaan maafnya agar Melisa tidak marah dengannya. Ragil juga merutuki kebodohannya dan bisa melihat bahwa Melisa termasuk satu jenis manusia yang jika sudah kecewa maka harus membujuknya dengan keras. Ragil ragu untuk mencoba akrab sebab mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
Ragil menghirup napas panjang sebelum memberanikan diri untuk menyatakan permintaan maafnya. “Melisa, saya mint-“
“Hormat kepada Lettu Ragil Ardiansyah. Saya kemari untuk memberikan informasi bahwa tugas memberikan bantuan selesai dan dimohon kepada Lettu Ragil untuk memimpin pasukan kembali secepatnya.”
Ardi. Wakil dari Ragil itu tiba-tiba muncul di depan mereka dan melihat sekilas ke arah Melisa yang juga tengah memerhatikan kehadiran Ardi dengan wajah bingung. Melisa menoleh dan mendapati Ragil yang menatap penuh ke arah Ardi. Seolah mengatakan lewat tatapannya bahwa ia tidak bisa menolak. Melisa tidak berhak menghentikan Ragil hanya demi meminta maaf padanya. Ragil memiliki tugas lebih penting daripada harus peduli dengannya.
Ragil akhirnya menjawab. “Baik. Saya akan ke sana sekarang.”
Ardi mengangguk penuh hormat dan mempersilahkan Ragil berjalan lebih dulu. Sedangkan Melisa terdiam. Pandangannya mengarah kepada punggung lebar Ragil yang perlahan beranjak meninggalkannya dan Melisa justru merasa ada sesuatu yang menjanggal melihat kepergian lelaki itu. Melisa merasa kehilangan sesuatu, meski itu tidak nyata.
Ragil kembali menoleh saat di jalan dan melihat Melisa yang menundukkan pandangan. Lelaki itu tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya. Ia harus segera memimpin pasukan untuk kembali. Tugas hari telah selesai dengan baik dan Ragil tidak ada alasan untuk tetap berada di sini meskipun ia masih merasa bersalah kepada perempuan yang membuatnya tertarik. Itu… Melisa. Ragil tidak akan melupakan pertemuan mereka hari ini.
Melisa kembali ke ruang UKS setelah tidak lagi menemukan keberadaan Ragil dan temannya. Evan masih berada di sana dan menyambutnya dengan senyuman lebar. Lelaki itu selalu menampakkan senyumnya di depan Melisa terlepas apapun keadaannya. Melisa bahkan merasa Evan adalah satu-satunya temannya yang selalu ada untuknya. Melisa bersyukur atas hal itu.
“Ada apa, Van?” tanya Melisa begitu sudah ada di dekat Evan.
Evan menggeleng. “Nggak ada apa-apa, Mel. Pengen ketemu kamu aja sama mau nunjukin hasil foto hari ini. Aku mau minta pendapat kamu biar aku bisa memperbaiki kualitas gambar.”
Melisa mengangguk mengerti. Ia kemudian menerima beberapa foto yang sudah dicetak dan mulai memerhatikan hasil pekerjaan Evan. Sudah sangat biasa Evan mengunjungi dirinya yang masih ada jadwal mengajar dan lelaki itu tidak pernah mengeluh karena menunggu terlalu lama. Evan juga selalu baik dan membantu segala urusan Melisa, begitupun sebaliknya. Seperti saat ini juga, Evan yang meminta bantuan kepada Melisa dengan hasil jepretannya.
“Foto yang ini kurang menarik kalau menurutku, Van. Seharusnya posisi kamu bukan foto dibagian ini, melainkan di sini. Di bagian ujung daun yang akan lebih menampakkan daerah yang kamu ingin perlihatkan.”
Melisa memberikan satu lembar foto kepada Evan dan memperjelas apa yang menurutnya kurang. Ia juga menunjukkan beberapa alasan dan membuat Evan menyetujui setiap ucapan Melisa. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Evan hanya ingin berkunjung dan melihat Melisa, tetapi karena ia tidak punya pembahasan jadi ia memberikan hasil jepretan asal agar bisa berbincang lebih lama dengan Melisa.
Evan terus menatap Melisa yang mengomentari semua hasil jepretannya. Ia tidak memedulikan hasil itu, ia hanya ingin melihat Melisa lebih lama. Wajah cantik dengan senyuman khas itu lebih menarik untuk Evan lihat daripada mendengarkan komentar Melisa tentang jepretannya. Itu juga foto yang memang gagal menurut Evan, jadi ia juga tidak terlalu membutuhkan banyak perbaikan.