“Kesalahan tetap kesalahan dan gak akan pernah bisa dibenarkan.”
Keduanya langsung menoleh ke sumber suara, terkejut tentunya. Apa sebenarnya yang dimaksud seseorang itu yang tak lain adalah Aylana.
Liora yang tidak mengerti langsung melontarkan pertanyaan pada Kakak kelasnya itu. “maksud kakak apa?”
Aylana menatap remeh Liora, bukannya menjawab ia malah melanjutkan langkahnya berlanjut ke koridor IPA. Tadinya saat mereka berjalan bergabung bersama Liora dan Chika mereka biasa saja, tapi saat ini, saat Aylana berjalan di tengah ramainya koridor IPA, mereka semua tidak henti-hentinya menatap kagum murid satu ini dengan segala pujian yang tak henti keluar dari mulut mereka.
Yang jenius memang berbeda, sekali pun berhadapan dengan anak donatur terbesar sekolah ini, mereka tidak ada apa-apanya dibanding Aylana.
Dari kejauhan sudah nampak dua sahabatnya yang setia melambaikan tangannya mengode Aylana, Aylana berjalan semakin cepat, hanya saja dia malas untuk lari, menurutnya hanya akan membuang-buang tenaga saja.
“Pagi, Na.” Sapa mereka berdua kompak.
“Pagi juga.”
Ketiganya melanjutkan jalan menuju kelas mereka. “Malam tadi kok lo gak aktif? Tumben, ya, gak, La?”
“Iya tadi malam gue ada acara makan malam sama keluarga dan juga udah capek banget jadi langsung aja tidur setelah selesai ngerjain tugas.” Jelas Aylana yang memang benar adanya.
“Oo pantesan.” Kayla hanya ber-oh ria.
“Btw sering banget ya keluarga lo ngadain makan malam bersama, suka banget ngumpul, padahal kan lo gak suka tuh sama keramaian.” Kali ini Tasya yang bertanya.
“Ya gatau dadakan aja. Lagian, emang keluarga elu, terlalu sibuk sama urusan masing-masing.” Sindir Lana, Tasya memang tidak seberuntung kedua temannya yang memiliki keluarga yang peduli. Jika boleh diakui dia adalah anak broken home. Keluarganya hancur ketika kejadian itu.
“Iya gue emang gak seberuntung kalian yang punya keluarga utuh dan perduli sama kalian.” Ujar Tasya, dunianya memang sudah hancur sejak lama.
‘Tapi kehidupan gue gak seindah yang kalian lihat diluar, gue hidup tapi gak pernah ngerasain arti kehidupan itu, hidup tanpa tujuan yang pasti.’ Aylana membatin tapi masih saja tersenyum dengan kedua temannya. “iya gue beruntung banget.” Sangat berbeda dari yang ia pikirkan. Intinya, menyakitkan.
“Hahaha lucu ya masih pagi udah sedih aja, ceria dong gak boleh loyo. Semangat! ” seru Kayla mencairkan keadaan kembali.
Ketiganya tertawa, tertawa palsu dan memasuki ruang kelas mereka. Jika diakui Kayla selalu bahagia dan semua itu nyata tanpa sesuatu yang ditutupi, maka kedua sahabat lainnya hanya menampilkan kepalsuan dalam setiap tawanya.
Setelah meletakkan tas mereka di kelas, ketiganya memilih untuk ke kantin mengisi perutnya mmasing-masing. Tapi langkah ketiganya terhenti sebelum melewati mading sekolah. Tanda tanya-nya kenapa mading sangat ramai tidak seperti biasa?
“Kenapa tuh rame?” Akhirnya Kayla bertanya.
“Gatau, lanjut aja kenapa peduli?” sahut Aylana diangguki Tasya setuju.
Ketiganya tidak jadi lewat mading karena terlalu ramai dan memilih ke kantin Rainbow yang berada di koridor IPA, tujuannya agar anak IPA tidak usah jauh-jauh sampai harus melewati banyak koridor hanya untuk ke kantin, karena jika boleh jujur koridor IPA sangat jauh dengan keberadaan kantin utama yang tepatnya tidak terlalu jauh dengan UKS dan ruang OSIS, berbeda dengan anak IPS yang kebetulan memang juga dekat dengan kantin utama.
Di sisi lain Gerald juga berada di kantin, ternyata Gerald juga sangat kebetulan berada di kantin rainbow. Seperti biasa ia selalu bersama teman-temannya termasuk Chika, Liora, dan ketiga teman Liora.
“Eh, ada Lana.” Sekar melambaikan tangan sok akrab, hanya diangguki oleh Lana, tidak lupa ia tersenyum pada Sekar, orang genius seperti dirinya pasti banyak fans bukan? Contohnya Sekar, yang paling mengagumi sosok Lana diantara teman-temannya.
“masih akrab lu ama dia?” tanya Liora pada Sekar. “masih, dia kan ramah, udah pinter ramah, kebanggaan sekolah lagi, andai aja dia kakak gue, bangga banget pasti gue.” Jawabnya memuji Lana secara terang-terangan di depan teman-temannya, mereka hanya bisa diam tidak ingin menanggapi, apalagi itu tadi seperti sedang menyindir Gerald yang merupakan anak pemilik sekolah, harusnya ia yang menjadi kebanggaan, bukan orang lain.
Setelah menyadari ucapannya tadi, ia segera beralih menatap Gerald yang memasang muka datar. Sekar menyengir mengetahui itu. “ehhee maaf ya kak, gue gak bermaksud ngejelekin elu kok, suwweerrr deh.”
“Lo gak salah kok, yang lo omongin semuanya bener, dia emang lebih pintar dari gue.” Setelah itu Gerald segera meninggalkan kantin.
Padahal tadi niatnya ke kantin karena ingin sarapan, ia sangat jarang sarapan di rumah, tapi karena perkataan Sekar barusan ia seketika tidak memiliki nafsu makan, ditambah rasa bersalah pada Aylana yang masih menyelimuti dirinya karena ulah Benedict yang egois.
“Tuh kan jadi kabur anaknya, elu sih punya mulut gak bisa di rem kalo ngomong, nyerocos aja kerjaan.” Nino menggeplak pelan kepala Sekar, langsung di balas pukulan kuat di kepalanya oleh Liam. “Lu jangan suka main fisik, No. Inget dia cewek,” Peringat Liam mendapat sorakan dari yang lainnya.
Di sisi lain, Lana, Tasya, dan Kayla tengah menikmati sarapan sambil berbincang, tepatnya sih hanya Tasya dan Kayla, sedangkan Lana hanya menjadi pendengar setianya.
“Clubbing yok malam ni, udah lama banget gue gak minum.” Ajak Tasya.
Sejak orangtuanya bercerai dia sering keluar masuk club bahkan ia sempat hampir melukai dirinya, ia mengalami depresi, tapi sekarang keadaannya sudah mulai membaik, juga sudah sangat jarang pergi ke tempat itu, makanya sekarang ia seperti sudah merindukan tempat itu.
“Gak usah macem-macem lu Sya, gue aduin ke bokap lo, abis lo entar!” ancam Lana angkat bicara, ia tidak suka temannya ini pergi ke tempat maksiat itu lagi.
“Gue stress, Naa. Plis deh sekali ini aja, terakhir deh?” bujuk Tasya tidak dihiraukan oleh Lana.
“Gue setuju kali ini sama Lana, Tas. Dia ada baiknya ngomong gitu ke elu.” Kayla membela Lana.
“ck. Coba kalian jadi gue kalian pasti tau gimana rasanya gak enak banget,” kesal Tasya.
“Kalo lo bosen, nanti malam lo berdua datang ke rumah gue setelah gue selesai les sama kak Reyya. Kita nobar drakor. Tapi inget, bawa makanan yang banyak buat stok kita nanti.” Putus Aylana tak terbantahkan.
“tapi-“
“Gue telpon-in bokap lo juga entar lo lama-lama.” Kesal Lana.
Baru Tasya diam dan Kayla hanya cengengesan melihatnya. Karena sudah selesai sarapan dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, Aylana segera pergi meninggalkan kantin meninggalkan kedua temannya begitu saja.
Sebenarnya Aylana juga memiliki banyak masalah, meski bukan broken home tapi nyatanya ia lebih buruk dari itu, banyaknya masalah dalam hidup, bukan satu-satunya alasan bagi setiap orang untuk menyerah.
Tidak ada yang bisa di selesaikan hanya dengan minuman, karena ketika kamu sudah meminumnya kamu akan merasakan seperti terbang, melupakan segalanya, melampiaskan segalanya sampai kamu sendiri tidak sadar sudah melukai diri sendiri, sayat demi sayat tergoreskan, tetes demi tetes darah mengalir seperti air, tapi ketika kamu sadar semua akan kembali menyakitkan bahkan lebih menyakitkan daripada itu, terbukti sudah.
Masalah tidak akan pernah selesai dengan begitu, tidak akan pergi hanya dengan kamu berlari untuk selalu menghindari, bahkan ketika kamu mencoba menghadapi segalanya, segalanya kembali datang, tidak membiarkan kamu berhenti menyelesaikan semuanya.
Tugas Aylana sama seperti kita semua, hanya menjalani dan tidak diizinkan untuk mengeluh.