Telah terjadi insiden kebakaran sekolah yang di sebabkan oleh arus pendek listrik. Akibatnya semua murid di pindahkan ke sekolah-sekolah tetangga untuk mengikuti sesi ujian kenaikan kelas.
"Hai, kenalin aku Jen," Jen menyapa semua murid yang ada di kelas tersebut.
Jen adalah murid pindahan dari sekolah yang terbakar itu, dia di pindahkan ke sekolah Swasta yang bernama SMA Tribuana. Sekolah tersebut milik sebuah perusahaan yang di kelola oleh individu.
Tidak ada yang tahu kabar dari dalam sekolah itu karena sekolah itu menutup semua media untuk meliput kegiatan di dalamnya, tapi sekolah itu sudah mendapat izin untuk melakukan kegiatan mengajar seperti sekolah swasta lainnya.
Jen satu-satunya murid yang di masukan ke sekolah Tribuana, di karenakan sekolah-sekolah tetangga lainnya sudah terlalu banyak menerima murid pindahan dari sekolah yang mengalami kebakaran itu.
"Hai Jen!" balas seisi kelas dengan serentak.
"Baiklah Jen. silahkan duduk di bangku yang masih kosong," kata Ibu Guru.
Ada dua bangku yang masih kosong, satu di pojok kiri bagian belakang, dan satunya lagi ada di tengah bagian kanan. Jen berjalan menuju bangku yang di bagian tengah kanan.
"Eh tunggu-tunggu!" Mellan tiba-tiba beranjak dari kursinya dan menghadang Jen,
"Ada apa Mellan?" tanya Ibu Guru,
"Ini kan bangkunya Ruby buk, hari ini dia gak masuk kelas karena lagi sakit," sahut Mellan,
"Tidak apa-apa. Ruby masih bisa menempati bangku kosong yang di pojok itu," ujar Ibu Guru.
Jen tersenyum lalu berjalan melewati Mellan dan duduk di bangku kosong tersebut.
Mellan kembali duduk di bangkunya dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Kita mulai pelajarannya, siapkan mata dan telinga kalian, perhatikan ke depan dan fokus pada materi yang saya berikan," ujar Ibu Guru tersebut memulai pelajaran.
***
Teng teng teng tengg!!
Bel istirahat berbunyi, satu per satu murid meninggalkan kelas.
"Tunggu sebentar Raven!" Ibu Guru memanggil Raven yang hendak meninggalkan kelas,
"Iya buk?" tanya Raven menoleh,
"Tolong temani Jen ke ruang pustakawan untuk mengambil Kartu Nama nya," jawab Ibu Guru sambil membereskan barangnya,
"Baik buk."
Raven menunduk hormat saat Ibu Guru berjalan melewatinya dan keluar dari kelas tersebut.
Raven menatap Jen yang masih duduk di bangkunya, "Ayo."
"Hum!" Jen beranjak dari duduknya, dia menghampiri Raven lalu mereka pergi meninggalkan kelas.
***
Sepanjang jalan mereka hanya diam, sebenarnya Jen ingin memulai obrolan, tapi dia malu dan menunggu Raven.
Raven melirik Jen, Jen yang melihat lirikan Raven sontak panik lalu menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Raven,
"Ti-tidak ada apa-apa kok," jawab Jen gugup.
Gadis remaja itu merasakan perasaan aneh saat dia melihat Raven, seperti remaja yang baru puber lainnya, Jen diam-diam tertarik pada pria yang berjalan bersamanya saat ini.
"Sebelah sini," ucap Raven,
Jen yang tak sadar langsung berbalik lalu memasuki ruangan yang di tunjuk Raven, 'Duhh malunya..' batin Jen.
"Ada apa Raven?" tanya Diana, salah satu pustakawan yang sedang piket,
"Aku disuruh Ibu Guru untuk mengambil Kartu Nama dia," jawab Raven menunjuk Jen,
"Oh iya! Ini kartu namanya sudah jadi, di simpan baik-baik ya," ujar Diana sambil memberikan Kartu Nama tersebut pada Jen,
Jen menerima Kartu Nama dan sebuah peniti yang di tempelkan namanya juga.
"Yang itu di pakai di seragam mu," tutur Raven,
"Hah?"
"Berikan padaku." Raven merebut peniti nama itu, lalu menempelkannya pada seragamnya.
Wajah Jen seketika memerah, awalnya dia kira Raven akan melakukan hal yang tidak-tidak, karena dia menempelkan peniti nya tepat di atas d**a kanannya.
"Lihatlah, wajahnya memerah. Kau pandai merayu ya Raven.." kata Diana dengan senyum mengejek,
Jen semakin di buat gugup, kata-kata pustakawan itu membuatnya memalingkan wajah. "Aku permisi!"
Jen berlari meninggalkan ruang pustakawan tersebut.
Raven melirik Diana dengan senyum sinisnya, "Dasar diana.." gumam nya sembari melengos pergi.
Diana tersenyum, "Pepet terus ya! semoga sukses!!" teriak Diana.
***
Jen masuk kembali ke kelas, dan dia duduk di bangkunya dengan nafas yang tersengal-sengal, "Aku hampir meledak..." ucap Jen.
Keadaan kelas masih kosong, para murid pasti sedang berada di kantin.
"Aku tidak tahu kalau di sekolah ini ternyata banyak murid yang cantik dan tampan," ujar Jen,
"Dari dulu memang sekolah ini misterius sih, jadi aku baru mengetahui nya sekarang," imbuh nya.
Krucuuukk.. Suara perut Jen terdengar, dia segera beranjak dari duduk nya untuk kemudian berjalan pergi menuju kantin sebelum jam istirahat selesai.
Keadaan kantin saat itu tengah ramai, Jen yang kehabisan tempat duduk memilih untuk membawa makanan yang dia beli ke kelas.
"Lihat tuh si anak baru," ujar Mellan menatap sinis ke arah Jen.
Jen tidak menyadari kalau Mellan bersama kedua teman nya yang sedang duduk di pojokan tengah memperhatikan diri nya.
Kedua teman Mellan, Dewi dan Afika menatap satu sama lain, senyum evil terpampang di wajah mereka.
Mellan, Dewi dan Afika bangkit dari duduk nya lalu berjalan mengikuti Jen yang baru akan kembali ke kelas setelah mendapat camilan nya.
Sett.. tiba-tiba Raven datang menghadang Mellan dan kedua teman nya itu.
"Raven? k-kamu ada disini?" tanya Mellan gugup,
"Ya, ikut aku," jawab Raven,
Graab! Raven menarik pergelangan tangan kiri Mellan dari sana, "Eh? Raven!" Mellan sempat menoleh kedua teman nya dengan tatapan bingung,
Dewi dan Afika yang di tinggalkan menatap satu sama lain.
Rupanya Raven membawa Mellan ke tangga menuju atap sekolah.
Brukk! Raven mendorong tubuh Mellan duduk di anak tangga.
Mellan menaikkan satu alisnya, dia menatap heran Raven yang berdiri di hadapan nya.
"Apa?" tanya Raven,
"Kau yang apa!tiba-tiba kau menyeret ku kesini," jawab Mellan dengan tatapan kesal,
"Aku tahu niat buruk mu tadi," ucap Raven,
"Tapi bukan karena hal itu aku membawamu kesini.." imbuh nya.
Tak lama kemudian datang Juna, Riko dan Theo.
Mellan menatap ketiganya, "Oh kalian."
"Akhir pekan nanti Juna mau ngadain pesta setelah Ujian kenaikan kelas selesai, siapapun boleh datang," ujar Theo,
Juna mengangguk-angguk, "Gue pengen minta pendapat kalian, dimana tempat yang cocok buat ngadain pesta itu?"
"Kau tanyakan dia saja, wanita paling tahu urusan begitu," sahut Raven,
"Mmm.. gimana kalau di Villa punya bokap lu yang ada di tengah hutan itu?" tanya Mellan sesaat setelah dia berpikir,
"Gue setuju! malamnya kan kita bisa sambil kemah, bikin api unggun dan buat nambah keakraban sesama murid juga," tambah Riko,
"Iya ya, okelah, berarti fix kita adain di Villa gue ya," cetus Juna.
Juna, Mellan, Theo adalah orang populer di kalangan siswa seangkatannya.
Juna populer karena nakal, banyak siswa menyukainya karena dia humoris biarpun m***m.
Mellan populer karena pernah berpacaran dengan Theo, dia dianggap satu-satunya gadis yang berhasil membuat Theo tunduk di hadapannya.
Theo sendiri adalah ketua OSIS yang ramah, dia sering mondar mandir ke tiap kelas saat menjalani tugasnya, dan isunya sejak putus dari Mellan, Theo menjadi sosok pendiam.
Raven dan Riko masih misterius, tak banyak orang mengenal mereka, mereka hanya bicara pada orang-orang tertentu dengan pembicaraan tertentu.
Juna, Riko, dan Theo pergi meninggalkan tempat itu, di ikuti Raven dan Mellan dari belakang.