Tiga tahun kemudian ...
Bolak-balik antara Mall, kosan, dan rumah sakit sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Mayasari dalam tiga tahun terakhir ini. Ya, sejak dua bulan setelah masa-masa kelam itu, Lastri—ibu Mayasari, pada akhirnya terpaksa harus ia larikan ke rumah sakit jiwa lantaran kondisinya yang semakin parah. Dia sering mengamuk hebat, melempari batu pada orang-orang yang lewat di depan pekarangan kontrakan mereka, bahkan sering kali membahayakan Mayasari dengan menodongkan pisau padanya—ketika ingatan nyatanya akan hari kelam itu kembali hadir dalam kepalanya.
Sejujurnya Mayasari sangat sedih dan terluka harus terus mendapat tatapan kebencian dari ibunya ketika beliau tengah dalam masa sadar. Entah kenapa Lastri selalu saja menganggapnya sebagai ancaman, padahal bukan Mayasari yang menjadi penyebab kematian ayah dan kakaknya. Ketika Lastri tengah dalam berada fantasinya pun itu bukan kebahagiaan bagi Mayasari. Karena di kala itu Lastri akan menganggapnya sebagai Miranti putri sulung tercintanya, bukan Mayasari putri bungsunya. Dalam hidup Lastri saat ini, tidak ada lagi sosok Mayasari baginya. Bisa bayangkan bagaimana pedihnya hati Mayasari tak pernah dianggap sebagai dirinya lagi di hadapan ibunya? Ya, sangat menyesakkan, sampai pernah ia ingin mengikuti jejak kakaknya untuk menyerah pada kehidupan. Untung saja ia punya Regan yang selalu setia membantunya dalam masa-masa sulit itu. Pria itu selalu hadir kapan pun dan di mana pun setiap Mayasari membutuhkannya.
Saat ini, Mayasari masih bekerja sebagai SPG di salah satu Mall besar yang ada di Jakarta. Sejak ibunya mendekam di rumah sakit jiwa, ia memutuskan untuk angkat kaki dari kontrakan penuh kenangan itu—baik yang indah maupun yang kelam—menempuh hidup baru di sebuah kosan sederhana dekat Mall tempatnya bekerja. Ya, ia harus super hemat sekarang. Biaya perawatan ibunya tidak murah. Untung saja ia mendapat sedikit bantuan dari kelurahan setempat, juga dari Regan. Sungguh, entah sudah berapa banyak hutang Mayasari padanya sampai saat ini. Menyebalkannya, dia tidak pernah mau dibayar. Dasar pria sombong, mentang-mentang jabatannya sekarang sudah naik menjadi manajer.
Bicara soal Regan, mari kita berkenalan sedikit dengan sosok itu. Nama lengkapnya Regan Mahendra. Usianya saat ini menginjak dua puluh lima tahun, sebaya dengan Mayasari. Ya, dia memang teman Mayasari sejak SMA sih. Dia seorang yatim piatu pindahan dari salah satu panti asuhan yang ada di kota Solo, Jawa Tengah.
Menurut Mayasari, Regan adalah orang yang beruntung karena dikaruniai dengan otak encer dan karir yang gemilang. Sejak SMA dia memang anak yang cerdas, bahkan bisa mendapat beasiswa di salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Mangkanya tidak heran kalau karirnya sudah bersinar walau usianya masih begitu muda. Kinerjanya memang selalu bagus di perusahaan yang kini tengah digandrunginya.
Sore ini, Mayasari tumben-tumbenan langsung membenahi diri di toilet Mall begitu jam kerjanya berakhir. Ia mencuci muka membersihkan sisa make up yang menurutnya agak berlebihan—maklum saja, tuntutan pekerjaan—lantas menggantinya dengan make up baru yang lebih sederhana dan membuat wajah ovalnya tampak lebih fresh. Rencananya, ia akan makan malam bersama Regan setelah menjenguk ibunya sebentar. Ya, hari ini Regan sedang berulang tahun. Kalau bukan Mayasari yang memberikan perayaan kecil padanya, siapa lagi? Pria itu agak kurang bergaul. Selain teman kantor, dia hanya punya Mayasari sebagai orang terdekatnya.
Setelah selesai dengan kegiatan merapihkan diri, Mayasari segera bergegas pergi ke toko kue untuk mengambil pesanan kue tart yang sudah ia pesan sejak tiga hari lalu. Bukan kue tart besar sih. Kecil, hanya porsi pas-pasan untuk dua orang. Ya, sekali lagi Mayasari tegaskan, ia harus berhemat. Kalau bukan untuk Regan, ia pasti sudah enggan menghambur-hamburkan uang seperti ini.
Tak perlu memakan waktu lama, pesanannya sudah terbungkus rapih dalam sebuah kotak. Di dalamnya juga sudah terpasang lilin angka dua puluh lima, sesuai usia Regan saat ini. Mayasari pun tersenyum, kemudian melangkah pergi keluar dari gedung Mall dan pesan ojek online menuju rumah sakit tempat ibunya di rawat. Jaraknya tidak jauh dari sini. Hanya sekitar lima belas menit jika ditempuh menggunakan sepeda motor.
Dalam perjalanan, Mayasari berulang kali mengatur napas untuk menghilangkan ketegangannya. Entah kenapa setiap akan menemui ibunya ia selalu saja seperti ini. Mungkin karena ia merasa takut ... takut kalau kebohongannya yang berpura-pura menjadi Miranti akan terkuak dan membuat ibunya menggila. Mayasari paling tidak suka melihat ibunya histeris. Karena pada saat itu, dia akan menunjukkan kebenciannya padanya. Dan itu membuat hati Mayasari bagai tersayat pisau, sungguh sakit.
Hah ... semua ini gara-gara si b******k Bagas. Mayasari kesal sekali karena sampai saat ini ia masih belum menemukan celah untuk bisa membalaskan dendamnya. Tapi tunggu saja nanti, sampai mati pun ia tak akan pernah melepaskan orang itu beserta keluarga bahagianya. Pokoknya, hidup Mayasari belum bisa dikatakan hidup kalau dendamnya belum terbalaskan.
Lima belas menit kemudian, akhirnya Mayasari tiba di depan gedung rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat. Sekali lagi ia mengatur napas berusaha menghilangkan rasa takut dan ketegangannya, setelah itu barulah ia masuk ke dalam.
Seperti biasa, banyak perawat di sana menyapanya ramah ketika ia masuk. Ya, karena sering datang mereka jadi sangat hafal wajah Mayasari. Tapi perawat di sini meminta izin darinya untuk ikutan memanggilnya Miranti agar tidak salah bicara ketika di hadapan Lastri. Soalnya pernah waktu itu, ada salah satu perawat yang memanggil nama Mayasari di depan Lastri, dan habis itu Lastri mengamuk hebat tidak mau menemui Mayasari lagi. Beruntungnya Regan berhasil meyakinkannya kembali kalau Mayasari adalah Miranti. Ah, sungguh menyedihkan. Sebenarnya Mayasari inginnya mereka jujur saja pada ibunya soal dirinya. Tapi katanya itu tidak baik untuk proses pemulihannya. Mentalnya bisa terguncang hebat kalau dipaksa mengingat hal yang menjadi trauma terbesarnya. Jadi ya ... terpaksa deh Mayasari ikut saja apa kata perawat di sini.
Kini, Mayasari telah tiba di pekarangan tempat biasa pasien-pasien di sini menghabiskan waktu senggang mereka di sore hari. Termasuk Lastri ibunya, wanita paruh baya itu juga ada di sini. Seperti biasa, dia selalu duduk di bangku taman sambil memandangi langit senja, dengan senyuman teduhnya. Mayasari menghampirinya dengan hari-hati.
“Bu? Mira datang ....” Mayasari menyapa.
Lastri menoleh dan langsung tersenyum cerah padanya.
“Eh, Mir? Ibu sudah tunggu kamu loh dari tadi. Sore banget datangnya.” Lastri mengeluh sambil cemberut.
Mayasari menggenggam tangan ibunya. “Maaf ... tadi Mira habis beli ini dulu. Soalnya Regan ulang tahun hari ini.” Mayasari menunjukkan tentengannya.
Terlihat wajah Lastri tersenyum sumringah saat mendengar nama Regan disebut.
“Wah ... asik banget nih. Kamu mau kasih kejutan ya buat Nak Regan?”
Mayasari mengangguk antusias. “Iya. Hitung-hitung untuk balas budi, Bu. Regan ‘kan udah banyak bantu kita selama ini.”
Lastri tersenyum teduh seraya mengusap kepala Mayasari.
“Ya sudah, Ibu izinkan kok kamu jalan berdua sama Nak Regan malam ini. Asal jangan pulang larut ya? Nanti bapakmu ngomel.”
Mayasari tersenyum kecut mendengar sang ayah dibahas. Ya, selama ini Lastri memang menganggap kalau suaminya selalu hadir bersamanya kapan pun dan di mana pun dia berada. Hah ... sungguh menyakitkan harus melihat ibunya terus terpaku dalam imajinasinya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Hal itulah yang membuatnya bahagia. Mayasari tidak berani menegur. Ia tidak tega menghancurkan senyum ceria ibunya.
“Ya udah, Bu, udah mau magrib nih. Kita masuk ke kamar aja yuk, kita ngobrol di dalam,” ajak Mayasari ketika melihat langit mulai menggelap.
Lastri pun hanya menurut, ia melangkah dengan senyum ceria bersama putri bungsunya yang sudah tiga tahun ini ia anggap sebagai putri sulungnya.
Ya, beginilah hari-hari Mayasari berlalu. Syukurlah hari ini ibunya tampak stabil. Ia jadi merasa lebih rileks untuk mengobrol dengannya. Tidak perlu merasa tegang lagi. Ah, kini Mayasari jadi rindu momen-momen di mana ia sering bermanja-manja di pangkuan ibunya. Tapi sekarang ... situasinya sudah tidak memungkinkan lagi untuknya melalukan itu. Karena dengan begitu ... ibunya akan langsung tahu, kalau putrinya yang suka melakukan itu adalah Mayasari, bukan Miranti.
~~~