Ninu, ninu, ninu ...
Suara bising sirene ambulance dan mobil polisi saling sahut menyahut, membuat setiap orang yang sedang sibuk terlelap di kediaman masing-masing berhamburan keluar. Di tengah hujan lebat yang tengah melanda, ramai orang mulai mengerubungi sebuah rumah megah yang kini dikelilingi mobil polisi. Mereka sebagai para tetangga tentu bertanya-tanya bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi di rumah itu?
Beberapa saat berikutnya, para polisi terlihat mengamankan sebuah pisau berlumuran darah serta tali tambang ke dalam kantung plastik. Sementara beberapa petugas medis sibuk berlarian dari dalam rumah sambil membawa dua tandu yang ditumpangi oleh sepasang pria dan wanita. Yang pria terlihat tak sadarkan diri dengan memar-memar di wajah serta ada bekas luka tusukan di perutnya. Sementara si wanita yang juga tak sadarkan diri, wajahnya terlihat begitu pucat, tangan kirinya yang menggantung keluar batas tandu memperlihatkan segaris sayatan di pergelangannya yang masih mengeluarkan sedikit darah.
Para tetangga yang melihat itu pun syok. Pria dan wanita yang ada di tandu itu jelas-jelas adalah si penghuni rumah megah ini, alias pasangan muda yang selama ini selalu tampil bahagia bersama putra kecil mereka. Tapi kenapa tiba-tiba keadaan mereka jadi seperti ini? Terlebih ada pisau dan tali yang diamankan polisi, apa yang telah terjadi di rumah ini sebenarnya?
Sementara itu, sosok wanita berseragam babysitter yang tengah menggendong anak laki-laki berusia dua tahun yang tengah menangis kejar, terlihat keluar dari dalam rumah dengan wajah pucat pasi. Jelas sekali dia tampak begitu terkejut dengan kejadian yang telah menimpa majikannya. Atau justru takut? Entahlah, belum ada yang tahu pasti tragedi apa yang telah menimpa keluarga ini sebenarnya. Kecuali sang babysitter itu sendiri tentunya.
Melihat kehadirannya, seorang polisi ditemani dua rekannya datang menghampirinya.
“Apa Anda Ibu Mayasari yang melapor kejadian ini?” Sang polisi menegur.
Yang diajak bicara terlihat semakin tegang bukan main.
“Y-ya,” jawabnya dengan suara gemetar.
“Apa Ibu bisa ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan saksi?”
Sang babysitter, Mayasari, sekali lagi mengangguk. Matanya terlihat menatap kosong entah kemana, sesekali juga memandang wajah sang anak yang ada dalam gendongnya. Setitik raut sendu terpancar di wajahnya ketika ia menatap balita mungil itu.
“Tapi sebelum itu,” ucap sang polisi lagi, “apa Ibu Mayasari bisa memberi tahu kami sedikit mengenai apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Menurut laporan yang Ibu berikan, mereka saling berusaha membunuh satu sama lain. Apa Ibu tahu alasan mengapa mereka melakukan itu?”
Mayasari tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, dadanya naik turun seperti menahan emosi.
Setelah tarikan napas yang cukup dalam, ia menjawab dengan diiringi tatapan yang menajam, “Semua berawal dari kematian kakak saya.”
Mendengar itu, para polisi terkejut. Mereka saling pandang sesama rekan, lalu kemudian memberi anggukan isyarat untuk segera membawa Mayasari ke kantor agar dia bisa menjelaskan pernyataannya barusan di tempat yang jauh lebih rahasia.
~~~