Gilang pulang lebih awal dari survey marmer.
Sari mendengar mobilnya masuk saat dia sedang berdiri di ruang keluarga, dengan hard disk yang sudah aman di tasnya, dengan wajah yang sudah dia tata sejak dari wastafel. Dia mendengar langkahnya di koridor — langkah yang berhenti sepersekian detik di ambang pintu, langkah orang yang mendapati istrinya berdiri di ruangan yang tidak seharusnya.
'Kamu di sini.'
'Mengecek keramik,' kata Sari, tanpa berbalik. 'Dan laptopnya masih di sini. Kamu meninggalkan laptop proyek di rumah yang pintunya terbuka. Sembarangan untuk seorang CEO.'
Gilang masuk lebih jauh. Matanya ke laptop, lalu ke Sari, lalu ke laptop lagi. 'Ngoprek laptop?'
'Sinkron moodboard ke tablet saya,' jawab Sari, dan kebohongan itu keluar dengan mulusnya seorang profesional. 'Supaya saya tidak — apa istilahmu kemarin — jarang datang.'
Dia berbalik. Dan dia memandanginya, dan dia memutuskan, di detik itu, bahwa dia tidak akan bermain lebih lama dari yang perlu. Folder itu sudah disalin. Posisinya sudah aman. Dan ada satu hal yang ingin dia lihat dengan matanya sendiri: wajah suaminya saat ditanya.
'Ada foto hotel di folder refs,' katanya. 'Survey material?'
Gilang terpaku.
Hanya satu detik — tapi satu detik itu berisi seluruh jawaban yang Sari butuhkan. Wajah Gilang Mahendra, yang bisa menahan tatapan dua belas investor tanpa berkedip, retak di satu kata: hotel.
'Karin dokumentasi gaya,' katanya akhirnya. 'Referensi lighting kamar hotel. Standar.'
'Standar selingkuh memakai referensi hotel.'
Sari mengatakannya pelan — tidak berteriak, tidak melempar apa pun, karena orang yang berteriak sedang kehilangan pegangan dan dia baru saja menemukan pegangannya. 'Saya diam di depan mandor. Jangan paksa saya diam di depan folder ini.'
Gilang menutup laptop itu dengan bunyi yang lebih keras dari yang diperlukan. Dan ketika dia menjawab, suaranya memakai nada yang paling Sari benci dari semua nada yang dimiliki suaminya: nada terapi, nada orang yang mengubah tuduhan menjadi diagnosis.
'Kamu menggeledah. Itu tidak sehat. Proyek ini untuk kita. Jangan racuni dengan otak kurator yang suka mencari makna gelap di setiap frame.'
Makna gelap di setiap frame.
Sari hampir tertawa. Suaminya baru saja menyalahkan profesinya atas foto-foto yang disimpannya sendiri — menyalahkan mata yang melihat, bukan tangan yang membuat. Strategi yang tua, strategi yang selalu dipakai orang yang kehabisan alibi: bukan aku yang salah, tapi caramu melihat yang terlalu tajam.
Dan Gilang belum selesai. Dia melangkah lebih dekat, dengan nada yang berpura-pura menjadi lembut — nada perbaikan, nada yang selalu datang setelah nada serangan gagal: 'Sar. Kita bicarakan ini seperti orang dewasa. Kamu capek. Galeri hampir pameran. Renovasi bikin stres. Aku mengerti. Tapi jangan sampai stres membuatmu melihat hal-hal yang tidak ada.'
Hal-hal yang tidak ada.
Sari memandanginya, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, dia melihat suaminya bukan sebagai lelaki yang dia cintai, bukan sebagai lelaki yang mengkhianatinya — tapi sebagai objek studi. Lelaki yang berdiri di depan bukti dan memilih untuk menegosiasikan realitas. Di dewan direksi, kemampuan itu disebut kepemimpinan. Di ruang keluarga yang setengah jadi, kemampuan itu disebut satu-satunya hal yang tersisa dari orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.
'Ada foto dua gelas di meja hotel,' katanya, datar. 'Ada selfie cermin. Ada caption tentang rumah masa depan. Mana bagiannya yang tidak ada, Gilang? Jelaskan padaku bagian yang tidak ada. Pelan-pelan, supaya otak kuratorku yang lelah ini bisa mengikutinya.'
Gilang tidak menjawab.
Dan keheningan itu — keheningan seorang lelaki yang biasanya selalu punya jawaban untuk segalanya — adalah jawaban yang paling lengkap yang pernah dia berikan dalam sembilan tahun pernikahan mereka.
'Saya kurator,' sahutnya. 'Saya ahli membedakan karya dari sampah yang dipajang mahal. Folder itu sampah yang kamu pajang di rumah kita.'
Dia mengambil tasnya, dan berjalan melewati suaminya, dan berhenti sebentar di ambang pintu — karena ada satu kalimat lagi yang harus ditinggalkan di ruangan itu, seperti label kecil di samping karya.
'Rumah masa depan kita punya kamar seperti ini,' bacanya pelan, tanpa berbalik. 'Caption yang bagus. Sayang tidak pernah terkirim.'
Dan dia keluar, meninggalkan Gilang berdiri di tengah ruang keluarga yang dindingnya masih dempul, dengan laptop yang tertutup, dengan caption yang sudah terbaca, dengan tidak ada satu pun kalimat yang tersisa untuk diucapkan.
*
Malam itu Sari tidak pulang ke Menteng.
Dia mengendarai mobilnya tanpa tujuan selama dua puluh menit — bukan karena tidak tahu harus ke mana, tapi karena untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, dia tidak punya rumah untuk pulang. Ada rumah di Menteng, tentu. Ada apartemen di belakang galeri. Tapi rumah dalam arti yang sebenarnya — tempat yang membuatmu ingin kembali — tidak ada dalam daftarnya malam itu.
Akhirnya dia berhenti di bahu jalan, di bawah lampu jalan yang kuning, dan membiarkan dirinya melakukan satu hal yang sudah dia tahan sejak folder itu terbuka: menangis. Lima menit. Tepat lima menit — dia menghitungnya, karena bahkan dalam tangis pun Sari Mahendra tidak bisa berhenti menjadi orang yang teratur. Lalu dia menyeka wajahnya, membetulkan spion tengah, dan menyalakan mesin lagi.
Lima menit untuk sembilan tahun. Sisanya akan dia cicil nanti, di malam-malam yang lebih panjang, dengan bunga yang lebih rendah.
Dia tidur di apartemen belakang galeri — sofa staf, selimut pameran, langit-langit yang tidak sedang direnovasi apa-apa. Dan sebelum tidur, dia membuka catatannya dan menulis dengan jari yang masih menyimpan sisa getar:
*Refs private. Selfie hotel. Caption: rumah masa depan. Alibi lighting. Hard disk: salinan aman. Saya tidak meledak. Saya menyalin.*
To black untuk Menteng yang setengah jadi dan sepenuhnya bohong.
Dan di kegelapan apartemen itu, Sari Mahendra memikirkan satu hal yang anehnya menghibur: bahwa suaminya benar dalam satu hal. Ini memang soal warm tone. Hanya saja, warm tone yang dipajang di folder itu bukan untuk rumah mereka.
Dan seseorang harus membayar biaya renovasi untuk rumah yang tidak pernah dibangun itu.