"Raven!"
Grep! Mellan berhasil meraih tangan Raven, seketika Raven menghentikan langkah kaki nya lalu menoleh,
"Maksud lo apa tadi? lo peduli sama tu anak baru?" tanya Mellan,
"Itu bukan urusan mu," jawab Raven,
"Ya urusan gue lah, lo aja seenaknya sama gue, lo bertingkah seakan lo itu pacar gue!" jelas Mellan menatap tajam.
Raven berbalik lalu mendekat pada Mellan, Mellan yang gugup lantas memalingkan wajahnya.
"Aku minta maaf."
Mellan terkejut saat mendengar permintaan maaf Raven, dia tidak menyangka kalau Raven mendekatinya hanya untuk minta maaf, Mellan yang sudah di buat ke ge'eran pun merasa kesal.
"Sekarang lepaskan tanganku," pinta Raven,
Mellan pun melepaskan tangan Raven, Raven yang sudah terbebas lalu melengos pergi meninggalkan Mellan begitu saja.
"Iiihhh!! ngeselin banget si Raven!" gerutu Mellan kesal.
"Gue gak tahu, apa yang gue rasain ini, tapi dia.. harusnya dulu gue deketin dia, bukan malah deketin si cupu Theo!" gumamnya.
***
Jen memandang Raven sambil tersenyum saat guru sedang menerangkan pelajaran di depan kelas.
Ibu Guru yang menyadari hal itu, berjalan menghampiri Jen di ikuti dengan pandangan para murid yang akhirnya mengetahui Jen sedang melamun.
"Wooo.. dia ngelihatin Raven,"
"Bisa-bisa nya di hari pertama sekolah,"
"Kayak baru pertama kali lihat cowok ganteng aja,"
Bisik-bisik para murid cewek.
Mellan menatap Jen dengan tatapan membunuh, dari awal dia sudah menduga kalau Jen menyimpan perasaan pada Raven.
"Jen!" tegur Ibu Guru memecah lamunan Jen,
"E-eh iya buk??" Jen seketika kaget lalu membuka buku nya sambil mencari halaman,
"Coba jelaskan apa yang Ibu terangkan di depan tadi," pinta Ibu Guru,
Jen yang kebingungan tidak dapat menjelaskannya, "Anu buk.. Itu.."
"Sekarang berdiri di lapangan, hormat pada bendera sampai jam pelajaran selesai!" ujar Ibu Guru,
"T-tapi buk?"
Semua murid lantas menertawakan nya, sebagian membully Jen karena tidak fokus.
Jen beranjak dari duduknya, dia meninggalkan bangkunya lalu pergi ke lapangan.
***
Teng teng tengg!! bel pulang berbunyi, semua murid mulai berkemas lalu satu per satu meninggalkan kelas.
Jen menurunkan tangannya yang terasa pegal karena hormat selama berjam-jam, dia segera berlari menuju kelas untuk mencari tas nya, tapi tak sengaja dia menabrak Raven yang baru saja keluar dari kelas.
"Aduh maaf! aku tidak melihatmu," ucap Jen,
"Tidak masalah," balas Raven sambil melengos pergi melewati Jen,
Jen sempat menoleh nya lalu masuk kedalam kelas.
"Dimana tas ku!"
Jen panik karena ternyata tas yang dia tinggal di bangku nya sudah tidak ada.
"Raven.."
Jen mencurigai Raven karena dia orang yang terakhir meninggalkan kelas.
"Tapi sepertinya dia tadi tidak membawa apa-apa," pikir Jen,
Jen segera mengejar Raven, dia berharap Raven belum keluar gerbang sekolah.
"Raven!" teriak Jen, dari kejauhan dia melihat Raven hendak pergi dengan motor kawasaki nya.
Raven mematikan mesin motornya, dia menunggu Jen yang berlari dengan tergesa-gesa saat menghampiri nya.
"Ada apa?" tanya Raven,
"Tas ku hilang, dan aku pikir kau membawanya.." jawab Jen sambil menunduk,
"Aku tidak membawa tas mu, aku juga tidak tahu, kalau kau menuduhku, silahkan periksa isi tas ku," ucap Raven melepas tas punggung hitam miliknya yang besar,
"Eh tidak tidak! tidak usah, maaf, aku tidak bermaksud menuduhmu.." ujar Jen meluruskan.
"Aku tidak bisa membantu mencari tas mu, karena aku buru-buru, maaf, aku duluan."
Raven menyalakan motor nya lalu melaju meninggalkan area parkir sekolah.
Jen terdiam di tempat, dia bingung harus mencari tas nya kemana.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba Mellan, Afika dan Dewi menghampiri nya.
"Nyari tas lo?" tanya Mellan,
"Eh iya, kalian tahu dimana tas ku?" tanya Jen bersemangat dengan harapan bisa menemukan tas nya.
"Barusan udah kami bakar, kayak sekolah lo yang terbakar," sahut Afika tanpa ada penyesalan sedikit pun di wajahnya.
"A-apa? kalian membakar tas ku? tapi kenapa? salah aku apa?" tanya Jen dengan mata yang mulai berkaca-kaca saat mendengar kabar buruk tersebut,
"Lo gak salah apa-apa sih, kita pengen aja bakar tas lo," jawab Dewi dengan enteng.
"Heh!" Mellan mendorong bahu Jen, "Lo itu anak baru disini, gak usah banyak tingkah, caper kan lo sama Raven?"
"Emangnya kamu siapanya Raven?" tanya Jen,
"Pake nanya lagi. udah deh, kalau lo masih mau sekolah disini, lo harus ikutin aturan gue! gak usah sok cantik lo!" jawab Mellan dengan kata-kata yang tidak mengenakan.
Jen yang tak kuat dengan bullyan tersebut langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.
Mellan, Afika dan Dewi pun saling tos satu sama lain sambil tertawa puas.
***
Keesokan harinya, Jen tidak masuk kelas.
"Kemana Jen?" tanya Ibu Guru,
Tidak ada yang menjawab, Ibu Guru menatap Raven yang sedang memainkan pena nya.
"Raven!" panggil Ibu Guru,
"Iya Buk?" sahut Raven.
"Setelah kamu pulang sekolah nanti, Ibu minta kamu pergi ke rumah nya Jen, dan jelaskan pelajaran yang hari ini Ibu ajarkan, ini penting untuk ujian minggu depan," Ujar Ibu Guru,
"Aku gak tahu rumahnya dimana buk," balas Raven,
"Nanti Ibu kasih kamu alamatnya,"
"Baik Buk."
Mellan yang mulai emosi tiba-tiba beranjak berdiri sambil menggebrak mejanya.
"Kenapa Raven mulu sih Buk?! aku heran deh sama Ibu, Ibu tuh dari dulu selalu aja nyuruh-nyuruh Raven, kenapa gak yang lain? Apa jangan-jangan Ibu suka ya sama Raven?" protes Mellan di akhiri dengan tatapan sinis,
Aksi berani Mellan mengundang perhatian murid lain, Raven juga menatapnya dengan tatapan dingin.
"Jadi kamu ingin tahu? biar saya beritahu, Raven adalah anak kandung saya!"
Pernyataan Ibu Guru membuat kedua mata Mellan terbelalak kaget, mulutnya membentuk huruf 'O', tak hanya Mellan, murid yang lainnya juga sama terkejutnya.
Ibu Guru Meyra merupakan guru termuda di sekolah itu, dia jarang berbaur dengan guru lainnya, tapi seiring waktu para murid bisa melihat kedekatan Ibu Guru dengan Raven. Sebelumnya Ibu Guru dan Raven di gosipkan mempunyai hubungan semacam pacar gelap, tapi ternyata mereka adalah Ibu dan anak.
"Ibu jangan bercanda deh, usia Ibu tuh masih muda, bagaimana bisa Raven adalah anak kandung Ibu?" Mellan tak percaya,
Ibu Guru Meyra tiba-tiba melengos pergi meninggalkan kelas sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
Kelas pun hening, Raven juga bungkam, dia hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa, sementara para murid lainnya mulai berbisik-bisik mengobrol dengan pernyataan Ibu Guru Meyra.
'Duh.. kok malah jadi kayak gini? gimana kalau ternyata Ibu Guru Meyra itu emang bener ibu kandung nya Raven? mati gue..' batin Mellan dengan wajah berkeringat.