“May?” Regan tiba-tiba bersuara saat ia dan Mayasari tengah merapikan barang-barang Mayasari di kamar barunya.
Mayasari pun menoleh sekilas, “Ya?” Setelah itu ia kembali berkutat dengan pekerjaannya memindahkan pakaian yang ada di koper ke dalam lemari. Habis Regan juga boro-boro menoleh, dia sibuk membongkar isi tas yang berisi pernak-pernik kepunyaan Mayasari. Entah itu peralatan make up, peralatan mandi, sepatu, tas-tas kecil, bahkan buku-buku novel dan biografi.
“Ada apa, Gan? Kamu capek? Mau aku buatin minum?” Mayasari akhirnya menegur lebih dulu lantaran beberapa menit pria itu hanya terus diam. Padahal tadi dia seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Nggak, aku nggak capek kok.” Regan menyahut, ia menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menatap Mayasari. “Dan nggak haus juga.”
“Terus kenapa tadi manggil?”
“Eh, itu ....” Regan tampak ragu-ragu. Sejujurnya memang ada suatu hal yang sedari tadi begitu ingin ia katakan pada Mayasari. Tetapi ia takut gadis itu akan tersinggung dan marah padanya.
“... nggak jadi. Lupain aja, hehehe.” Regan memutuskan untuk tetap menyimpan uneg-unegnya. Namun hal itu malah membuat Mayasari merengut jengkel akibat merasa penasaran.
“Kamu mah gitu, ih. Mau bikin aku mati penasaran ya?” dumal gadis itu, yang langsung disambut tawa renyah oleh Regan.
“Malah ketawa lagi?! Ada apa sih? Kasih tahu dong, Regan.”
Regan menarik napas dalam, lalu mengembuskannya sekaligus. Ia kini kembali memalingkan wajahnya dari Mayasari. Memutuskan untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya yang tadi sempat ia hentikan.
“Kamu ....” Regan akhirnya mau bicara. “... kamu kenapa bertindak sampai sejauh ini, May? Gimana nanti sama ibu kamu? Biasanya kamu kunjungi beliau hampir setiap hari, sekarang apa masih bisa begitu? Kamu mau pakai alasan apa ke Bagas dan Farah kalo kamu mau ngunjungin ibu kamu?”
Mayasari tertunduk dalam. Ada rasa sesal yang kini tampak jelas dalam sorot matanya.
“Jujur aku baru keingat soal Ibu, Gan, setelah kamu ingatin barusan.” Mayasari mengaku. Ia mendengus lelah kelihatan frustasi. “Hah ... mau gimana lagi? Aku udah terlanjur melangkah sampai titik ini, nggak mungkin aku mundur lagi hanya karena Ibu. Aku yakin, Ibu pasti menginginkan hal ini juga, Gan. Kalo aja Ibu sadar akan kenyataan pahit ini, aku yakin dia pasti juga menginginkan pembalasan dendam.”
“Gimana kalo ternyata enggak?”
Mayasari menatap Regan serius. “Dia ibu aku, Regan. Aku kenal dia. Ibu adalah orang pertama yang akan bertindak jika melihat putri kesayangannya disakiti. Jangankan orang lain, aku aja pernah dihukum berat karena sengaja ngempisin ban sepeda Kak Mira waktu kecil dulu dan akhirnya menyebabkan Kak Mira jatuh ke parit. Kamu tau hukuman apa yang aku dapat? Aku dikurung di dalam kamar mandi selama tiga jam sampai akhirnya Bapak pulang kerja dan bukain pintunya buat aku. Mangkanya dari dulu aku selalu iri sama Kak Mira, karena Ibu sesayang itu sama dia.”
Regan menghela napas pelan. “Tapi memangnya harus sampai sejauh ini kamu bertindak, May? Ingat, masih ada Tuhan yang akan membalas segala kejahatan yang dilakukan umatnya. Kamu hanya tinggal menunggu aja sampai karma datang sendiri menghampiri Bagas sebagai balasan atas pengkhianatan yang telah dilakukannya terhadap mendiang kakak kamu. Kamu nggak perlu melangkah sampai sejauh ini, May. Gimana kalo nanti malah kamu yang akan mendapat karma buruk itu sendiri?”
Mayasari menggeleng keras. “Kamu salah, Gan. Akulah karma yang Tuhan kirim untuk menghukum mereka.”
“May, tapi—”
“Regan, please stop ceramahin aku!” potong Mayasari tegas. “Aku masih tau batasan kok! Kamu tenang aja!”
Untuk ke sekian kalinya Regan merasa tak mampu melawan kehendak Mayasari. Ia pun hanya bisa mendengus lelah dan kembali fokus pada pekerjaannya saat ini. Kini ia hanya tinggal membereskan buku-buku koleksi Mayasari ke rak yang ada di dinding dekat ranjang.
Sampai tak sengaja ia menemukan sebuah buku usang bersampul kulit berwarna coklat, ada ukiran tulisan ‘Miranti’ di bagian tengah sampulnya.
“Maya ....” Regan menunjukkan penemuannya kepada Mayasari. “... ini apa?”
Mayasari yang masih tampak suntuk akibat teguran Regan, kini wajahnya semakin bertambah suntuk lagi setelah menerima buku asing itu dari tangan Regan. Pasalnya ia tidak ingat pernah memilikinya, terlebih ada ukiran nama sang kakak di sampulnya.
Mayasari pun membuka halaman pertamanya, dan barulah ia dapat menarik kesimpulan soal buku apa ini sebenarnya.
“Gan, kayaknya ini ....” Mayasari menggumam sendu. Ia lantas menatap Regan dalam dan melanjutkan, “... buku harian Kak Mira.”
~~~
“Aku pergi ya.” Regan yang kini sudah berada di dalam mobil berpamitan pada Mayasari yang tengah berdiri di depan pagar. Namun sepertinya gadis itu tak mendengar. Dia malah kelihatan linglung sedari tadi. Regan cukup mengerti, dia pasti agak terguncang setelah menemukan buku harian Miranti satu jam yang lalu.
“May?” Regan menegur sekali lagi dengan nada yang sedikit mengeras. Dan syukurlah kali ini Mayasari berhasil kembali dari lamunannya.
“Eh, iya! Hati-hati, Gan.” Ia melambaikan tangan kikuk. “Makasih banyak udah bantu-bantu aku beberes sejak subuh tadi.”
Regan hanya mengangguk tersenyum menanggapi. Tapi ia masih enggan beranjak pergi. Rasanya ia masih mencemaskan Mayasari. Lihat saja sekarang, gadis itu sudah kembali melamun lagi. Dia pasti masih kepikiran soal buku harian itu.
“May? Kamu kenapa sih dari tadi bengong terus?” Regan mempertanyakannya langsung. “Soal buku harian Kak Mira ya? Kamu takut buku itu nggak sengaja ketahuan sama Bagas atau Farah?”
Mayasari mendengus pelan, kemudian mengangguk lesu.
“Yaudah gini aja, mau aku bantu simpanin buku itu, nggak? Biar kamu nggak terus-terusan merasa cemas seperti ini.” Regan menawarkan.
Mayasari tampak berpikir sejenak, tentu itu tawaran yang menarik untuknya. Akan lebih aman kalau buku harian Miranti jangan ada di rumah ini. Kalau sampai Bagas atau Farah menemukannya, segala rencana pembalasan dendamnya akan hancur berantakan. Tapi ... Mayasari juga ingin membacanya. Ia ingin mengetahui lebih perasaan mendiang sang kakak yang selama ini jarang terbuka padanya. Terutama soal Bagas, ia ingin mencari tahu lebih dalam mengenai hubungan mereka dulu, lewat buku harian ini.
Setelah menimbang-nimbang, Mayasari pun akhirnya menggeleng pelan pada Regan. “Kayaknya aku simpan sendiri aja deh, Gan.”
“Yakin?”
Mayasari mengangguk. “Aku mau baca sedikit isi buku itu. Aku mau tau, gimana kira-kira hubungan Kakak dengan si b******k Bagas sebelum ini.”
Regan menatap dalam mengerti. Walau kedengarannya tidak sopan, tetapi Mayasari pasti ingin mengetahui segala hal yang Miranti tulis dalam buku harian itu. Jika dipikir-pikir, mereka lumayan lama terpisah sejak Miranti memutuskan untuk bekerja di Jepang. Mereka tentu masih kurang berbagi mengenai hal apa saja yang telah mereka alami ketika beranjak dewasa. Hal itu jelas berbeda jika dibandingkan dengan kebersamaan mereka sewaktu masih kanak-kanak yang belum mengerti soal kehidupan. Namun sayangnya ... Miranti tidak punya cukup waktu untuk bisa saling berbagi kisah hidup dengan adiknya. Sungguh miris.
“Yaudah kalo mau kamu begitu,” ujar Regan kemudian. “Ingat, jaga baik-baik buku itu. Bisa jadi di dalamnya berisi aib Kak Mira yang nggak seharusnya dibaca sama orang lain. Jangan sampai ada orang yang membaca buku harian itu selain kamu, May.”
“Iya, aku akan simpan buku itu di tempat yang aman.”
Regan mengangguk-angguk. “Yaudah aku pamit dulu ya.”
Kini gantian Mayasari yang mengangguk. “Aku titip Ibu ya, Gan. Kalo kamu ada waktu, tolong kunjungi Ibu dan bilang kalo mulai sekarang aku cuma bisa datang seminggu sekali.”
“Pasti, May. Kamu nggak usah khawatir soal itu, aku akan datang jenguk ibu kamu setiap pulang kantor.”
“Makasih banyak, Gan. Aku nggak tau lagi gimana hidup aku tanpa kamu.”
Diam-diam, Regan merasa begitu tersanjung dibilang seperti itu. Kini hatinya jadi berdesir penuh harap, semoga saja kalimat itu akan menjadi pengantar menuju hubungan baru mereka yang jauh lebih dekat lagi. Ya, itulah harapan terbesar Regan saat ini, juga esok dan seterusnya sampai hal itu benar-benar terkabul.
~~~
“May?” Regan tiba-tiba bersuara saat ia dan Mayasari tengah merapikan barang-barang Mayasari di kamar barunya.
Mayasari pun menoleh sekilas, “Ya?” Setelah itu ia kembali berkutat dengan pekerjaannya memindahkan pakaian yang ada di koper ke dalam lemari. Habis Regan juga boro-boro menoleh, dia sibuk membongkar isi tas yang berisi pernak-pernik kepunyaan Mayasari. Entah itu peralatan make up, peralatan mandi, sepatu, tas-tas kecil, bahkan buku-buku novel dan biografi.
“Ada apa, Gan? Kamu capek? Mau aku buatin minum?” Mayasari akhirnya menegur lebih dulu lantaran beberapa menit pria itu hanya terus diam. Padahal tadi dia seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Nggak, aku nggak capek kok.” Regan menyahut, ia menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menatap Mayasari. “Dan nggak haus juga.”
“Terus kenapa tadi manggil?”
“Eh, itu ....” Regan tampak ragu-ragu. Sejujurnya memang ada suatu hal yang sedari tadi begitu ingin ia katakan pada Mayasari. Tetapi ia takut gadis itu akan tersinggung dan marah padanya.
“... nggak jadi. Lupain aja, hehehe.” Regan memutuskan untuk tetap menyimpan uneg-unegnya. Namun hal itu malah membuat Mayasari merengut jengkel akibat merasa penasaran.
“Kamu mah gitu, ih. Mau bikin aku mati penasaran ya?” dumal gadis itu, yang langsung disambut tawa renyah oleh Regan.
“Malah ketawa lagi?! Ada apa sih? Kasih tahu dong, Regan.”
Regan menarik napas dalam, lalu mengembuskannya sekaligus. Ia kini kembali memalingkan wajahnya dari Mayasari. Memutuskan untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya yang tadi sempat ia hentikan.
“Kamu ....” Regan akhirnya mau bicara. “... kamu kenapa bertindak sampai sejauh ini, May? Gimana nanti sama ibu kamu? Biasanya kamu kunjungi beliau hampir setiap hari, sekarang apa masih bisa begitu? Kamu mau pakai alasan apa ke Bagas dan Farah kalo kamu mau ngunjungin ibu kamu?”
Mayasari tertunduk dalam. Ada rasa sesal yang kini tampak jelas dalam sorot matanya.
“Jujur aku baru keingat soal Ibu, Gan, setelah kamu ingatin barusan.” Mayasari mengaku. Ia mendengus lelah kelihatan frustasi. “Hah ... mau gimana lagi? Aku udah terlanjur melangkah sampai titik ini, nggak mungkin aku mundur lagi hanya karena Ibu. Aku yakin, Ibu pasti menginginkan hal ini juga, Gan. Kalo aja Ibu sadar akan kenyataan pahit ini, aku yakin dia pasti juga menginginkan pembalasan dendam.”
“Gimana kalo ternyata enggak?”
Mayasari menatap Regan serius. “Dia ibu aku, Regan. Aku kenal dia. Ibu adalah orang pertama yang akan bertindak jika melihat putri kesayangannya disakiti. Jangankan orang lain, aku aja pernah dihukum berat karena sengaja ngempisin ban sepeda Kak Mira waktu kecil dulu dan akhirnya menyebabkan Kak Mira jatuh ke parit. Kamu tau hukuman apa yang aku dapat? Aku dikurung di dalam kamar mandi selama tiga jam sampai akhirnya Bapak pulang kerja dan bukain pintunya buat aku. Mangkanya dari dulu aku selalu iri sama Kak Mira, karena Ibu sesayang itu sama dia.”
Regan menghela napas pelan. “Tapi memangnya harus sampai sejauh ini kamu bertindak, May? Ingat, masih ada Tuhan yang akan membalas segala kejahatan yang dilakukan umatnya. Kamu hanya tinggal menunggu aja sampai karma datang sendiri menghampiri Bagas sebagai balasan atas pengkhianatan yang telah dilakukannya terhadap mendiang kakak kamu. Kamu nggak perlu melangkah sampai sejauh ini, May. Gimana kalo nanti malah kamu yang akan mendapat karma buruk itu sendiri?”
Mayasari menggeleng keras. “Kamu salah, Gan. Akulah karma yang Tuhan kirim untuk menghukum mereka.”
“May, tapi—”
“Regan, please stop ceramahin aku!” potong Mayasari tegas. “Aku masih tau batasan kok! Kamu tenang aja!”
Untuk ke sekian kalinya Regan merasa tak mampu melawan kehendak Mayasari. Ia pun hanya bisa mendengus lelah dan kembali fokus pada pekerjaannya saat ini. Kini ia hanya tinggal membereskan buku-buku koleksi Mayasari ke rak yang ada di dinding dekat ranjang.
Sampai tak sengaja ia menemukan sebuah buku usang bersampul kulit berwarna coklat, ada ukiran tulisan ‘Miranti’ di bagian tengah sampulnya.
“Maya ....” Regan menunjukkan penemuannya kepada Mayasari. “... ini apa?”
Mayasari yang masih tampak suntuk akibat teguran Regan, kini wajahnya semakin bertambah suntuk lagi setelah menerima buku asing itu dari tangan Regan. Pasalnya ia tidak ingat pernah memilikinya, terlebih ada ukiran nama sang kakak di sampulnya.
Mayasari pun membuka halaman pertamanya, dan barulah ia dapat menarik kesimpulan soal buku apa ini sebenarnya.
“Gan, kayaknya ini ....” Mayasari menggumam sendu. Ia lantas menatap Regan dalam dan melanjutkan, “... buku harian Kak Mira.”
~~~
“Aku pergi ya.” Regan yang kini sudah berada di dalam mobil berpamitan pada Mayasari yang tengah berdiri di depan pagar. Namun sepertinya gadis itu tak mendengar. Dia malah kelihatan linglung sedari tadi. Regan cukup mengerti, dia pasti agak terguncang setelah menemukan buku harian Miranti satu jam yang lalu.
“May?” Regan menegur sekali lagi dengan nada yang sedikit mengeras. Dan syukurlah kali ini Mayasari berhasil kembali dari lamunannya.
“Eh, iya! Hati-hati, Gan.” Ia melambaikan tangan kikuk. “Makasih banyak udah bantu-bantu aku beberes sejak subuh tadi.”
Regan hanya mengangguk tersenyum menanggapi. Tapi ia masih enggan beranjak pergi. Rasanya ia masih mencemaskan Mayasari. Lihat saja sekarang, gadis itu sudah kembali melamun lagi. Dia pasti masih kepikiran soal buku harian itu.
“May? Kamu kenapa sih dari tadi bengong terus?” Regan mempertanyakannya langsung. “Soal buku harian Kak Mira ya? Kamu takut buku itu nggak sengaja ketahuan sama Bagas atau Farah?”
Mayasari mendengus pelan, kemudian mengangguk lesu.
“Yaudah gini aja, mau aku bantu simpanin buku itu, nggak? Biar kamu nggak terus-terusan merasa cemas seperti ini.” Regan menawarkan.
Mayasari tampak berpikir sejenak, tentu itu tawaran yang menarik untuknya. Akan lebih aman kalau buku harian Miranti jangan ada di rumah ini. Kalau sampai Bagas atau Farah menemukannya, segala rencana pembalasan dendamnya akan hancur berantakan. Tapi ... Mayasari juga ingin membacanya. Ia ingin mengetahui lebih perasaan mendiang sang kakak yang selama ini jarang terbuka padanya. Terutama soal Bagas, ia ingin mencari tahu lebih dalam mengenai hubungan mereka dulu, lewat buku harian ini.
Setelah menimbang-nimbang, Mayasari pun akhirnya menggeleng pelan pada Regan. “Kayaknya aku simpan sendiri aja deh, Gan.”
“Yakin?”
Mayasari mengangguk. “Aku mau baca sedikit isi buku itu. Aku mau tau, gimana kira-kira hubungan Kakak dengan si b******k Bagas sebelum ini.”
Regan menatap dalam mengerti. Walau kedengarannya tidak sopan, tetapi Mayasari pasti ingin mengetahui segala hal yang Miranti tulis dalam buku harian itu. Jika dipikir-pikir, mereka lumayan lama terpisah sejak Miranti memutuskan untuk bekerja di Jepang. Mereka tentu masih kurang berbagi mengenai hal apa saja yang telah mereka alami ketika beranjak dewasa. Hal itu jelas berbeda jika dibandingkan dengan kebersamaan mereka sewaktu masih kanak-kanak yang belum mengerti soal kehidupan. Namun sayangnya ... Miranti tidak punya cukup waktu untuk bisa saling berbagi kisah hidup dengan adiknya. Sungguh miris.
“Yaudah kalo mau kamu begitu,” ujar Regan kemudian. “Ingat, jaga baik-baik buku itu. Bisa jadi di dalamnya berisi aib Kak Mira yang nggak seharusnya dibaca sama orang lain. Jangan sampai ada orang yang membaca buku harian itu selain kamu, May.”
“Iya, aku akan simpan buku itu di tempat yang aman.”
Regan mengangguk-angguk. “Yaudah aku pamit dulu ya.”
Kini gantian Mayasari yang mengangguk. “Aku titip Ibu ya, Gan. Kalo kamu ada waktu, tolong kunjungi Ibu dan bilang kalo mulai sekarang aku cuma bisa datang seminggu sekali.”
“Pasti, May. Kamu nggak usah khawatir soal itu, aku akan datang jenguk ibu kamu setiap pulang kantor.”
“Makasih banyak, Gan. Aku nggak tau lagi gimana hidup aku tanpa kamu.”
Diam-diam, Regan merasa begitu tersanjung dibilang seperti itu. Kini hatinya jadi berdesir penuh harap, semoga saja kalimat itu akan menjadi pengantar menuju hubungan baru mereka yang jauh lebih dekat lagi. Ya, itulah harapan terbesar Regan saat ini, juga esok dan seterusnya sampai hal itu benar-benar terkabul.
~~~
“May?” Regan tiba-tiba bersuara saat ia dan Mayasari tengah merapikan barang-barang Mayasari di kamar barunya.
Mayasari pun menoleh sekilas, “Ya?” Setelah itu ia kembali berkutat dengan pekerjaannya memindahkan pakaian yang ada di koper ke dalam lemari. Habis Regan juga boro-boro menoleh, dia sibuk membongkar isi tas yang berisi pernak-pernik kepunyaan Mayasari. Entah itu peralatan make up, peralatan mandi, sepatu, tas-tas kecil, bahkan buku-buku novel dan biografi.
“Ada apa, Gan? Kamu capek? Mau aku buatin minum?” Mayasari akhirnya menegur lebih dulu lantaran beberapa menit pria itu hanya terus diam. Padahal tadi dia seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Nggak, aku nggak capek kok.” Regan menyahut, ia menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menatap Mayasari. “Dan nggak haus juga.”
“Terus kenapa tadi manggil?”
“Eh, itu ....” Regan tampak ragu-ragu. Sejujurnya memang ada suatu hal yang sedari tadi begitu ingin ia katakan pada Mayasari. Tetapi ia takut gadis itu akan tersinggung dan marah padanya.
“... nggak jadi. Lupain aja, hehehe.” Regan memutuskan untuk tetap menyimpan uneg-unegnya. Namun hal itu malah membuat Mayasari merengut jengkel akibat merasa penasaran.
“Kamu mah gitu, ih. Mau bikin aku mati penasaran ya?” dumal gadis itu, yang langsung disambut tawa renyah oleh Regan.
“Malah ketawa lagi?! Ada apa sih? Kasih tahu dong, Regan.”
Regan menarik napas dalam, lalu mengembuskannya sekaligus. Ia kini kembali memalingkan wajahnya dari Mayasari. Memutuskan untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya yang tadi sempat ia hentikan.
“Kamu ....” Regan akhirnya mau bicara. “... kamu kenapa bertindak sampai sejauh ini, May? Gimana nanti sama ibu kamu? Biasanya kamu kunjungi beliau hampir setiap hari, sekarang apa masih bisa begitu? Kamu mau pakai alasan apa ke Bagas dan Farah kalo kamu mau ngunjungin ibu kamu?”
Mayasari tertunduk dalam. Ada rasa sesal yang kini tampak jelas dalam sorot matanya.
“Jujur aku baru keingat soal Ibu, Gan, setelah kamu ingatin barusan.” Mayasari mengaku. Ia mendengus lelah kelihatan frustasi. “Hah ... mau gimana lagi? Aku udah terlanjur melangkah sampai titik ini, nggak mungkin aku mundur lagi hanya karena Ibu. Aku yakin, Ibu pasti menginginkan hal ini juga, Gan. Kalo aja Ibu sadar akan kenyataan pahit ini, aku yakin dia pasti juga menginginkan pembalasan dendam.”
“Gimana kalo ternyata enggak?”
Mayasari menatap Regan serius. “Dia ibu aku, Regan. Aku kenal dia. Ibu adalah orang pertama yang akan bertindak jika melihat putri kesayangannya disakiti. Jangankan orang lain, aku aja pernah dihukum berat karena sengaja ngempisin ban sepeda Kak Mira waktu kecil dulu dan akhirnya menyebabkan Kak Mira jatuh ke parit. Kamu tau hukuman apa yang aku dapat? Aku dikurung di dalam kamar mandi selama tiga jam sampai akhirnya Bapak pulang kerja dan bukain pintunya buat aku. Mangkanya dari dulu aku selalu iri sama Kak Mira, karena Ibu sesayang itu sama dia.”
Regan menghela napas pelan. “Tapi memangnya harus sampai sejauh ini kamu bertindak, May? Ingat, masih ada Tuhan yang akan membalas segala kejahatan yang dilakukan umatnya. Kamu hanya tinggal menunggu aja sampai karma datang sendiri menghampiri Bagas sebagai balasan atas pengkhianatan yang telah dilakukannya terhadap mendiang kakak kamu. Kamu nggak perlu melangkah sampai sejauh ini, May. Gimana kalo nanti malah kamu yang akan mendapat karma buruk itu sendiri?”
Mayasari menggeleng keras. “Kamu salah, Gan. Akulah karma yang Tuhan kirim untuk menghukum mereka.”
“May, tapi—”
“Regan, please stop ceramahin aku!” potong Mayasari tegas. “Aku masih tau batasan kok! Kamu tenang aja!”
Untuk ke sekian kalinya Regan merasa tak mampu melawan kehendak Mayasari. Ia pun hanya bisa mendengus lelah dan kembali fokus pada pekerjaannya saat ini. Kini ia hanya tinggal membereskan buku-buku koleksi Mayasari ke rak yang ada di dinding dekat ranjang.
Sampai tak sengaja ia menemukan sebuah buku usang bersampul kulit berwarna coklat, ada ukiran tulisan ‘Miranti’ di bagian tengah sampulnya.
“Maya ....” Regan menunjukkan penemuannya kepada Mayasari. “... ini apa?”
Mayasari yang masih tampak suntuk akibat teguran Regan, kini wajahnya semakin bertambah suntuk lagi setelah menerima buku asing itu dari tangan Regan. Pasalnya ia tidak ingat pernah memilikinya, terlebih ada ukiran nama sang kakak di sampulnya.
Mayasari pun membuka halaman pertamanya, dan barulah ia dapat menarik kesimpulan soal buku apa ini sebenarnya.
“Gan, kayaknya ini ....” Mayasari menggumam sendu. Ia lantas menatap Regan dalam dan melanjutkan, “... buku harian Kak Mira.”
~~~
“Aku pergi ya.” Regan yang kini sudah berada di dalam mobil berpamitan pada Mayasari yang tengah berdiri di depan pagar. Namun sepertinya gadis itu tak mendengar. Dia malah kelihatan linglung sedari tadi. Regan cukup mengerti, dia pasti agak terguncang setelah menemukan buku harian Miranti satu jam yang lalu.
“May?” Regan menegur sekali lagi dengan nada yang sedikit mengeras. Dan syukurlah kali ini Mayasari berhasil kembali dari lamunannya.
“Eh, iya! Hati-hati, Gan.” Ia melambaikan tangan kikuk. “Makasih banyak udah bantu-bantu aku beberes sejak subuh tadi.”
Regan hanya mengangguk tersenyum menanggapi. Tapi ia masih enggan beranjak pergi. Rasanya ia masih mencemaskan Mayasari. Lihat saja sekarang, gadis itu sudah kembali melamun lagi. Dia pasti masih kepikiran soal buku harian itu.
“May? Kamu kenapa sih dari tadi bengong terus?” Regan mempertanyakannya langsung. “Soal buku harian Kak Mira ya? Kamu takut buku itu nggak sengaja ketahuan sama Bagas atau Farah?”
Mayasari mendengus pelan, kemudian mengangguk lesu.
“Yaudah gini aja, mau aku bantu simpanin buku itu, nggak? Biar kamu nggak terus-terusan merasa cemas seperti ini.” Regan menawarkan.
Mayasari tampak berpikir sejenak, tentu itu tawaran yang menarik untuknya. Akan lebih aman kalau buku harian Miranti jangan ada di rumah ini. Kalau sampai Bagas atau Farah menemukannya, segala rencana pembalasan dendamnya akan hancur berantakan. Tapi ... Mayasari juga ingin membacanya. Ia ingin mengetahui lebih perasaan mendiang sang kakak yang selama ini jarang terbuka padanya. Terutama soal Bagas, ia ingin mencari tahu lebih dalam mengenai hubungan mereka dulu, lewat buku harian ini.
Setelah menimbang-nimbang, Mayasari pun akhirnya menggeleng pelan pada Regan. “Kayaknya aku simpan sendiri aja deh, Gan.”
“Yakin?”
Mayasari mengangguk. “Aku mau baca sedikit isi buku itu. Aku mau tau, gimana kira-kira hubungan Kakak dengan si b******k Bagas sebelum ini.”
Regan menatap dalam mengerti. Walau kedengarannya tidak sopan, tetapi Mayasari pasti ingin mengetahui segala hal yang Miranti tulis dalam buku harian itu. Jika dipikir-pikir, mereka lumayan lama terpisah sejak Miranti memutuskan untuk bekerja di Jepang. Mereka tentu masih kurang berbagi mengenai hal apa saja yang telah mereka alami ketika beranjak dewasa. Hal itu jelas berbeda jika dibandingkan dengan kebersamaan mereka sewaktu masih kanak-kanak yang belum mengerti soal kehidupan. Namun sayangnya ... Miranti tidak punya cukup waktu untuk bisa saling berbagi kisah hidup dengan adiknya. Sungguh miris.
“Yaudah kalo mau kamu begitu,” ujar Regan kemudian. “Ingat, jaga baik-baik buku itu. Bisa jadi di dalamnya berisi aib Kak Mira yang nggak seharusnya dibaca sama orang lain. Jangan sampai ada orang yang membaca buku harian itu selain kamu, May.”
“Iya, aku akan simpan buku itu di tempat yang aman.”
Regan mengangguk-angguk. “Yaudah aku pamit dulu ya.”
Kini gantian Mayasari yang mengangguk. “Aku titip Ibu ya, Gan. Kalo kamu ada waktu, tolong kunjungi Ibu dan bilang kalo mulai sekarang aku cuma bisa datang seminggu sekali.”
“Pasti, May. Kamu nggak usah khawatir soal itu, aku akan datang jenguk ibu kamu setiap pulang kantor.”
“Makasih banyak, Gan. Aku nggak tau lagi gimana hidup aku tanpa kamu.”
Diam-diam, Regan merasa begitu tersanjung dibilang seperti itu. Kini hatinya jadi berdesir penuh harap, semoga saja kalimat itu akan menjadi pengantar menuju hubungan baru mereka yang jauh lebih dekat lagi. Ya, itulah harapan terbesar Regan saat ini, juga esok dan seterusnya sampai hal itu benar-benar terkabul.
~~~