Saat di kantinpun tidak henti-hentinya Lana mendengar bisik-bisik jin dan setan yang berwujud manusia membicarakan dirinya, tapi tidak selalu keburukannya, dia masih bisa mendengar dengan jelas banyak diantara mereka yang memuji dan mengaguminya. Sebenarnya itu sudah merupakan hal yang wajar, Lana juga sudah sering mendengar pujian dan cacian dari mereka yang membuatnya terbiasa.
Dilain sisi, Gerald, Liam, Raga, Rafael, dan Nino. Kelima cowok itu tidak pernah diam, dari tadi selalu paling ribut membuat yang lainnya sedikit terganggu, tapi tidak berani membantah ketika mengingat satu orang di antara mereka. Siapa lagi jika bukan Gerald anak dari taun Benedict yang terhormat. Di sana juga ada Chika dan Liora, mereka masih keturunan dari Tuan Barta yang terhormat, donatur terbesar SMA Gutawa. Anggie, Sekar, dan Retha yang juga bagian dari mereka.
“Iya, tadi si Regan marah banget tuh, liat aja wajahnya udah merah begitu. Gak kaget sih, Lana emang susah banget ditebak.” Retha bergidik ngeri, mengingat siapa yang baru saja mereka bicarakan.
“Gerald sih mau ditawarin yang kaya gimanapun gak akan pernah mau, nempelin Chika sama Liora aja kerjaannya, kalo milih salah satu Rald, gak enak loh cinta bagi dua itu.” Celetuk Liam yang tidak henti-hentinya menyindir.
Liora yang disebut sudah salah tingkah, sedangkan Chika tidak mengeluarkan reaksi apapun, tatapan cewek itu kosong dan menampilkan raut beribu rasa bersalah.
“Duhh, Liora aja salting, jangan buat baper anak orang Rald kalo cuma PHP,” Tambah Raga yang ikut-ikutan.
“Gue bahkan gak ngapa-ngapain dia.” Hanya itu dan cowok itu segera pergi meninggalkan kantin, mungkin dia ingin ke perpus menggunakan waktu 15 menit sebelum masuk ke kelas untuk kembali belajar.
Lana dan kedua temannya juga beranjak pergi dari kantin, mereka bukan tipe anak kantin yang kalau udah ngantin bakal betah bahkan sampai bolos mata pelajaran.
“Kak, dipanggil kepala sekolah ditunggu di ruangannya,” Ucap seorang siswa dan langsung pergi meninggalkan mereka.
“Kalian duluan aja, gue ke ruang kepsek dulu.” Titah Lana dan segera menuju ruang kepala sekolah berada.
“Dia mah beda ya Tas, sibuk terus sih anak pintar kaya dia.” Ujar Kayla saat mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.
“Eh gue bukan tas, ya. Enak banget manggil gue tas, tas, tas. Satu lagi, gue gak ngerasa bodoh kok, buktinya gue dapat juara 3 di kelas, ya lumayan sih.” decak Tasya tidak terima.
“Nama lu kan Tasya, setan. Maksud gue ya bukan gitu ish dia itu udah kelewatan banget gitu loh pintarnya, Gerald aja masih kalah otaknya sama dia, gimana sih lu,” Kesal Kayla disaat kesabarannya sudah mulai habis.
Perdebatan itu masih saja berlanjut sampai keduanya memasuki kelas membuat beberapa orang yang sudah di kelas memprotes mereka.
“Bisa diam gak? Gue lagi belajar nih!” kesal Kinan yang memang terlihat sedang membaca buku, tapi yang aneh kenapa buku itu terlihat tebal? Setau mereka, buku biologi tidak setebal itu. Dan setelah dilihat, Tasya dan Kayla tambah tertawa begitu menggelegar.
“Belajar halu, lo? Pinter juga sih patut di tiru.” Ujar Tasya masih tertawa keras. Yaps, buku biologi itu hanya sampulnya saja, buktinya setelah dilihat isinya adalah novel yang lagi pre-order baru-baru ini.
***
“Saya turut bangga kepadamu karena untuk yang kesekian kalinya, kamu kembali berhasil memborong piala utama dalam berbagai lomba.” Ujar pak Nirwan “dan kembali saya ingatkan bahwa beasiswa itu bisa kamu ambil jika nilai kamu bisa mencapai syarat, dan saya lihat dari sini, nilai kamu semakin naik dan sudah mencapai syarat, diatasnya sih sebenarnya, jadi saya harap kamu pertahankan nilai itu, Gerald tertinggal jauh dibawah kamu nilainya, apalagi Chika. Jangan sampai mereka berhasil menggeser kamu meski kemungkinan itu hanya sangat tipis artinya tidak mungkin, Mr.Benedict yang merasa anaknya tersaingi jauh olehmu akan menerapkan sistem pengurangan point, itu artinya sekecil apapun kamu dan siswa Gutawa melakukan kesalahan, melanggar tata tertib siswa, maka nilai kamu dan kalian semua terancam, dia akan menerapkan dan memotong point siswa mulai dari 10, semakin banyak melakukan kesalahan, maka semakin banyak nilai kamu dan yang lain akan berkurang,”
Lana sempat terkejut mendengarkan pernyataan dari pak Nirwan, ternyata pria tua bangka itu tidak bisa profesional, masalah yang tidak jelas pun masih ia bawa sampai ke sekolah, benar-benar memusingkan.
“Sampai kapan sistem itu akan berlaku?” Tanya Lana setelah berdebat dengan pikirannya sedikit lama.
“Sampai Gerald bisa menggantikan posisimu sebagai murid dengan nilai tertinggi di Gutawa.” Lana hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban dari pak Nirwan. “Baiklah jika hanya itu yang ingin bapak sampaikan, saya permisi. Saya kira sudah dari 10 menit yang lalu jam pelajaran masuk.” Pamit Lana diangguki pak Nirwan dan ia meninggalkan ruangan itu.
Di koridor IPA Lana tidak sengaja berpapasan dengan Gerald. Gerald adalah penghuni MIPA 2 saingan MIPA 1, sebut saja lah saingan Lana. Lana menatap cowok itu dengan senyum miring mengejek, Gerald yang ditatap begitu tentu saja dirinya tidak suka, namun seketika ia mengingat sesuatu yang terlihat buram ketika melihat senyum itu, kepalanya sedikit pusing namun ia tahan.
“Jangan natap gue dengan tatapan seperti itu,” Tegas Gerald yang mengundang tawa gadis di depannya, sedikit aneh, bukannya menurut Lana malah tertawa.
“Kenapa? Takut? Hahaha, seorang Gerald takut ditatap gitu aja.” Dan ia makin mengeraskan tawanya. Namun sedetik kemudian tawa itu terhenti dan berganti dengan tatapan tajam yang mengerikan. “Gerald Allaver Benedict. Putra bungsu Mr. Benedict yang terhormat. Gitu ya, cara lo ngedapetin apa yang lo mau? Licik, wahhh bagus nihh, kalau berita ini sampai ketangan Riska bisa jatuh juga harga diri lu. Mantap, anaknya pemilik sekolah kok gitu sih, suka banget ngelakuin kecurangan, hahhaa. Menerapkan sistem pengurangan point demi menggeser gue jadi murid paling teladan dan tertinggi nilainya di Gutawa. Lo fikir semudah itu gantiin posisi gue? Jangan harap, gue dengar lo amnesia ya? Ups.. Kasian, cepet sembuh ya,hahaha.” Lana masih tidak berhenti meledek, membuat Gerald benar-benar marah.
Gerald amnesia?
Yaps benar sekali, kejadian itu sudah sangat lama. 8 tahun yang lalu, sangat menyakitkan hingga membuat putra bungsu Benedict mengalami amnesia. Kronologi kejadian itu adalah, ketika Gerald sedang mengejar gadis kecil yang tidak tahu itu siapa, sepertinya gadis itu sangat berarti bagi hidup Gerald, sampai saat Gerald menyeberangi jalan dan tidak melihat ada mobil yang sedang melaju ke arahnya dan detik berikutnya tubuh anak laki-laki berumur 10 tahun itu sudah terpental ke trotoar, gadis itu sudah lenyap jauh, tidak mungkin gadis itu tau jika Gerald kecelakaan, dan mobil tadi juga ikut menjauh, tidak perduli dengan anak kecil yang terbaring tak berdaya di trotoar sana.
Tanpa banyak bacot lagi, Lana melanjutkan langkahnya menuju MIPA 1.
***
Akhirnya setelah seharian berada di sekolah, sekarang waktunya pulang, Lana sangat bersemangat. Sekarang ia harus segera menuju ke tempat les bersama dengan kak Reyya.
Dia harus sedikit bersabar, ketika Mr.Benedict datang untuk menyita waktunya tanpa izin, ralat mereka bertemu di parkiran, saat itu memang sangat bertepatan Mr.Benedict yang baru saja sampai ke sekolah. Sore-sore ke sekolah ngapain? Ya..namanya saja orang sibuk, pasti ada yang ingin diurus, orang begitu tidak akan mau membuang waktunya untuk hal yang tidak penting sama sekali.
“Selamat sore Mr.” Sapa Lana sopan, dia teringat kata pak Nirwan, jangan membuat masalah dengan tua bangka ini jika beasiswa itu ingin ia dapatkan.
“Oh yaa selamat sore. Saya dengar kamu kembali memenangkan Olimpiade terakhir kamu benar bukan?” Lana hanya mengangguk menanggapi, sesusah itukah tua bangka itu menyembunyikan sifat kemunafikannya? Bilang saja iri dengan Lana karena anaknya kalah jauh darinya. Lana hanya mendengus pelan. “Kamu sangat hebat, saya bangga mempunyai kamu sebagai murid Gutawa yang sangat jenius, ruang kepala piala sepertinya sudah sangat penuh hanya dengan piala yang kamu peroleh, luar biasa. Saya sangat bangga.” Sambungnya membuat Lana tertawa sumbang.
“Anda pasti akak lebih bangga jika posisi itu tergantikan oleh anak anda,” Sekarang saatnya memberi umpan pancing, siapa tau dia terjebak dengan umpan itu, meski itu salah dan memang tidak sesuai ekspektasi Lana.
Mr.Benedict segera mencari topik lain.”Bagaimana jika kamu saya ajak makan malam bersama kepala sekolah dan anak saya sebagai perayaan kemenangan kamu malam ini? Saya yang menentukan tempatnya.”
“Maaf bukannya saya lancang menolak tawaran bapak, tapi saya ada jadwal les, tidak bisa dibatalkan lagi karena jadwal les saya terpaksa saya liburkan sudah sekitar 1 minggu karena Olimpiade itu,” Tolak Lana dengan alasan yang tepat, memangnya hanya tua bangka itu yang sok sibuk, Lana juga tidak kalah sibuk dan kesibukannya tidak akan pernah ada yang bisa mengusiknya.
“Baiklah, kalau begitu lain kali saja, saya juga sebenarnya masih banyak kerjaan.” Lana hampir tertawa keras, tapi mengingat dengan siapa dia bicara, akhirnya niatnya itu ia urungkan. Katanya sibuk tapi masih saja ingin makan malam bersama? Hahaha terdengar sedikit lucu ditelingaku, makan malam bersama keluarga saja mungkin tidak bisa, tapi malah mengajaknya makan ditengah kesibukan.
“Kalau begitu saya duluan Mr. ” Dan Lana segera memasuki mobilnya, di dalamnya sudah ada dua sahabatnya yang menunggu sambil ternganga melihat sahabatnya yang baru saja menolak tawaran makan malam bersama seorang Benedict yang bahkan diberi bonus bersama anak bungsunya itu.
“Gilaaa demi apa coba, tawaran makan malam seorang Benedict lo tolak? Yang bener aja deh, sama anaknya lagi tuhh, uwwihh iri sih.” Heboh Tasya sedangkan Kayla sibuk membekap mulutnya.
“Kalo mau ribut keluar aja.” Usir Lana jengah.
“Gak ada akhlak banget ngusir teman sendiri. Yokk lah buru jalan, lo bilang kak Reyya udah nunggu,” Ujar Kayla langsung diangguki oleh Lana.
Kak Reyya memang sering sekali marah jika Lana terlambat datang, alasan yang selalu dikeluarkan oleh Lana hanya satu, mengantarkan temannya ke rumah masing-masing, Tasya dan Kayla sepakat berangkat dengan supir dan pulang dengan Lana, hanya membuat Lana sedikit membuang-buang waktu dan tidak terlalu terpaku pada pelajaran saja.