Email itu datang Senin pagi, dengan kecerahan yang bisa memantulkan cahaya dari layar.
*Selamat pagi, Bu Sari. Mohon approval untuk palette ruang keluarga & master bedroom. Pak Gilang sudah setuju. Butuh tanda tangan Ibu agar vendor bisa jalan. Terima kasih, Bu. — Karin Oktavia.*
Sari membacanya dua kali di meja galerinya, dengan kopi yang mendingin di sebelahnya, dengan sesuatu yang menyerupai kekaguman pada keberanian struktur kalimatnya: *Pak Gilang sudah setuju.* Bukan 'kami menunggu masukan Ibu'. Bukan 'sesuai diskusi kita bertiga'. Pak Gilang sudah setuju — seolah tanda tangan istri hanyalah formalitas, stempel karet di akhir rantai keputusan yang sudah selesai dibuat di tempat lain.
Mungkin di suite hotel. Atau di rumah masa depan yang punya kamar seperti itu.
Sari menyusun balasannya dengan hati-hati. Bukan dengan marah — marah adalah kemewahan yang tidak dia izinkan masuk ke tulisan resmi. Dengan presisi.
*Selamat pagi. Sebelum approval apa pun, kirimkan ke saya: (1) daftar lengkap semua revisi desain sejak awal proyek, (2) update fee dan addendum-nya, (3) rincian pengeluaran site visit sejauh ini. Saya review dulu sebagai pemilik bersama. Setelah lengkap, baru kita bicara tanda tangan. — Sari Mahendra.*
Dia mengirimnya. Dan menunggu dengan tenang, seperti orang yang sudah meletakkan bidaknya dan tahu bidak lawan harus bergerak.
Balasan tidak datang dari Karin.
Balasan datang dua puluh menit kemudian dari telepon, dari nama yang tiga hari tidak meneleponnya sama sekali: Gilang.
'Jangan hambat timeline!' Suaranya meledak sebelum sapaan. 'Vendor menunggu. Jadwal mundur seminggu. Kamu tahu jamuan investor—'
'Jamuan investor tidak butuh palette ruang keluarga, Gilang. Jamuan investor butuh rumah yang berdiri. Dan rumah ini berdiri di atas uang yang ingin saya lihat angkanya.'
'Angka?' Suaranya naik satu tingkat lagi. 'Sekarang kamu audit saya? Kamu pikir kamu sedang memeriksa koleksi palsu?'
'Justru sebaliknya.' Sari menatap instalasi rumah kosong di ujung ruang pamer, yang menatapnya balik seperti selalu. 'Saya sedang memeriksa yang asli. Yang asli selalu lebih sulit diterima daripada yang palsu. Kamu harusnya tahu itu — kamu yang menikahi kurator.'
Telepon itu hening sebentar. Lalu suara Gilang turun ke nada yang lebih dingin, nada yang dipakai untuk menyampaikan ancaman yang dibungkus sebagai saran:
'Dengar. Rumah ini proyek kita. Jangan jadikan medan perang. Tarik permintaan dokumen itu. Kita selesaikan seperti keluarga.'
'Keluarga,' ulang Sari. 'Keluarga tidak punya folder refs private, Gilang. Keluarga tidak punya rumah masa depan dengan kamar seperti itu. Kamu mau menyelesaikan ini seperti keluarga? Kirim dokumennya. Semua. Sampai ke rupiah terakhir.'
Dan dia menutup telepon itu dengan satu kalimat yang sudah dia siapkan sejak malam di apartemen:
'Saya hambat kebohongan. Timeline bisa menunggu. Folder tidak bisa di-unsee.'
*
Sore harinya, email dari Karin datang lagi — kali ini tanpa kecerahan: lampiran-lampiran yang terlihat lengkap, daftar revisi yang terlihat rapi, rincian fee yang terlihat masuk akal.
Terlihat.
Sari membacanya dengan mata seorang kurator yang dua puluh tahun — sembilan tahun galeri sendiri, sebelumnya tahun-tahun di lembaga lain — dilatih membaca dokumen provenance. Dan seperti provenance yang dipalsukan, semuanya terlalu rapi di permukaan dan terlalu sunyi di bawahnya: tidak ada addendum resmi untuk kenaikan fee, tidak ada rincian untuk 'allowance site visit', tidak ada satu pun tanda tangan kedua pemilik.
Ringkasan yang rapi di permukaan. Kosong di bawahnya.
Sari membawanya ke Bimo keesokan harinya, ke kantor kecil di Kuningan itu, dan mereka membedahnya berdua di atas meja yang penuh kopi dan stabilo.
'Lihat ini,' ucap Bimo, menunjuk kolom fee dengan ujung penanya. 'Fee desain naik dua kali. Sekali di bulan kedua, sekali di bulan keempat. Kenaikan fee itu sah kalau ada addendum — perjanjian tambahan yang ditandatangani kedua pihak. Di sini tidak ada addendum. Hanya ada... penyesuaian.'
'Penyesuaian sepihak?'
'Penyesuaian yang ditandatangani Gilang sendiri.' Bimo menatapnya sebentar, memastikan dia mengikutinya. 'Artinya begini: suamimu menaikkan bayaran desainer itu dua kali, dari anggaran rumah tangga kalian, tanpa memberitahumu, tanpa tanda tanganmu sebagai pemilik bersama. Secara hukum keluarga, itu pengeluaran tanpa persetujuan. Secara hukum kontrak, itu cacat. Dan secara akal sehat—' dia meletakkan penanya, '—orang tidak menaikkan fee dua kali tanpa alasan. Kecuali fee itu bukan cuma fee.'
Sari memandangi angka-angka itu. Angka tidak pernah berbohong — mereka hanya menunggu orang yang bisa membacanya. Dan yang dibacanya dari angka-angka itu adalah sesuatu yang membuat perutnya dingin: fee yang membengkak dua kali, tepat setelah dua site visit, tepat setelah dua malam yang tidak pernah dia ketahui ada.
'Kita belum punya bukti fee ini mengalir ke hal pribadi,' kata Bimo hati-hati. 'Tapi polanya sudah bernyanyi. Saya akan minta akuntan kecil saya membedah sisanya. Kamu pulang. Jangan sentuh apa pun. Dan Sar—' dia menatapnya dengan tatapan yang jarang dia pasang, tatapan yang bukan pengacara, '—bersiaplah. Angka-angka seperti ini selalu lebih buruk di bawahnya daripada di permukaannya.'
Sari meneruskan semuanya ke satu alamat dengan satu baris pesan:
*Bimo. Mulai dari sini. Ada yang tidak beres di angkanya — saya bisa menciumnya seperti mencium retouching.*
Dan dia menyimpan email asli dari Karin — yang cerah, yang 'Pak Gilang sudah setuju' — ke folder arsipnya, di samping folder *Foto RAB*, di samping hard disk berisi rumah masa depan orang lain.
Arsipnya tumbuh. Dan setiap arsip yang tumbuh adalah satu langkah lebih jauh dari wanita yang dulu menandatangani approval tanpa membaca.
Di layar laptopnya, moodboard bukti jauh lebih jujur daripada moodboard dinding.
Dan Sari Mahendra, untuk pertama kali, merasa renovasi itu berhasil — setidaknya pada satu hal: membuka apa yang selama ini ditutup cat lama.
Dia menutup laptop malam itu dengan pikiran yang jernih seperti air keran vendor: besok Gilang akan menelepon lagi, atau tidak. Besok Karin akan mengirim email cerah lagi, atau tidak. Terserah. Bidaknya sudah berjalan. Dan dalam permainan apa pun, orang yang bergerak lebih dulu dengan dokumen adalah orang yang tidak perlu berteriak di kemudian hari.