Gilang mengumumkannya di meja makan apartemen galeri — bukan di Menteng, karena Menteng sudah bukan tempat untuk pembicaraan sejak malam folder itu.
Dia datang dengan membawa makan malam, dengan strategi yang sudah sangat Sari kenali: datang dengan damai di tangan kanan, dan agenda di tangan kiri. Damai itu berupa nasi goreng dari tempat yang dulu mereka sukai. Agendanya berupa satu kalimat yang diucapkan di sela suapan ketiga:
'Minggu depan saya ke Semarang. Site visit material. Pabrik keramik, vendor kayu. Sehari dua malam.'
Sari tidak berhenti makan. Itu penting. 'Sendirian?'
'Karin ikut. Ini teknis.' Gilang mengatakannya seperti orang melaporkan cuaca. 'Kamu jaga galeri.'
Kamu jaga galeri.
Tiga kata yang disusun seperti kepedulian, yang berfungsi seperti penempatan. Sari meletakkan sumpitnya, menatap suaminya di atas meja makan yang sudah lama tidak dipakai untuk makan bersama, dan merasakan sesuatu di dadanya yang sudah tidak sakit lagi — hanya mencatat, dengan efisiensi yang mulai menakutkan dirinya sendiri.
'Baik,' katanya. 'Saya minta itinerary tertulis. Hotel, jadwal pabrik, nama kontak vendor. Untuk arsip pemilik bersama.'
Gilang memandanginya. 'Itinerary.'
'Itinerary. Kamu CEO. Kamu tahu dokumen perjalanan dinas itu standar. Kalau ini teknis, seharusnya tidak masalah.'
Dan Gilang — dengan segala pengalamannya menolak permintaan di ruang rapat — tidak menemukan satu pun alasan untuk menolak permintaan itu tanpa mengonfirmasi segalanya. Jadi dia mengangguk kaku, dan dua hari kemudian sebuah dokumen masuk ke email Sari: itinerary satu halaman, tipis seperti kertas yang ditarik terlalu keras. Dua pabrik. Satu vendor kayu. Satu nama hotel — hotel boutique di kawasan lama, tanpa detail kamar.
Sari membacanya seperti membaca provenance: tidak pada apa yang tertulis, tapi pada apa yang tidak tertulis.
Satu nama hotel. Tanpa detail kamar. Untuk dua orang. Sehari dua malam.
*
Bimo menelusurinya dalam empat hari.
Bukan dengan cara-cara film — tidak ada penyadapan, tidak ada orang bertopi di mobil. Hanya dengan cara-cara yang membosankan dan sah: kartu korporat yang biasa dipakai Gilang untuk perjalanan dinas mengirimkan salinan invoice awal ke email administrasi perusahaan, dan perusahaan itu — Mahendra Infra, tempat Sari masih tercatat sebagai pemilik saham minoritas dari tahun-tahun awal, dari zaman 'kita bangun dari nol' — punya jalur administrasi yang bisa diakses dengan permintaan resmi.
Invoice awal itu masuk sebelum ada yang sempat menggesernya.
Bimo meletakkannya di meja kantornya dengan ketenangan seorang pria yang sudah melihat terlalu banyak pernikahan berakhir di atas kertas: 'Hotel boutique. Satu suite. Dua tamu. Bukan dua kamar — satu suite, tipe yang ada ruang tamunya, supaya bisa dijelaskan nanti sebagai 'efisiensi'. Mereka bahkan tidak berusaha lebih keras dari itu.'
Sari memandangi print itu lama.
Satu suite. Dua tamu. Dan alamat email administrasi yang seharusnya tidak pernah melihatnya, melihatnya lebih dulu daripada istri — karena di perusahaan yang mereka bangun dari nol, bahkan perselingkuhan pun tercatat sebagai biaya perjalanan.
'Kamu mau apa dengan ini?' tanya Bimo. 'Secara hukum, posisimu kuat. Tapi saya perlu tahu ujung yang kamu mau: negosiasi, atau perang.'
Sari memikirkannya sepanjang jalan pulang, di mobil, di macet yang sudah tidak dia rasakan lagi. Negosiasi atau perang. Dan dia sampai pada jawaban yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri: belum keduanya. Sebelum negosiasi, sebelum perang, ada satu hal yang harus dia lakukan dengan matanya sendiri — karena kurator tidak pernah menulis katalog dari foto.
Dia harus melihat mereka pulang.
*
Dia menunggu di bandara kepulangan, di hari yang tertulis di itinerary tipis itu.
Tidak di area kedatangan yang penuh penjemput — di sisi kafe lantai dua, dengan meja yang menghadap ke pintu keluar, dengan kopi yang tidak dia sentuh dan print invoice di tasnya seperti tiket masuk ke pertunjukan yang tidak ingin dia tonton.
Mereka keluar pukul sembilan malam. Gilang duluan, dengan koper dan dengan wajah lelah yang tampak asli — site visit memang melelahkan, Sari tidak menyangkal itu, keramik itu berat dan dusta itu lebih berat. Karin dua langkah di belakangnya, dengan tote bag dan dengan leher yang menoleh ke Gilang setiap beberapa detik, seperti orang yang memeriksa apakah mereka masih satu paket.
Ada satu detail kecil yang ditangkap mata Sari dari lantai dua — detail yang tidak akan berarti apa-apa bagi orang lain, tapi berarti segalanya bagi seorang kurator: Gilang menarik kopernya sendiri, tapi langkahnya menyesuaikan langkah Karin. Melambat ketika Karin melambat. Menunggu ketika Karin berhenti mengikat sepatu. Sembilan tahun menikah, dan Sari tidak pernah sekalipun menerima penyesuaian langkah seperti itu — Gilang selalu berjalan tiga langkah di depannya, selalu, di bandara mana pun, di mal mana pun, seolah istrinya adalah rombongan yang harus mengejar.
Ternyata dia bisa berjalan pelan. Hanya saja, tidak untuk istrinya.
Mereka berjalan ke parkiran bersama. Satu koper. Satu tote bag. Dua orang yang kembali dari satu suite.
Dan Sari tidak turun menemui mereka di sana. Dia hanya menyaksikan dari lantai dua, memotret sekali — satu foto, bukti waktu, bukan bukti tubuh — dan menuliskan satu baris di catatannya dengan tangan yang tidak gemetar:
*Kepulangan: satu mobil, dua koper, nol jarak. Invoice: satu suite, dua tamu. Itinerary tipis: terkonfirmasi.*
Kemudian dia turun ke parkiran, ke mobilnya sendiri, dan menunggu.
Karena konfrontasi tidak dilakukan di depan pintu kedatangan. Konfrontasi dilakukan di dalam mobil yang terkunci, di antara dua kursi, di ruang sekecil mungkin — supaya tidak ada satu pun kata yang bisa kabur ke mana-mana.
Gilang akan sampai ke mobil itu sebentar lagi, setelah mengantar sedan putih itu pergi.
Dan Sari menunggu dengan print di tasnya, dengan napas yang rata, dengan satu-satunya keuntungan yang dimiliki orang yang sudah tahu segalanya:
Dia tidak perlu bertanya apa-apa. Dia hanya perlu menyaksikan jawaban-jawabannya berjatuhan.