Happy birthday to you ... Happy birthday to you .... Happy birthday dear Regan ... Happy birthday to you ...."
Mayasari menyanyikan lagu selamat ulang tahun di tengah nyala lilin yang berpendar di atas kue tart yang dibelinya tadi sore. Di hadapannya ada Regan yang tengah tersenyum bahagia mendapat kejutan kecil ini. Sungguh ia tidak menyangka Mayasari ternyata mengingat hari ulang tahunnya. Dan terlebih ... dia cantik sekali hari ini. Apa dia sengaja berdandan untuknya?
Regan bukannya mau kegeeran, tetapi Mayasari memang tampak spesial malam ini—dengan dress merah maroon selutut, juga rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai. Regan berkata begini, karena biasanya kalau hari gini Mayasari agak terlihat kusut dengan sisa make up tebalnya, rambutnya juga dicepol tanpa ada poni yang dibiarkan menggantung. Maklum saja, dia bekerja sebagai SPG makanan, jadi rambutnya memang harus diikat rapih untuk menghindari kontaminasi terhadap produk yang ditawarkan. Dan sekarang Regan melihatnya berdandan rapih di hari ulang tahunnya ... tentu ia merasa senang bukan main. Bahkan saking senangnya sampai dadanya terasa berdesir lembut. Ya, jika boleh jujur Regan memang menyukai sahabatnya ini sejak SMA. Tapi tidak pernah berani mengungkapkan karena takut akan merusak persahabatan mereka.
"Ayo ditiup lilinnya, Gan." Mayasari menginstruksi, dengan senyum cerah yang masih terpancar di wajah eloknya. "Jangan lupa make a wish."
Regan mengangguk. Ia kini memejamkan mata sejenak, mengucap doa pada Sang Maha Kuasa di hari ulang tahunnya ini. Doanya sih tidak muluk-muluk. Regan hanya ingin kebahagiaan untuk Mayasari dan ibunya, serta hilangnya dendam dalam hatinya. Semoga saja doanya yang satu ini akan terkabul suatu hari nanti. Dengan mengucap bismillah, Regan pun meniup lilin angka 25 yang bertengger di atas kue tart kecil pemberian Mayasari.
Mayasari bertepuk tangan pelan sambil menunjukkan senyum sumringahnya. Sejenak, Regan terhanyut melihat betapa bahagianya gadis itu hari ini. Padahal jika diingat-ingat ... entah sejak kapan ia melihat Mayasari sebahagia ini. Terakhir kali mungkin saat hendak menyambut kepulangan Miranti? Ya, Regan ingat betul hari itu di pagi buta Mayasari menggedor-gedor pintu kontrakannya dengan brutal, hanya untuk minta diantar ke pasar dan toko kue. Katanya dia ingin membeli segala hal yang perlu dibeli dalam menyambut kepulangan sang kakak. Siangnya Regan sampai terkantuk-kantuk di kantornya gara-gara paginya sibuk meladeni Mayasari. Tapi sungguh, ia rindu sekali dengan keceriaannya di masa-masa itu.
"Yeee ...." Mayasari bersorak gembira. "Cie ... udah umur dua lima aja nih. Udah menginjak masa-masa dewasa, sebentar lagi nikah."
Regan tertawa kecil mendengar itu. "Kayak kamu bukan umur dua lima aja ngeledekin aku kayak gitu."
"Aku 'kan belum. Baru juga bulan Februari, Desember masih lama, wle!" Mayasari mengelak sambil menjulurkan lidahnya meledek. Membuat Regan hanya bisa tertawa kecil sambil menggeleng pelan melihat tingkahnya.
"Omong-omong, tadi kamu berdoa apa?" Mayasari bertanya penasaran.
"Kepo kamu. Yang namanya doa itu rahasia antara aku sama Tuhan. Orang lain nggak perlu ikut campur."
Mayasari langsung merengut sebal dibilang begitu. "Yeee ... galak amat, Masnya."
Regan sontak tertawa melihat wajah Mayasari yang ditekuk seperti itu. Ya, Mayasari sebetulnya memang suka merajuk. Maklum, mungkin karena dia anak bungsu. Terlebih almarhumah Miranti dulunya adalah sosok kakak yang begitu sempurna, sering sekali dipuji oleh orang-orang sekitar. Banyak tetangga juga sering membanding-bandingkan keduanya dan mengungguli Miranti. Mangkanya Mayasari jadi sering ngambek, merasa iri karena orang-orang terlihat lebih menyukai kakaknya ketimbang dirinya. Padahal dia tidak tahu saja, ada satu orang di sini yang mengaguminya lebih dari apa pun. Ya, orang itu adalah Regan.
Melihat wajah Mayasari yang terus tertekuk seperti itu, Regan pun terpikirkan untuk menjahilinya. Dicoleknya krim kue tart menggunakan telunjuknya, lantas ditempelkannya krim itu ke pipi Mayasari. Seketika gadis itu langsung menoleh padanya, matanya melotot lebar, mulutnya menganga terkejut. Entahlah dia ingin marah atau apa, tapi feeling Regan dia pasti akan membalasnya.
Dan betul saja, belum sampai semenit krim itu menempel di pipi mulus Mayasari, kini ia juga ikut mencolek krim dari kue tart lantas menyerang balik Regan. Regan pun terkejut dan hanya bisa memejamkan mata karena Mayasari menempelkan krim itu tepat di mata kirinya.
"Rasain tuh!" Mayasari tersenyum puas. "Salah sendiri, berani main-main sama aku!"
"Kamu ...." Regan menggeram kecil. Bukan karena marah, tetapi karena terpacu adrenalinnya untuk melanjutkan permainan ke level berikutnya. Tangan Regan pun terangkat untuk meraih segenggam kue tart. Ya, ia berencana untuk menodai wajah ayu gadis itu dengan segenggam penuh kue tart beserta krimnya yang terasa manis di ujung lidah. "Rasain ini!"
"Eits, stop!" Sialnya, tangan Mayasari lebih cepat dalam menangkis tangan Regan yang hendak menghancurkan kue tart yang indah ini. Ia kini bahkan melotot tidak senang pada Regan.
"Enak aja kamu mau hancurin kue ini," tukasnya. "Aku beli mahal-mahal buat dimakan, bukan buat dimainin! Ingat, di luar sana masih banyak orang yang kelaparan dan susah cari makan! Nggak sepantasnya kita yang ada rezeki lebih malah menyia-nyiakannya kayak gini."
Regan langsung ciut mendapat nasihat ala emak-emak seperti itu. Tapi di lain sisi ia begitu kagum pada Mayasari. Di saat wanita sebayanya biasanya merayakan pesta ulang tahun teman dengan menggunakan kue tart sebagai mainan, dia malah teringat pada orang-orang di luar sana yang kelaparan. Agak miris juga sih sebenarnya. Gara-gara bencana yang menimpa keluarganya tiga tahun lalu, pikirannya jadi mengharuskannya untuk selalu berpikir dewasa. Manjadi tulang punggung keluarga, mengurus keuangan dengan rapih, hal itu kini harus Mayasari terapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Membuatnya jadi tak sempat bersenang-senang.
Regan mendengus pelan merasa iba dengan gadis di hadapannya ini. Ia kemudian mengambil secarik tisu, menggunakannya untuk mengelap krim yang ada di pipi gadis itu. Mayasari terlihat tersenyum senang mendapat perlakukan manis seperti ini dari Regan.
"Nggak usah senyum-senyum begitu ...." Regan meledek. "... gantian, bersihin nih mata aku. Pedih tahu!"
Mayasari tertawa kecil. Syukurlah dia sudah tidak merajuk lagi, pikir Regan. Gadis itu lantas ikutan mengambil tisu dan mengelap mata Regan dengan kasar.
"Nih, ya, aku bantu bersihin."
"Duh, sakit, May!" Regan mengaduh sambil menghindar.
"Tadi katanya mau dibersihin." Mayasari semakin puas menggoda.
"Ya nggak gini juga. Iritasi nanti mata aku kalau diusapnya kasar begini. Yang lembut dong. Cewek bukan sih?"
Mendengar itu, Mayasari malah lebih keras lagi menekan-nekan mata Regan. "Makan nih lembut. Enak 'kan?"
"Aduh, duh! Udah ah! Dasar bar-bar!" Regan menyentak dan mengambil alih tisu yang ada di tangan Mayasari, ia memutuskan untuk mengelapnya sendiri saja. "Udah dandan cantik-cantik, tapi masih aja kasar. Pantas nggak laku-laku."
Mayasari tertawa sambil mencibir. "Yeee ... aku nggak laku-laku bukannya aku beneran nggak laku, tahu! Akunya aja yang terlalu pemilih. Jomblo berkualitas. Paham?"
"Idih!"
Mereka pun melanjutkan acara makan malam mereka setelah sejenak bercanda ria. Sungguh, momen ini benar-benar terasa bagai penyembuh bagi hati Mayasari yang selama ini selalu terasa perih, penuh dendam. Regan pun sama. Baginya, asalkan Mayasari terlihat bahagia, itulah momen terindah dalam hidupnya.
Di tengah-tengah kegiatan makan mereka, Mayasari kembali mencari topik. Rasanya tidak betah makan dalam diam begini. Eits, jangan diikuti, ya. Ingat, dalam ajaran Islam mengatakan untuk tidak bercakap-cakap saat sedang makan.
"Gimana soal kerjaan kamu, Gan? Cie ... Pak Manajer nih sekarang." Mayasari membuka topik dengan meledek Regan.
Regan tersenyum malu, sambil menyuap sesendok kue yang tadi dibawakan oleh Mayasari. Dia memang sudah selesai dengan menu utamanya barusan, mangkanya sekarang beralih ke dessert.
"Enak, May, kuenya." Regan mengalihkan. Sejujurnya ia tidak suka jika Mayasari mulai membahas tentang pekerjaannya. Bukannya apa, ada satu hal yang mengganjal di hatinya tentang pekerjaannya sejak tiga bulan terakhir. Dan itu berhubungan dengan Mayasari. Regan takut ketahuan tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ih, Pak Manajer nih, sok-sokan ngelak." Mayasari kembali menyinggung. "Cerita dong sekali-kali, gimana sih rasanya jadi orang kantoran yang sukes? Hmm?"
Regan mendengus malas. "Ya gitu-gitu aja, May. Nothing special."
Melihat raut wajah Regan yang tampak lesu tidak bersemangat seperti itu, Mayasari mendadak menghentikan kegiatan makannya. Matanya memicing menatap Regan, ia seperti menangkap ada yang aneh dari pria itu. Ia sudah mengenalnya lama, jadi ia paling tahu ketika ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati Regan. Pasalnya teman prianya yang satu ini orangnya selalu jujur, tidak pernah bisa berbohong. Mangkanya sekalinya ada masalah dia tidak akan pernah bisa menyembunyikannya dari Mayasari.
"Gan, kamu ada masalah ya di kantor?" Mayasari menyeletuk bertanya. Yang anehnya langsung membuat Regan terbatuk.
Regan buru-buru mengambil air dan meminumnya. Lalu setelahnya ia mengelak, "Enggak kok. Aku lancar-lancar aja di kantor."
Mayasari semakin menatap Regan lamat-lamat. Ia lantas mendekatkan wajahnya pada wajah pria itu, ia menegaskan, "Regan, cerita sama aku! Kecuali kalo kamu mau aku berpikir bahwa kamu udah nggak menganggap aku sebagai sahabat kamu lagi."
Mendengar itu, Regan langsung melotot dan menggeleng tegas. "Ya ampun, May ... kamu tahu betul gimana sayangnya aku ke kamu! Mana mungkin sih aku nggak anggap kamu sebagai sahabat lagi?!"
"Mangkanya cerita!"
Regan diam sejenak. Ia begitu frustasi melihat tatapan menuntut Mayasari. Ia tahu betul kalau gadis ini orang yang keras kepala dan tidak mau tahu. Sekali dia ingin A, maka yang diberikan harus A. Tidak bisa diganggu gugat atau dia akan sangat marah jika tidak dituruti. Tapi masa Regan harus mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatinya ini di momen bahagia ini? Tidak, Regan tidak mau menghancurkannya. Malam ini adalah malam langka di mana ia bisa melihat Mayasari tersenyum lebar. Itu hampir tidak pernah terjadi sejak tiga tahun belakangan ini, Regan jelas tidak mau menghancurkan kebahagiaan gadis itu.
"Kalau besok aja aku ceritanya gimana?" Regan menawar dengan memasang wajah memelas.
Namun Mayasari tetap keras kepala. "Sekarang!" tuntutannya tegas. "Buruan ngomong, ada apa di kantor?"
Regan pun mendengus pasrah. Ia kini menatap Mayasari dalam, lantas memberi tahu, "Sebenarnya ... ada sesuatu yang terjadi di kantor tiga bulan lalu. Yang selama ini berusaha aku sembunyikan dari kamu."
Mayasari mengernyit penasaran. "Apa itu?"
Regan menjawab dengan sorot mata sendu, "Ini berhubungan dengan pencarian kamu, May. Ini ... tentang Bagas."
Deg! Seketika saja air muka Mayasari yang tadinya tampak sumringah, kini berubah drastis menjadi tegang. Dalam sorot matanya, Regan dapat menemukan dengan jelas ada kebencian yang tengah menggebu-gebu.
~~~