Sabtu malam, Regan tengah makan malam bersama Mayasari di sebuah rumah makan pecel lele langganan mereka sedari jaman SMA. Namun berbeda dari biasanya yang selalu antusias dan lahap kalau sedang makan di tempat ini, kali ini Regan kelihatan tidak bersemangat sama sekali. Nafsu makannya seakan menghilang entah kemana, ia bahkan sama sekali belum menyentuh makanan yang dipesannya sedari tadi. Hal itu tentu membuat Mayasari keheranan, ada apa dengan pria ini? Regan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Jangan-jangan dia sedang ada masalah di kantor? Pikirnya cemas.
“Gan,” Mayasari menegur, “Kok nggak makan?”
“Eh? Oh, ini aku baru mau makan.” Regan terenyak dan buru-buru mengambil secuil daging lele goreng lantas memasukkannya ke dalam mulut bersama secomot nasi dan sambal.
Namun walau sudah berusa keras untuk menutupi kegundahannya, tetap saja Mayasari terus menatapnya—tatapan yang bagi Regan terasa begitu meneror. Sampai-sampai ia tanpa sadar terus menundukkan kepalanya, tak kuasa menatap gadis itu.
“Kamu lagi ada masalah ya di kantor?” tembak Mayasari langsung. Ia memang bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi. Kalau ia tidak suka, ia akan berkata tidak suka. Kalau ia sedang mencemaskan sesuatu, ia akan langsung mengatakannya. Seperti sekarang ini, yang akibatnya jadi membuat Regan tersedak mendadak. Dia tampak gugup, sungguh aneh sekali.
“Kamu kenapa sih, Gan? Aneh banget!” tukas Mayasari seraya menyodorkan minum untuk Regan yang tengah terbatuk hebat. “Ini minum dulu.”
Regan mengambil teh hangat yang diberikan Mayasari, lantas meminumnya perlahan. Setelah tenggorokannya terasa lega dan sudah tidak terbatuk lagi, ia hanya menyengir lebar tak tahu harus merespon apa atas pertanyaan tebakan Mayasari yang memang hampir benar.
Ya, bisa dibilang Regan memang tengah ada masalah di kantor yang membuatnya gundah setengah mati. Masalah apa? Apalagi kalau bukan masalah permintaan Bagas yang memercayakannya untuk mencari Babysitter, tetapi ia malah sempat terpikirkan untuk merekomendasikan Mayasari. Itu sungguh jahat bukan? Padahal Bagas tulus memercayainya untuk mencarikan pengasuh terbaik bagi putra tercintanya. Kalau Regan merekomendasikan Mayasari, yang ada keluarga mereka malah bisa jadi terancam keharmonisannya, dan si kecil Nara yang akan menjadi korbannya. Regan mana tega membiarkan itu terjadi?
Tapi di sisi lain, Regan selalu terbebani dengan janjinya pada Mayasari yang bilang kalau ia akan membantunya mencari celah agar gadis itu bisa masuk ke dalam kehidupan Bagas, supaya dia bisa membalaskan dendamnya. Dan Regan merasa inilah celah itu. Tapi jika harus mengorbankan Nara yang tak berdosa, Regan jelas tidak mau.
Dan kini, jadilah ia terus gundah bukan main setiap berada di hadapan Mayasari. Ini sudah seminggu lebih ia seperti ini. Sungguh merepotkan. Bagaimana kalau Mayasari curiga nanti? Jangan sampai dia tahu kalau Regan sedang menutupi kesempatan untuk membalaskan dendamnya ini darinya.
“Kamu kalo ada masalah tuh cerita, Regan ... jangan dipendam sendiri, jangan sok kuat!” celoteh Mayasari seraya kembali menyantap nasi pecel lelenya yang hanya tinggal beberapa suap lagi.
Regan sekali lagi hanya bisa tersenyum palsu—sambil ikutan menyantap nasi pecel lele miliknya yang masih banyak. “Aku nggak apa-apa kok, May. Cuma masalah kantor biasa. Ya ... soal proyek kerjasama antar klien. Kamu nggak bakal ngerti kalo aku jelasin juga.”
“Yeee, kamu jangan meremehkan aku, ya. Aku bisa loh jadi manajer kayak kamu kalo aku mau. Atau jadi direktur sekalian biar bisa membungkam mulut orang-orang sombong macam kamu.”
Regan tertawa kecil, diiringi dengan raut mengejek. “Idih. Sok banget kamu. Otak pas-pasan aja sok mau jadi direktur yang menjadi otak perusahaan. Tercium tidak mampu.”
Mayasari sontak melotot tak terima. Ia pun melayangkan sendok ke tengah udara, hendak dipakai untuk menggetok kepala Regan.
“Kamu ya! Sini ka—”
Suara dering ponsel dan getaran hebat yang berasal dari atas meja membuat Mayasari menghentikan kegiatannya. Tentu saja ia reflek menoleh pada benda yang getarannya sungguh mengganggu itu. Ya, itu ponsel Regan. Dan kini, Mayasari tak sengaja membaca nama yang sedang menghubungi ponsel Regan. ‘Pak Bagas’. Seketika saja suasana ceria mendadak berubah jadi tegang. Terlebih Regan, jantungnya kini berdebar kencang bukan main melihat Mayasari menangkap Bagas tengah menghubunginya. Gawat ... ia harus bagaimana sekarang?
“Eh ... aku matiin aja—” Regan meraih ponselnya, namun ditahan oleh Mayasari.
“Angkat.” Mayasari berkata pelan setengah menggeram, sambil matanya menatap keji pada layar ponsel Regan yang masih setia menampilkan nama Bagas.
“Ta-tapi, May, ini ....”
“Aku bilang angkat, Regan!” Mayasari kini melotot tajam pada Regan. “Loadspeaker. Aku mau dengar apa yang akan iblis itu bicarakan sama kamu.”
Regan gelagapan mendengar permintaan Mayasari. “Tapi, May, i-ini soal kerjaan. Aku nggak bisa—”
“Regan!” Kini Mayasari menyentak. Sorot matanya begitu mengerikan, penuh dendam dan kebencian. “Apa sekarang kamu memihak dia mangkanya kamu nggak mau aku dengar pembicaraan kalian?”
Regan semakin gelagapan, ia menggeleng tegas.
“Bu-bukan begitu, May ... aku cuma ... aku cuma ....”
“Angkat dan loudspeaker teleponnya, Regan! Atau aku nggak akan pernah percaya sama kamu lagi.”
Mendengar ancaman itu, Regan pun akhirnya pasrah. Ia mengangkat telepon dari Bagas, lantas membesarkan suaranya supaya Mayasari bisa ikutan mendengarnya. Dalam hati Regan mengeluh, habis sudah ia saat ini. Sebentar lagi hal yang selama seminggu ini berusaha disembunyikannya dari Mayasari pasti akan terbongkar.
“Ya, selamat malam, Pak Bagas?” Regan menyapa Bagas dengan nada tidak bersemangat.
“Malam ... ah, apa saya mengganggu acara malam mingguan kamu?” Bagas balas menyapa dengan nada yang begitu akrab, membuat Mayasari mengepalkan tangan dan mulai berkaca-kaca lantaran terlalu marah.
“Eng ... nggak juga, Pak.” Regan menjawab hati-hati sambil melirik Mayasari takut. “Tumben banget nih telepon malam-malam?”
“Ah, begini ....” Bagas mengutarakan tujuannya. Yang tentunya membuat jantung Regan hampir mencelos keluar. “Perihal Babysitter yang saya minta kamu untuk carikan minggu lalu, apa sudah dapat, Gan?”
Benar saja, Mayasari langsung melotot tak menyangka pada Regan begitu mendengar hal yang barusan Bagas katakan.
“Kamu nggak pernah cerita ke aku soal ini.” Mayasari berbisik pedih. Regan pun menutup lubang speaker ponselnya, hendak menenangkan gadis itu—tentu saja supaya Bagas di seberang sana tidak mendengar perseteruan ini.
“May, aku bisa jelasin. Kamu tenang du—”
“Kamu udah janji, Gan! Untuk mencarikan celah supaya aku bisa menemui Bagas dan masuk ke dalam kehidupannya. Tapi kamu malah merahasiakan celah sebesar ini dari aku?!”
Air mata Mayasari menetes. Regan pun jadi semakin merasa bersalah padanya.
“May, aku nggak bermaksud—maaf, May. Aku benar-benar minta maaf. Aku mohon kamu jangan marah dulu sama aku ya? Aku merahasiakan ini dari kamu karena aku nggak mau kamu—”
“Bilang ke dia kalo kamu udah menemukan Babysitter yang dia cari, Gan!” Mayasari berbisik memotong.
“Apa?! May, tapi—”
“Cepat bilang sekarang atau pertemanan kita cukup sampai di sini!”
Regan menganga terkejut, tidak menyangka kalau Mayasari akan mengatakan hal seperti itu padanya. Ia pun akhirnya hanya bisa mendengus pasrah. Ya, ia memang takut Nara akan mendapatkan suatu hal buruk jika Mayasari yang menjadi Babysitter-nya. Tapi ia jauh lebih takut lagi kalau harus kehilangan gadis yang dicintainya.
“Gan? Gan? Regan, kamu masih di sana?” Suara Bagas yang memanggil-manggil dari seberang telepon membuat Regan semakin frustasi bukan main. Terlebih setelah mendapatkan isyarat dari Mayasari kalau ia harus segara mengatakan permintaan gadis itu pada Bagas.
“Ah, maaf, Pak, tadi sempat hilang sinyal.” Regan akhirnya menyahut. “Ehem! Soal Babysitter untuk Nara ... saya udah ada, Pak.”
“Oh ya?!” Bagas terdengar antusias. “Alhamdulillah ... kalau begitu bisa pertemukan saya dengan orangnya?”
Regan menatap Mayasari sendu. Gadis itu menganggukkan kepalanya, pertanda kalau dia siap bertemu dengan Bagas.
“Tentu bisa, Pak. Kapan Pak Bagas mau bertemu dengan orangnya?”
“Secepatnya. Kalau besok siang gimana? Dia bisa nggak kira-kira?”
Sekali lagi Mayasari menganggukkan kepalanya. Regan pun menjawab, “Bisa, Pak.”
“Yaudah, kalau begitu besok jam satu siang kita ketemu di coffee shop yang ada di sebelah kantor ya?”
“Baik, Pak.”
“Makasih banyak ya, Gan. Maaf loh kalau jadi ngerepotin.”
“Nggak ngerepotin kok, Pak. Saya ... turut senang membantu Pak Bagas.” Jika boleh jujur, hati Regan merasakan yang sebaliknya dari perkataannya barusan.
“Duh, kamu ini baik banget sih. Yaudah, sampai ketemu besok ya.”
Setelah itu, sambungan pun dimatikan. Menyisakan Mayasari yang kini tersenyum miring di antara air mata kepedihannya.
Mayasari kemudian meraih tangan Regan, ia menggenggamnya erat.
“Makasih udah mau membantu aku untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Bagas. Makasih udah mau menepati janji kamu, Regan. Aku akan anggap ini sebagai hutang budi aku ke kamu.”
Regan balas menggenggam tangan Mayasari erat-erat. Ia juga menatapnya dalam lantas berpesan, “Satu yang aku minta dari kamu, May. Kamu harus janji sama aku, walau sebenci apa pun kamu sama Bagas, walau sebenci apa pun kamu terhadap kebahagiaan keluarga yang dibangunnya, aku mohon kamu jangan lampiaskan dendam kamu dengan menyakiti Nara putranya. Ingat, May, Nara sama sekali nggak ikut bersalah atas kejahatan yang pernah dilakukan ayahnya. Dia hanya titipan Tuhan yang nggak bisa memilih untuk dititipkan pada orang tua seperti apa.”
Mayasari mengangguk takzim. “Aku nggak sejahat itu untuk bisa menyakiti seorang anak yang nggak berdosa, Gan. Aku janji akan menjaga Nara dengan sepenuh hati.”
Regan tersenyum. Setidaknya Mayasari sudah menjanjikan hal yang paling ia cemaskan. Sekarang ia bisa sedikit merasa lega bukan?
Atau tidak.
~~