“Gimana, Dok, keadaan Ibu saya?” Mayasari bertanya pada sang dokter selagi Lastri masih menjalani beberapa serangkaian tes. Regan menemaninya di sampingnya. “Apa ... ibu saya memang mengalami gangguan kejiwaan?”
Sang dokter menatap Mayasari iba. “Dengan berat hati ... saya harus mengatakan ya. Kondisinya juga cukup parah karena ibu kamu mulai menciptakan dunia dan karakter-karakternya sendiri. Untuk saat ini dia memang masih bisa mengingat nama-nama kerabat dekatnya seperti Nak Regan misalnya. Tapi besok-besok ... saya khawatir Bu Lastri akan mulai melupakan segalanya. Dia hanya akan sibuk dengan dunia beserta karakter-karakter ciptaannya sendiri. Sementara yang lainnya? Dia akan menganggap itu sebagai ancaman. Termasuk kamu, Mayasari. Kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya.”
Mayasari menegang. “Kemungkinan terburuk? Apa itu?”
Sang dokter sekali lagi hanya bisa menatap Mayasari iba. Ia lantas menjawab, “Bisa jadi, cepat atau lambat Bu Lastri harus mendapat perawatan khusus di rumah sakit jiwa.”
Bagai dihantam ribuan petir, tubuh Mayasari seketika melemas mendengar itu. Ia memegangi dadanya, matanya pun sudah menggenang menahan tangis. Rasanya ingin sekali ia memarahi takdir. Kenapa takdir betapa kejamnya memberikan rentetan masalah ini pada Mayasari? Apa belum cukup puas kah takdir merenggut orang-orang terkasih dalam hidupnya?
Baru kemarin ia dipaksa melepas kepergian ayah dan kakaknya, apa sekarang ia juga harus melepaskan ibunya ke rumah sakit jiwa? Kenapa hidup ini begitu tidak adil bagi dirinya dan keluarganya? Kenapa bencana datang dengan begitu pilih kasihnya hanya menimpa keluarga kecilnya saja, sementara di luar sana Bagas si pengkhianat itu sedang berbahagia bersama istrinya?
Mayasari pun jadi menggeram tertahan mengingat sang dalang dari kehancuran keluarganya. Lagi-lagi rasa dendam mendalam kembali menguasai hati dan pikirannya, seakan menghasutnya untuk segera membalas.
Sementara itu, Regan yang menyaksikannya tampak kalut seperti itu, ia hanya bisa merangkul dan memeluk Mayasari, memberikan isyarat padannya kalau dia tidak sendirian dalam menghadapi musibah ini. Ada dirinya sebagai sahabatnya, yang akan selalu berada di sisinya untuk membantu dan menguatkannya. Kapan pun dan di mana pun.
~~~
Malam ketiga setelah berpulangnya Rahmat dan Miranti, Mayasari tengah duduk termenung di ruang tamu kontrakannya. Ia menatap jam di dinding, sudah pukul sebelas malam. Ibunya pasti sudah tertidur di kamarnya setelah kelelahan bicara sendiri dengan sosok Rahmat dalam imajinasinya.
Dalam keheningan malam Mayasari menatap langit-langit dan seluruh dinding kontrakannya, segala hiasan untuk menyambut kepulangan Miranti masih terpasang rapih di tempatnya, belum sempat dibereskan sama sekali. Bahkan kue tart dan segala makanan yang Miranti pesan waktu itu pun masih utuh, tidak tersentuh sama sekali.
Ya, Mayasari terlalu lelah untuk sekedar membereskannya. Sementara ibunya ... dia malah sering mengulang momen penyambutan di hari kelam itu kalau melihat segala hiasan di ruangan ini. Kadang dia menciptakan adegan bahagia sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasinya, tapi sesekali dia mengulang kejadian nyata yang sesungguhnya terjadi waktu itu—yang menjadi penyebab dari trauma terbesarnya. Dia akan histeris hebat kalau kenyataan memilukan itu kembali hinggap di kepalanya. Dan itu membuat Mayasari takut ... sangat takut, juga sedih.
Bahkan Mayasari sampai harus meminjam kontrakan Regan untuk melaksanakan tahlilan, karena ia takut ibunya akan semakin histeris dan menggila kalau melihat ada acara tahlilan yang ditujukan untuk sang ayah dan sang kakak di kontrakan mereka. Selain itu ... ia menghindari nyinyiran tetangga. Mayasari tahu betul, diam-diam mereka membicarakan ibunya yang semakin hari semakin kentara menunjukkan penyakit kejiwaannya.
Merasa pusing dengan segala beban pikiran yang menghantui tiada henti, Mayasari pun menyetel TV untuk mencari hiburan. Tapi bukannya menemukan hiburan dan menjadi sedikit lebih rileks, alih-alih Mayasari malah menemukan acara berita malam yang tengah menampilkan wajah sepasang pengantin baru yang baru saja keluar dari gedung Hotel Ciputra, tempat Miranti bunuh diri.
Melihat itu, dadaa Mayasari sontak naik turun pedih. Perasaan campur aduk kini melanda batinya. Mulai dari rasa sedih, rasa marah, hingga rasa dendam, semuanya berpadu padan menjadi satu. Hingga menciptakan satu rasa kesimpulan, yaitu ‘kebencian’. Ya, Mayasari begitu benci terhadap sepasang pengantin baru itu, Bagas dan Farah. Terlebih ketika mendengar perkataan Bagas pada pers yang menyangkal kalau pernikahan mereka lah yang menjadi penyebab dari bunuh dirinya Miranti.
“Apakah benar Mas Bagas memiliki hubungan spesial dengan korban?” Salah seorang pers wanita memberi pertanyaan di tengah kerumunan.
“Tidak, itu tidak benar.” Bagas menjawab singkat sambil melindungi Farah dari sorot kamera.
“Lalu kenapa ada foto Mas Bagas yang bersanding bersama korban di wallpaper HP korban yang ditemukan di TKP? Apa saat melangsungkan acara pernikahan dengan Mbak Farah, Mas Bagas masih memiliki hubungan dengan korban?” pers lain kembali menghujani pertanyaan.
Bagas kini menatap kamera dengan wajah tenangnya seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
“Saya memang pernah memiliki hubungan dengan korban ...,” Bagas menjawab, “... tetapi kami sudah putus sejak tiga tahun lalu. Saya tidak tahu kalau korban masih terobsesi dengan saya sampai melakukan hal senekat itu di acara pernikahan kami.”
Mayasari yang mendengar itu, ia berdecih tidak terima. Setetes air mata kini sudah jatuh membasahi pipinya yang memerah akibat rasa marah.
“Dia bilang apa barusan?” Mayasari menggeram kecil dalam keheningan malam. “Kakak terobsesi sama dia?! Cih! Enak banget dia ngomong gitu! Bahkan satu keluarga di sini tahu kalo kalian masih berhubungan bahkan sampai detik ini. Benar-benar nggak tahu diri! Manusia nggak punya hati! Kakak udah rela kerja di luar negeri demi bisa memenuhi gengsinya, tapi ini balasannya?!”
“Untuk keluarga korban ....” Bagas kembali bicara dalam sesi wawancara di TV. Dia memasang ekspresi kesedihan yang tampak dibuat-buat. “... saya dan istri turut berduka atas berpulangnya putri tercinta kalian. Sebagai sosok yang pernah mengenal korban, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena pernikahan saya dan istri telah merenggut kebahagiaannya. Tapi ... biar bagaimanapun hubungan saya dengan korban sudah kandas sejak lama. Sekarang saya hanya ingin hidup bahagia bersama istri saya yang saya cintai. Maka dari itu saya memohon sekali kepada para pemirsa sekalian, untuk tidak menyalahkan istri saya dalam duka ini. Farah tidak tahu apa-apa, kasihan dia. Saya tidak mau kalau gara-gara saya pernah memiliki hubungan dengan korban, itu malah berimbas pada karir istri saya saat ini. Saya pasti akan merasa sangat frustasi kalau itu sampai terjadi. Jadi saya mohon, berhenti mengait-ngaitkan pernikahan kami dengan kematian korban.”
Mayasari menggebrak meja dengan keras begitu mendengar pernyataan Bagas barusan. Matanya melotot dan memerah, disertai dengan genangan yang mulai membanjir. Sementara kedua telapak tangannya terkepal rapat dan bergetar hebat di atas meja. Batinnya menjerit, apa-apaan berita ini?! Kenapa media menayangkannya di TV?! Tidak sadarkah mereka kalau ini dapat menyakiti keluarga korban?! Sungguh, kenapa dunia begitu tidak adil? Sekarang dengan adanya pernyataan serta wajah sok berduka yang ditunjukkan oleh pria b******k itu, orang yang mendengarnya pasti akan menyalahkan Miranti karena bunuh diri acara pernikahan mantannya. Padahal mereka tidak tahu kalau sebenarnya mereka masih sering berkontak, tidak pernah ada kata putus di antara mereka. Apa-apaan Bagas itu? Dia sengaja memutar balikkan fakta untuk menutupi kebusukannya?! Sungguh jika tidak ada hukum di dunia ini, Mayasari pasti akan langsung mendatanginya dan membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Di tengah tetesan air mata kepedihannya, Mayasari mematikan TV, tidak tahan lagi melihat wajah Bagas yang sedang berdrama ria mencari simpati. Kini Mayasari hanya bisa menangkup wajah dan menangis dalam diam. Batinnya terasa seperti tertusuk ribuan jarum, sangat sakit. Kenapa ... kenapa kakaknya harus pergi hanya karena pria b******k itu? Kenapa Miranti lebih menyayanginya ketimbang keluarganya sendiri?
Sungguh ingin sekali rasanya Mayasari memutar waktu kembali pada saat hari kejadian, atau bahkan sekalian saja ke waktu tiga tahun lalu. Ia ingin pergi ke masa itu untuk mencegat kakaknya mengenal sosok Bagas. Seandainya saja bisa begitu, Miranti pasti masih ada di sini. Bercanda ria bersamanya di ruangan sunyi ini. Juga sang ayah, Rahmat, beliau juga pasti masih ada di sini jika Bagas tidak pernah hadir dalam kehidupan Miranti.
“Bapak ... Kakak ... Maya kangen kalian ....” Tangis Mayasari pecah di tengah keheningan malam. “Kenapa kalian harus pergi secepat ini? ... Maya nggak sanggup, Pak, Kak ... Maya takut nggak bisa jaga Ibu. Maya takut, orang yang Ibu butuhkan bukanlah Maya, tapi kalian .... Sekarang Maya harus gimana? Maya butuh kalian ....”
Malam ini, sepanjang malam hanya Mayasari lewati dengan tangisan pilu. Bahkan hingga beberapa jam ke depan, ia hanya terus menangis sampai matanya terasa begitu berat untuk dibuka.
Dan akhirnya, ia pun tertidur. Dengan rasa dendam yang tertinggal dalam batinnya. Ya, sebelum terlelap tadi Mayasari sempat bersumpah sekali lagi kalau ia akan datang suatu saat nanti ke tengah-tengah kehidupan bahagia Bagas, lantas menghancurkan segala miliknya. Tunggu saja, masa itu pasti akan datang. Mayasari yakin takdir pasti akan membawa Mayasari sebagai kehancuran bagi keluarga Bagas.
~~~