"Selamat siang, Pak Bagas, selamat siang, Bu Farah." Regan menyapa dengan senyum ramahnya ketika sudah tiba di hadapan meja tempat kedua bos besarnya itu menunggu. "Maaf nih, sudah menunggu lama ya? Tadi kita kena macet di jalan. Biasalah Jakarta."
Bagas yang masih berdiri, serta Farah yang juga baru saja ikut berdiri balas tersenyum ramah menyambut kehadiran mereka.
"Nggak apa, Regan." Farah yang akhirnya menanggapi perkataan Regan. Habis ia sudah menunggu suaminya untuk menjawab, tetapi dia malah diam saja. Aneh sekali. "Kita juga sekalian habis makan siang kok tadi. Ayo duduk dulu."
Regan mengangguk sopan lantas duduk di kursi kosong yang sudah disediakan sedari tadi. Sementara Mayasari hanya ikut tersenyum pada mereka lantas mengikuti Regan untuk duduk di kursi kosong yang tersisa. Dan betapa beruntungnya, itu berada tepat di hadapan Bagas. Kini Mayasari bisa menggunakan kesempatan ini untuk diam-diam meliriknya dengan sedikit menggoda. Membuat pria itu jadi semakin terbengong-bengong terbuai dengan wajah ayunya.
Sementara itu Farah, melihat suaminya yang sedari tadi sibuk terpana memandangi wanita lain tentu ia jadi merasa sedikit jengkel. Juga malu, itu yang lebih membebani. Buru-buru ia menarik pelan kemeja yang dikenakan Bagas, hingga akhirnya dia tersadar dan segera ikut duduk bersama yang lain.
"Kamu kenapa sih? Kok lihatin dia sampai gitu banget?" Farah berbisik dengan nada cemburu.
"Maaf, tadi aku cuma lagi nebak-nebak aja kok kira-kira gadis ini orangnya seperti apa," jawab Bagas berbohong. "Ya ... semacam lagi jadi cenayang dadakan."
Farah ber-oh ria seraya tertawa kecil. Suaminya ini ada-ada saja, masa dia mau jadi cenayang dadakan? Apa-apaan itu?
Tetapi syukur deh, pikirnya. Ia kira Bagas terpikat oleh kecantikan gadis yang katanya adalah calon Babysitter-nya Nara ini. Bisa kacau 'kan kalau begitu. Tapi Farah cukup yakin sih suaminya bukan tipikal pria yang mudah tergoda. Dulu saja ia sangat sulit menggaet hatinya. Bagas itu tipikal pria yang setia. Kecuali soal kasusnya dengan Miranti waktu itu, menurut Farah wajar Bagas berpaling. Karena salah wanita itu sendiri lebih mementingkan pekerjaannya di luar negeri dari pada kekasihnya sendiri.
"Ehem! Kalian sudah makan?" Bagas akhirnya membuka percakapan setelah berdeham satu kali.
"Sudah kok, Pak." Regan yang menjawab. "Tadi di kosnya Mayasari kami sempat makan dulu sebelum berangkat. Kebetulan dia masak."
"Oh ...." Bagas mengagguk-angguk sambil sekali lagi matanya berbinar-binar menatap wajah Mayasari yang sedari tadi terus menunduk sopan. "... jadi namanya Mayasari?"
Mayasari mengangguk. "Iya, Pak, Bu, nama saya Mayasari. Atau panggil aja Maya kalo kepanjangan nyebut Mayasari, hehehe ...."
Yang lain ikut tertawa saat mendengar tawa renyah Mayasari. Sementara Bagas, kini pikirannya sibuk berkelana sendiri. Batinnya bahkan tanpa sadar menggumam, selain cantik ternyata dia juga lugu. Sungguh gadis yang menarik.
"Eh iya sampai lupa," celetuk Farah teringat sesuatu. "Kalian mau minum apa nih? Haus 'kan pasti habis perjalanan jauh, panas-panasan pula. Frappuccino mau? Biar segar."
"Duh, nggak usah repot-repot, Bu." Regan menyahut tidak enak.
"Sama sekali nggak repot kok, Gan. Kayak sama siapa aja kamu ini," elak Farah seraya tersenyum ramah. Habis itu ia memanggil pelayan dan memesan dua Frappuccino untuk Regan dan Mayasari. Dan tak lama, pesanan mereka pun datang.
Kini obrolan kembali berlanjut setelah sempat hening lantaran kecanggungan melanda. Kali ini Farah yang berinisiatif mengambil topik lebih dulu.
"Omong-omong kita belum sempat memperkenalkan diri ya." Farah menatap Mayasari. "Saya Farah, ini suami saya Bagas, dan ini putra kami, Nara namanya." Farah menunjuk satu persatu mulai dari dirinya sendiri, beralih ke Bagas, lalu terakhir menunjuk Nara yang ada dalam pangkuannya.
Mayasari pun menyentuh pelan pipi Nara yang tembam menggemaskan. "Halo, Nara. Kenalin, aku Maya. Ih ... kamu gemasin banget sih."
Nara ikut tertawa diajak bercanda oleh Mayasari. Bagus. Langkah pertama untuk memikat sang anak berjalan dengan mulus, batin Mayasari. Sekarang tinggal langkah selanjutnya yaitu memikat hati orang tuanya.
"Hm ... Maya?" Bagas kembali bersuara. Mayasari pun menoleh padanya. "Kalau boleh tahu kamu sama Regan hubungannya apa nih? Pacar ya?"
Regan yang sedang menyedot Frappuccino-nya sontak tersedak setelah mendengar pertanyaan jahil Bagas. Hal itu pun membuat kedua bos besarnya saling pandang dan tertawa jahil.
"Bu-bukan pacar kok, Pak." Regan menjelaskan—ia sedikit tergugup salah tingkah. "Ki-kita teman dari kecil. Besar bersama di panti asuhan waktu masih di Solo dulu. Iya 'kan, May?"
Mayasari mengangguk. Omong-omong, mereka memang sudah menyiapkan beberapa rangkaian skenario asal-usul Mayasari. Ya, tidak mungkin 'kan kalau ia langsung menyebutkan jati dirinya yang sebenarnya. Kalau begitu nanti rencananya jadi kacau. Mangkanya ada beberapa kebohongan yang sengaja mereka siapkan kalau-kalau akan ditanya banyak hal nanti. Pokoknya jangan sampai Bagas dan Farah curiga kalau ia ada hubungannya dengan Miranti, itu yang terpenting.
"Oh ... cuma teman toh." Farah ikutan menggoda. "Nggak apa-apa, nanti lama-lama juga jadi demen."
Mendengar itu, seketika saja Mayasari dan Regan saling pandang salah tingkah.
"Duh, Bu Farah ini bisa aja." Mayasari menyahut sambil tertunduk malu. Sesungguhnya ini juga termasuk bagian dari sandiwaranya. Ia sengaja bertingkah sok polos seperti ini karena ingin membuat Bagas semakin terpikat padanya. Dan ternyata itu berhasil. Lihat saja sekarang, pandangan Bagas begitu dalam ketika menatapnya.
Kena kamu, Bagas .... Mayasari menyeringai senang dalam hati.
Setelah berbasa-basi sejenak, kini Bagas dan Farah saling pandang serius dan saling toel-menoel. Mereka sedang menyampaikan isyarat untuk mulai serius bertanya soal kepentingan Mayasari yang hendak mereka jadikan Babysitter-nya Nara. Setelah saling mengerti, mereka pun saling mengangguk dan bersama-sama menatap Mayasari serius.
"Jadi kamu tinggal di panti asuhan ya?" Farah bertanya. "Berarti udah familiar dong dalam mengurus anak kecil?"
"Ya, begitu lah, Bu," jawab Mayasari. "Dari kecil saya udah sering bantu Ibu Panti dalam mengurus adik-adik. Apalagi beberapa tahun lalu juga sempat ada anak usia satu tahun yang baru masuk panti. Jadi saya lumayan tahu gimana cara mengurus balita."
Farah mengangguk-angguk. Ia juga menatap Bagas, tatapannya kelihatan seperti sedang mengisyaratkan pada suaminya kalau ia yakin Mayasari akan menjadi Babysitter yang tepat untuk Nara. Mayasari pun diam-diam merasa menang dengan keberhasilan pertamanya dalam membodohi mereka.
Tetapi berbeda dengan Regan, dibalik senyumnya yang selalu terukir di bibirnya sejak tadi, sorot matanya kelihatan jelas sedang mengkhawatirkan Mayasari yang sudah terlalu terlarut dalam skenario ini. Ia mencemaskan banyak hal, terutama apa yang sedang gadis itu rencanakan. Tetapi ia tak cukup berani untuk menegur apalagi menentangnya. Ia tidak mau dibenci oleh gadis yang dicintainya.
"Kalau soal pekerjaan, sekarang kamu kerja di mana, May?" Kini Bagas yang bertanya.
"Eh ... lagi nggak kerja di mana-mana sih. Palingan serabutan aja bantu-bantu tetangga di rumah makan. 'Kan saya juga baru tiba di Jakarta sekitar dua minggu lalu, Pak, Bu. Jadi masih cari-cari kerjaan yang pas." Mayasari terus bersandiwara.
Bagas dan Farah sekali lagi saling pandang. Kali ini senyum mereka tampak lebih lebar dari sebelumnya.
"Berarti kalau kami sepakat kamu jadi Babysitter-nya Nara, kamu siap tinggal di dalam?" tanya Bagas lagi.
Mayasari seketika mengangguk semangat. "Oh, ya jelas siap, Pak! Saya ada di sini saat ini 'kan karena berharap bisa diterima kerja oleh kalian. Saya tentu akan senang sekali kalo kalian mau menerima saya. Lumayan 'kan, hitung-hitung hemat uang sewa kos."
Kedua orang di hadapannya tertawa renyah mendengar gurauannya. Kecuali Regan, pria itu lagi-lagi hanya tertawa hambar. Tentu saja, sejujurnya ia enggan membiarkan Mayasari tinggal satu rumah dengan Bagas. Bagaimana kalau dia ... bertindak terlalu jauh? Regan bahkan tanpa sadar sampai memejamkan matanya saking tidak kuatnya membayangkan hal itu.
"Kamu kenapa, Gan?" Farah menegur tiba-tiba, yang sontak membuat Regan membuka matanya terkejut.
"Oh! Ng-nggak apa-apa, Bu. Ta-tadi agak mules aja. Kopinya strong banget nih kayaknya." Regan beralibi.
"Masa sih? Waduh ... jangan dilanjut minum kalo nggak kuat. Saya pesanin lemon tea hangat deh ya. Biar lebih enakan perutnya."
"Eh?! Nggak usah, Bu. Saya udah nggak apa-apa kok!" Regan berusaha meyakinkan.
Namun Farah masih menatapnya cemas. "Yakin kamu?"
Regan mengangguk mantap. "Iya, Bu, beneran nggak apa-apa. Lagi pula saya udah kembung nih kebanyakan minum dari tadi, hehehe."
"Yaudah deh. Tapi kalo pengen sesuatu bilang aja ya. Nggak usah sungkan."
"Iya, Bu. Makasih banyak."
Pandangan Farah kini beralih kembali pada Mayasari. Ia tersenyum ramah padanya. Entahlah, rasanya senang sekali berbicara dengan Mayasari. Dia kelihatan sopan dan baik, rasanya Farah sudah sreg menjadikannya Babysitter Nara.
Tetapi masih ada satu pertanyaan lagi yang masih mengganjal di hatinya. Ia pun tanpa ragu langsung melontarkannya, "Kamu yakin, May, mau jadi Babysitter-nya Nara? Padahal kamu cantik dan muda begini, nggak sayang apa sama masa depan kamu?"
Mayasari menggeleng pelan seraya menampilkan senyum tulusnya. "Enggak kok, Bu. Dari kecil saya udah terbiasa bekerja di dalam rumah. Rasanya kurang nyaman kalo kerja di luaran. Takut, Bu."
Farah mengangguk-angguk. Sementara Bagas kelihatan semakin terbuai oleh keluguan palsu yang terpampang dalam di wajah Mayasari.
Kini sepasang suami istri itu saling pandang sejenak. Lalu kemudian saling mengangguk dan Bagas pun berkata, "Ya sudah, kami juga sudah sreg sama kamu. Kapan kamu bisa mulai bekerja?"
Mayasari tampak girang. "Wah, beneran, Pak?! Kalau begitu saya siap bekerja secepatnya!"
Sekali lagi Bagas dan Farah saling pandang. Kali ini mereka tertawa kecil melihat antusiasme Mayasari.
"Kalau begitu, mulai besok bisa?" Bagas bertanya.
Mayasari pun mengangguk mantap. "Siap, Pak! Makasih banyak udah mau mempercayai saya untuk menjadi Babysitter-nya Nara. Sekali lagi makasih banyak!"
Bagas tersenyum. "Iya, sama-sama. Makasih juga udah mau menerima pekerjaan ini."
Semua pun saling bergembira bersama setelah kesepakatan resmi dibuat. Tapi sekali lagi, tidak dengan Regan. Ia malah sedang sibuk dengan perasaan gundahnya, ia takut sekali dengan apa yang sebenarnya sedang Mayasari rencanakan.
Saat ini Regan hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saja Mayasari tidak akan bertindak terlalu jauh dalam melancarkan aksi balas dendamnya. Ia tidak mau suatu hal buruk sampai menjeratnya hanya karena ia ingin melihat kehancuran keluarga Bagas.
~~~