Sebelumnya, maaf banget part ini dikit. Aku ngantuk berat semalam, jadi langsung kupublish aja padahal harusnya masih ada lagi bagian keduanya. Tapi gapapa ya? Bagian keduanya jadi aku pisah di part selanjutnya.
Selamat membaca.
____ ____ _____ ____ _____ _____ ____ ____ ____
Pagi hari di keesokan hari setelah hari duka terbesar dalam sejarah hidup Mayasari, Regan membawanya beserta ibunya ke sebuah klinik psikiatri yang cukup tersohor di Kota Jakarta. Sebenarnya jika boleh jujur Mayasari agak merasa enggan jika ia harus masuk ke dalam. Pertama karena ia tidak terima Regan menganggap ibunya gila, kedua karena ia tidak yakin apakah tabungannya akan cukup untuk membayar jasa seorang psikiater yang akan mengecek kondisi ibunya nanti.
Mangkanya sudah sekitar lima belas menit berlalu Mayasari hanya terus berdiam diri saja di depan gedung klinik ini, tak kunjung masuk ke dalam. Sampai-sampai Regan harus menegurnya untuk menyadarkannya yang sedari tadi hanya sibuk terbengong ria.
“May? Hayuk masuk?” ajak Regan.
Namun Mayasari masih merasa enggan. Ia menatap Regan ragu.
“Gan ...,” gumam Mayasari. “... apa menurut kamu ibu aku udah segila itu sampai kamu harus membawa kita kesini?”
Regan menatap mata sembab Mayasari begitu dalam. Ia bukan tidak mengerti perasaan sahabatnya ini yang ragu untuk mengecek kondisi ibunya. Ia tentu mengerti, Mayasari pasti tengah berusaha menolak kenyataan kalau ibunya mulai menunjukkan gejala depresi berat. Biar bagaimanapun kehilangan sosok ayah dan kakaknya dalam waktu yang bersamaan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya sedih dan kalut setengah mati. Sekarang jika Mayasari harus menerima fakta kalau ibunya juga kenapa-kenapa, dia pasti merasa tidak sanggup. Regan cukup mengerti ... hati Mayasari pasti sedang dalam kondisi tidak siap jika harus menerima satu lagi kabar buruk lainnya.
Tetapi menurut Regan, pengecekan ini penting untuk dilakukan walau seberat apa pun itu. Masalahnya ini sudah berhubungan dengan kejiwaan. Kalau tidak segera ditangani bisa jadi kondisi Lastri akan jauh lebih buruk dari ini. Sekarang masih Mayasari saja yang beliau lupakan, bagaimana kalau besok-besok dia juga melupakan sosok Mayasari yang dia anggap sebagai almarhumah Miranti? Hal itu pasti akan jauh lebih menyakitkan bagi Mayasari lebih dari ini.
Regan pun meraih kedua tangan gadis itu, ia menggenggamnya erat seolah menyalurkan kekuatan pada Mayasari.
“May ...,” ujar Regan lembut. “Aku bukannya bermaksud untuk mendiagnosis secara sepihak kalau ibu kamu gila. Kamu tahu aku bukan dokter, aku cuma pegawai kantoran yang bahkan nggak mengerti apa-apa soal masalah psikis yang sedang terjadi pada ibu kamu saat ini. Aku hanya ingin lebih waspada dan hati-hati aja, May. Nggak ada salahnya 'kan kalau kita menjadi lebih waspada sedikit untuk mencegat hal yang lebih buruk terjadi? Biar gimanapun, ini ibu kamu loh. Satu-satunya orang yang masih tersisa dalam hidup kamu. Emangnya kamu nggak pengin memberikan perawatan terbaik bagi ibu kamu?”
Mayasari tertegun. Tentu ia ingin memberikan segala yang terbaik bagi satu-satunya sosok berharga yang masih ia miliki sampai detik ini—ibunya. Demi Tuhan ia akan memberikan apa saja demi kebahagiaan dan kesehatan beliau. Tapi saat ini ... Mayasari tengah dihadapkan dengan suatu fakta kalau ibunya kemungkinan besar akan didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan, hal itulah sebenarnya yang membuatnya tidak siap untuk masuk ke dalam. Ia takut akan mendengar kabar, kalau ternyata kondisi ibunya jauh lebih parah dari apa yang ada dalam bayangannya saat ini. Ya, sejujurnya ketakutan ini tengah berkecamuk begitu dahsyatnya dalam batinnya, membuatnya merasa frustasi bukan main.
Namun sekali lagi Regan menggenggam tangan Mayasari untuk menguatkannya. Pria itu tersenyum, di sisi kirinya kini terlihat Lastri yang tengah menggandeng tangannya begitu erat.
“Nak Regan, kapan nih kita masuk ke dalam? Ibu sudah capek berdiri terus dari tadi. Kalo nggak jadi berobatnya, Ibu mau pulang aja. Kasihan Bapak sendirian di rumah. Nggak ada yang bikinin kopi.” Lastri mengeluh lantaran sedari tadi tak kunjung masuk ke dalam. Dia ikut bersama Mayasari dan Regan kesini, tahunya ini adalah jadwal kontrol darah tingginya. Dia tidak tahu kalau sebenarnya dia akan dibawa ke psikiater untuk menjalani tes kejiwaan. Kalau tahu ... dia pasti akan mengamuk dan mengira kalau Mayasari dan Regan adalah orang jahat yang mau menghancurkan kebahagiaannya.
Regan tersenyum lembut pada Lastri. “Sabar ya, Bu. Nih, salahin anak Ibu yang dari tadi nunda-nunda masuk.”
Lastri menggeleng pelan menatap Mayasari. “Ya ampun, Mir ... kamu ini kenapa toh? Takut sama dokter? Ibu loh yang mau berobat, bukan kamu! Kamu harusnya ya nggak usah takut. Sini bareng ibu, kita masuk sama-sama ke dalam. Panas nih di luar.”
Lastri lantas bertukar posisi dengan Regan, ia menggenggam pergelangan tangan Mayasari seraya menuntunnya lebih dulu masuk ke dalam gedung klinik. Membuat Mayasari hanya bisa pasrah sambil menatap Regan dari kejauhan, seolah meminta kekuatan dari tatapan pria itu yang begitu meneduhkan hati.
Ya, inilah tiba saatnya bagi Mayasari untuk mengetahui ada apa sebenarnya dengan kondisi ibunya yang suka bicara sendiri sejak kemarin siang. Mayasari hanya bisa berdoa, semoga saja ibunya akan baik-baik saja. Semoga saja benar kata Regan sebelumnya, kalau dia hanya sedang delusi sementara pasca kehilangan orang terkasih.
•••