Aylana menghampiri dua orang yang sedang berbincang di ruang kerja, dia masuk begitu saja tanpa permisi seolah dia adalah pemilik ruangan tersebut. Datang tanpa ekspresi dan masih tidak bersuara membuat keduanya sedikit terkejut dan gelagapan melihat kehadirannya.
“Saya sudah tau semuanya, saya akan membantu kalian,” Ujar gadis itu membuat keduanya mengerutkan dahinya tidak mengerti. “Dengan satu syarat.” Lanjutnya kemudian.
“Apa itu?” Tanya seorang wanita di depannya.
Lana tersenyum licik ketika mendengar pertanyaan itu, tadinya ia sudah menduga bahwa mereka akan bertanya seperti itu, dan benar kenyatannya. “Saya hanya ingin sebuah panti asuhan yang fasilitasnya sudah lengkap untuk anak-anak panti saya. Tolong buatkan untuk saya dan saya akan membantu kalian berdua sebagai balas budi, dan mungkin kita perlu sebuah kesepakatan di atas kertas,” Gadis itu mengeluarkan sebuah kertas yang sudah bermaterai juga pena yang ia bawa dari tadi.
“Maksud kamu?” Tanya laki-laki paruh baya yang menatap Lana penuh kecurigaan.
“Saya bukan penipu, baca dan tanda tangan. Jika sepakat kita akan tanda tangan dan surat ini akan saya pegang, jika suatu saat ada yang berkhianat di antara kita, surat ini akan berguna untuk menuntut, saya bukan tipikal pengkhianat jadi tenang saja, saya akan membantu seperti kalian membantu saya selama ini, bagaimana? Impas bukan?”
“Jika surat itu hilang?” Tanya seorang wanita paruh baya itu.
“Sebutkan satu keinginan anda.”Jawab Lana
“Nyawamu sebagai jaminan” Lana masih tetap tenang, tidak bereaksi apapun.
“Oke, Nyawaku terancam di atas kertas, jika surat itu hilang, maka saya akan bersedia mati dengan cara apapun itu.” Dia masih tenang, tidak ada keraguan dalam setiap kalimatnya, suaranya tidak bergetar, sangat tenang.
Terdengar cukup menarik membuat keduanya sedikit tertantang. Baiklah untuk kali ini keduanya mempercayai gadis itu dan memilih untuk segera menandatangani perjanjian di atas kertas tersebut, apakah isinya? Tidak penting untuk diketahui oleh orang lain.
Melihat mereka menandatangani surat itu, senyumnya merekah indah di kedua sudut bibir gadis tersebut, tidak lama ia ikut menandatangani surat itu lalu mengambilnya dan pergi entah kemana, yang jelas ia akan mengamankan surat itu, tidak akan dibiarkan hilang begitu saja.
20 Maret 2021