Cumi goreng isi saus mentega yang dihidangkan tante Eta malam ini membuat Luna berhasil menambah nasi hingga dua kali. Tante Eta hanya tersenyum sumringah melihat sahabat putrinya itu makan dengan lahap, bagi tante Eta membuat Luna makan begitu banyak adalah prestasi sendiri untuknya. Ibu sering mengeluh tentang nafsu makan Luna yang payah pada tante Eta, dan karena itu setiap kali Sheila mengajak Luna menginap maka wanita berusia awal 50 itu pasti sibuk menyiapkan menu kesukaan Luna.
Memiliki Ibu yang seorang wanita karir memang membuat Luna kehilangan konsep 'hangat'-nya masakan seorang ibu. Dulu setiap kali hendak berangkat ke sekolah, dan melihat nasi goreng yang terhidang di meja, Luna akan bertanya dulu sebelum menyantapnya. Apakah itu nasi goreng buatan Mbak Yati atau buatan Ibu? Karena buatan ibu pasti diolah dari bumbu instan dan Luna sangat tidak suka. Produk instan yang Luna suka hanyalah mie dan kopi instan.
Luna mengelus perutnya sambil mengikuti langkah Sheila ke balkon kamarnya. Mereka duduk bersisian di sofa tanpa sandaran dan memandang kerlip kota yang sudah tidak semarak beberapa jam lalu karena kendaraan sudah tidak memadati jalanan di depan sana. Kedua punggung mereka bersender pada dinding dan keduanya hanya diam, kepala mereka terangkat memandang langit malam yang hanya berhias bulan separuh.
"Mas Bintang datang ke kos," Luna membuka obrolan. "Dia bicara tentang Tara." Cewek itu melirik Sheila di sebelahnya.
"Terus?"
Luna menceritakan semua pembicaraannya dengan Bintang beberapa hari lalu pada Sheila, dan sahabatnya itu mendengarkannya dengan seksama.
"Kita nggak bisa sepenuhnya nyalahi Mas Bintang. Kita tahu bagaimana Tara, bila ia menginginkan sesuatu." Sheila menaikan kedua kakinya ke kursi. "Tara terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya pada Mas Bintang, dan kita tahu kalau Tara sangat cantik, cowok manapun akan cepat luluh dengan semua yang ada sama dia."
Luna mengangguk setuju. Keduanya kembali terdiam. Beberapa kali Luna melirik Sheila karena ia masih ingin meyakinkan dirinya apakah ia akan bercerita tentang Kalan pada Sheila.
"La," panggil Luna pelan. "Sudah dua bulan ini aku berhubungan dengan Mas Kalan." Kepala Sheila bergerak cepat ke arah Luna dengan mata terbelalak dan mulutnya setengah membuka karena kaget.
"Bukan hubungan seperti yang kamu kira!" Luna membuyarkan semua dugaan di kepala Sheila. Dan perlahan mulut Sheila kembali mengatup. Setelah itu Luna menceritakan semuanya tentang awal ia memulai hubungan email dengan Kalan.
"Bagaimana kalau kamu jatuh cinta sama Mas Kalan?" Sheila berkata santai tanpa melihat Luna. Dan tanpa menunggu lama Luna menimpalinya dengan tawa.
"Ya enggaklah..." bantah Luna di sela tawanya. Ia terus mengayun-ayunkan tangannya di depan wajahnya.
"Oke deh...mudah-mudahan." Jawab Sheila dengan gaya santainya dan membuat Luna cemberut. Bicara dengan Sheila memang harus banyak bersabar karena jawaban-jawaban singkatnya seringkali terdengar mematikan dan membuat lawan bicaranya langsung knock out.
"Aku hanya ngerasa kami punya nasib yang sama. Sama-sama ditolak." Luna tersenyum kecut.
"Mas Kalan tuh baik banget." Tiba-tiba Sheila bicara dan berpendapat tentang Kalan. Luna mengernyit heran. "Kamu pasti heran kalau aku bilang aku tahu cukup banyak tentang Mas Kalan." Sheila bangkit dan berjalan ke kamar tak lama ia datang dengan membawa sebuah album foto di tangannya. Ia membuka album foto itu dan menunjukkan sebuah foto lama dengan banyak orang di dalamnya. Seperti foto keluarga.
"Ini Mak Maria namanya." Sheila menunjuk seorang wanita paruh baya yang berdiri di ujung barisan paling belakang. "Mak Maria ikut nenekku sejak masih muda. Mak Maria punya dua anak, anak perempuannya serta suaminya mengalami kecelakaan yang membuat anaknya perempuannya itu lumpuh dan suaminya meninggal, padahal anaknya itu baru saja melahirkan. Dan Mak Maria akhirnya yang merawat cucunya. Waktu cucunya itu SMP, Mak Maria meninggal dan cucunya ikut anak Mak Maria yang sulung." Setelah panjang lebar Sheila bercerita ia memandang Luna.
"Cucunya itu Mas Kalan." Luna terlihat cukup kaget. "Mas Kalan sepertinya nggak tahu kalau Mak Maria pernah ikut nenekku. Aku juga tau ceritanya dari Mami. Mas Kalan memang ikut pamannya tapi ia nggak pernah lupa ngunjungin ibunya. Ibunya tinggal di Rumah Klaris di jalan Kaliurang, itu kayak yayasan atau panti gitu deh. Mami sama ibu-ibu gereja pernah berkunjung ke sana dan bawain kerajinan tangan karya penghuni Rumah Klaris. Kayak aksesoris yang dijual di pinggiran Malioboro itu loh."
Luna masih mengatup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak pernah menyangka ia akan tahu begitu jauh tentang latar belakang Kalan.
"Kok selama ini kamu nggak pernah cerita, La?"
"Buat apa? Biar dapat simpati Tara? Ih...nggak lah Mas Kalan nggak butuh simpati. Aku hanya berusaha nggak berpihak pada siapa-siapa bagaimanapun juga aku lebih dulu mengenal Tara daripada Mas Kalan tapi secara nggak langsung ada ikatan istimewa antara Mas Kalan dan keluargaku. Jadi aku rasa aku nggak perlu menjual kisah hidup Mas Kalan ke semua orang. Aku cerita ini ke kamu karena aku rasa kamu sudah bisa melihat pribadi Mas Kalan yang sebenarnya."
Luna menghela napas dan pikirannya tiba-tiba dijejali banyak hal. Dengan latar belakangnya yang rumit seperti itu, ternyata Kalan tidak terlihat rendah diri. Dengan kecerdasan yang ia miliki ia begitu percaya diri mendekati Tara yang merupakan salah satu cewek popular di kampus. Kesalutan Luna pada cowok itu semakin bertambah entah kenapa ia jadi rindu berbincang dengan Kalan.
***
Liburan semester ini dihabiskan Luna sendirian di Yogya. Sheila liburan ke Surabaya ketempat tantenya karena ada acara nikahan sepupunya. Tara liburan ke Jakarta sekalian menemani Bintang yang kembali ke sana untuk urusan kampus dan skripsi. Luna iri pada mereka namun mungkin tidak seberat dulu.
Ayah dan Ibu ternyata tidak tega melihat putri semata wayang mereka merana sendirian saat liburan seperti ini. Seperti sore ini saat Ayah dan Ibu baru pulang, mereka dosen di sebuah universitas negeri yang jadwal liburnya berbeda dengan universitas swasta tempat Luna kuliah, ibu langsung menuju kamar Luna dan mengajaknya untuk keluar makan malam.
"Makan di mana sih bu?" keluh Luna. Ia sedang asyik ngobrol dengan Kalan di YM, dan tidak enak menghentikannya begitu saja karena Kalan sudah bela-belain bangun pagi buta untuk bisa ngobrol dengan Luna. Ini karena perbedaan waktu yang cukup mencolok antara Yogya dan Boston, 13 jam.
"Ayolah, Nak. Ayah kasihan sama kamu karena nggak bisa liburan kemana-mana. Makanya ayah mau traktir. Cepat ganti baju sana." Luna merengut dan mau tidak mau ia harus pamit pada Kalan.
Ayah ternyata serius membuat Luna terkejut, karena malam ini ayah berencana membawa keluarganya makan malam di Solo. Karena bila ingin menikmati nasi liwet tentu saja kamu harus ke Solo. Sama seperti orang yang ingin makan gudeg memang lebih tepat bila harus ke Yogya, rasanya lebih orisinil.
"Oh ya Lun, si Bintang pacaran ya sama Tara?" Pertanyaan Ibu membuat Luna yang sedang asyik bersenandung dengan Ayah menyanyikan lagu If You Leave Now dari Chicago langsung terdiam.
"Kok tiba-tiba Ibu ngomongin Mas Bintang?" Luna tidak menjawab pertanyaan Ibu.
"Iya tuh Ayah sempat berapa kali lihat Tara di rumah sebelah." Kini Ayah yang ikut menimpali. Lagu Chicago yang tadi hanya dirasa sebagai sebuah lagu yang asyik dinyanyikan bersama dalam perjalanan tiba-tiba menjadi lagu tema untuk perasaan hati Luna. Pertanyaan Ibu dan kata-kata Ayah seperti sebuah reminder bahwa hati Luna masih terluka, bahwa Luna belum sepenuhnya melepaskan perasaannya pada Bintang.
"Ibu kira kamu suka loh sama Mas Bintang?" Ibu memandang Luna sambil tersenyum dikulum. "Padahal Ibu sama Tante Rena udah janjian bakal besanan." Ibu terkikik kecil mengira kalau dugaannya salah, mengira kalau niatnya bersama Tante Rena hanyalah sebuah obrolan iseng.
"Ah ibu apa-apaan sih. Mas Bintang kan udah kayak kakak sendiri." Bantah Luna sambil membuang pandangannya keluar melalui kaca mobil.
"Kalau Tara udah punya pacar trus kapan anak Ibu kenalin pacarnya?" Ibu masih menggoda Luna, sedang Peter Cetera semakin membuat hati Luna tertusuk.
If you leave me now you take away the biggest part of me...uhhhhhh baby please don't go...
"Luna belum boleh pacaran umurnya masih 19 belum pantas pacaran," potong Ayah dan membuat Luna langsung terkekeh.
"Ihh Ayah padahal dulu waktu umur 19 udah pacarin Ibu kan?" balas Luna yang disahut tawa Ayah dan Ibu. Dan setelah itu obrolan tentang Bintang dan Tara langsung menguap berganti celoteh Ibu yang berkisah tentang masa pacarannya dengan Ayah. Waktu hampir dua jam yang ditempuh ke Solo tidak terasa, setelah makan malam di daerah Galabo mereka menginap di hotel dan berencana pulang ke Yogya keesokan harinya.
***
Setelah pulang liburan semalamnya di Solo, Luna kembali bertemu dengan rasa sepi. Siang terasa kosong dan hampa di rumah ini. Hanya terdengar bunyi masakan Mbak Yati yang beradu dengan minyak panas di dapur dan sesekali diselingi bunyi air keran serta gelas dan piring yang beradu di bawah sana. Sebenarnya perasaanya tak akan sesepi ini bila tak ada kisah patah hati yang ia alami sebelumnya. Lebih baik mengetahui Bintang yang awet pacarannya dengan Mitha daripada mengetahui Bintang sekarang sedang asyik menghabiskan liburannya di Jakarta bersama Tara, sahabatnya.
Luna melenguh panjang saat berdiri di depan jendela kamarnya. Matanya punya akses bebas ke arah halaman samping rumah Bintang. Rumah itu tampak lengang juga. Ada bola basket yang teronggok di sudut halaman. Di mata Luna jelas terlihat Bintang yang sedang memainkan bola itu, berlari ke sana kemari sambil mendribel, dan melompat lalu memasukkan bola itu ke ring di depannya. Itu terjadi cukup lama sekitar lima tahun lalu. Luna lebih senang menyaksikan aksi Bintang yang keren itu hanya dari balik jendela kamar ini dan mengangguminya diam-diam.
Luna sekali lagi melenguh sedih dan beranjak turun dari kamarnya. Aroma masakan Mbak Yati cukup ampuh mengalahkan perjalanan menembus waktu yang dialami Luna tadi dan memanggilnya untuk turun. Sarapan roti tadi pagi tidak cukup memuaskan cacing-cacing dalam perutnya ternyata.
Mata Luna membulat senang melihat ayam goreng tepung kesukaannya terhidang di depannya. Sup telur puyuh favoritnya pun sudah bersanding manis di dekat piring ayam goreng. Mbak Yati tersenyum puas melihat majikan kecilnya lahap menyantap masakannya. Luna terus mengunyah tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia hanya terus mengangkat jempol ke arah Mbak Yati yang memandang haru melihat masakannya begitu disukai. Ternyata menyantap makanan favorit memang obat ampuh membuang rasa sepi dan pedih. Ini formula Mbak Sita, tetangga kamarnya di kos saat menghadapi rasa stresnya, tapi sayang sistem metabolisme Mbak Sita tidak canggih dan membuat gadis cantik itu menggembung luar biasa setelah satu bulan putus dari Mas Adri, pacarnya.
Luna mengetuk-ngetuk senduk di ujung piringnya, ia meringis kecil membayangkan apa jadinya bila ia seperti Mbak Sita. Mudah-mudahan ia punya sistem metabolisme edisi canggih jadi ia tak perlu seperti Mbak Sita yang harus bangun tiap pagi untuk jogging. Luna paling malas olahraga, tidak seperti Tara yang rajin lari di treadmil kalau sudah merasa perutnya menebal sedikit saja.
Baru saja hendak membawa piring kotornya ke dapur, ponsel di atas meja berbunyi. Luna meletakkan kembali piringnya dan melihat layar. Ada nama Tara di sana. Ia meneguk ludah, menarik napas sebentar, sebelum meraih ponsel dan menjawab teleponnya. Di seberang sana terdengar jeritan senang Tara. Ia bersemangat menceritakan kalau ia dan Bintang sedang di Dufan. Dan Luna seperti biasa hanya menjadi pendengar setia, ia tidak menyela kata-kata Tara yang mengalir mulus dan tanpa henti. Kupingnya menangkap cukup jelas suara Bintang yang meminta Tara untuk menyudahi teleponnya. Mungkin saja Bintang tahu perasaan Luna saat ini. Sekali lagi ini bukan salah Tara dan Luna cukup paham.
Setelah telepon ditutup Luna menarik napas panjang. Suara girang Tara seperti enggan berhenti berngiang di kupingnya, Luna sampai perlu menepuk-nepuk kuping kanannya agar ia terbebas dari kisah manis Tara dan Bintang yang baru ia dengar tadi. Pergi ke Dufan bersama pacar adalah salah satu impiannya. Bibir Luna mengerut, rasa cemburu yang kadarnya sudah lumayan berkurang saat ia mengetahui kisah Bintang dan Mitha kini kembali naik perlahan. Entah kenapa tiba-tiba tangannya bergerak ke arah Magic Com dan piringnya tadi yang sudah siap ia hantarkan ke tempat pencuciannya mendadak terisi lagi. Kali ini ayam Mbak Yati dilahap tanpa rasa kasihan, ia tak perlu lagi menikmatinya kali ini.
***
Liburan dua minggu pun berlalu. Tapi bagi Luna liburan ini terasa berabad-abad lamanya. Sheila benar-benar menghabiskan waktu liburannya di Surabaya dan kembali tepat sehari sebelum masuk kuliah, sedang Tara yang sudah kembali sejak tiga hari lalu sepertinya masih belum puas menghabiskan waktunya bersama Bintang ketimbang bersama Luna, sahabatnya yang merana. Tapi Luna justru mensyukuri itu. Lebih baik menghadapi Tara, dengan segala kisah romantisnya dengan Bintang, bila Sheila sudah kembali nanti karena Luna tak sanggup mendengarnya sendirian.
"Luna!" Kaki Luna terpaku. Suara itu. Perlahan kepalanya bergerak menoleh. Bintang melambai dari halaman rumahnya. Dalam hati Luna mengomeli Ayah yang sudah dengan tega meninggalkannya tadi pagi. Harusnya Luna memang menebeng mobil Ayah dan Ibu untuk kembali ke kos, tapi orangtua tersayangnya itu tidak tega membangunkannya pagi-pagi. Dan hasilnya sekarang Luna harus menghadapi Bintang padahal ia sudah cukup berhati-hati melangkah tadi, mencoba berjalan dengan gaya zig-zag, melipir, berjinjit, dan bahkan berjalan menempel di dinding pagar Tante Rien yang warnanya hijau itu karena bisa jadi Luna akan jadi invisible karena kemeja hijau yang ia kenakan saat ini. Oke...itu terlalu berlebihan tentu saja Luna tidak melakukannya, tapi yang pasti Luna sudah berusaha agar Bintang tidak menangkap bayangannya saat ia lewat di depan rumah cowok itu.
"Mau pulang ke kos?" Bintang berjalan mendekatinya. Bibir Luna menekuk kecil saat perasaannya tidak bisa diminta untuk tenang saat melihat penampakan Bintang saat ini. Celana Bermuda pendek dengan atasan kaus putih yang setengah basah karena keringat. Rambutnya lembab dan acak-acakan, masih ada sisa tetes keringat di sekitar keningnya. Luna tahu Bintang baru saja main basket sendirian di samping rumahnya, karena itu saat melihat Bintang berlari masuk ke rumahnya beberapa saat lalu, dengan sigap Luna melesat keluar dari rumahnya dan bergegas ke jalan besar untuk menunggu taksi. Tapi ia ternyata salah perhitungan. Langkah cepat dengan segala aksi yang ia kira bakal meloloskan bayangannya dari penglihatan Bintang ternyata tak berhasil.
"Kalau kamu mau nunggu sebentar aja, aku akan antar kamu. Kebetulan aku harus ke kantor Papa." Kata Bintang dan membuat Luna terserang dilema.
"Uhmmmm...."
"Cuma sebentar kok. Mandiku nggak nyampe lima menit." Bintang tersenyum tengil dan membuat Luna tertawa kecil. "Oke? Kamu kembali ke rumah ntar aku panggil." Ajakan ini terlalu manis untuk Luna tolak. Coba lihat senyum Bintang saat ini saat membujuknya. Ahhhh....Luna mengeluh dalam hati kenapa susah sekali sih membenci cowok ini? Dan pada akhirnya Luna hanya mengangguk dan kembali ke rumahnya.
"Lun," panggil Bintang. Lima menit berlalu sejak perjalanan mereka, dan tak ada yang bicara. "kamu..." Bintang berdehem. Kepala Luna bergerak melihatnya.
"Aku...?"
"Kamu benar kan udah melupakan rasa kamu sama aku?" Bintang melihat Luna sekilas dan kembali membuang pandangannya ke depan. Kedua tangannya terpaku di setir mobil.
"Iya.." kata Luna pendek dan pelan. Ada nada tak yakin tergambar jelas di sana.
"Kamu pasti sakit hati kalau mendengar cerita-cerita Tara." Bintang melirik Luna sekilas. Luna tidak menjawab. Buat apa ia terus berbohong dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja kalau sebenarnya tidak seperti itu. Dan dengan diamnya Bintang pun tahu jawabannya. Cowok itu menghela napas berat dan memukul setirnya pelan saat mobil harus berhenti karena lampu lalu lintas sedang menyala merah. Suasanapun jadi canggung.
"Mas Bintang nggak perlu merasa bersalah. Karena kalau Mas Bintang terus mencoba berhati-hati dengan perasaanku, aku akan lebih sakit hati. Aku ngak apa-apa." Luna berkata dengan suara pelan. "Tara sahabatku dan aku nggak mungkin mengabaikan Tara. Mengabaikan semua ceritanya. Aku bisa mengatasinya. Aku memang sakit hati, cemburu, sedih tapi aku masih bisa tertawa bersama Tara karena kami sahabat. Waktu akan berlalu dan semuanya pasti akan kembali baik. Jangan meresa bersalah Mas." Luna menoleh memandang Bintang. Cowok itu menatapnya beberapa detik dan senyum perlahan tercipta di bibirnya.
"Cukup lama kita nggak sama-sama Lun dan aku nggak nyangka kamu bisa jadi sedewasa ini." Tangan Bintang bergerak di atas setirnya seiring mobil yang bergerak maju. Entah kenapa dalam hatinya ada perasaan lain kala menatap Luna. Cewek yang selalu ia anggap adik kecilnya, cewek yang selalu tertawa lebar dengan mata yang berbinar atau kadang cemberut lucu saat digoda olehnya dulu, cewek yang ternyata hanya lebih muda dua tahun darinya namun saat ini tampak jauh lebih dewasa dari yang ia kira.
"Aku senang Mas Bintang dan Tara baik-baik saja sekarang. Karena aku dan Sheila selalu susah menghadapi Tara yang lagi ngambek." Kata Luna dengan nada setengah bercanda diiringi senyum tulus yang tercipta di bibirnya dan Bintang pun ikut tersenyum. Mendengar kata-kata Luna ini membuat jantung Bintang berdebar halus. Ketulusan cewek di sebelahnya ini membuat ada yang berbeda dengan perasaannya. Kepala Bintang bergerak sedikit ke arah Luna dan matanya menangkap wajah cewek itu dengan ekspresi tulusnya tersenyum melihat ke depan menembus kaca mobil, entah apa yang ada di pikirannya namun Bintang yakin Luna sudah mulai melupakannya dan entah kenapa ada setitik rasa kehilangan di hatinya. Dia berdecak pelan dan memaki dirinya sendiri dalam hati.