Tepat pukul 2 siang Tara muncul di depan pintu. Rambutnya sedikit basah karena gerimis yang memang turun sejak setengah jam lalu, wajahnya sembab dan masih tampak jelas jejak-jejak air mata di kedua pipinya. Luna langsung berdiri menyambut sahabatnya itu dan menuntunnya masuk ke kamar. Saat Tara duduk ia kembali berlinangan air mata, ia kembali terisak. Sheila memberi tanda dengan matanya pada Luna agar membiarkan Tara menyelesaikan tangisannya. Luna menyodorkan kotak tisu pada sahabatnya itu dan tidak lama kemudian Tara berhenti terisak.
"Mas Bintang..." Tara menyeka mata dan hidungnya dengan tisu. "Mas Bintang bohong sama aku." Kata Tara dengan suara bergetar menahan tangis.Luna dan Sheila tidak menyela cerita Tara, mereka tak melepaskan pandangannya dari sahabat mereka yang sedang bersedih itu.
"Mas Bintang nggak pernah ngelupain Mitha. Dan...dan.." Tara kembali tergugu, Luna mengulurkan tangannya dan mengelus punggung sahabatnya itu. Di luar hujan turun lebih deras, udara dingin dari luar menyelusup masuk ke dalam kamar namun sepertinya tak mampu meredam panas hati Tara.
"Dasar cewek sialan!" maki Tara tiba-tiba. Luna dan Sheila saling berpandangan dengan mata membulat kaget. "Dia terus kirim pesan di WA Mas Bintang padahal dia udah tahu kalau Mas Bintang udah punya pacar. Mending kalau BBMnya biasa-biasa aja lah ini..." Tara meremas tisu bekas di tangannya dan melemparnya kuat-kuat kea rah kotak sampah di sudut kamar Luna.
"Emang dia nulis apa?" Sheila akhirnya buka suara.
"Dia bilang 'Bin, kamu masih punya janji ya sama aku...sampai kapan pun aku akan nunggu.' Apa coba maksudnya? Janji apa yang ada diantara mereka? Dan waktu aku nanyain ke Mas Bintang dia malah marah besar dan nganggap aku terlalu berlebihan cemburunya padahal wajar banget aku cemburu kalau aku baca kalimatnya seperti itu. Terus aku minta dia untuk bilang janji apa yang dia buat sama cewek itu tapi dia sama sekali nggak mau bilang, katanya itu masa lalunya dan dia berhak untuk nggak bilang sama aku." Tara bercerita dengan penuh amarah, dan di saat marah seperti ini Tara justru lupa ber-lo-gue. Marah dan jatuh cinta adalah dua situasi yang bisa membuat Tara melupakan gaya bicara ala Jakarta itu.
"Dan yang lebih parah Mas Bintang masih nyimpan foto Mitha di dompetnya." Bibir Tara bergetar bersiap kembali menangis. Luna geleng-geleng kepala kecewa dengan apa yang baru diketahuinya. "Aku nggak sengaja ngelihat pas dia mau ngeleuarin simnya dan di foto itu ditaruh di balik simnya." Tara mendengus kesal di antara isaknya. "Seharusnya kita kangen-kangenan eh jadinya malah berantem. Sepanjang jalan dari bandara Mas Bintang terus nyalahin aku. Ya karena sudah lancang membaca pesan BBMnya lah, karena nggak pengertian lah, apalah, apalah, bla bla bla." Tara menghela napas putus asa. "Dan sekarang dia diemin aku." Tambahnya lagi dengan suara pelan.
"Kapan Bintang kembali?"
"Kemarin sore. Dan ini sudah hampir seharian dia nggak hubungin aku." Ketiganya terdiam. Luna memandang iba pada Tara. Ia tahu sahabatnya itu sudah banyak berubah sejak beberapa bulan terakhir. Ia tidak seegois dan sekanak-kanak awal ia dan Bintang mulai berhubungan. Dan kalau Luna ada di posisi Tara dan melihat pesan BBM Mitha seperti itu, ia juga pasti akan marah dan cemburu. Dan cewek mana yang tidak sakit hati dan cemburu bila tahu foto mantan pacar cowoknya yang sudah hampir dua tahun putus masih tersimpan di dalam dompet.
Dan sesiangan ini Luna dan Sheila tidak bisa beranjak dari kamar karena Tara tak bisa berhenti mengeluh dan ujung-ujungnya menangis. Akhirnya mereka berakhir tiduran di karpet sambil menghabiskan setoples kue kenari. Saat hening tak ada seorang pun yang bicara ponsel Luna berbunyi, Luna meraih ponsel dari atas ranjangnya. Sebuah pesan masuk.
Luna, bisa kita ketemuan? I need to talk to you
Luna melirik Sheila dan Tara yang sama sekali bergeming. Sheila bahkan mungkin ketiduran karena sejak beberapa menit yang lalu matanya memejam, dan Tara dengan mata sembabnya terus memeluk Ulil, boneka ulat Luna dan tak terlihat lagi gairah di wajahnya.
Tara lagi dikosku. Aku kabari nanti ya, Mas
Beberapa detik kemudian ada balasan
Oke pasti kamu sudah dengar dari Tara, aku butuh kamu, if its okay with u...
Luna menghela napas pelan, dan matanya berkali-kali membaca sebaris tulisan itu. Mungkin benar sebagian besar perasaannya untuk Mas Bintang sudah hilang dan ia baik-baik saja saat ini seperti yang berkali-kali ia yakinkan pada Bintang, namun ketika dia diharapkan untuk duduk di hadapan cowok itu untuk mendengar problema cintanya, ia merasa Bintang sudah memperlakukanya dengan tidak adil. Tapi ini bukan karena Bintang kejam tapi lebih kepada Luna lah yang paling dekat dengan Bintang dan Tara saat ini. Luna adalah sahabat mereka. Dan kepadanyalah Tara dan juga Bintang bisa berkeluh kesah. Luna kembali menghela napas dan kali ini lebih berat.
***
Bintang masih berdiri di dekat pintu masuk meski Luna sudah mempersilahkannya untuk duduk. Cewek itu hanya menatap sedikit heran dengan ekspresi ragu yang tergambar jelas di wajah Bintang dan bahasa tubuhnya.
"Mas..." sapa Luna.
"Uhm..." Bintang mengangkat wajahnya dan memandang Luna agak lama. Seandainya adegan ini terjadi beberapa bulan lalu bisa jadi saat ini Luna sudah sesak napas. Tatapan Bintang sangat tajam menusuk tembus manik matanya.Beberapa detik Luna bertahan terperangkap dalam tatapan Bintang namun untuk dua detik kemudian perasaannya kembali bergolak. Sungguh perasaannya belum benar-benar sirna, masih ada sedikit tersisa...oke hanya sedikit saja tapi bila di antara mereka saat ini tidak ada yang mau berniat memecah kehingan dan menghentikan aksi tatap menatap ala Dedy Corbuzier ini, Luna tidak akan pernah tahu yang bisa terjadi lagi pada hatinya.
"Nggak ada yang terjadi antara aku dan Mitha." Bintang bersuara, kakinya melangkah mendekati sofa di dekat Luna. Rumah Luna siang ini sepi seperti biasa, Mbak Yati mungkin sedang mencuci di belakang. Kenyataannya udara cukup gerah meski siang belum mencapai puncaknya mungkin karena mendung yang cukup berat di luar dan angin seperti enggan berhembus, Luna mulai merasa tengkuknya berkeringat saat Bintang duduk di depannya.
"Kata-kata Mitha di WA itu nggak ada artinya, itu hanya candaannya. Aku coba jelaskan sama Tara tapi dia nggak mau dengar." Jelas Bintang lagi. Luna hanya duduk diam menjadi pendengar yang baik tapi matanya terus bekerja mengamati wajah Bintang yang saat ini tampak putus asa. Bagi Luna masalah ini sebenarnya tidak terdengar luar biasa dalam sebuah hubungan. Ini hanya cemburu dan salah paham. Bintang dan Tara bisa menyelesaikannya tanpa perlu pihak ketiga. Kecuali kalau...
"Aku juga nggak tahu perasaanku sebenarnya pada Tara." Luna langsung mengangkat wajahnya menatap Bintang lurus-lurus. Tubuh cowok itu sedikit bergerak gelisah.
"Maksud Mas Bintang?"
"Entahlah...Mitha, Tara, kamu..."
Deg! Jantung Luna rasanya mau copot dari tempatnya. Apa tadi Mas Bintang bilang? Kamu? Aku maksudnya?
"Huh?"
Bintang memandang Luna.
"Maaf Lun aku nggak bermaksud jahat sama kamu. Membuat posisimu jadi sulit lagi. Aku tahu kamu sudah banyak ngorbanin perasaan kamu demi Tara dan aku. Seharusnya aku nggak perlu datang ke kamu dan ngomong masalah ini, tapi karena Tara sahabat kamu dan...kita pernah cukup dekat jadi aku pengen kamu melihat aku sejauh kamu mengenal aku." Luna tak melepas pandangannya dari Bintang. Jantungnya berdegup pelan, dia masih belum bisa menangkap maksud Bintang sepenuhnya.
"Aku nggak ingin menyakiti Tara, Lun. Aku sayang sama dia hanya saja aku selalu membanding-bandingkan dia dengan Mitha. Aku tahu..." nada Bintang sedikit naik saat melihat Luna membuka mulutnya hendak bicara. "..aku tahu aku memang jahat. Tara datang di saat perasaanku masih labil, di saat aku bimbang untuk kembali pada Mitha. Aku berharap Tara bisa menyingkirkan semuanya tentang Mitha termasuk rasa yang masih tertinggal di sini." Bintang menunjuk dadanya.
"Dan kamu Lun, ketika kamu bilang kamu suka sama aku.." Bintang terdiam sebentar. Luna menahan napasnya. "..aku sempat berpikir lama. Kamu sudah membuat aku berpikir...dan kamu tahu apa artinya kalau aku berpikir?" Bintang memajukan tubuhnya.
Luna menggeleng.
"Sudahlah...itu sudah berlalu..aku sudah memilih Tara." Kata Bintang sangat pelan, dia bahkan tidak berani memandang Luna. Kalimatnya terdengar seperti sebuah penyesalan dan Luna semakin dibuat bingung. Cewek itu menghembuskan napasnya pelan. Sungguh Bintang sudah membuatnya semakin gerah dengan semua kata-katanya. Peluh mulai menitik di kening dan di atas bibirnya, ia berharap hujan segera turun.
"Aku berharap aku bisa meneruskan hubunganku dengan Tara dengan hati yang mantap. Dan mengenai Mitha aku memastikan tidak akan kembali padanya." Ada keyakinan di mata Bintang. "Aku akan bicara pada Tara. Aku nggak akan nyakitin sahabatmu, Lun. Kamu harus percaya itu."
Luna mengangguk namun di dasar hati terdalamnya ia masih merasa digantung dengan kata-kata Bintang sebelumnya. Kalau pengakuan isi hatinya dulu telah membuat Bintang berpikir lama, apakah itu artinya kalau tak ada Tara, Luna bisa saja jadi kekasih Bintang saat ini? Itukah maksudnya?
"Lun,"
"Ya."
"Terimakasih ya sudah jadi sahabat Tara. Kamu memang yang terbaik." Bintang tersenyum tulus.
***
"Jadi Mas Bintang ngajak ketemuan?" Tara bersedekap. Wajahnya masih tegang seperti saat terakhir Luna melihatnya menangis di kamar kosnya. Luna menggeser laptopnya dan memajukan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan Tara yang duduk di depannya.
"Kalian sudah ketemu dan bicara?" Tanya Luna.
"Dia lebih suka bicara dengan kamu dulu." Tara berkata dengan wajah lebih dingin sama dinginnya dengan sinar matanya yang tidak mau beralih dari Luna. Luna berdecak kecil karena tahu ia kembali terjebak di posisi yang selalu salah.
"Karena Mas Bintang juga perlu teman bicara seperti ketika kamu datang nyariin aku dan Sheila."
"Tapi kenapa harus lo?" balas Tara dan menbuat Luna terdiam sejenak.
"Karena aku teman Mas Bintang."
Kali ini Tara melepaskan tatapan dinginnya dan wajah tegangnya berubah sendu. Tangannya yang sejak tadi bersedekap akhirnya ia turunkan.
"Ra, kamu sudah ketemu Mas Bintang?"
Tara menggeleng.
"Mas Bintang nggak seperti yang kamu kira. Dia sayang sama kamu dan dia bilang akan berhenti berhubungan dengan Mitha meskipun hanya sebagai teman. Dia serius, Ra. Bicaralah dengan Mas Bintang."
"Nggak." Tara menggeleng keras.
"Kalian harus nyelesaiin masalah kalian."
"Pokoknya enggak!" Tara berkata keras dan membuat beberapa orang di dekat mereka serentak menoleh.
"Oke, terserah kamu." Luna menarik tubuhnya ke belakang, menarik lebih dekat laptopnya ke hadapannya. Di depannya Tara menelungkupkan wajahnya ke meja. Luna memahami Tara yang bersikeras dengan keras kepalanya, ia sedang dirasuki rasa marah, cemburu dan gengsi setinggi gunung.
Jarum jam sudah meninggalkan angka dua sejak tiga puluh menit lalu dan keheningan antara Tara dan Luna masih belum berujung. Meski Luna sibuk mondar mandir di dunia maya namun pikirannya tak pernah lepas dari Tara. Sahabatnya itu masih setia mengadukan wajahnya dengan meja di depannya.
"Ra," panggil Luna.
Kepala Tara bergerak dan perlahan ia mengangkat wajahnya. Matanya basah dan ia segera menyekanya.
"Gue pulang Lun." Ia menarik tas dari atas meja dan berdiri.
Luna tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk. Tara berjalan gonatai menyusuri salasar. Mata Luna mengikuti bayangan Tara hingga menghilang di balik ruang lab bahasa.
Setelah sepuluh menit berlalu Luna membereskan tasnya dan bersiap untuk pulang juga. Semua data yang ia perlukan untuk kuliah Miss. Claire sudah beres, nanti malam waktunya bergulat dengan semua data itu.
"Luna!" baru beberapa langkah Luna menyusuri salasar sebuah suara menghentikannya. Ia menoleh dan melihat seorang cowok berlari kecil ke arahnya. Ia mengernyit berusaha mengenali siapa yang memanggilnya.
"Hei!" cowok itu tersenyum dan beberapa detik kemudian otak Luna mulai bisa merangkai beberapa hal dari cowok itu yang masih tertinggal di memorinya. Suaranya, senyumnya, dan ya Tuhan! Mata Luna membulat kaget saat tahu siapa yang ada di hadapannya ini.
"Mas Ka..lan?"
"Apa kabar Lun?" Luna masih menganga. Matanya mulai meneliti cowok itu dari atas kepala hingga kakinya yang beralas sneaker. Rambut cowok itu tidak lagi rapi berbelah samping, kini rambut hitam lurus itu ia biarkan bebas tanpa perlu diapa-apakan. Tak ada lagi kacamata berbingkai besi yang membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Ia jauh lebih keren dengan kaca mata nerd berbingkai setengah putih dan setengah hitam, Luna jadi ingat JB pernah menggunakan kaca mata seperti ini. Tak ada lagi kemeja ala Jokowi yang sekarang sudah berganti dengan t-shirt kelabu dipadu dengan rompi denim hitam.
"Lun?"
Terlalu lama Luna memandang dan menilai semua yang berbeda dari cowok di depannya ini.
"Y..yya.." Luna mengangkat wajahnya memandang Kalan.
"Aku tahu, kamu pasti kaget melihat aku yang sekarang." Kalan tersenyum malu. "Tapi Krystal sudah benar-benar mengubah." Kalan terkekeh saat menyebut nama Krystal, temannya di Boston yang punya jasa meng-make over-nya.
"Aku aneh ya? Pak Fajar aja sampai nggak ngenalin aku."
Luna menggeleng cepat.
"Nggak. Nggak aneh kok. Kita hanya belum biasa aja ngelihat Mas Kalan kayak gini. Tapi beneran Mas Kalan nggak aneh kok." Luna berkata penuh semangat dan kemudian nyengir malu. Ia takut Kalan tahu kalau dalam hatinya saat ini Luna sedang terkagum-kagum dengan perubahan Kalan. Wajah Kalan yang sempat membuat Luna terpana beberapa waktu lalu saat Makrab sekarang terlihat nyata. Matanya, hidungnya, bibirnya, tidak lagi tertutupi oleh sikap canggungannya atau gaya jadulnya, Kalan jauh lebih santai saat ini.
"Kalan? Ya ampun! Kamu udah pulang?" Mbak Dara, salah satu teman kelas Mas Kalan menjerit kaget saat melihat temannya itu. Tak lama kemudian beberapa temannya yang lain datang dan Kalan sudah seperti bunga cantik yang dirubuti banyak lebah. Perlahan Luna mundur dan meninggalkan Kalan dan teman-temannya. Sesekali ia menoleh melihat kerumunan itu berharap Kalan tahu bahwa Luna sudah meninggalkannya namun sepertinya Kalan sudah tenggelam bersama eforia teman-temannya.
Luna melangkah pelan keluar dari halaman kampus dan menyusuri jalan menuju kosnya. Ia berkali-kali menghela napas berusaha menenangkan debar jantungnya yang sejak tadi berdetak melebih kecepatan rata-rata. Jantungnya justru berdetak lebih keras saat melihat Kalan dikelilingi teman-temannya. Entah kenapa Luna pun tak paham.
"Luna!" sebuah teriakan menghentikan langkahnya. Kelopak matanya membesar saat mengenali suara itu.
"Kenapa kamu pergi?" Kalan sudah tiba di depannya dengan napas terengah-engah.
"Soalnya tadi banyak teman Mas Kalan," jawab Luna pelan.
"Kamu mau pulang?"
Luna mengangguk.
"Aku boleh ikut kamu? Uhm..maksudku.."
"Ya," Luna menjawab cepat. Kalan tersenyum.
Ada getar bahagia saat melihat Kalan berlari ke arahnya tadi dan sekarang keduanya melangkah bersama di jalanan sekitar kampus yang teduh itu karena di payungi banyak pohon besar. Keduanya sama-sama diam. Keduanya sama-sama malu. Luna menunduk sambil menggigit bibirnya sedang di sebelahnya Kalan mencoba menenangkan perasaannya dari rasa gugup. Sesekali ia melirik cewek di sebelahnya.
Keduanya akhirnya tiba di gerbang kos Luna, mereka berdiri berhadapan dengan canggung. Saling memandang kemudian tersenyum.
"Mas Kalan mau masuk?" tawar Luna mencoba mengalahkan segala rasa gugupnya. Sejak hubungan mereka terjadi lewat dunia maya, Luna memandang Kalan sebagai orang yang berbeda. Kalan yang benar-benar ia kenal dan bukan Kalan yang ia kenal lewat omelan Tara atau kata-kata kasar sahabatnya itu. Kalan yang sudah membuatnya berdebar tak karuan di saat terakhir mereka bicara lewat email, Kalan yang sudah membuatnya berpikir. Ya, kalau ia sudah berpikir itu artinya...Ia kembali mengingat kata-kata Bintang.
"Uhm...mungkin...uhm...aku harus.." Kalan yang awalnya tampak tenang dan percaya diri saat menyapa Luna di koridor kampus, kali ini justru terlihat jauh lebih gugup dari Luna.
"Ada janji?"
"Eh...ya..." Kalan tertawa tawar dan matanya bahkan tak mampu memandang Luna. Dan baru kali ini Luna merasakan semua di sekelilingnya terasa berbeda, ia seperti berdiri di sebuah tempat yang asing, namun anehnya tidak membuatnya takut. Ada sebuah keantusiasan yang meliputi dirinya, meletup-letup di dalam hatinya, dan akhirnya hangatnya terbias di wajahnya. Apa mungkin ini yang namanya cinta?
"Luna?" sebuah suara lain menariknya dengan cepat keluar dari angan indahnya. Kepala Luna dan Kalan sama-sama bergerak ke satu arah. Dan satu detik kemudian otak Luna kembali bekerja secara normal saat melihat Tara berdiri tak jauh dari mereka. Sahabatnya itu memandang Luna dan Kalan bergantian. Hanya sepersekian detik Luna perlu memutar kepalanya untuk melihat ekspresi Kalan. Dan cowok itu memang terpaku di tempatnya.
"Kamu.." Tara berjalan ke arah Luna. Setelah tiba di sampingnya Tara kembali berkata, "Siapa?" ia berbisik, bibirnya bergerak membentuk senyum kecil ingin menggoda.
"Hai Tara, apa kabar?" Kalan yang tadi terpaku mendadak bicara, menyapa Tara yang memang tidak mengenalinya dengan penampilan berbedanya. Tara cepat-cepat menoleh dan melihat Kalan yang tersenyum padanya. Dan beberapa detik kemudian ia berkata setengah menjerit.
"Mas Kalan?"