Suara lantunan ayat suci bersahut-sahutan meramaikan area dua pemakaman yang berjajar. Yang satu nisannya terukir nama Rahmat Adibjo bin Sutrismo, sementara yang satu lagi tertulis Miranti binti Rahmat Adibjo. Mayasari berusaha sekuat hati untuk tidak menangis di pemakaman kedua orang yang begitu berharga dalam hidupnya. Tetapi ia tidak kuasa. Ini terlalu mendadak baginya, ia belum siap untuk kehilangan mereka sekaligus.
Sungguh Mayasari tidak menyangka ... harusnya hari ini menjadi hari bahagia keluarganya ketika mereka sudah berkumpul kembali. Harusnya saat ini mereka sedang berpesta ria, memakan segala macam makanan yang sudah ramai tersaji di atas meja makan dalam kontrakan mereka. Atau bahkan, hari ini harusnya Mayasari sedang menjahili kakaknya, mengotori wajah cantiknya krim kue tart yang tadi pagi ia beli.
Tapi nyatanya ... semua hancur dalam sekejap. Hari ini memang tetap menjadi hari berpesta, tetapi bukan pesta penyambutan kepulangan sang kakak, melainkan pesta pemakaman dari dua orang anggota keluarga yang pergi bersama secara sepihak. Meninggalkan dua anggota lain yang terpuruk tak terkira. Parahnya lagi sang ibu—Lastri, bukannya ikut berdoa bersama para jamaat yang turut hadir dalam proses pemakaman ini, dia malah sibuk tertawa riang sambil sesekali mencolek atau menepuk kedua nisan pekuburan di hadapannya layaknya ia sedang mengasihi putri sulung dan suami tercintanya. Hal itulah yang sesungguhnya semakin membuat hati Mayasari tergores begitu dalamnya, tak sanggup membendung tangisnya. Ia bertanya-tanya pilu, ada apa gerangan dengan ibunya? Kenapa kondisi beliau jadi seperti ini sejak bangun dari pingsan dua jam lalu?
Ya Tuhan ... tolong jangan Kau ambil jiwa Ibu juga. Batin Mayasari memohon pada Sang Pencipta. Aku masih sangat membutuhkannya, Tuhan ... Kuatkanlah Ibu, limpahkanlah saja segala beban hatinya kepadaku, agar dia bisa bertahan dalam situasi sulit ini. Kumohon pada-Mu, Tuhan, berilah ketabahan dalam hatinya agar dia mau merelakan kepergian Bapak dan Kakak.
Satu per satu, jamaat yang turut serta dalam proses pemakaman mulai pergi meninggalkan area pekuburan. Banyak tangan menepuk pundak Mayasari, seakan berusaha memberi kekuatan padanya. Hingga akhirnya, hanya bersisa Mayasari dan Lastri saja yang masih berdiam diri di sekitar area dua makam orang-orang terkasih mereka. Juga ada satu orang lagi, dia seorang pria muda sebaya Mayasari, Regan Mahendra namanya.
Regan berjongkok di sisi Mayasari.
“May ... kamu yang tabah ya,” tuturnya menguatkan. “Ingat, kamu harus kuat demi Ibu kamu. Cuma kamu yang beliau punya satu-satunya saat ini. Kalau kamunya aja lemah, gimana dengan ibu kamu nantinya?”
Mayasari menatap ibunya dengan matanya yang terasa panas akibat bengkak karena kebanyakan menangis. Dia masih sama seperti sebelumnya, sibuk tertawa riang sambil berbicara sendiri seolah ada satu atau dua orang yang sedang berbicara dengannya.
“Wajahmu makin ayu ya, Mir,” ujar Lastri sambil membelai nisan Miranti. “Sudah mirip orang Jepang. Nggak cocok ah kamu hidup di Jakarta yang puanasnya kayak apa tau. Ya nggak, Pak?”
Habis itu, Lastri terlihat terkikik sendiri sambil menepuk pelan tanah pekuburan Rahmat.
“Ih! Si Bapak nih bisa aja,” ucap Lastri lagi. “Kita sudah tua loh, Pak. Sudah nggak pantas gombal-gombalan ala anak muda jaman sekarang. Malu ih sama Mira. Nanti dia ledekin kita loh.”
Melihat itu, Mayasari dan Regan saling tatap sedih.
“Gan, ibu aku kenapa ya? Sejak bangun dari pingsan tadi dia jadi suka ngomong sendiri begini. Aku takut, Gan ....” Mayasari melontarkan kecemasannya pada sahabatnya itu.
Regan menepuk-nepuk bahu Mayasari. “Kamu tenang dulu, May. Barangkali ini cuma delusi pasca trauma. Itu biasa terjadi kok pada orang-orang yang habis kehilangan keluarga dekat. Coba kamu tegur deh.”
Mayasari mengangguk. Ia lalu kembali menoleh pada sang ibu, ia menepuk-nepuk pelan lengan Lastri seraya memanggilnya beberapa kali.
“Bu ... Ibu ngomong sama siapa? Maya di sini loh, Bu. Kita pulang, yuk! Kita sama-sama doain Bapak dan Kakak dari rumah.”
Namun begitu mengejutkannya, Lastri malah memberikan respon kasar pada Mayasari. Ia mendorong tubuh putri bungsunya itu menjauh darinya sampai Mayasari jatuh terjerembap ke tanah. Regan yang melihat itu buru-buru membantu Mayasari bangkit. Tapi gadis itu terlalu sibuk dengan ketidakmenyangkaannya atas perlakuan ibunya padanya barusan.
“Bu ... kenapa Ibu dorong Maya? Maya ‘kan cuma ajak Ibu pulang. Ini udah mau magrib, loh. Kalo Ibu masih mau ngobrol sama Bapak dan Kakak, besok pagi Maya antar lagi kesini. Gimana?” Mayasari masih bersikeras mengajak Lastri berkomunikasi.
Tapi sekali lagi, Lastri berusaha menghindar darinya. Dia menatapnya seperti orang ketakutan.
“Ka-kamu siapa?!” Lastri berseru. “Kamu orang yang mau merenggut kebahagiaan keluarga kami ya?!”
Air mata Mayasari kembali menggenang melihat tingkah ibunya yang semakin tidak karuan begini. Tapi ia belum mau menyerah, ia tetap berusaha menyadarkannya.
“Bu, ini Maya, putri bungsu Ibu. Masa Ibu lupa? Yuk, kita pulang bareng-bareng? Maya nggak mau nyakitin Ibu kok, Ibu tenang aja ya?”
Lastri menggeleng keras sambil terus menghindar takut. “Nggak! Saya nggak kenal kamu! Anak saya itu cuma Miranti! Sekarang dia lagi tidur, nih! Kamu jangan berisik! Kasihan dia, kecapekan habis perjalanan dari Jepang.”
Sekali lagi, Mayasari dan Regan saling tatap. Namun kali ini tatapan Mayasari terasa menyayat hati bagi Regan. Terlebih ketiga dia berbisik pelan nan bergetar, “Regan, ibu aku kenapa jadi begini? Dia bahkan nggak ingat aku ....”
Regan merangkul Mayasari sambil mengusap-usap lengannya berusaha menenangkan.
“Ssshhh! Jangan nangis!,” Regan balas berbisik. “Sini biar aku yang coba ngomong sama ibu kamu.”
Regan mengisyaratkan Mayasari untuk berganti posisi dengannya. Kini Lastri sudah tampak acuh kembali pada keberadaan kedua orang di sisi kirinya. Ia kembali asyik berbicara sendiri dengan nisan milik Rahmat.
“Bu?” Regan menegur sambil tersenyum. “Saya mau numpang tanya boleh?”
Lastri menatap Regan, ia balas tersenyum ramah pada pria itu. “Oh! Ya, Nak, mau tanya apa?”
“Anak bungsu Ibu yang namanya Mayasari ada nggak? Saya mau ajak pulang bareng Ibu juga sekalian. Kita naik motor ... asyik loh, bisa sambil lihat pemandangan sekitar.”
Lastri terlihat merengut bingung. “Kamu ini ngigo toh, Nak? Anak saya ya cuma Miranti. Anak tunggal. Nggak ada yang namanya Mayasari.”
Mayasari langsung menitikkan air mata di samping Regan. Regan mengisyaratkannya untuk tetap diam. Karena ia masih berusaha memancing sambil mengira-ngira kondisi Lastri saat ini.
“Oh, gitu ya, Bu?” Regan kembali bicara, masih dengan senyum sopannya. “Kalau begitu ... saya ajak Ibu pulang bareng sama Miranti aja mau nggak, Bu? Nih Mirantinya ada di samping saya, udah siap mau naik motor bareng.”
Regan menunjuk Mayasari pada ibunya, dengan menyebutnya sebagai Miranti. Awalnya Mayasari ingin protes. Tetapi setelah melihat reaksi Lastri yang sudah tidak takut lagi saat melihatnya, Mayasari menjadi sedikit lega, ia memutuskan untuk pasrah saja walau dianggap sebagai sang kakak. Tidak apa, pikirnya. Setidaknya kini ibunya mau diajak pulang, tidak terus berdiam diri di area pekuburan di waktu menjelang magrib seperti sekarang ini.
“Loh, Mir? Tahu-tahu udah di situ aja kamu,” tukas Lastri tersenyum cerah. “Kamu kenal sama anak ganteng ini?”
Regan menyikut Mayasari, mengisyaratkan padanya untuk menanggapi fantasi ibunya.
Mayasari pun mengangguk. “Iya, Bu. Ini teman May—eh maksudnya, ini teman Mira. Namanya Regan.”
Habis itu, Lastri tiba-tiba bangkit berdiri. “Ya sudah ayo pulang. Ibu mau ngejar magrib di rumah. Nanti kita sholat berjamaah ya?”
Mayasari mengangguk dalam sendu. Sementara Regan menuntunnya untuk bangkit berdiri.
“Kamu yang tabah ya, May. Besok aku temanin ke dokter untuk periksa kondisi ibu kamu,” bisik Regan seraya menuntun Mayasari dan Lastri menuju tempat motornya terparkir.
Mayasari yang sesungguhnya tengah merasa terluka ibunya tidak mengenalinya, ia mengusap kasar air matanya. Kini batinnya mendadak merasa begitu dendam bukan main ketika mengingat oleh sebab siapa kondisi keluarganya jadi sehancur ini. Ya, Bagas Aditya. Mayasari bersumpah, kalau sampai kondisi ibunya yang seperti ini bukan hanya sekedar delusi pasca kehilangan orang terkasih, ia pasti akan mencari orang itu dan menghancurkannya sampai habis.
Itu janji Mayasari. Yang ia dedikasikan untuk sang kakak yang tersakiti, juga untuk sang ayah yang juga ikut tersakiti lantaran melihat putri kesayangannya telah disakiti.
Lihat saja, Bagas. Keluarga kalian akan hancur suatu saat nanti, seperti keluargaku yang sudah kamu hancurkan hari ini.
~~~