Pukul dua belas lewat sepuluh siang. Di sebuah kamar kos berdinding putih dan berlantai keramik, Mayasari tengah duduk di hadapan meja rias yang memang menjadi salah satu fasilitas furnitur kos. Ia memandangi lamat-lamat penampilannya yang terpantul di cermin. Dress seatas lutut berwarna merah maroon melekat pas di tubuh langsingnya, memberi kesan kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Rambutnya yang sebawah bahu ia biarkan tergerai indah dengan satu sisi ia sibak ke belakang. Sengaja, supaya leher jenjangnya terpampang jelas dan mampu memikat mata kaum pria—terutama bagi pria yang akan menjadi incarannya. Ia juga membubuhkan riasan natural di wajahnya, kini penampilannya tampak anggun nan menggoda, namun tetap terkesan sederhana. Hanya tinggal satu langkah lagi sebelum ia siap untuk memulai aksi pertamanya yang akan ia tujukan pada Bagas.
Dioleskannya gincu berwarna pink fanta pada bibir mungilnya—ya, inilah langkah terakhir itu. Dan sekarang beres sudah. Penampilannya sempurna untuk dapat memikat perhatian lelaki yang saat ini sudah berstatus sebagai suami orang. Mayasari pun tersenyum miring seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sedang membayangkan, pasti akan sangat menyenangkan jika apa yang ada di kepalanya saat ini akan segera terealisasikan dengan baik, sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan sedari tadi malam.
Tunggu saja, Bagas. Sebentar lagi permainan akan segera dimulai.
Itulah isi pikiran Mayasari. Sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kamar kosnya, menyusul Regan yang sudah menunggunya di luar.
~~~
Di sisi lain, Bagas menunggu dengan sabar sebelum jarum jam menunjukkan pukul satu tepat. Di mana pada jam itulah ia akan berjanji temu dengan sang calon Babysitter buah hatinya. Sekarang masih pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Hanya tinggal lima belas menit lagi sebelum waktu itu tiba.
Bagas memang sengaja datang lebih awal sejak satu jam lalu. Ya, sekalian saja ia makan siang dulu bersama istri tercinta dan putra kecilnya di coffee shop ini. Kebetulan tempat ini selain menyajikan aneka kopi sebagai menu utama, mereka juga menyediakan beberapa menu main course untuk para pelanggan yang ingin makan berat. Dan sekarang Bagas beserta keluarga sudah selesai menyantap makan siang mereka sejak sepuluh menit lalu. Meja juga sudah dibersihkan oleh staf supaya nanti ketika Regan datang membawa calon Babysitter yang direkomendasikan olehnya, meja ini kelihatan bersih dan rapih, tidak malu-maluin.
"Mereka kok belum sampai ya, Mas?" Farah bertanya sambil menggendong Nara yang mulai rewel. Entahlah karena apa, mungkin karena dia bosan hanya terus duduk di sini tanpa melakukan apa pun.
Bagas melihat arloji di tangannya. "Masih sepuluh menit lagi," katanya. "Kamu sabar dulu ya. Palingan juga kena macet. Apalagi mereka lumayan jauh perjalanan kesininya."
"Oh, ya?" Farah menyahut sambil menepuk-nepuk punggung Nara dalam gendongannya. "Emang mereka tinggal di mana, Mas?"
"Hm ... Regan sih tinggal di daerah Grogol kalau nggak salah. Tapi kalau calon Babysitter-nya aku belum tahu. Namanya siapa juga aku belum tahu. Nanti kita kenalan sama-sama di sini ya."
Farah mengangguk tersenyum. "Semoga orangnya cocok ya, Mas? Biar nggak capek-capek nyari yang lain lagi."
Bagas balas tersenyum. "Insya Allah. 'Kan Regan yang merekomendasikan, Sayang. Insya Allah pasti Regan mengenalkan orang terbaik untuk kita jadikan Babysitter-nya Nara."
Farah sekali lagi mengangguk tersenyum. Ia juga kembali duduk, karena sekarang Nara sudah kembali ceria setelah dikasih biskuit kesukaannya. Memang dasar anak satu ini. Dari tadi rewel kirain karena apa, tahunya karena mau ngemil toh. Kayaknya Nara calon-calon gembrot nih nanti besarnya. Sekarang saja sudah doyan ngemil. Tapi tidak apa, Farah suka kok melihat putranya bernafsu makan tinggi. Kalau nantinya jadi gembrot juga tidak apa. Biar pipinya semakin tembam menggemaskan.
Setelah sepuluh menit mereka menunggu, kini akhirnya mata Bagas menangkap samar-samar siluet Regan yang sedang memarkirkan motornya di luar. Di belakangnya tampak seorang gadis muda turun dari boncengan, diam-diam Bagas merasa sangat penasaran dengan wajahnya yang masih tertutup helm. Namun sialnya saat dia hendak membukanya ada mobil lewat yang menghalangi pandangan Bagas. Kini Bagas pun mendengus pelan, ia hanya bisa menunggu sampai mereka masuk ke dalam untuk dapat menghilangkan rasa penasarannya akan wajah gadis itu.
"Orangnya udah datang ya, Mas?" Farah celingukan ke arah jendela yang tadi dipandangi Bagas.
Bagas mengangguk sekali. "Iya. Sekarang kita tunggu."
Seolah waktu melambat, Bagas dan Farah terus memandang ke arah pintu masuk tak sabar ingin segera melihat, seperti apa sih perawakan orang yang direkomendasikan Regan untuk menjadi Babysitter Nara?
Satu menit, dua menit berlalu, mereka belum juga muncul di pintu. Sampai lima menit berikutnya, barulah kelihatan Regan melambaikan tangan pada Bagas. Lalu dari balik tubuhnya muncul seorang gadis muda bergaun merah yang kini juga membungkukkan kepalanya sambil menatap tersenyum ke arah meja Bagas dan Farah.
Seketika saja saat itu Bagas tanpa sadar berdiri dari duduknya. Ia memandang terpukau pada gadis di belakang Regan yang menurutnya ... sangat, sangat cantik.
Dan yang paling membuatnya menarik, wajahnya mengingatkannya pada seseorang di masa lalu, yang dulu juga membuatnya tertarik lantaran keayuannya yang begitu khas sebagai seorang pribumi.
Ya. Entah hanya perasaannya saja tapi gadis itu begitu mirip dengan mantan kekasih Bagas, Miranti.
~~~
(Biar nggak kepanjangan, chapter ini dibagi dua aja ya)