Mayasari menatap datar seisi kamar kosnya yang kini telah dalam keadaan setengah kosong, hanya menyisakan beberapa furnitur fasilitas kos saja. Segala pernak-pernik yang biasa mengisi meja riasnya, lemari yang biasanya berisi tumpukan pakaian belelnya, rak sepatu yang biasa menjajarkan koleksi sepatu murahnya, juga rak gantungan di depan kamar mandi yang biasa menjadi tempat tersampirnya handuk, semuanya telah kosong. Semua benda-benda miliknya kini telah terkumpul menjadi satu di dalam sebuah koper besar yang sudah berdiri gagah di sisi kananya. Ya, ia sedang dalam persiapan untuk pindah ke kediaman Bagas dan Farah. Karena mulai hari ini ia akan bekerja sebagai Babysitter putra mereka.
Mungkin kedengarannya gila Mayasari sampai rela melepas pekerjaan SPG-nya hanya demi profesi barunya yang jelas-jelas lebih rendah tingkatannya. Ia bahkan rela merendahkan diri dengan menjadi Babysitter dari putra sepasang suami istri penghancur kebahagiannya. Tapi inilah pilihannya. Sejak kematian ayah dan kakaknya, juga sejak ia harus menerima kenyataan bahwa ibunya menderita penyakit jiwa, ia telah bertekad untuk masuk ke tengah-tengah kehidupan dua orang yang paling dibencinya setengah mati itu. Bahkan jika ia harus merendahkan diri di hadapan mereka, itu tidak masalah selagi dengan begitu ia bisa melancarkan aksi balas dendamnya.
Mayasari menghela napas satu kali. Tanpa sadar matanya sudah berair saja membayangkan sebentar lagi ia akan masuk ke tengah-tengah kehidupan Bagas dan Farah. Jika boleh jujur tentu ia tidak sudi harus bersandiwara bersikap baik kepada mereka. Ia begitu muak. Saking muaknya, air matanya jadi menetes sia-sia. Andai saja tidak ada hukum di dunia ini, ia mungkin akan langsung membunuh mereka tanpa ampun.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pelan membangkitkan Mayasari dari lamunan pilunya. Ia menoleh ke belakang, ternyata Regan yang mengetuk. Ya, pria itu yang akan membantunya pindahan ke kediaman Bagas dan Farah.
"May, kamu ...." Regan kelihatan hendak mengatakan sesuatu pada Mayasari, tetapi berhenti mendadak ketika melihat mata gadis itu yang tampak memerah. "... kamu nangis?" tanyanya hati-hati.
Mayasari buru-buru menghapus air matanya. "Enggak, kok. Cuma kelilipan debu tadi. Udah yuk, berangkat sekarang aja. Nanti kamu kesiangan loh kerjanya gara-gara harus ngantar aku dulu."
"Tenang aja, aku udah izin kok sama Pak Bagas bakal datang telat hari ini. Dia 'kan juga tau kalo aku harus antar kamu."
Mayasari seketika menatap tajam Regan yang berani-beraninya menyebut nama Bagas dengan sopan di hadapannya. Regan pun langsung sadar akan tatapan itu, ia buru-buru menutup mulutnya. "Maaf, May. Aku udah terbiasa menyebut Bagas seperti itu. Aku ...."
"Kita jalan sekarang aja." Mayasari memotong seraya berjalan keluar kos lebih dulu.
Sementara Regan hanya bisa mendengus lemah, sesungguhnya pagi ini bukan pagi yang menyenangkan baginya. Karena sampai detik ini ia masih belum rela kalau Mayasari harus tinggal satu rumah dengan Bagas dan Farah.
~~~
Bangunan rumah besar bercat putih kini terbentang di hadapan Mayasari. Di bagian tengah berandanya terdapat dua pilar besar dengan ukiran garis-garis lurus yang menjulang tinggi hingga sampai ke atapnya yang berbentuk segitiga. Memberi kesan mewah yang tentunya akan membuat siapa pun yang melihatnya melongo terpesona. Bahkan termasuk Mayasari, ia sedari tadi lumayan sibuk mengagumi keelokan rumah mewah ini yang tak lain adalah kediaman Bagas dan Farah.
Namun walau seindah apa pun penampakan rumah ini, dalam hati kecil Mayasari masih terselip suatu rasa kebencian serta iri dengki yang menyayat hati. Ia berpikir, betapa tidak adilnya dunia ini yang malah memberi kebahagiaan serta kemewahan melimpah kepada orang-orang yang menjadi penyebab kematian kakaknya. Dan lagi, apa mereka tak pernah merasa malu hidup makmur dan bahagia di atas penderitaan orang lain? Bahkan setelah mereka melihat sendiri kalau Miranti tewas akibat berlangsungnya pernikahan mereka yang berdasar pada pengkhianatan. Sungguh kenyataan ini terasa begitu memilukan bagi Mayasari. Sampai membuat dadanya bergemuruh hebat menahan segala amarah dan kebencian yang terus menghantamnya.
Dan kini lagi-lagi ia harus berakhir dengan menghapus kasar air mata penuh rasa sakitnya yang menetes tanpa permisi. Sungguh sangat tidak pantas ia selalu menangisi orang-orang seperti mereka. Padahal yang perlu ia lakukan hanyalah bermain sandiwara sebaik mungkin, sampai tiba waktunya untuk menyaksikan mereka mendapat karma atas pengkhianatan yang telah mereka lakukan terhadap wanita sebaik dan setulus Miranti.
Mayasari pun menghela napas kasar seraya tersenyum miring. Kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati pagar hitam besar yang menjadi penyekat antara dunia luar dengan surga milik para pembunuh itu. Ditekannya bel yang menempel di dinding sisi kanan pagar, menunggu sang empu datang membukakan pagar ini untuknya.
Sementara itu, Regan yang belum beranjak pergi sedari ia selesai mengantar Mayasari ke tempat ini, ia hanya terus diam ikut memandang prihatin pada gadis yang begitu dicintainya. Jika saja ia cukup berani, ingin sekali rasanya ia menghampiri Mayasari dan memeluknya erat ketika ia melihatnya menitikkan air mata tadi. Tetapi ia bisa apa? Ia tahu betul kalau yang sedang dibutuhkan Mayasari bukanlah sebuah pelukan hangat, melainkan sebuah bentuk pembalasan dendam. Dan Regan tidak bisa memberikan itu padanya.
Tak lama, terlihat Farah berlari kecil menghampiri pagar sambil menggendong Nara. Ia lantas segera membukakannya untuk Mayasari dan Regan yang sudah menunggunya di luar bersama satu koper besar dan beberapa tas berisi barang-barang milik Mayasari. Omong-omong, pagi ini Regan meminjam mobil kantor untuk mengantar Mayasari pindahan. Tidak mungkin kan ia membawa Mayasari dengan motor besarnya? Barang-barangnya mau ditaruh di mana nanti?
“Maaf ya agak lama bukainnya.” Farah menyambut hangat kedatangan mereka sambil memasang wajah merasa bersalah. “Maklum, saya apa-apa sendiri. Nggak ada ART yang bantu-bantu. Jadi ya gini, kadang keteteran sendiri.”
Mayasari kembali melancarkan sandiwaranya, ia kini tersenyum ramah pada Farah. “Nggak apa-apa, Bu. Malah bagus begitu ‘kan, situasi keluarga bisa jadi lebih harmonis tanpa adanya orang asing. Dan lebih aman juga pastinya. Kalo urusan bersih-bersih mah jaman sekarang gampang. Teknologi udah canggih, bisa panggil jasa tukang bersih-bersih lewat online.”
“Nah itu kamu paham, May. Jarang banget loh ada orang seperti kamu yang langsung memahami pemikiran saya. Selama ini kebanyakan orang suka ngatain kalo saya mengutarakan pemikiran itu. Katanya saya terlalu parno lah, nyusahin diri sendiri lah, bahkan ada juga yang sampai ngatain pelit.”
Mayasari tertawa kecil mendengar curahan hati Farah. “Omongan orang mah nggak usah didengar, Bu. Bikin darah tinggi doang.”
“Benar banget itu.” Farah bersemangat setuju. “Yaudah hayuk masuk dulu ke dalam.”
Mayasari mengangguk, juga Regan yang sedari tadi hanya ikut tertawa sesekali mendengar perbincangan khas kaum wanita. Ia kini membantu Mayasari membawa barang-barangnya masuk ke dalam. Membuat gadis itu jadi merasa tidak enak padanya.
“Gan, kamu langsung ke kantor aja nggak apa-apa loh padahal.” Mayasari berkata pada Regan.
“Nggak apa-apa.” Regan tersenyum tulus. “Nggak baik cewek bawa barang-barang berat kayak gini. Selagi ada aku di sini ya sekalian aku aja yang bawain barang-barang kamu. Kamu mending ngobrol aja sana sama Bu Farah. Pelajari betul-betul cara merawat Nara.”
“Sekalian latihan ya, Gan,” celetuk Farah menggoda—sambil membuka pintu ganda penghubung antara beranda rumah dengan tempat huni ini. “Biar nggak kagok nanti kalo udah punya momongan sendiri.”
Mayasari dan Regan sontak tersenyum malu dicandai seperti itu.
“Ah, Bu Farah nih bisa aja,” sahut Regan salah tingkah.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Mayasari dan Regan hanya mengikuti langkah Farah yang berjalan menaiki tangga besar dengan bentuk setengah melingkar yang ada di sisi kanan ruang tamu. Sepertinya dia sedang menuntun mereka menuju kamar yang akan ditempati Mayasari. Ya, dia pasti cukup pengertian untuk membiarkan Regan menaruh dulu barang-barang milik Mayasari sebelum dia menjelaskan segala peraturan dan prosedur kerja Mayasari sebagai Babysitter Nara.
Dan akhirnya, Farah menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar yang terletak di ujung lorong, tepatnya berada di sisi sebelah kanan jika berjalan lurus dari arah puncak tangga. Mayasari melihat sekitar, ada total lima pintu di lantai ini ditambah dengan ruangan santai yang terletak di tengah-tengah sisi kiri lorong—yang menyambung langsung dengan balkon. Di antaranya dua pintu di sisi kiri lorong yang dipisahkan oleh ruangan santai tersebut, tiga pintu lagi di sisi kanan lorong.
“Ini kamar kamu, May,” ucap Farah memberi tahu. “Sementara yang di tengah itu kamarnya Nara.”
Mayasari menoleh ke arah pintu kamar yang berada tepat di samping kiri kamarnya. Ia lantas mengangguk-angguk mengerti.
“Yang sebelah kiri dekat tangga itu kamar saya dan Bagas ...,” Farah kembali memberi tahu sambil menunjuk sana-sini. “... lalu toiletnya di sini, persis di depan kamar kamu. Kalo kamar yang di pojok sebelah kanan tangga itu cuma kamar tamu, jarang dipakai. Nah, terakhir yang di tengah dekat balkon itu ruangan buat santai-santai kalo lagi malas turun ke bawah. Ada mini dapur juga di situ. Jadi kalo tengah malam kamu perlu sesuatu tinggal ambil yang di ada situ, nggak perlu turun ke bawah.”
“Wah ... rumahnya udah kayak hotel ya, Bu. Lengkap banget.” Mayasari sok memuji.
Farah pun tersenyum bangga. “Bisa aja kamu.”
Mayasari dan Regan ikut tersenyum menanggapi.
“Yaudah, sekarang kamu beres-beresin barang kamu dulu aja gih,” Farah mempersilahkan. “Regan, kamu bantuin Maya dulu nggak apa-apa ya? Biar nggak kecapekan dia. Nanti saya bilang ke Bagas deh kamu lagi bantu-bantu di sini.”
Regan mengangguk sopan. “Baik, Bu.”
“Saya ke bawah dulu,” pamit Farah seraya menepuk pelan bahu Mayasari. “Nanti kalo udah selesai kita ngobrol di bawah ya sambil keliling.”
Mayasari sekali lagi mengangguk. Setelah itu, Farah pun berjalan ke arah tangga dan menghilang di baliknya. Meninggalkan Mayasari yang akhirnya bisa bebas mengekspresikan apa yang sebenarnya tengah ia rasakan saat ini. Ya, tentu saja sorot mata penuh kebencian itu telah kembali lagi padanya.
“Cih! Rumah ini memang mewah bak istana surga. Tapi sangat disayangkan, penghuninya adalah para pembunuh yang harusnya tinggal di neraka.”
Setelah mengucapkan kalimat makian itu, Mayasari bergegas masuk ke dalam kamarnya dan memulai kegiatan beres-beresnya. Sementara Regan hanya mendengus pelan menyayangkan hati Mayasari yang sepertinya telah membatu dikuasai oleh rasa benci.
~~~