Selamat pagi dunia...
Sekolah kelas 12 akhir semester itu, bagaimana rasanya?
Kata mereka, sangat... Sulit...
Banyak sekali masalah yang akan bermunculan dalam waktu dekat ini, katanya itu adalah ujian terberat di akhir sekolah dan untuk menuju kehidupan dimasa depan yang cerah, jarang bagi mereka yang berhasil dalam hal ini, siapapun katakan saja ‘aku menyerah’ dan semua akan berakhir saat keesokan harinya jasadmu sudah ditemukan berlumuran darah, dengan tubuh yang kaku dan sangat... Dingin serta mulai membusuk, disanalah akhir kehidupanmu kelak.
Ayolah akhiri saja hidupmu yang percuma itu, seperti pecundang tak berguna--
Aylana segera mematikan setelan radio dalam mobilnya itu. Dengan kecepatan penuh ia membelah jalanan kota Jakarta, dalam waktu yang masih tersisa 10 menit ia akan memastikan sampai ke sekolah tepat waktu.
“Aku bahkan sudah lebih dulu mengalaminya, mungkin ini akan menjadi puncaknya. Baiklah, akan kuikuti kemana larinya takdir ini, sampai kapan dia akan mempermainkan diriku. Aku rasa selama ini aku hanya boneka yang hanya menurut kepada takdir yang mempermainkan, sulit dipercaya.” Gadis itu terkekeh kecil, mungkin sangat lucu bagi dirinya untuk menertawakan nasib sendiri.
SMA Gutawa, milik seorang Benedict yang sampai sekarang masih berdiri kokoh, di situlah Lana bersekolah untuk saat ini.
Setelah insiden dua tahun yang lalu, sekolah ini sudah hampir ditutup demi kenyamanan siswa bersekolah, mengingat ada pem-bullyan yang membuat banyak korban ditemukan mati mengenaskan,bunuh diri karena frustasi, dan masih banyak lagi, tapi karena mengingat kembali harta kekayaan yang dimiliki oleh Tuan Benedict yang terhormat membuat sekolah itu masih bisa tetap berdiri.
Setelah mengetahui keburukan sekolah itu membuat banyak orangtua takut menyekolahkan anaknya ke Gutawa yang dahulu adalah sekolah impian, hingga seorang Aylana Leviosa Lacerta mengubah segalanya mengembalikan popularitas sekolah itu, merebut kembali apa yang sekolah itu miliki dari SMA Sanjaya yang merupakan SMA tetangga Gutawa Tapi bermusuhan alias tidak pernah akur. Dengan segala kecerdasannya membuat semua orang kembali berlomba untuk bisa masuk dalam sekolah impian mereka itu.
Cewek itu keluar dari mobil dengan ransel berwarna biru cerah menempel dengan indah tepat diatas punggungnya. Banyak pasang mata yang melihat kagum ke arahnya, seperti sudah terbiasa dirinya menjadi tontonan, siapa yang tidak mengenal Aylana murid berprestasi di SMA Gutawa, sudah seringkali mengikuti lomba kompetisi dan pulang dengan beberapa piala yang tidak pernah absen akan ia dapatkan.
‘multitalent banget dia, iri gue liatnya.’
‘dia Aylana Leviosa Lacerta yang minggu kemarin baru aja dapat medali emas karate tingkat nasional itu kan?’
‘iya, semalam juga dia baru menangin Olimpiade matematika kan?’
‘Jujur gue iri banget liatnya, pasti orang tuanya bangga banget ya punya anak yang otaknya gituan, wihh coba aja gue jadi adeknya. Gue suruh ngerjain tuh semua tugas dari bu Biah, gak usah ribet lagi kita nyari masalah sama tuh guru’
‘Tapi ini jadi lombanya yang terakhir yang bisa dia ikutin loh katanya, gak kaget sih bentar lagikan udah mau ujian kelulusan.’
Yaps benar sekali, Lana memang harus benar-benar fokus pada ujiannya kali ini, dia bahkan menambah jadwal belajarnya dan guru les baru yang konsisten dan tidak bertele-tele seperti bu Andin yang hanya gemar memberikan tugas tanpa tahu materi tugas tersebut, mencari guru les berniat untuk memudahkan dan sedikit membantu malah membuatnya harus selalu berfikir berulang kali dengan susah payah memutar otaknya, sedangkan dang guru yang korupsi waktu hanya men-scroll t****k saja kerjaannya serta berjoget di depan layar ponselnya, sudah gila bukan?! Ayolah, Aylana sudah pusing dengan semua ini.
“Hai Lana,”
“Pagi Lana,”
“Hai kak.”
Dan masih banyak lagi, Lana hanya tersenyum menanggapi.
Dia terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di depan kelas MIPA 1, ia memutar knop pintu tersebut dan tersenyum ketika pintu itu ia buka lebar, ia melangkah menuju tempat duduknya, di sana sudah ada Kayla dan Tasya yang menanti kehadirannya.
Sedangkan murid yang lain fokus pada kegiatan masing-masing, kelas ini tidak terlalu brisik dan hanya diisi oleh murid-murid pintar.
“Tumben baru datang biasa paling pertama lu datangnya.” Celetuk Tasya yang duduk tepat disampingnya.
“Telat bangunlah apalagi malam tadi gue harus nyelesain tugas dulu dari kak Reyya yang sempet gue tunda gara-gara Olimpiade.” Jelasnya apa adanya.
“Pantes, gue kira lu maraton drakor, hahaha...”
Keduanya langsung menutup telinga rapat-rapat kalau suara tawa Kayla itu terdengar nyaring.
“Gue tunda dulu haha, entar kalo tugas udah kelar semua baru gue nonton. Banyak banget list drama yang belum gue tonton.” Sahut Lana.
“Nurutin tugas gak akan pernah selesai Na, mending lo cicil noh drama lu, gak selesai entar lu nontonnya.” Saran Kayla diangguki Tasya.
Baru saja Lana hendak bersuara lagi, bunyi bel masuk terdengar nyaring, ia segera mengurungkan niatnya untuk bersuara dan beralih mengambil buku pelajaran pertama dan membaca materi yang akan di jelaskan nanti.
Tidak lama setelah itu, bu Septi selaku guru mata pelajaran matematika memasuki kelas.
“Baiklah, ada yang masih ingat dengan materi kita minggu lalu? Jika ada yang bersedia menjelaskan akan ibu kasih point tambahan dan ibu pastikan nilai ulangan harian kalian aman, alias tidak perlu mengikuti ulangan lagi.” Jelasnya sangat to the point, yaps bu Septi selalu begitu, suka mendadak dan membuat muridnya berfikir keras dengan pemikiran guru muda yang tidak bisa ditebak itu.
“Saya bu.” Lana mengangkat tangannya membuat lagi dan lagi guru wanita itu tersenyum bangga dan kembali memujinya.
“Nah, saya suka dengan murid begini, tidak perlu di tunjuk tapi langsung menunjukkan dirinya sendiri. Lagi sopan, kalian tau bukan jika teman kalian ini semalam baru saja membuat sekolah kita lagi dan lagi merasa bangga? Tidak hanya sekali dua kali, coba kalian datang ke ruang piala dan lihat hitung saja berapa banyak koleksi piala yang anak ini dapatkan, bangga saya.” Murid lainnya hanya memutar bola matanya malas, jika sudah Aylana maka semuanya juga Aylana yang terbaik dan itu kenyataannya.
“Ibu mau ngajar apa ceramah sih bu?” Celetuk salah satu siswa membuat guru itu langsung menandainya dalam absen dan mengurangi point-nya 10. Murid dengan nametag Bella yang mengetahui hal itu langsung menutup mulutnya tidak percaya, bodohnya kenapa dia malah memprotes guru yang suka mengurangi nilai muridnya itu.
“Ada yang lain yang mau protes? Ayo keluarkan semua unek-unek kalian, nanti ibu tinggal kurangi point kalian satu-satu. Silahkan Lana penjelasan materi minggu kemarin.”
Dan Lana segera menjelaskan materi yang di maksud ibu itu secara terperinci.
Setelah berkutat cukup lama dengan buku, akhirnya bel istirahat berbunyi membuat seluruh siswa kembali bersemangat.
“Ngantin yokk, laper nih!” Teriak Tasya yang terlihat sangat berenergi.
“semangat banget lo nyet, tadi aja kaya orang mau mati gak bertenaga,” Celetuk Kayla mendapat toyoran dari Tasya yang berjalan mendekati mereka. “Do’ain gue mati, tadi lo barusan? Dasar anak monyet”
“Gue bilangin bokap gua kicep lu,” Kesal Kayla, Lana tidak mau ikut pusing dan ia memilih untuk meninggalkan keduanya.
Setelah mereka sadar Lana sudah berada diambang pintu, mereka segera mengejar sahabat mereka itu. “tuhkan gue ditinggalin gara-gara lu,” Tasya yang kesal karena terus saja disalahkan kembali protes. “Lu ada masalah idup apa sih nyet? Suka bener nyalahin orang”
“Kalo kalian cuman mau ribut, mending jaga kelas gak usah ikut. Bisa gila juga lama-lama gue,” Setelah itu keduanya diam tidak lagi berdebat dan mengikuti langkah Lana, seperti bodyguard jika orang tidak mengetahuinya.
Langkah mereka terhenti ketika Asya menghadang jalan mereka. Gadis itu lalu menyodorkan sebuket bunga yang tertuju pada Lana membuat seluruh siswa yang berlalu lalang di sana menatap horor mereka.
“Minggir, lo ngalangin jalan.” Tegas Lana hendak melewati jalan lainnya, namun kembali terhenti ketika Asya kembali menghadang, akhirnya Lana menerima bunga tersebut membuat seseorang yang dari tadi melihatnya tersenyum senang.
Namun ketika Asya ingin pergi malah dicegat oleh Lana. “Mau kemana lo?”
“Ke kantin kak,” Jawabnya sambil menunduk.
“Tadi lo udah cegah gue ke kantin biar impas sekarang lo gue suruh mau ya?” Gadis itu hanya mengangguk siap untuk disuruh.
“Ambilin tempat sampah itu dong.” Titahnya menunjuk tempat sampah di depan kelas 11 MIPA 4. Seperti yang kalian ketahui, gadis itu menurut.
“Ini kak,” ujar Asya walau sedikit tidak mengerti dengan kakak kelasnya yang aneh itu.
"Lain kali kalo bicara sama siapapun jangan nunduk, lo lagi bicara sama orang bukan sama lantai. Gak sopan banget." Cetus Lana membuat Asya hanya mengangguk.
Siapa yang menduga Lana yang tersenyum dari tadi dan sibuk mencium wangi bunga di genggamannya itu malah berbalik membuang bunga itu ke tempat sampah dan menginjaknya hingga benar-benar hancur, seketika senyum pria yang dari tadi asyik menatapnya itu memudar dan menerbitkan wajah datarnya itu.
Kemudian Lana diikuti Tasya dan Kayla yang dari tadi tertawa menghampiri pria itu dan berkata, "ekhem...Regan Reynaldo ketua basket SMA Gutawa yang terhormat, sebelumnya maaf mungkin lo sedikit tersinggung sama yang tadi. Hmm...gue alergi bunga, gue gak suka. Haciimm tuh kan gue bersin haha sorry, sebenarnya gak bermaksud sih mempermalukan lo gini, tapi karena gue gabut jadi ya sorry ya heheh, dimaafin gak nih?” Lana terkekeh kecil sambil menaik turunkan alisnya.
" Ya...sebenarnya kalo gak dimaafin juga gapapa sih, yaudah gue cabut deh, udah minta jatah nih cacing-cacing peliharaan gue." Tanpa persetujuan dari Regan, Lana sudah lebih dahulu pergi.Regan tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat.
Langkahnya kembali terhenti membuat kedua temannya otomatis ikut berhenti kembali. "Oiya satu lagi, saran gue sih kalo mau ngasih apa-apa yang berguna dikitlah ya, bye Regan..." Regan semakin dibuat emosi.
Semua menertawakannya, Lana dan kedua sahabatnya juga sudah melenggang pergi menuju kantin.