Sebuah koper hitam besar terseret tidak halus di sepanjang lobi bandara, lantaran sang empu sibuk menari kecil dan bersenandung ria seraya menatap layar ponselnya. Walau banyak orang memandangnya aneh, tetapi wanita dua puluh empat tahun yang mengenakan jeans biru dan sweater rajut hitam, dipadu dengan blazer coklat selutut itu tidak peduli. Ia sedang terlalu bahagia untuk sekedar memikirkan cibiran orang.
Hari ini adalah hari di mana ia akan bertemu kembali dengan keluarganya setelah tiga tahun merantau menjadi buruh di Negeri Matahari Terbit, Jepang. Sungguh ia rindu sekali dengan mereka, terlebih dengan adiknya yang selalu ia anggap seperti adik kecil walau usianya sudah menginjak dua puluh dua tahun saat ini. Ia terus bertanya-tanya setiap hari, kira-kira sudah setinggi apa ya adiknya itu? Terakhir mereka berdiri berjajar, dia masih setinggi bahunya. Tak sadar, tawanya merekah ketika mengingat momen kebersamaannya dengan sang adik.
Detik berikutnya, ia kembali terenyak dari lamunnya. Matanya kembali menatap pada layar ponsel, sekali lagi senyumnya merekah. Kali ini bersamaan dengan semu kemerahan yang terasa memanas di pipinya.
Wanita itu, alias Miranti, ia juga tidak sabar ingin segera menemui sosok pria yang sedari tadi fotonya terus ia tatap di layar ponselnya. Dia adalah Bagas Aditya, sang kekasih hati yang telah setia menemaninya selama lima tahun, bahkan sanggup menjalani LDR selama ia di Jepang. Miranti sangat bersyukur bisa memiliki pria seperti Bagas. Dia sosok yang ramah, penyayang, perhatian, juga ulet dalam bekerja walaupun pekerjaannya hanya sebagai buruh di pabrik mebel.
Selama ini Bagas selalu rajin menjalani pekerjaannya, bahkan ketika dia sakit pun dia tetap semangat. Katanya hal itu dilakukannya demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa cepat-cepat melamar Miranti dan menikahinya.
Sebenarnya Miranti tidak keberatan kalau pernikahannya digelar hanya sekedar melaksanakan akad tanpa adanya resepsi yang tentunya akan menghabiskan uang. Keluarganya pun tidak terlalu menuntut hal itu. Asalkan Miranti bahagia bersama pilihan hatinya, ibu, bapak serta adiknya pasti akan turut bahagia bersamanya.
Tapi berbeda dengan pemikiran Miranti dan keluarga, Bagas justru belum mau menunjukkan wajahnya di hadapan keluarganya sebelum dia mengantungi uang yang pantas untuk meminta gadisnya itu dari keluarganya. Ya, sampai saat ini mereka masih belum bertatap muka dengan Bagas karena pemikiran bodoh pria itu. Dia benar-benar tidak mau menunjukkan sisi lemahnya di hadapan keluarga Miranti hanya karena takut tidak akan diterima. Benar-benar pria keras kepala, tetapi juga manis.
Dan karena pemikiran Bagas yang seperti itulah mangkanya Miranti memutuskan untuk menjadi TKI dan bekerja di Jepang. Berbekal dari kemampuan berbahasa Jepang-nya yang cukup ia kuasai sejak SMA, Miranti lolos ketika mendaftar menjadi TKI di Jepang. Ia juga ingin membantu Bagas mencari uang agar pria itu tidak segan lagi untuk berkenalan dengan keluarganya. Dan saat inilah waktunya.
Miranti sudah mengumpulkan cukup uang yang bisa menjadikan Bagas merasa pantas berhadapan dengan orang tuanya. Ia juga sudah mengirimkannya padanya sebulan lalu. Walau Bagas agak sulit dihubungi akhir-akhir ini, tetapi Miranti tidak merasa buruk sama sekali karena ia tahu Bagas pasti sedang sibuk mengurus segala dokumen persiapan pernikahan mereka. Sungguh tidak sabar rasanya ia ingin memberi kejutan pada pria itu kalau gadisnya sudah pulang dan sudah siap untuk menjadi istrinya.
Tring, tring, tring, tring.
Rentetan notifikasi pesan masuk di ponsel yang tengah Miranti tatap sedari tadi berhasil membuatnya sedikit terkejut. Agak menyebalkan memang, tetapi ia memakluminya. Ini kali pertama ia mengaktifkan ponsel Indonesianya setelah sekian lama hanya teronggok menjadi barang pajangan. Jadi wajar saja kalau rentetan pesan itu datang membombardirnya.
Sambil menunggu taksi, Miranti mulai mengecek ratusan pesan yang baru saja ia terima. Kebanyakan dari sahabatnya, Nia. Benar-benar orang satu itu, padahal Miranti sudah memberi tahukan kontak luarnya selama ia di Jepang melalui email. Tapi kenapa Nia malah terus mengirim pesan ke nomor Indonesianya yang tentu saja tidak pernah ia nyalakan selama di Jepang? Apa Nia tidak membuka emailnya? Atau jangan-jangan emailnya malah sudah ganti? Dasar anak itu, pasti dia melupakan sandi emailnya lagi. Benar-benar si ceroboh dan bodoh.
Saat sedang asyik menggulir pesan-pesan yang selama ini dikirimkan Nia, Miranti terus tersenyum-senyum sendiri karena isinya kebanyakan adalah makian sang sahabat yang terkesan lucu baginya. Nia protes hampir setiap hari karena Miranti tidak pernah menghubunginya sama sekali. Dia bahkan sampai merajuk dan berdrama ria, membuat Miranti jadi tertawa sendiri membacanya.
Kini sebuah taksi sudah muncul di hadapan Miranti, siap membawanya pulang menuju rumah yang begitu dirindukannya. Ia pun segera naik lantas memasang duduk dengan nyaman di kursi penumpang, sementara Pak Sopir merapikan kopernya di bagasi.
Namun, ketika baru saja ia akan mengatakan alamat tujuannya pada Pak Sopir yang baru saja masuk dan bersiap di kursi kemudi, mata Miranti dikejutkan dengan pesan-pesan terakhir Nia yang membuat perasaannya mendadak cemas tidak karuan.
[Mir, kamu lagi apa di sana? Makannya teratur 'kan?] 8 Mei, 2017.
[Aku dengar katanya kamu mau pulang ke Indo? Harusnya aku senang 'kan? Tapi maaf, Mir, aku nggak bisa senang untuk yang satu ini.] 11 Mei, 2017.
[Mir, aku perlu ngomong penting sama kamu. Tapi sekarang aku di luar kota dan udah hilang kontak sama adik kamu. Bodoh banget! Harusnya aku minta kontak kamu dulu ke keluarga kamu sebelum pindah ke luar kota!] 12 Mei, 2017.
[Please, Mir, nyalain handphone kamu. Ada sesuatu yang harus aku kasih tahu ke kamu. Ini menyangkut soal Bagas.] 15 Mei 2017.
Deg! d**a Miranti mulai naik turun ketika membaca pesan terakhir Nia. Ia bertanya-tanya, ada apa dengan Bagas? Kenapa pesan Nia terdengar seperti sangat mencemaskannya? Apa terjadi sesuatu pada Bagas?
Ketika batinnya tak tenang terus mempertanyakan masalah yang menyangkut Bagas, notifikasi ponselnya kembali berbunyi. Lagi-lagi pesan dari Nia yang baru saja masuk. Itu dikirim dua hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 19 Mei 2017.
[Aku udah berusaha nyari kontak adik kamu, tapi nggak ketemu. Maaf karena aku cuma bisa kasih tahu hal sepenting ini melalui nomor kamu yang bahkan nggak pernah aktif lagi.]
Tring, sekali lagi notifikasi berbunyi, kali ini pesannya adalah sebuah foto. Miranti segera membuka file itu, dan seketika tangannya melemas sampai tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Dadanya naik turun tak terkira, napasnya tersengal, matanya pun memanas menahan rasa sesak yang tiba-tiba menghantam jiwanya begitu dahsyatnya.
“Mbak baik-baik aja?” tanya Pak Sopir cemas. “Jadinya mau diantar kemana?”
Setelah satu tarikan napas singkat untuk menguatkan diri, Miranti menjawab dengan gemetar tertahan, “Ho-Hotel Ciputra.”
~~~