“Breaking News terkini. Minggu, 21 Mei 2017, sekitar pukul dua siang Waktu Indonesia Bagian Barat, seorang TKI wanita berinisial M, dua puluh empat tahun, di temukan tewas bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gedung lantai delapan kawasan Hotel Ciputra Jakarta Barat. Menurut laporan saksi, korban tergesa-gesa pergi dari bandara menuju hotel setelah menerima rentetan pesan dari sahabatnya yang berinisial N. Korban sempat histeris di depan gedung hotel, ketika melihat ada sebuah acara pernikahan yang diduga adalah pernikahan sang kekasih, BA, dengan mempelai wanita berinisial FA. Beberapa tamu acara sempat melihat korban masuk ke dalam area acara pernikahan, tetapi langsung bergegas pergi menuju lift dan naik ke lantai delapan. Korban jatuh tepat di atas mobil pengantin dengan kondisi yang mengenaskan. Di tangannya masih tergenggam sebuah ponsel yang menunjukkan wallpaper berupa foto korban bersama dengan pria yang mirip dengan mempelai pria, BA. Sampai saat ini polisi masih berusaha menghubungi pihak keluarga serta menyelidiki alasan dari bunuh dirinya M.”
Tangan Mayasari seketika bergetar bukan main setelah mendengar berita itu. Tubuhnya juga mendadak lemas, ia takut, takut sekali. Ciri-ciri wanita korban bunuh diri yang di sebutkan dalam berita itu entah kenapa sama persis dengan ciri-ciri kakaknya, Miranti. Kopernya sama, ponselnya sama seperti ponsel miliknya sejak tiga tahun lalu, tampilan jasad yang di blur pun seperti Mayasari kenali kalau itu adalah kakaknya. Terlebih dengan pria yang berinisial BA, kenapa itu sama persis seperti inisial kekasih sang kakak, Bagas Aditya?
Tak hanya Mayasari, kedua orang tuanya Rahmat dan Lastri juga mendadak terguncang melihat berita barusan. Rahmat terlihat tercengang dengan tangannya meremas dadanya, sementara Lastri, mulutnya ternganga, matanya mulai berkaca-kaca.
“May ...,” panggil sang ibu dengan suara bergetar. “I-itu ... bukan ....”
“Bukan, Bu! Itu bukan Kakak!” seru Mayasari sambil menggeleng tegas. Matanya juga mulai ikut berkaca-kaca karena terlalu takut dan panik.
“Ta-tapi, May, jasad itu ... persis seperti kakakmu,” gumam Rahmat lemah. Dadanya terlihat naik-turun seperti menahan sakit.
“Bukan!!!” Mayasari berseru lebih kencang lagi. “Maya kenal Kakak, Pak, Bu. Kakak orang yang cerdas dan kuat. Dia nggak mungkin melakukan hal bodoh kayak wanita di berita itu. Itu bukan Kakak! Sama sekali bukan!”
Mayasari terus menggeleng tegas, tatapannya menatap nanar pada kedua orang tuanya yang bukannya merasa lega tetapi malah semakin cemas bahkan sampai menangis. Merasa frustasi, Mayasari pun berlari ke kamar dan mengambil ponselnya yang tergeletak hening. Ia segera menunjukkan ponselnya itu pada kedua orang tuanya untuk menenangkan mereka.
“Kalian lihat? Hp Maya dari tadi hening. Nggak ada seorang pun yang telepon. Udah jelas kan sekarang? Wanita di berita itu bukan Kakak! Jadi stop anggap itu Kakak!!”
Rahmat dan Lastri saling pandang, kemudian sama-sama saling mengangguk tegas berusaha membenarkan ucapan putri bungsu mereka. Tapi seolah tidak diizinkan untuk merasa tenang, tiba-tiba saja pintu kontrakan mereka di ketuk. Samar-samar terlihat dari balik gorden kalau yang datang adalah dua pria dewasa berseragam coklat.
“Permisi, apa benar ini kediaman keluarga Miranti?” salah satu lelaki berseragam itu berseru dari luar sambil terus mengetuk pintu.
Deg! Tubuh Mayasari seketika semakin melemas mendengar pertanyaan itu. Kakinya bahkan seperti tak sanggup menopang berat tubuhnya lagi.
“I-itu siapa, May?” tanya Rahmat mulai gelagapan. “Ke-kenapa dia cari kakakmu?”
Dengan sekuat tenaga, Mayasari berusaha keras untuk tetap tenang. Ia tidak boleh lemah saat ini. Karena jika ia lemah, bapaknya bisa kenapa-kenapa. Ibunya juga. Tidak, Mayasari tidak mau terjadi sesuatu terhadap mereka.
Ia pun tersenyum paksa seraya menatap kedua orang tuanya.
“Kalian tenang aja, ya,” ucapnya. “Mereka mungkin orang yang antar Kakak pulang.”
Kemudian, Mayasari berjalan mendekati pintu, lalu membuka kenopnya perlahan. Dan begitu pintu di buka, ternyata dua pria berseragam di hadapannya ini adalah polisi. Untuk apa mereka kemari? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Mayasari, membuatnya jadi semakin tak sanggup menahan gejolak rasa gundah di hatinya.
“Ka-kalian ... mau apa?” tanya Mayasari berusaha terdengar tenang.
Kedua polisi saling pandang dengan menampilkan ekspresi tidak tega. Tapi akhirnya mereka saling mengangguk, lalu memberitahukan alasan kehadiran mereka pada Mayasari.
“Apa anda keluarga saudari Miranti?” tanya salah satu polisi.
Mayasari mengangguk sekali. “Ya, saya adiknya. Kakak saya ... di mana?”
Sekali lagi, kedua polisi di hadapan Mayasari kembali saling pandang. Lalu kemudian polisi yang satunya menjawab, “Mohon maaf sebelumnya, mungkin ini akan berat bagi anda dan keluarga. Tapi kedatangan kami kemari, karena kami harus menyampaikan bahwa saudari Miranti telah tewas sejak dua jam yang lalu, akibat bunuh diri.”
Saat itu juga, Mayasari ambruk. Pertahanan yang sedari tadi berusaha ia jaga kekokohannya seolah runtuh begitu saja. Air mata mengalir di pipinya, sementara kepalanya hanya bisa terus menggeleng menolak sebuah fakta memilukan yang baru saja di dengarnya.
“Nggak mungkin ...,” racaunya parau. “Jadi wanita yang ada di berita itu ... benar-benar Kakak? Nggak ... kalian pasti bohong 'kan? Tolong bilang ke saya kalau apa yang kalian bilang barusan itu cuma bohong. Atau—atau kalian salah alamat! Iya, Miranti yang kalian maksud pasti bukan Miranti kakak saya! Tolong bilang itu, Pak. Saya mohon ....”
Kedua polisi hanya bisa tertunduk diam, ikut merasa iba atas musibah yang tengah menimpa keluarga kecil ini. Belum lagi, Rahmat dan Lastri yang juga ikut mendengar berita barusan kini berjalan mendekat ke pintu dan menatap tegang pada kedua polisi.
“Kalian ... bilang apa barusan?” tanya Rahmat syok. Ia memeras dadanya lebih kencang dari sebelumnya, karena rasa sakit yang ia rasakan mendadak bertambah jadi berkali-kali lipat. Bahkan kini mulai sulit bernapas.
“Putri sulung kami ... bunuh diri?” Lastri ikut bertanya memastikan. Matanya menggenang seolah menuntut pada para polisi untuk memberikan jawaban 'tidak'.
Kedua polisi lagi-lagi saling pandang iba, lalu salah satunya melenguh pelan seraya menjawab, “Dengan berat hati kami katakan sekali lagi, kalau saudari Miranti yang kami maksud memanglah Miranti putri Bapak dan Ibu.”
Mayasari yang mendengar itu, ia berteriak histeris dan menangis.
“Enggak! Nggak mungkiiiin!!! Kakaaaaak!!! Kakak nggak mungkin melakukan itu!”
Sementara itu, Rahmat dan Lastri ikut terduduk lemas mendengar berita itu. Lastri menangis tersedu-sedu sambil meneriaki nama Miranti, sedangkan Rahmat terlihat semakin gelagapan. Dadanya naik turun, wajahnya mulai menegang seperti sedang berusaha menahan rasa sakit yang sudah berada di puncak. Tapi pada akhirnya, ia tak kuasa lagi menahan rasa sakit itu. Ia pun tumbang, tak sadarkan diri.
“Bapak!” Mayasari dan Lastri berteriak seraya menghampiri tubuh Rahmat.
“Bapak! Bapak bangun, Pak! Bapak harus kuat ... Bapaaaak!!!”
Salah satu polisi bergegas menghampiri tubuh Rahmat dan meraih pergelangan tangannya. Ia menyentuh nadi Rahmat, tetapi tak ada denyut lagi di sana. Sang polisi pun mendesah lemah. Kepalanya menggeleng pelan sambil menatap Mayasari.
“Bapak kamu ... sudah tiada,” ujar sang polisi turut sedih.
Mendengar itu, Mayasari dan ibunya seketika kembali menangis histeris.
“Enggak! Nggak mungkin!” Mayasari berteriak. “Bapaaaak!!! Bapak bangun ... jangan tinggalin Maya sama Ibu sendirian, Pak ... Bapak bangun ....”
“Pak! Bangun, Pak!” seru Lastri seraya mengguncang-guncang tubuh Rahmat. “Bapak lupa ya hari ini anak sulung kita pulang? Bapak harus bangun ... kita harus menyambut kedatangan Miranti sama-sama. Iya 'kan, May? Kakak bentar lagi sampai 'kan?”
Melihat ibunya meracau seperti itu, Mayasari hanya bisa memeluknya sambil menangis.
“Bu ....” Mayasari mulai sesenggukan. “... Kakak juga udah nggak ada, Bu ... sekarang Maya cuma punya Ibu ....”
Lastri melepas pelukan Maya sambil menggeleng tegas. Matanya berkilat marah menatap putri bungsunya itu.
“Kamu ini ngomong apa, May! Dasar anak durhaka! Berani kamu ngomong sembarangan begitu di hadapan Ibu sama Bapak?!”
Mayasari tertegun sekilas melihat keadaan ibunya yang mulai seperti orang tidak waras. Ia pun menggenggam tangan ibunya erat, berusaha mencegat sesuatu yang buruk juga terjadi pada ibunya.
“Bu ....” Mayasari menutur parau. “Ibu harus sadar kalau Bapak sama Kakak memang udah nggak ada, Bu. Sekarang Ibu cuma punya Maya. Apa pantas ibu mengatai Maya anak durhaka bahkan di hadapan jasad Bapak? Kematian mereka bukan salah Maya, Bu. Maya juga sedih ... Maya mohon Ibu jangan kayak gini ... Ibu harus kuat, Bu ....”
Mendengar itu, mata Lastri semakin berkilat marah menatap Mayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, tangannya pun tak sadar mendorong Mayasari sampai ia tersungkur dan menabrak dinding sekat kontrakan.
“Kamu bukan anak Ibu lagi!” Lastri menggeram. “Sekarang anak Ibu cuma Miranti! Kita pasti bisa jadi keluarga bahagia tanpa kamu!”
Mendengar itu, Mayasari benar-benar terluka. Ia pun tanpa sadar berteriak pada ibunya, “Tapi Bapak sama Kakak udah nggak ada, Bu!”
Lastri menggeleng tegas begitu syok. “Enggak, nggak mungkin! Mereka masih hidup. Mereka masih ....”
Pada akhirnya, rasa syok yang berlebihan membuat Lastri ambruk tak sadarkan diri. Mayasari pun panik, ia segera menghampiri ibunya dan berusaha membangunkannya. Tapi syukurlah, setidaknya ibunya hanya pingsan, tidak ikut pergi bersama bapak dan kakaknya.
Kini Mayasari hanya bisa menangis tersedu-sedu. Sungguh, ia benar-benar tak kuat menerima kenyataan memilukan ini. Perasaan baru kemarin-kemarin ia dan keluarga bersama-sama makan malam di meja makan yang sama, bersenda gurau bersama. Tapi hari ini Mayasari kehilangan bapak dan kakaknya sekaligus. Ini benar-benar seperti mimpi saja bagi Mayasari. Mimpi yang begitu buruk, sampai ia terus-terusan meminta kepada Tuhan untuk segera membangunkannya dari mimpi buruk ini.
Namun sayangnya, ini bukanlah mimpi yang bisa hilang kalau Mayasari terbangun. Ia sadar, bapak dan kakaknya memang telah tiada. Meninggalkannya seorang diri bersama ibunya yang ia khawatirkan keadaannya tak akan sama lagi seperti sebelumnya.
•••
Jangan lupa tekan love nya ya teman-teman. Makasih ?