“Maaf kak telat, tadi itu jalan macet bangett sumpah. Minta minum kak.” Ucap Lana setelah masuk tanpa permisi ke apartement Reyya.
“Kamu sih gak pernah absen telat. Ambil sendiri minum, biasa juga gak pernah bilang kalo mau minum.” Sahut Reyya yang masih sibuk mengoreksi jawaban Lana yang tidak tahu tugas kapan itu.
Lana memilih mengakhiri debat dan melangkah menuju dapur mengambil air putih. Tenggorokannya harus benar-benar segera dibasahi oleh air.
Dan setelahnya dia kembali menghampiri Reyya, memilih duduk di sampingnya sambil melihat-lihat apa yang guru lesnya itu lakukan sampai sefokus itu. “Belum siap ngoreksi nya bu? Perasaan udah lama banget tuh tugas, tau-taunya bari dikoreksi. Kalo belum siap aja lo omelin terus guenya.”
“Aylana yang cantik, manis, bawel, dan blablaba~ diam! Gue puyeng nihh, tugas kuliah gue yang ngejar terus deadline-nya, belum lagi nih tugas lo yang hadeuhh udah diam gue pusing.” Keluh Reyya hanya didengar oleh Lana yang tidak berminat untuk menanggapi.
“Hari ini bukannya lo ada jadwal ya sama si Anya-Anya guru les baru lo itu?”
“Tau deh kak, sampe sekarang juga belum ada ngabarin. Paling masih sibuk kencan sama pacarnya.”
“Jadi nanti lo mau gantiin Bu Andin sama Anya itu?” Tanya Reyya memastikan.
“Hmm yaudah lo kerjain ini ya. Kerjain semua yang bener, gue udah susah-susah bikinin lo soal segitu. Apalagi sambil kuliah hadeuhh pusing aku.” Reyya kembali mengeluh membuat Lana mendengus sebal.
“Iya-iya gue tau. Makasih ya.” Ucap Lana setelah menerima paket soal itu. “jadi, hari ini lo gak mau kasih materi nih?” Tanya Lana memastikan.
“Engga deh lain kali aja gapapa kan?” Sahut Reyya masih saja fokus mengoreksi.
“Iya, lagian hari ini gue capek banget. Yaudah gue pulang dulu ya bye..” Reyya hanya mengangguk menanggapi.
Jika ada yang bertanya kenapa Lana tidak memanggil Reyya dan Anya bu, ya karena mereka masih sangat muda dan masih anak kuliahan yang jarak umurnya tidak jauh-jauh amat dengannya. Dan kenapa Reyya dan Lana tidak berbicara formal? Ya karena mereka tidak mau ada kecanggungan saat lagi belajar, berbeda dengan Anya yang memang l3bih suka berbicara formal.
***
Gerald yang mengetahui daddy-nya sudah pulang segera menghampirinya di ruang kerja milik daddy-nya.
“Jadi benar, daddy yang mengadakan sistem pengurangan point?”Tanya Gerald to the point setelah memasuki ruangan itu tanpa izin.
Benedict yang merasa dirinya di panggil mendongak dan benar itu adalah putra bungsunya . “Kamu sudah belajar? Daddy dengar besok kamu akan ada penilaian harian.” Sekarang ia mengalihkan pembicaraan membuat Gerald berdecak.
“Jangan mengalihkan pembicaraan daddy. Apa benar itu ulah daddy untuk memaksa kepala sekolah mengadakan sistem pengurangan point?”
“Ouwh sekarang anakku benar-benar sudah tumbuh dewasa dengan baik. Iya daddy yang melakukannya. Kenapa? Kamu mau menggagalkan rencana daddy?” Tanya Benedict menantang.
“Iya, apa anak dari pemilik sekolah berhak melakukan kecurangan hanya untuk dipandang baik? Rendahan sekali dad! Hentikan sistem itu sekalipun belum dilaksanakan maka batalkan. Gerald bisa ngedapetin itu semua dengan cara Gerald sendiri tentunya tanpa kecurangan.” Ujar Gerald membuat Benedict tersulut emosi.
“jangan banyak gaya kamu jika mengalahkan Lana saja tidak bisa. Daddy tidak habis pikir seorang musuh menyekolahkan anaknya di kandang harimau. Seseorang bisa saja berbuat jahat tanpa kita duga, jadi sebelum orang itu melakukannya lebih baik saya yang melakukannya agar keluarga kita tidak diinjak-injak.” Itu pemikiran Benedict, dia tidak pernah ingin kalah apalagi mengalah. Dia akan lebih baik menginjak daripada diinjak dan lebih memilih memulai daripada dimulai. Pemikiran yang seperti itu patut disebut si pembuat perkara, suka membuat masalah tanpa mau mengakhirinya, yakinlah jika Mr.Benedict adalah orang yang seperti itu.
“Tidak dengan kecurangan.”
Benedict mulai terlihat emosi, batu saja ia pulang anaknya ini sudah mulai mengajaknya kembali berdebat, ia tidak ingin menghabiskan waktu berharganya hanya untuk berdebat hal yang menurutnya tidak perlu diperdebatkan itu. “Lebih baik kamu belajar, besok kamu ulangan dan urusan daddy biar daddy yang urus, kamu jangan ikut campur.”
***
“Ya jangan dicampur dong, gak enak nanti rasanya, kamu ini ada-ada saja.”
Sekarang Lana yang berdebat dengan mamanya di dapur kedua wanita berbeda generasi itu nampak sibuk membuat makan malam.
“Iya ini di pisah ma, lagian Lana kan gak tau.”
Rasanya mereka tidak harus selalu berdebat hingga keduanya memilih untuk diam saja dan melanjutkan aktivitas memasak mereka.
30 menit waktu yang mereka pakai membuat cukup banyak menu makan malam, kata mamanya mereka akan merayakan kembali kemenangan Lana, gadis itu sangat suka perayaan.
Nanti keluarga besarnya juga akan datang ke rumah untuk ikut serta merayakan, Ardyl yang merupakan saudara sepupu Lana juga sudah berada di situ sejak pulang sekolah tadi, ia baru kelas 8 SMP, mereka sangat akrab dan sering menghabiskan waktu berdua.
Lana yang anak tunggal dan Ardyl juga anak tunggal membuat mereka sangat dekat, Ardyl juga sering main di sini di hari lain bahkan menginap dan mengganggu Lana belajar, meski begitu Lana tidak pernah memarahinya, ia menyayangi adik sepupunya ini kayaknya adik sendiri.
“Ma, Lana ke atas dulu ya mau siap-siap,” ujarnya diangguki mamanya.
Tidak lama Ardyl muncul, sepertinya anak itu habis kalah main game membuat moodnya buruk. “Kak Lana mana tan?”
“Ke atas mandi. Kamu gak mandi? Bauk gitu ihh jauh-jauh ya, kalo semua udah ngumpul kamu masih bau kecut gini tante kurung kamu di kamar, tidak boleh ikut makan malam bersama.” Jika tidak di ancam anak itu paling malas untuk mandi kecuali yang menyuruhnya adalah Lana.
“Ck. Iya ini mau mandi, mama belum datang kan tan?”
“Belum, tenang aja gak akan lari mama kamu itu, cepat mandi nanti mama kamu marah kamu belum mandi.”
***
Makan malam kali ini Lana kembali menjadi narasumber untuk diwawancarai, keluarganya itu super kepo yang artinya setiap apa yang dilakukannya mereka harus tau.
“mendadak banget loh tadi ngomongnya mau makan malam bersama gini, tante aja tadi baru pulang dari kantor. Emang kamu engga ada jadwal les gitu hari ini?” Tanya Mira pada Lana, Mira adalah mama dari Keisha sepupunya yang seumuran dengannya.
“Sebenarnya selain kak Reyya masih ada lagi jadwalnya, tapi kayaknya engga deh tan.” Mendengar jawaban Lana semua menoleh pada-Nya tak mengerti apa yang dimaksud dirinya.
“maksud kamu?” sekarang Maheswara yang angkat bicara.
“Sebenarnya kalo boleh Lana mau ganti guru les baru. Bu Andin sama kak Anya aja.” Ucapnya membuat yang lain kembali terfokus padanya.
“Apa mereka masih tidak berubah?” Tanya Maheswara lagi. “Ya gitu pa, mungkin papa punya kenalan lagi yang mau gantiin mereka.”
“Sebenarnya ada, tapi apa tidak masalah jika guru les kamu cowok? Papa takutnya kamu tidak bisa fokus nanti belajarnya, papa tidak mau ya anak papa yang paling cantik dan pintar ini pacaran, gak baik.” Ujarnya diikuti kekehan diakhir kalimat.
“iya pasti pa, Lana juga mau fokus belajar dulu. Terserah deh mau siapa aja guru lesnya asalkan dia konsisten dan gak makan gajih buta.”
“Uncle setuju tuh, sayang kalau kamu harus pacaran, bukannya baik yang ada nilai kamu bisa turun karena gak ingat waktu lagi dan gak punya waktu buat belajar.” Oma Citra juga mengangguk setuju dengan ucapan uncle Wildan barusan.
“Yasudah nanti biar papa bicara sama anak teman papa itu, bisa atau tidak dia.”
Lana sangat senang, akhirnya ia bisa mendapatkan guru les baru dan tentu tidak akan mengecewakan dirinya.
***
Pagi dan kembali ke sekolah, begitulah seterusnya. Chika dan Liora, kedua remaja yang katanya saudara sepupu itu berjalan di koridor sekolah bersama anak-anak yang lain.
Dua remaja yang di gantung oleh Gerald, Gerald seperti tidak berminat dengan keduanya, yang menjadi pertanyaan ini Gerald yang memang tidak cocok dengan keduanya itu atau memang Gerald mempunyai kelainan yang menyatakan dia tidak memiliki rasa apapun dengan lawan jenisnya, jika begitu bukannya akan lebih baik menjaga jarak dengan Gerald? Menakutkan bukan? Ah sebaiknya buang jauh-jauh fikiran buruk itu dan berfikir lebih positif dengan cowok abu-abu itu.
“Kak, lo suka sama kak Gerald?” Tanya Liora mengeluarkan unek-uneknya yang memang sudah sangat lama ia pendam.
“Kenapa? Lo suka sama dia? Gue masih menghargai seseorang yang sebenarnya ada di posisi itu.” Jawab Chika sedikit menyinggung saudara sepupunya itu.
“Liora ngerti kok kak, Liora juga sebenarnya rindu banget sama---“
“Kesalahan tetap kesalahan dan gak akan pernah bisa dibenarkan.”