Panas, penuh gairah. Itulah dua hal yang paling menggambarkan perasaan dua sejoli yang saat ini tengah bergulat di atas ranjang. Di dalam kegelapan mereka saling menyatu, memadu kasih menciptakan hasrat kepuasan atas permainan birahi yang tengah mereka lakukan. Suara-suara desahan nikmat dari sang wanita berparas cantik menjadi pengiringnya. Membuat situasi jadi semakin panas lagi, rasa birahi pun meningkat hingga ke tahap maksimal.
Dengan rasa yang menggebu-gebu itu, permainan semakin berjalan dengan brutal. Pompaan demi pompaan terhunjam lebih kuat, desahan nikmat pun semakin kencang terdengar.
“Mas ....” Sang wanita menyebut panggilan sayangnya terhadap si pria dengan begitu sensuaalnya. Membuat si pria semakin tiada ampun menghunjam miliknya dengan kepunyaannya.
Ya, mereka adalah Bagas dan Farah. Sepasang suami istri yang baru saja menikah tiga tahun lalu, dan kini dikaruniai seorang anak laki-laki yang umurnya sudah menginjak dua tahun.
Malam ini, Bagas sungguh ingin sekali menyelesaikan permainan panas mereka sebelum putra mereka—Nara, terbangun. Mangkanya Bagas bermain dengan agak brutal. Pasalnya sejak Nara lahir, sulit sekali rasanya bagi mereka untuk bermain sampai tuntas. Selalu saja dihentikan oleh tangis Nara, dan kepunyaan Bagas hampir selalu berakhir dengan tangannya sendiri bukan di dalam milik Farah. Sejujurnya itu agak menyebalkan. Rasa tanggung benar-benar terasa menyiksa. Semoga saja malam ini Bagas tidak harus merasakan itu lagi.
Tapi baru saja ia mengharapkan itu dalam hatinya, tiba-tiba saja terdengar suara tangisan Nara dari arah baby monitor yang bertengger di meja tepi ranjang. Seketika saja permainan mereka terhenti. Dan Bagas, dia mendesah pasrah karena untuk kesekian kalinya ia harus merelakan kejantanannya untuk mengalah dan bersabar. Sementara Farah, wanita itu hanya mencium singkat bibirnya, lantas tersenyum dan bangkit memakai night robe merahnya hendak menuju kamar Nara.
“Sebentar ya, Mas. Aku tenangin Nara dulu,” kata Farah pamit. Meninggalkan Bagas yang merana sambil mengocok pelan kepunyaannya. Ya, beginilah nasib kalau punya anak kecil. Ah sungguh, Bagas merindukan momen-momen di saat ia masih pengantin baru dulu. Benar-benar malam yang erotis setiap harinya, penuh kenikmatan.
Sementara Bagas terus melanjutkan permainan dengan tangannya sendiri, Farah masuk ke dalam kamar Nara dan mengeceknya. Ternyata benar dia sedang menangis di atas ranjang tempat tidurnya. Farah pun meraihnya, menggendongnya dalam pelukannya sepenuh hati. Walau birahinya belum tuntas dan terasa mengganjal, tetapi kalau sudah menatap putra kecilnya ini entah kenapa segalanya jadi teralihkan. Perasaan yang semula terbagi kemana-mana, kini menyatu penuh ia limpahkan untuk sang putra. Ya, inilah naluri seorang ibu. Sungguh menenangkan batin, terlebih ketika Nara tenang dalam gendongannya. Itu menimbulkan kesan haru tersendiri yang membuat hatinya begitu bahagia.
“Cup, cup, cup ... anak Mama kenapa nangis, Sayang?” Farah berbicara kepada Nara yang kini sedang menatapnya berkaca-kaca. “Kesepian ya di sini? Mau bobok sama Mama?”
Nara kini tersenyum berbinar sambil mengangguk. Ya, perkembangan Nara memang tergolong cepat. Mangkanya dia sudah mengerti apa yang orang lain katakan. Dia bahkan sudah bisa berjalan dan bicara cukup lancar sejak usia satu tahun. Sungguh anak yang cerdas.
“Nala mau bobo cama Mama,” kata Nara setelah tangisnya mereda.
Farah pun tertawa kecil. “Yaudah, untuk malam ini Mama bolehin deh Nara bobo sama Mama. Tapi nggak boleh ngompol ya? Bisa nggak?”
Nara mengangguk senang. “Bisa, nanti Nala pipis dulu.”
Farah semakin tertawa gemas mendengar celoteh putranya itu. Ia pun membawa Nara menuju kamarnya dan Bagas.
Saat Farah sampai, ternyata Bagas sudah rapih mengenakan baju tidurnya. Pertanda kalau dia sudah menyelesaikan sendiri hajatnya. Ah, sejujurnya ada rasa bersalah di hati Farah harus membiarkan Bagas selalu berujung memuaskan dirinya sendiri ketika mereka bersenggama. Farah merasa tidak becus menjadi seorang istri dan ibu, karena tidak bisa memenuhi kedua tugas itu dengan baik. Kalau ia memilih untuk menjadi istri yang memuaskan hasrat suaminya, masa ia harus menelantarkan Nara yang menangis? Itu sangat kejam. Untung saja Bagas selalu pengertian kepadanya, dia memaklumi kalau mereka sedang memiliki anak kecil. Jadi tidak bisa menikmati malam-malam indah seperti dulu lagi.
Farah meletakkan Nara di tengah ranjang besar yang tadi mereka gunakan untuk berpadu kasih. Bagas yang belum tidur pun langsung mengajak bercanda putranya.
“Anak Papa nih, tengah malam bangun terus.” Bagas menggelitiki tubuh Nara pelan. Membuat putranya itu tertawa geli. “Nggak tahu apa Papa lagi asyik bersenang-senang sama Mama kamu.”
“Hush, Mas ....” Farah menegur halus seraya ikut berbaring di samping Nara. “Jangan ngomong gitu ah di depan Nara. Masih kecil udah disuguhi sindiran tentang begituan. Kalau besarnya nanti jadi nggak benar aku salahin kamu loh.”
Bagas tersenyum lebar merasa bersalah. “Hehehe ... enggak, dong. Anak Papa ‘kan cerdas. Besarnya nanti pasti bakal jadi anak yang sholeh. Iya ‘kan, Nar?”
Nara hanya tertawa kecil mendengar ucapan papanya. Tidak tau deh dia mengerti atau tidak.
Sementara itu Farah menyahut, “Aamiin .... Insya Allah anak Mama pasti akan menjadi anak yang sholeh.”
“Aamiin.” Bagas ikut mengamini.
Sejenak, tidak ada percakapan di antara mereka karena Nara terlihat mulai tertidur. Farah mengelus-elus punggungnya, memberikan rasa nyaman pada putra tercintanya ini. Sementara Bagas, ia juga ikut mengelus-elus rambut lembutnya, sampai akhirnya Nara benar-benar pulas di tengah-tengah kedua orang tuanya.
“Maaf ya, Mas.” Farah tiba-tiba mengucap maaf pada Bagas. Membuat pria itu langsung mengernyit heran seketika. Omong-omong, Farah memang memutuskan untuk memanggil Bagas dengan sebutan Mas ketika mereka sudah menikah. Katanya biar sopan saja, tidak etis rasanya kalau memanggil suami dengan nama langsung. Begitu pikirnya.
“Maaf untuk apa?” tanya Bagas.
Wajah Farah kini tampak meredup sendu. “Maaf, lagi-lagi aku nggak bisa memuaskan kamu. Aku benar-benar merasa nggak becus jadi istri.”
“Ngomong apa sih kamu, Far?” Tangan Bagas kini beralih mengusap-usap rambut sang istri. “Ini wajar kok, namanya juga punya anak kecil. Nanti kalau Nara udah agak besar ... gimana kalau kita honeymoon kedua? Nara titipin dulu sama kakeknya.”
“Yeee ... dasar.” Farah tertawa kecil menanggapi candaan Bagas. “Kayak kamu tahan aja nunggu beberapa tahun lagi untuk rencana itu?”
Bagas tertohok. Benar, ia tidak akan tahan menunggu sampai Nara berusia sekitar enam tahunan untuk setidaknya bisa ditinggal oleh orang tuanya. Itu terlalu lama, sementara nafsu seksualnya sudah begitu menggebu-gebu. Ya, Bagas ini termasuk hiper sejak menikah. Nafsu seksualnya selalu tak tertahankan. Mangkanya waktu mereka baru menikah, setiap hari ia selalu meminta Farah untuk meladeninya. Bahkan sampai Farah mengeluh kelelahan, kadang ia belum juga terpuaskan. Ini agak menyusahkan sebenarnya, ia kasihan pada Farah. Tapi mau diapakan lagi, sudah dari sananya begini.
“Apa sebaiknya kita cari Babysitter aja ya, Mas?” celetuk Farah tiba-tiba, yang langsung membuat Bagas terkejut.
“Hah? Babysitter?” Bagas terdengar tidak setuju. “Emangnya kamu nggak takut anak kita kenapa-kenapa? Jaman sekarang banyak oknum-oknum asisten rumah tangga atau Babysitter yang modus penculikan anak loh. Ngeri, Far.”
Farah bangkit terduduk. Kini ia mulai serius dengan topik ini.
“Kita cari orang bawaan dari kenalan aja, Mas. Bisa ‘kan? Nggak usah pakai jasa dari yayasan.” Farah mengusulkan. “Lagi pula ... sejujurnya aku pengin mengelola langsung butik aku lagi, Mas. Aku udah kangen banget mainin bahan-bahan kain, aku kangen banget nge-design langsung pesanan para customer langganan aku.”
Bagas menatap Farah teduh. Ya, sejak Farah hamil besar dan harus mengurus Nara, Bagas memintanya untuk fakum dulu dari pekerjaannya karena tidak ingin dia kelelahan jika harus mengurus butik kesayangannya. Padahal Bagas tahu betul kalau design pakaian sudah menjadi dunia istrinya ini yang sudah digelutinya sejak dia masih kuliah dulu. Bakatnya juga memang terletak di bidang itu. Buktinya namanya sampai sukses besar di kalangan para entertainer nusantara.
Bagas pun tersenyum lembut padanya, lantas mengangguk setuju.
“Ya udah, kalau kamu emang pengin balik ngebutik lagi, aku setuju kita cari Babysitter. Nanti aku coba tanya-tanya orang kantor deh, siapa tahu ada kerabat mereka yang mau jadi Babysitter-nya Nara.”
Mendengar itu, sontak Farah mendelik berbinar. “Wah! Beneran boleh, Mas?!”
Bagas mengangguk. “Ya, boleh dong, Sayang ... masa aku mau terus-terusan menghalangi minat dan impian istri tercinta aku?”
Farah pun bangkit berdiri lantas berlari kecil ke sisi tempat tidur Bagas, ia memeluk suaminya itu begitu erat. “Makasih, Mas ... kamu emang suami paling pengertian di seluruh dunia. Muach!”
Farah menciumi Bagas bertubi-tubi. Membuat pria itu agak kelabakan, tetapi juga tertawa kecil merasa turut senang melihat kebahagiaan sang istri.
~~~