Happy birthday to you ... Happy birthday to you .... Happy birthday dear Regan ... Happy birthday to you ...."
Mayasari menyanyikan lagu selamat ulang tahun di tengah nyala lilin yang berpendar di atas kue tart yang dibelinya tadi sore. Di hadapannya ada Regan yang tengah tersenyum bahagia mendapat kejutan kecil ini. Sungguh ia tidak menyangka Mayasari ternyata mengingat hari ulang tahunnya. Dan terlebih ... dia cantik sekali hari ini. Apa dia sengaja berdandan untuknya?
Regan bukannya mau kegeeran, tetapi Mayasari memang tampak spesial malam ini—dengan dress merah maroon selutut, juga rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai. Regan berkata begini, karena biasanya kalau hari gini Mayasari agak terlihat kusut dengan sisa make up tebalnya, rambutnya juga dicepol tanpa ada poni yang dibiarkan tergerai menutupi dahinya. Setidaknya begitulah Mayasari yang biasa Regan lihat dulu, sewaktu gadis itu masih bekerja sebagai SPG dan baru pulang menjelang tengah malam dengan wajah yang sudah tidak berbentuk lagi. Tapi malam ini semuanya berbeda. Dan perbedaan sekecil itu ternyata cukup untuk membuat dada Regan berdebar tidak karuan.
“Woy, malah bengong.” Mayasari menegur sambil terkekeh. “Ditiup dulu lilinnya. Keburu lelehannya masuk ke krim, nggak enak nanti.”
“Eh, iya, iya.” Regan buru-buru menegakkan badannya.
Ia mengatupkan kedua tangan sejenak, memejamkan mata, lalu meniup satu-satunya lilin angka yang menancap di atas kue tart itu sampai padam. Mayasari langsung bertepuk tangan heboh, sampai-sampai suaranya memantul di dinding kamar kos Regan yang sempit ini.
“Selamat ulang tahun, Regan. Panjang umur, sehat terus, cepat naik jabatan biar bisa traktir aku tiap minggu.”
Regan tertawa. “Doanya kok ujung-ujungnya buat kamu sendiri?”
“Ya sekalian dong, mumpung lagi buka lapak doa,” sahut Mayasari cengengesan seraya mulai memotong kue itu menjadi beberapa bagian. “Tadi kamu minta apa sih pas merem-merem gitu?”
“Rahasia.”
“Ih, pelit banget.”
“Bukan pelit. Kalo dikasih tau nanti nggak terkabul.”
Mayasari mendengus geli, lantas menyodorkan sepotong kue di atas piring plastik kepada Regan. Pria itu menerimanya sambil terus memandangi wajah Mayasari yang malam ini kelihatan hidup kembali. Sudah lama sekali ia tidak melihat gadis itu tertawa tanpa ada beban yang mengganjal di baliknya. Rasanya seperti bertemu kembali dengan Mayasari yang dulu, yang masih suka merengek minta dibonceng keliling kota tiap kali gajian.
“Omong-omong ...,” Regan membuka suara setelah menelan suapan pertamanya, “... kamu kok bisa keluar malam-malam gini? Bu Farah ngizinin?”
Mayasari mengangguk sambil mengunyah. “Ini hari libur pertama aku. Bu Farah bilang aku boleh ambil satu hari tiap minggu, asal ngabarin dari jauh-jauh hari. Tadi pagi aku juga udah ke tempat perawatan Ibu dulu.”
Regan menurunkan piringnya perlahan. “Gimana keadaan Ibu?”
Sejenak Mayasari berhenti mengunyah. Senyum yang sedari tadi terpasang di bibirnya kini luntur sedikit demi sedikit, digantikan oleh sorot mata kosong yang sudah terlalu sering Regan lihat belakangan ini.
“Ya ... gitu deh,” Mayasari menjawab pelan. “Aku dipanggil Mira lagi sama beliau, Gan. Udah tiga kali kunjungan dipanggil begitu terus. Aku dipeluk, dielus-elus kepalanya, terus dibilangin, 'Mira jangan pergi jauh-jauh lagi ya, Nak. Ibu takut sendirian.'”
Regan terdiam. Tangannya sempat bergerak hendak meraih tangan Mayasari yang tergeletak di atas meja, tetapi ia urungkan di detik terakhir. Ia tidak pernah cukup berani untuk hal-hal semacam itu.
“Aku iyain aja,” lanjut Mayasari sambil tertawa kecil, tawa yang terdengar begitu hambar. “Buat apa aku ralat? Toh kalo aku bilang aku Maya, beliau malah nangis nggak berhenti sampai perawatnya kewalahan. Jadi ya udah, seminggu sekali aku jadi Kak Mira. Sehari doang kok.”
“May ....”
“Udah, jangan dibahas.” Mayasari langsung memotong seraya meraih tas kecil di sampingnya. “Ini 'kan hari ulang tahun kamu, bukan hari sedih-sedihan aku.”
Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berbalut kertas cokelat dan menyerahkannya pada Regan. Pria itu menerimanya dengan alis bertaut heran.
“Apa nih?”
“Buka aja.”
Regan membuka bungkusan itu hati-hati. Di dalamnya ternyata ada sepasang sarung tangan riding berwarna hitam, sederhana, tetapi jelas dipilih dengan pertimbangan. Regan sampai terpaku beberapa saat memandanginya.
“Punya kamu yang lama udah bolong di jari telunjuknya,” jelas Mayasari. “Aku lihat waktu kamu antar aku pindahan kemarin. Malu-maluin, masa pegawai kantoran motornya gede tapi sarung tangannya kayak punya tukang las.”
Regan tertawa lepas. Tetapi jauh di dalam dadanya ada sesuatu yang menghangat sekaligus mencubit. Mayasari masih sempat memperhatikan hal sekecil itu, di tengah hidupnya sendiri yang sedang berantakan seperti sekarang.
“Makasih banyak, May,” ucap Regan tulus. “Ini hadiah ulang tahun pertama aku setelah sepuluh tahun, tau nggak?”
“Sepuluh tahun?”
“Iya. Terakhir kali aku dikasih hadiah itu waktu masih di panti, dari Ibu Panti. Isinya sepatu bekas yang disemir sampai mengkilap.”
Mayasari tertawa, kali ini tawanya benar-benar tulus. Dan Regan berdoa dalam hati semoga malam ini berhenti saja sampai di titik ini, tanpa perlu berlanjut ke hal lain.
Sayangnya doa itu tidak dikabulkan.
~~~
Kue tart itu sudah tinggal separuh ketika Mayasari kembali merogoh tasnya. Kali ini yang ia keluarkan bukan bungkusan kado, melainkan sebuah buku usang bersampul kulit cokelat dengan ukiran nama 'Miranti' di bagian tengahnya.
Regan sontak menegang di tempat duduknya.
“Kamu bawa buku itu ke sini?!” Suaranya meninggi tanpa sengaja. “May, kamu bilang mau simpan di tempat yang aman.”
“Justru itu, Gan.” Mayasari menaruh buku itu di atas meja, tepat di samping piring berisi sisa kue. “Rumah itu bukan tempat yang aman. Kamarnya nggak ada kuncinya. Bu Farah bisa masuk kapan aja buat naruh cucian bersih. Jadi tiap aku keluar rumah, buku ini aku bawa.”
Regan mengembuskan napas panjang, setengah lega setengah cemas. “Terus ... kamu udah baca sampai mana?”
“Sepertiga.” Mayasari membuka halaman yang sudah ia lipat ujungnya. “Dan aku nemu sesuatu yang bikin aku nggak bisa tidur tiga malam, Gan.”
Gadis itu lalu membaca satu entri dengan suara pelan, nyaris berbisik.
“'Hari ini aku kirim lagi ke rekening Mas Bagas. Kalo dihitung-hitung totalnya udah delapan puluh tujuh juta sejak aku berangkat ke Jepang. Katanya buat modal usaha dulu, biar pas aku pulang kami nggak mulai dari nol. Aku percaya sama dia. Aku cuma minta satu, semoga pas aku pulang nanti dia yang jemput aku di bandara.'”
Mayasari menutup buku itu. Ruangan mendadak sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin tua yang berputar berdecit di pojok kamar.
“Delapan puluh tujuh juta, Gan,” ulang Mayasari datar. “Tiga tahun Kak Mira kerja mati-matian di negeri orang, semua uangnya dikirim ke pria itu. Dan waktu dia pulang, yang menyambut dia di bandara bukan Bagas—melainkan kabar pernikahan Bagas dengan perempuan lain.”
Regan tidak sanggup menjawab. Wajahnya kini pucat pasi. Ada sesuatu yang berputar-putar di kepalanya, sesuatu yang sedari tadi ingin ia bantah tetapi tidak bisa. Kantor tempatnya bekerja sekarang, perusahaan milik Bagas dan Farah itu, berdiri kira-kira tiga tahun yang lalu. Dan sepanjang yang pernah ia dengar langsung dari mulut Bagas di acara-acara kantor, modal awalnya katanya berasal dari warisan orang tua.
“Kamu lagi mikirin hal yang sama kayak aku 'kan?” Mayasari menatapnya tajam.
“May, jangan buru-buru nyimpulin,” ujar Regan susah payah. “Bisa aja itu cuma kebetulan. Bisa aja duitnya dipakai buat hal lain.”
“Bisa aja,” Mayasari mengangguk-angguk sinis. “Bisa aja juga meja yang kamu pakai kerja tiap hari itu dibeli pakai keringat Kak Mira, Gan.”
Regan terdiam. Jemarinya mendadak terasa dingin.
“Buku harian bukan bukti hukum, May,” katanya kemudian, berusaha berpikir jernih. “Kalo kamu mau mempermasalahkan ini, kamu butuh mutasi rekening, bukti transfer, saksi—”
“Siapa yang bilang aku mau bawa ini ke pengadilan?”
Kalimat itu keluar begitu tenang, begitu dingin, sampai Regan merasa bulu tengkuknya berdiri. Ia menatap Mayasari lama sekali, mencari-cari sisa gadis yang beberapa menit lalu masih tertawa lepas soal sarung tangan bolong. Tetapi gadis itu sudah tidak ada di sana.
“May, tolong ....”
Belum sempat Regan menyelesaikan kalimatnya, ponsel Mayasari bergetar di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang membuat perut Regan mendadak melilit.
Pak Bagas.
Sejenak Regan melirik jam dinding. Pukul sepuluh lewat dua puluh malam. Untuk apa seorang bos besar menelepon babysitter anaknya selarut ini?
Mayasari menekan tombol hijau. Dan dalam sepersekian detik, suaranya berubah total—manis, ringan, sedikit terengah seperti orang yang sedang buru-buru.
“Halo, Pak? Iya, ini saya .... Aduh, maaf ya, Pak, saya agak kemalaman .... Iya, ini juga saya udah di jalan pulang kok .... Eh? Nggak usah repot-repot, Pak, saya naik ojek aja, bentar lagi juga sampai .... Bapak mau jemput? Ya ampun, jangan, Pak. Kasihan Bu Farah kalo ditinggal berdua sama Nara malam-malam begini .... Iya, iya, saya langsung pulang. Makasih banyak ya, Pak.”
Sambungan diputus. Senyum manis itu ikut padam seketika, secepat lilin yang tadi ditiup Regan.
Mayasari lalu menoleh pada Regan, dan menyeringai tipis.
“Umpannya udah mulai dimakan, Gan.”
Regan tidak ikut tersenyum. Ia hanya memandangi lilin bekas yang tergeletak miring di atas sisa kue tart itu. Lilin yang tadi ia tiup sambil memanjatkan satu permintaan dalam hati: semoga Mayasari mau berhenti sebelum semuanya terlambat.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Regan menyadari bahwa yang paling ia takuti bukanlah Bagas. Melainkan gadis yang sedang duduk di hadapannya sambil membereskan piring-piring kotor bekas pesta kecil ulang tahunnya.
~~~