Waktupun berlalu seiring luka hati yang mulai sembuh di hati Luna. Sekarang ia bisa menyela dengan mengomentari setiap cerita Tara tentang Bintang. Dan hubungan sahabatnya itu dengan cowok yang pernah diam-diam ia cintai pun mulai terlihat dewasa seiring semakin pengertian nona Tara si cewek manja itu. Bintang sudah kembali ke Jakarta dan bersiap untuk ujian akhir sarjananya. Semuanya kembali normal kecuali satu hal bahwa Tara tidak akan pernah tahu kalau Luna pernah mencintai Bintang. Tidak...bukan satu tapi ada dua hal, yang kedua adalah Tara tidak pernah tahu kalau Luna menjalin hubungan persahabatan dengan Kalan, cowok yang paling dibenci sahabatnya itu.
***
Luna tersenyum-senyum sendiri saat beranjak keluar dari kamarnya. Ia mengenakan sepatunya sambil bersenandung kecil. Sesekali ia menyeka poninya yang turun menutupi matanya dan mengangkat sedikit bagian belakang rambut panjang sebahunya dan menyeka keringat di atas bibirnya. Baru pukul sembilan tapi suhu Yogya mampu membuat orang cepat gerah hanya dengan melakukan aktivitas sekecil apapun.
"Sudah siap?" Sheila tiba-tiba muncul di depannya dan membuat Luna langsung menghentikan senandungnya.
"Hmmm....ceria amat? Sampai kedengaran dari gerbang?" goda Sheila.
"Ih bohong banget kamu." Cibir Luna. "Emang kamu tahu lagu apa tadi?" Luna berdiri dan sekali lagi merapikan atasannya.
"Lagunya Jupe yang Belah Duren kan?"
"Ngarang! Jangan samakan selera kita ya!"
"Emang selera kamu apa? Goyang Itik kan? Bukannya sama aja." Sheila memeletkan lidahnya dan langsung dibalas dengan jitakan kecil Luna di kepalanya. Luna menyambar tas dari atas mejanya dan langsung menggandeng Sheila keluar dari kamar.
Mereka sudah cukup lama tidak berjumpa karena liburan dan satu ritual Sheila setiap kali kembali masuk kuliah setelah liburan adalah menjemput Luna dan berjalan ke kampus bersama.
"Ayo cerita! Kenapa tadi ceria amat?" Sheila menyikut pelan tangan Luna yang berjalan di sebelahnya.
"Kan mau ketemu kamu lagi, terus ketemu Tara, ketemu Pak Fajar, Bu Nita, Bu Lily..."
"Bohong!" Potong Sheila dengan wajah cemberut. Luna menimpalinya dengan tertawa kecil. Tangan Luna menyambar tangan Sheila dan menggandeng sahabatnya itu.
"Tadi habis chatting sama Mas Kalan."
Mata Sheila membulat. Bibirnya yang mengatup bergerak-gerak kecil hendak tersenyum. Namun tangan Luna dengan cepat melambai di depan wajah Sheila.
"Jangan salah sangka! Ihhh..." Luna mencubit pipi Sheila dengan gemas. "Mas Kalan tadi cerita pengalamannya di sana waktu pertama kali sampai di Boston. Biasalah culture shock gitu deh apalagi kamu tahu antiknya kayak apa Mas Kalan itu." Sheila langsung tertawa ngakak. Dan mengalirlah cerita Luna tentang apa yang baru saja diceritakan Kalan tadi pagi buta.
"Bentar lagi Mas Kalan pulang kan?"
Luna mengangguk.
"Kamu ngerasa lucu nggak sih, saat Mas Kalan jauh di Amrik sono, kamu malah bisa berakrab-akrab ria sama dia. Nanti kalau Mas Kalan pulang dan Tara tahu kamu dekat sama dia, gimana reaksi Tara ya? Kamu bilang apa nanti sama Tara?"
Luna terdiam. Ia yakin Tara yang bawel suka penasaran itu tidak akan tinggal diam melihat keakrabannya dengan Kalan. Apa yang harus Luna katakan pada Tara? Luna menoleh pada Sheila keduanya berpandangan dan Luna hanya bisa mengedikan kedua bahunya.
"Luna! Sheila!" Tara berlari di sepanjang koridor sambil menjeritkan nama kedua sahabatnya. Mereka bertiga berpelukan. Dari wajah yang ditampakkannya pagi ini Luna yakin hubungannya dengan Bintang sedang baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, hubungan mereka tampaknya semakin erat justru dikala Bintang lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta. Mata Tara berbinar saat ia tertawa dan membuat wajah putih mulusnya tampak bersinar bahagia.
Karena mata kuliah Speaking kosong, maka ketiga sahabat itu akhirnya berakhir di kos Luna. Sheila bahkan menolak diajak makan oleh Tara dulu karena sudah tak sabar melihat pesanannya yang dibawa Tara dari Singapura. Sheila dan Luna menjadi pendengar yang baik saat Tara sangat bersemangat menceritakan pengalaman berliburnya di Singapura sambil sibuk mengeluarkan oleh-oleh yang ia bawa dari tasnya yang bermerek mahal itu. Penglihatan Sheila pun terdistorsi dengan barang-barang yang dikeluarkan Tara dari dalam tasnya.
Sheila menganga senang saat melihat produk kecantikan yang ia pesan diletakkan Tara di hadapannya. Dan mata Luna membesar kaget saat melihat tas selempang bermerek yang dekeluarkan Tara dari dalam shopping bagnya. Ia tidak pernah memesan apapun dari Tara tapi ia bisa menebak dengan mudah Tara pasti akan membawakan sesuatu yang harganya mahal untuknya. Tapi bukan semahal tas yang ada di pangkuannya saat ini.
"Lagi? Ini mahal Tara!" jerit Luna tertahan.
"Tenang! Itu dapat gratis dari kliennya Mas Robi. Daripada dikasih ke pacarnya yang matre itu mending dikasih ke adiknya yang budiman ini." Tara membanyol dan membuat Luna tertawa pelan.
"Kalau Luna nggak mau buat aku aja." Tangan Sheila mengarah ke tas itu namun dengan cepat Luna menepuk tangan Sheila.
"Siapa bilang Luna nggak mau?" kata Luna sambil mencibir pada Sheila. Sahabatnya itu hanya mendesis kesal.
"Curang! Masak oleh-oleh Luna lebih mahal?"
"Gratisan." Potong Luna.
"Iya gratisan tapi kalau dijual lagi lo bisa borong sepatu Gosh impian lo itu." Omel Sheila dan disahut Luna dengan memeletkan lidahnya membuat Sheila kemudian menoyor jidat sahabatnya itu. Ketiganya tertawa bersama.
"Oh ya Lun, Mas Bintang minggu depan sidang pendadaran." Tara memberi kabar dengan wajah penuh semangat bercampur haru. "Dan dia udah dapat panggilan kerja loh? Hebat kan pacarku itu?" Tara mengumbar rasa bangganya. Sheila dan Luna hanya saling berpandangan kemudian mencibir bersamaan.
"Iya deh yang punya pacar hebat." Desis Sheila masih belum menghilangkan cibiran irinya.
"Ayo donk kalian pada punya pacar jadi kita bisa kencan barengan kan seru tuh," usul Tara dan membuat Sheila menyeringai kesal. Luna hanya tertawa melihat reaksi Sheila. Sahabatnya itu bisa dibilang agak dingin dengan namanya cowok. Sebenarnya selama ini Sheila gencar didekati Ko Hendry, teman sepupunya. Mereka bertemu di Surabaya saat Sheila ke sana beberapa waktu lalu. Tapi seperti biasa Sheila langsung membentengi dirinya saat ia tahu Ko Hendry punya niat menjadikannya pacarnya.
"Ah iya aku lupa Sheila kan miss anti cowok. Ihhhh...ntar rasain loh kalau sampai umur 30 lo nggak dapat-dapat cowok, lo pasti akan nyesel melewatkan masa muda lo ini." Tara mengarahkan telunjuknya ke jidat Sheila.
"Siapa bilang aku anti cowok. Aku hanyalah cewek berprinsip, prinsipku pacaran nanti kalau umurnya udah 21, dan menikah kalau umurnya udah 25. Udah gitu aja simple kan? Nggak usah dipikir ribet Tara sayang..."
"Berarti lo bilang sama Ko Hendry suruh dia sms lo setelah dua tahun lagi. Simpel kan?" balas Tara tak mau kalah.
"Iiiiihhhh....." Sheila gemas melihat Tara yang tidak mau kalah terus menjodohkannya dengan cowok yang tidak ia suka. "Prinsipnya aku nggak suka sama Ko Hendry!"
"Naaaahhhh gitu dong ngomong yang jujur kalau lo emang nggak suka sama dia bukannya pake alasan prinsip-prinsip itu!" serang Tara lagi dan membuat wajah Sheila memerah. Luna tidak tahan untuk tidak tertawa. Sheila memang paling susah ditebak perasaannya kalau sudah berurusan dengan cowok. Untuk masalah ini Sheila memang agak menutup diri, ia sangat berbanding terbalik dengan Tara. Luna mengelus-ngelus punggung Sheila yang baru diskakmat oleh Tara.
"Dan lo Lun? Gimana kabar lo? Maksud gue lo benar-benar nggak niat cari cowok ya?" Tara merubah sasarannya. Luna tercekat. "Bukannya lo sering diBBM sama Mas Raka anak UGM itu?" semangat mak comblang Tara yang tadi sempat tertelan karena berperang kata dengan Sheila mendadak kembali muncul.
"Nggak ada yang istimewa," balas Luna pendek berusaha menghindari pembicaraan ini.
"Nggak harus istimewa, cukup Yogya aja yang istimewa." Balas Tara asal dan agak garing dan membuat Sheila terkikik geli. "Hal-hal biasa itu akan jadi istimewa pada akhirnya asal kasih dia kesempatan lah Lun. Mas Raka nggak jelek lagi. Anak band pula." Tara masih bersemangat. Sepertinya setelah pacaran dengan Bintang meski baru beberapa bulan, Tara sudah merasa dirinya ahli di bidang ini.
"Sejak kapan kamu semangat jadi mak comblang Ra? Heran deh!" Sheila kembali protes.
"Sejak gue pengen kita bisa kencan bareng bertiga." Sahutnya dengan senyum penuh percaya diri. "Ayolah Lun, cobalah ngasih kesempatan Mas Raka. Dia suka loh sama lo."
"Suka gimana? Ketemu aja baru sekali." Kali ini Luna tidak mau tinggal diam. Ia ingat Tara mengenalkan Raka padanya saat ada konser Jazz di UGM beberapa bulan lalu. Saat itu malam hari dan lampu di luar GSP tidak terlalu terang benderang untuk membuat Luna mengingat detil wajah Raka atau melihat sinar matanya untuk mengetahui bahwa cowok itu tertarik atau tidak padanya. Memang Raka beberapa kali mengirim pesan namun hanya pembicaraan tidak penting. Jadi sebenarnya tidak ada yang terjadi seperti dalam khayalan si miss Tara. Raka pun pasti juga tidak berniat mengejar cewek yang dingin padanya dan tentu saja pertemuan pertama mereka waktu itu sama sekali tidak berkesan sangat dalam pada Raka sampai ia bertekad kuat untuk mendapatkan Luna. Intinya semua ini hanyalah keinginan Tara saja agar bisa memuaskan keinginannya sendiri. Begitulah Tara. Tapi bagaimanapun Tara adalah sahabatnya dan Luna tidak bisa membenci Tara karena ini.
***
Mata Luna masih terpaku di layar laptop meski jam sudah menunjuk pukul satu dini hari dan kelopak matanya sudah berat dan nyaris menutup. Suara gerimis di luar menjadi teman Luna sejak satu jam yang lalu. Ia mengucak pelan matanya dan menguap panjang sebelum matanya kembali mengarah ke layar di depannya. Tugas Prose harus dikumpulkan besok pagi dan sejak sore tadi Luna sama sekali tidak bisa berpikir. Barisan puisi yang dibacanya sama sekali belum bisa ia tangkap maknanya, padahal ada lima puisi yang harus ditelaah. Dan setelah menjerit-jerit sebentar bersama Green Day dan lari-lari kecil mengelilingi kamar dan berakhir dengan mandi pukul sepuluh malam, Luna mulai kembali duduk manis di meja belajarnya dan kembali pada realita.
Sebuah notifikasi email muncul di layar dan menjadi sebuah intermezzo di tengah rasa kantuk bercampur mumet yang mendera segenap jiwa dan raganya. Semangatnya yang sejak tadi sudah melorot hingga menyentuh lantai mendadak naik ke titik nol dan perlahan beranjak terus menuju puncak saat melihat nama pengirim email. Kalana Lazuardi.
Dear Luna,
Aku pulang akhirnyaaa!!! Wah ini enam bulan yang mendebarkan sekaligus menyenangkan dalam hidupku. Aku lagi di bandara Lun....hehehehe...cant wait to see u...makasih ya karena selama enam bulan ini kamu jadi sahabat yang sangat menyenangkan dan semoga setelah sampai di Yogya persahabatan kita akan jauh lebih menyenangkan...dan kamu harus janji untuk ngajak aku makan ditempat yang kamu rekomendasikan itu...Okay Lun sampai ketemu di Yogya ya..aku udah mau boarding nih...bye!
Berkali-kali Luna membaca email Kalan dan berkali-kali pula rasa senang itu mengalir di setiap aliran darahnya memberi efek letupan-letupan kecil yang bermuara pada debaran halus di dadanya. Tubuhnya menghangat saat perasaan itu menguasai hati dan pikirannya. Perasaan yang sama namun ketika bermuara di tempat yang berbeda hasilnya ia mengalir ke dua arah yang berlawanan.
Luna mengatup wajahnya dengan kedua tangannya. Hati dan pikirannya terus berperang. Ia senang Kalan kembali, namun entah kenapa debar di dadanya berarti ganda saat ini. Senang dan sekaligus cemas. Bukan cemas karena takut ketahuan Tara, tapi cemas apakah perasaanya sama saat berbicara dengan Kalan lewat dunia maya dan saat bertatapan langsung dengannya di dunia nyata. Ini perasaan yang membingungkan, jauh lebih membingungkan saat berusaha memahami bahasa Inggris versi Shakespeare di setiap dramanya atau proses memahami karakater Robert Frost di setiap puisinya. Ia mengerang kecil dan akhirnya menelungkupkan wajahnya ke atas meja dengan pasrah.
***
Luna melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan berdecak kecil saat melihat betapa lambatnya jarum jam itu bergerak ke angka sebelas. Ini artinya masih setengah jam lagi Luna harus bertahan melihat Mr. Tim berceloteh di depan kelas dengan logat British Walesnya yang susah dipahami Luna. Matanya berusaha melihat ke luar kelas melalui jendela kaca di dekatnya, mencari-cari sosok Sheila di antara siswa yang hilir mudik di selasar. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Sheila dan menceritakan apa yang sudah terjadi dengan perasaannya. Ia ingin tahu pendapat Sheila dan berharap bahwa pemikiran sahabatnya itu seperti yang ia harapkan bahwa debar ini, rasa gugup ini, keanehan ini bukanlah tanda-tanda dari perasaan yang ia takutkan.
Mata Luna memindai sepanjang koridor mencari target yang ia tunggu sejak tadi pagi. Ia melambai sebentar ke beberapa teman kelasnya yang menyapa dan saat sosok Sheila muncul di antara keramaian koridor kampus siang ini, Luna langsung berlari menghampirinya.
"Lama banget sih La." Keluh Luna. Ia menarik tangan Sheila ke arah yang berlawanan.
"Aku tadi nemenin mami belanja dulu tau sendiri kan mami kalau belanja." Jelas Sheila dengan kaki melangkah cepat mengikuti irama jalan Luna. "Lagian ngapain juga kamu milih mata kuliahnya si Tim sih?" Luna tidak menjawab pertanyaan Sheila. Ia hanya ingin segera membawa Sheila ke tempat yang nyaman untuk bicara.
"Kita mau kemana?" Tanya Sheila bingung saat langkah mereka sudah keluar dari gerbang kampus.
"Kosku. Aku butuh tempat yang tenang dan nyaman."
"Ada apa sih Lun? Kamu bikin aku jadi deg-degan."
Luna tidak juga menjawab, dan mereka berjalan dalam diam meski wajah Sheila terlihat begitu bingung dan penasaran. Tidak sampai lima menit mereka sudah tiba di kamar Luna. Setelah mereka duduk berhadap-hadapan, mulut Luna mulai bergerak namun entah kenapa kata-kata itu tidak pernah terucap.
"Luna! Kamu kenapa?" Sheila semakin tidak sabaran. "Ada hubungannya dengan Mas Bintang? Atau Tara? Atau siapa?"
"Bukan Mas Bintang atau Tara. Tapi...Mas Kalan."
"Kenapa dengan Mas Kalan?" Mata Sheila yang kecil itu membulat dan menatap Luna lekat-lekat. Dan beberapa detik Luna perlu menarik napas sebelum akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi semalam pada dirinya.
"Itu bukan sesuatu yang aneh kan La? Maksudku...uhmm..." Luna berusaha mengalihkan matanya dari Sheila. "Sumpah! Aku nggak pernah berpikir yang aneh-aneh tentang Mas Kalan. Murni aku ingin bersahabat sama dia tapi entah kenapa tiba-tiba semalam jantungku berdebar kencang banget dan entah sadar atau enggak aku bahagia banget dengar kabar Mas Kalan mau pulang." Luna kembali memandang Sheila dan tatapan penuh harapan akan pertolongan sahabatnya itu.
"Mungkin kamu nggak jatuh cinta sama Mas Kalan."
"Benarkan?" Potong Luna cepat dengan senyum sumringah di wajahnya seakan ia baru saja mendengar keputusan hakim yang paling melegakan sepanjang vonis hukum mati yang menderanya.
"Iya...kamu mungkin nggak jatuh cinta saat ini tapi tanpa kamu sadari ada rasa suka atau kagum atau apalah...rasa yang tentu saja sangat positif sama Mas Kalan. Kamu berdebar mungkin karena kamu gugup mikirin apa kamu bisa bicara sehangat waktu kamu chatting bila nanti kamu bertemu langsung dengan Mas Kalan." Senyum di wajah Luna belum sirna, ia terus mengangguk mengiyakan semua kata-kata Sheila.
"Pernah nggak kamu kangen sama dia waktu dia nggak email kamu dalam waktu lama atau ada nggak rasa pengen terus ngobrol sama dia dan kalau bisa kalian nggak berhenti chatting?" Sheila memandang Luna tajam dan perlahan senyum di bibir cewek itu memudar.
"Uhmm...."
"Ayo jujur."
"Iya..ada saat dimana aku nggak pengen berhenti chat ma dia." Luna menggigit bibirnya ada hawa panas mengaliri wajahnya. Ia tidak berbohong karena satu bulan terakhir Luna merasakan hal itu.
"Kenapa kamu begitu takut jatuh cinta sama Mas Kalan, Lun?"
"Apa?" Pertanyaan Sheila membuat Luna cukup terkejut. "Aku nggak jatuh cinta kok. Kan seperti apa yang kamu bilang tadi." Luna mulai gugup di bawah tatapan tajam Sheila.
"Apa karena dia jadul seperti kata Tara? Nggak keren kayak Mas Bintang? Atau karena Tara nggak suka sama dia? Atau karena kamu nggak mau Tara benar dengan kata-katanya kalau kamu cocok kalau pacaran dengan Mas Kalan?" semua kata-kata Sheila seperti air bah yang datang langsung menerjang Luna hingga ia tenggelam. Semua alasan yang Sheila ucapkan tak bisa ia sanggah karena memang semuanya benar.
"Luna....kamu nggak seperti Tara. Kamu beda. Dan begitu pula kamu juga tahu Mas Kalan nggak seperti yang Tara kira, selama enam bulan ini kamu mengenal Mas Kalan, kamu tahu seperti apa dia, dan kamu suka dia, jadi please lihat Mas Kalan seperti apa adanya dia."
Luna memainkan jemarinya gelisah.
"Lun, gini aja.." Sheila merangkul bahu sahabatnya itu. "jangan terlalu dipikirin berat-berat, kalian juga belum bertemu. Nanti setelah Mas Kalan disini kamu bisa tahu apa kamu jatuh cinta atau nggak sama dia."
"Dan kalau..." Luna menarik napas berat.
"Kalau apa?"
"Gimana kalau aku jatuh cinta sama dia dan dia enggak? Aku harus gimana?" rengek Luna sedih.
"Kamu cantik Lun. Kamu baik. Nggak mungkin Mas Kalan nggak lihat itu."
"Tara udah bikin Mas Kalan buta, La. Coba kamu baca puisi-pusi Mas Kalan, surat-surat dia untuk Tara, kamu pasti akan tahu. Dan dia sudah mencintai Tara lebih dari satu tahun, apa mungkin aku bisa ngalahin Tara hanya dalam waktu enam bulan? Dan hanya lewat dunia maya?" kata Luna putus asa.
"Emang Tara masih ada dalam obrolan kamu sama Mas Kalan selama ini?"
Luna berpikir sesaat dan kemudian menggeleng.
"Tuh kan? Tara udah nggak ada lagi dipikiran Mas Kalan. Sudahlah Lun, kita lihat saja nanti saat Mas Kalan sudah ada di sini. Okay?" Luna mengangguk dan langsung memeluk Sheila. Ada rasa lega yang mengisi setiap relung hati Luna saat mengungkapkan semuanya, khususnya bagian ia yang ternyata punya rasa yang lain terhadap Kalan. Hal yang sebenarnya ingin ia abaikan karena alasan-alasan yang Sheila sebutkan.
Dalam hati, Luna jujur mengakui bahwa ia sempat dengan tegas mengingkari perasaannya pada Kalan dengan mempertimbangkan hal yang selalu ditunjukkan Tara, bahwa Kalan bukan cowok yang menarik. Penampilannya jadul dan kepribadiannya kaku. Tapi apa yang digambarkan Tara itu tidak ditemukan Luna saat ia mulai begitu 'dekat' dengan Kalan. Dan parahnya semakin kesini, perasaan Luna mulai terusik dengan 'kehangatan' yang Kalan perlihatkan melalui setiap kisahnya, candaannya, bahkan bahasa puitisnya sekalipun. Dan itu hanya lewat email, bagaimana kalau Kalan hadir di depannya secara nyata. Tapi di sudut hatinya yang terdalam Luna masih berharap bahwa ia tidak jatuh cinta pada Kalan karena ia tidak ingin hubungannya dengan Tara akan terganggu, ia berharap kehadiran Kalan nantinya justru memastikan bahwa perasaannya bukanlah cinta. Ya, ia tetap berharap seperti itu.
"Makasih ya La, aku punya kamu." Bisik Luna.
Aksi mengharukan mereka terhenti saat ponsel Luna berbunyi dan ada nama Tara di sana.
"Ya Tara..." Luna terdiam dan tak lama kemudian ia mematikan teleponnya dan menatap Sheila dengan wajah kebingungan.
"Ada apa?"
"Tara nangis di telepon. Dia dalam perjalanan ke sini."