"Sebenarnya ... ada sesuatu yang terjadi di kantor tiga bulan lalu. Yang selama ini berusaha aku sembunyikan dari kamu."
Mayasari mengernyit penasaran. "Apa itu?"
Regan menjawab dengan sorot mata sendu, "Ini berhubungan dengan pencarian kamu, May. Ini tentang ... Bagas."
Seketika, jantung Mayasari seakan berhenti berdetak saat mendengar nama yang Regan sebut barusan. Bagas. Alias orang nomor satu yang berada dalam daftar orang yang paling ingin Mayasari singkirkan dari dunia ini. Orang yang selama ini ia cari-cari keberadaannya, tetapi tak kunjung ketemu. Dan sekarang Regan baru mau mengatakan informasi mengenai hal ini padahal dia sudah tahu sesuatu tentangnya sejak tiga bulan lalu?! Sungguh Mayasari merasa terkhianati, ingin sekali ia marah padanya. Tetapi ia berusaha menahannya karena masih ingin mendengar berita kelanjutannya.
Mayasari mencoba menenangkan diri, ia kembali duduk tegak nan tenang di kursinya. Lantas, ia menatap Regan dan bertanya, "Ada apa dengan si b******k itu?"
Regan menatap lamat-lamat gadis di hadapannya. Dalam hatinya ada rasa bersalah, serta rasa takut yang saling berkonflik sama-sama ingin menang. Sisi rasa bersalahnya menginterupsi kalau ia salah telah menyembunyikan hal tentang Bagas dari Mayasari selama ini padahal gadis itu begitu menggebu-gebu ingin segera menemukannya. Sementara sisi rasa takutnya membenarkan keputusannya, kalau memang lebih baik jika Mayasari tak usah tahu keberadaan Bagas supaya dia menghentikan dendam dalam hatinya. Dan gara-gara konflik batin ini Regan jadi tidak tahu harus melanjutkan niatnya memberi tahu Mayasari atau tidak.
Satu menit, dua menit, Regan hanya terus diam. Kini Mayasari sudah mulai kehilangan kesabarannya, itu terlihat jelas dari matanya yang mulai memerah menahan amarah. Tangan kirinya juga menggenggam garpu begitu kerasnya sambil menancapkannya di atas piring makannya yang belum habis.
"Regan ... jawab aku!" Mayasari menggeram tertahan. Dadanya kini mulai naik turun pertanda kalau pertahanan kesabarannya sudah hampir runtuh.
Melihat tatapan Mayasari yang seperti itu, rasa bersalah dalam diri Regan seakan mulai bergemuruh hendak memenangkan perang batin yang tengah terjadi dalam kepalanya. Hingga akhirnya ... sisi rasa takut alias sisi yang menjadi sisi positifnya telah kalah telak. Dan membuat Regan berpikir kalau ia memang harus mengatakan hal yang disembunyikannya dari Mayasari selama ini.
Regan mendengus pelan. Ia lantas mulai menjelaskan.
"Aku udah pernah cerita ke kamu 'kan kalau kantor tempat aku kerja punya cabang di Bandung?" Mayasari tidak menjawab atau bahkan menyahut, ia hanya terus menatap Regan seolah mengiyakannya. Regan pun melanjutkan, "Di sanalah Bagas selama ini berada, May. Menjabat sebagai manajer perusahaan .... Dan sekarang, atau tepatnya tiga bulan lalu, dia dipindahkan ke kantor cabang yang ada di Jakarta untuk memimpin sebagai direktur. Menggantikan kepemimpinan direktur sebelumnya yang ternyata adalah ayah Farah, istri Bagas. Ya, kantor perusahaan mebel tempat aku bekerja selama empat tahun ini ternyata adalah perusahan milik ayah Farah, May. Amir Santoso."
Deg! Mendengar berita itu, setetes air mata jatuh menetes di pipi Mayasari. Mendadak rasa kesedihan serta kemarahan berkecamuk menjadi satu dalam dadanya. Membuatnya jadi merasa begitu sesak, sampai harus memegangi dadanya yang seperti ingin mengeluarkan kepingan hatinya yang telah remuk di dalam sini.
Ia merasa tidak terima. Kenapa orang yang telah menyebabkan penderitaan kepadanya selama ini malah hidup tenteram dan bahagia bersama keluarganya, membangun karir yang gemilang? Kenapa dunia bisa-bisanya setidak adil ini terhadap dirinya dan keluarga kecilnya? Kenapa takdir membiarkan Bagas hidup tenang tanpa bayang-bayang rasa bersalah karena telah menjadi penyebab kematian Miranti? Sungguh Mayasari ingin mencabik-cabik habis manusia itu detik ini juga. Tetapi tidak bisa karena si b******k itu tidak ada di hadapannya saat ini.
Kini, Mayasari melampiaskan amarahnya pada Regan. Ia menyalahkan pria itu yang baru memberitahunya informasi ini sekarang. Sungguh Mayasari sangat kecewa padanya. Ia pun menatap Regan dengan kilatan penuh amarah.
"Kenapa ... kenapa baru sekarang kamu cerita hal ini, Gan?!" Mayasari menggeram tertahan.
Regan hanya tertunduk diam, tidak menjawab.
"Regan, aku tanya sekali lagi sama kamu, kenapa baru sekarang kamu kasih tau hal ini ke aku?!" Kini Mayasari berteriak histeris. Membuat seluruh pengunjung cafe sontak menatap penuh cibiran dan ejekan ke arah mereka.
Regan yang melihat Mayasari tampak begitu kalut seperti itu, ia buru-buru menghampirinya untuk menenangkannya.
"May, aku minta maaf," ujar Regan. "Aku tahu kamu marah karena aku terkesan seperti menghkianati kamu dengan menyembunyikan informasi tentang Bagas. Tapi aku melakukan ini karena aku peduli sama kamu, May! Aku nggak mau kamu terlilit dengan dendam yang akan merugikan diri kamu sendiri kedepannya nanti. Ingat, May, Tuhan aja maha pemaaf. Kita yang umatnya nggak sepantasnya menyimpan dendam terlalu larut. Udah saatnya kamu memaafkan mereka, ini udah tiga tahun!"
Mendengar itu, Mayasari langsung menatap Regan tak terima. Dalam sorot matanya itu Regan dapat melihat dengan jelas, ada rasa pilu yang teramat sangat, membuat siapa pun yang melihatnya langsung sadar kalau ia sedang memiliki penyakit hati yang akut.
"Maaf kamu bilang?!" Mayasari berseru. "Apa menurut kamu aku pantas memaafkan orang-orang yang telah merenggut kebahagian keluarga aku?! Apa menurut kamu aku pantas memaafkan laki-laki yang telah membohongi Kakak dan menjadi penyebab rasa sakit baginya sampai akhir hayat hidupnya?!"
"May, bukan begitu maksud ak—"
"Kamu nggak akan mengerti, Gan! Gimana rasanya kehilangan dua orang tercinta di hari yang sama, terlebih harus menerima kenyataan kalau ibu aku juga udah nggak mengenali aku lagi sebagai putri bungsunya! Hati aku hancur, Regan! Sakit ... sangat, sangat sakit sampai rasanya aku ingin menyerah pada kehidupan!"
Regan terpaku. Ya, benar kata Mayasari, ia memang tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh keluarga karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya sejak balita. Ia masih terlalu kecil untuk dapat merasakan sakit atau sedih ketika harus menerima kenyataan kalau ayah dan ibunya meninggal bersama dalam suatu kecelakaan mobil. Kalau saja ia baru kehilangan mereka di usianya yang sudah mengerti soal cinta kasih keluarga, ia pasti akan lebih mengerti bagaimana perasaan Mayasari saat ini.
Mayasari melanjutkan, "Sampai akhirnya aku menemukan satu alasan untuk tetap bertahan ... yaitu untuk membalaskan dendam atas kehancuran keluarga aku terhadap Bagas! Tanpa alasan itu, aku pasti udah mengikuti jejak Kakak, Gan! Tanpa alasan itu juga aku nggak akan berada di sini saat ini, makan malam dan merayakan ulang tahun bersama kamu!"
Regan sudah tak kuasa lagi melihat kesedihan mendalam Mayasari saat ini. Ia pun meraih tubuhnya, memeluknya erat walau dia memberontak.
"Maafin aku, May. Maaf ...." Regan menggumam penuh sesal dalam pelukan Mayasari. Membuat tangisan gadis itu akhirnya runtuh dalam dekapan bahunya. "Aku bodoh karena nggak bisa mengerti penderitaan yang kamu rasakan selama ini. Aku bodoh karena mengentengkan rasa sakit yang yang selama ini mendekam dalam hati kamu. Aku benar-benar minta maaf ...."
Mayasari terus menangis sejadi-jadinya, ia menyandarkan kepalanya penuh pada bahu Regan.
"Menangis lah," kata Regan lagi. "Tumpahkan segala beban rasa sakit itu sampai kamu merasa jauh lebih ringan. Aku akan selalu ada di sini untuk memeluk kamu, May."
"Regan ...." Mayasari sesenggukan. "... ini nggak semudah itu, Gan .... Seberapa banyak pun air mata yang aku tumpahkan, itu semua nggak akan pernah cukup untuk bisa menyatukan kembali hati aku yang udah lama hancur."
"Lantas aku harus gimana, May?" Regan kini menatap Mayasari dalam, ia menangkup wajah gadis itu yang penuh air mata. "Bilang sama aku, aku harus melakukan apa supaya kamu bisa tersenyum ceria lagi seperti Maya yang aku kenal dulu? Katakan, May! Apa pun itu, akan aku lakukan demi kamu!"
Mayasari menatap Regan penuh harap. "Kamu serius dengan kata-kata kamu barusan? Kamu beneran mau bantu aku menghilangkan rasa sakit ini?"
Regan mengangguk mantap. "Ya. Aku nggak pernah lebih serius dari ini. Bagi aku, kebahagian kamu adalah hal terpenting yang harus aku perjuangkan."
Mayasari meneguk salivanya. Ia menatap Regan dalam-dalam lantas memberi tahu, "Kalau begitu bantu aku untuk bisa bertemu dengan Bagas. Bantu aku untuk membalaskan dendamku terhadap lelaki b******k itu."
Deg! Regan menegang mendengar itu. Sejujurnya ia ingin mengelak, ia tidak mau menjerumuskan Mayasari ke dalam rasa dendam yang bisa jadi akan membawanya pada hal buruk. Tapi bahkan sebelum ia sempat mengucap protes, Mayasari sudah lebih dulu menegaskan padanya.
"Kamu nggak boleh mengelak, Regan. Atau kamu juga akan menjadi orang yang sederajat dengan Bagas di mata aku."
Dan ya, pada akhirnya rasa cintanya terhadap Mayasari sanggup mengalahkan pikiran logisnya dalam mencegat gadis itu untuk berbuat dosa. Regan pun terpaksa menganggukkan kepalanya, lalu kembali memeluk Mayasari.
Regan berbisik di telinganya, "Tunggu aku. Aku akan mencari momen yang tepat untuk mempertemukan kamu dengan Bagas. Ini janji aku ke kamu, May. Kamu bisa pegang itu."
Mayasari membalas pelukan Regan begitu erat. "Makasih, Gan," ucapnya tulus. "Makasih udah mau menjanjikan hal itu untuk aku. Aku percaya sama kamu. Aku akan menunggu dengan sabar sampai kamu memberi informasi selanjutnya."
Ada rasa tenang dalam hati Regan ketika melihat Mayasari mulai menenang. Pelukannya kini juga terasa jauh lebih hangat, tidak seperti sebelumnya yang terasa bergetar dan membuat d**a Regan sesak.
Ya, setidaknya Regan merasa lega dengan ketenangan saat ini. Walau ia tahu, besok-besok mungkin ia akan terus merasa gundah karena merasa berdosa telah menjerumuskan Mayasari ke dalam dendam yang semakin mendalam.
~~~