Kesempatan itu datang hari Sabtu, dengan bungkusan yang sempurna.
Gilang dan Karin berangkat pagi untuk 'survey vendor marmer' di kawasan industri — satu hari penuh, katanya, dengan Pak Joko ditinggal menjaga site yang pekerjaannya sudah menipis. Dan laptop proyek itu, seperti biasa, tertinggal di meja triplek: benda yang terlalu rutin untuk dibawa, terlalu aman untuk dikhawatirkan.
Sari datang ke Menteng dengan alasan yang sudah dia siapkan dan tidak dia perlukan: mengecek pengiriman keramik. Pak Joko menerima kopinya dengan dua tangan seperti biasa, dan ketika Sari berjalan ke arah meja triplek, mandor itu mengambil waterpass-nya dan pindah ke lantai dua — pindah dengan cara orang yang sudah lama tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya tidak dia saksikan secara resmi.
Sari akan berterima kasih padanya untuk itu, nanti, di hari-hari yang lebih baik.
Dia berdiri sebentar di depan meja triplek, di depan laptop yang tertutup itu, dan membiarkan dirinya satu detik untuk ragu. Sekali dibuka, tidak ada jalan kembali ke hari-hari sebelumnya — hari-hari di mana keraguan masih bisa dibungkus sebagai kepercayaan. Tapi kepercayaan yang butuh gelap untuk hidup bukanlah kepercayaan. Itu cuma penundaan.
Sari membuka laptop itu.
Laptop itu terbuka dengan satu klik. Layar masuk meminta kata sandi.
Sari mengetik tanggal anniversary mereka — tanggal yang dulu mereka rayakan dengan makan malam, kemudian dengan pesan singkat, kemudian dengan tidak sama sekali — dan layar itu terbuka seperti pintu yang tidak pernah dikunci.
Sombong pada nostalgia. Dia selalu tahu.
*
Folder proyek tersusun rapi di desktop: *Denah Final*, *RAB Update*, *Moodboard Living*, *Moodboard Bedroom*, *Vendor Kontak*. Sari membukanya satu per satu dengan metode kurator — cepat, sistematis, tanpa berhenti pada yang tidak penting.
Denah: bersih. RAB: bersih, setidaknya di permukaan. Moodboard Living: sampel kayu, palet warm tone, foto referensi dari majalah.
Dan di dalam *Moodboard Living*, di antara subfolder-subfolder yang dinamai dengan benar, ada satu subfolder yang tidak pernah dibahas di rapat mana pun:
*Refs private.*
Sari memandanginya selama tiga detik. Folder itu tidak terkunci. Folder itu bahkan tidak disembunyikan dengan baik — hanya diberi nama yang cukup teknis untuk tidak menarik perhatian istri yang 'jarang datang'.
Dia membukanya.
Bukan sampel kayu.
Foto-foto. Puluhan. Karin di site, tertawa, dengan helm miring yang ditegakkan oleh tangan yang tidak masuk frame. Gilang di belakangnya, tanpa helm, dengan senyum yang Sari kenali sebagai senyum dari tahun-tahun pertama — senyum yang sudah lama tidak dia terima. Foto dua gelas di atas meja hotel, diambil dari sudut orang yang duduk berhadapan. Dan satu foto di cermin — selfie cermin kamar hotel, Karin dengan handuk hotel di bahu, Gilang blur di latar belakang, dan caption yang tertulis di draft, tidak pernah terkirim:
*Rumah masa depan kita punya kamar seperti ini.*
Sari membaca caption itu dua kali. Tiga kali.
Ada satu tahap yang tidak pernah dibicarakan orang tentang menemukan bukti seperti ini: tahap di mana otakmu menolak membaca. Bukan karena tidak kuat — karena kalimat itu, sekali dibaca, tidak bisa dikembalikan. Sari tahu itu dari pekerjaannya: ada karya yang sekali kamu lihat retaknya, kamu tidak akan pernah bisa melihatnya utuh lagi. Dan caption di layar itu adalah retakan yang tidak akan pernah bisa dia un-lihat.
Tapi dia sudah terlalu lama bekerja dengan barang-barang retak untuk berpaling sekarang.
Jadi dia membacanya lagi, dan lagi, sampai kalimat itu kehilangan kemampuannya melukai dan berubah menjadi apa yang seharusnya: data. Satu baris teks, ditulis oleh seorang lelaki kepada perempuan lain, tentang rumah masa depan yang tidak akan pernah mereka bangun — karena rumah yang dibangun di atas reruntuhan rumah orang lain selalu, selalu, runtuh sebelum atapnya terpasang.
Tangannya berhenti gemetar di pembacaan kelima.
Lututnya lemah di atas debu gergaji, dan dia menurunkan dirinya ke kursi lipat dengan gerakan yang tidak dia rasakan. Tidak ada yang eksplisit di folder itu. Tidak ada yang bisa dipajang di meja hijau sebagai bukti ranjang. Tapi ada sesuatu yang lebih buruk dari eksplisit: ada masa depan. Ada 'rumah masa depan kita'. Ada rencana — dan rencana adalah satu-satunya bentuk pengkhianatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata 'khilaf'.
Khilaf tidak punya caption.
Sari duduk di kursi lipat itu, di tengah rumah yang setengah jadi, dengan layar yang menampilkan rumah masa depan orang lain — rumah yang dibangun di atas reruntuhan rumahnya sendiri.
Dan dia tidak menangis.
Dia bangkit, mengambil hard disk dari tasnya — hard disk yang selalu dia bawa untuk arsip karya galeri, yang tidak pernah dia bayangkan akan dipakai untuk ini — dan menyalin seluruh folder itu dengan tangan yang stabil.
Kurator tidak pernah menghancurkan bukti. Kurator mengarsipkannya.
Laptop dikembalikan ke posisi semula. Sudutnya, chargernya, debu di sekitarnya — semuanya kembali seperti tidak pernah disentuh.
Dan Sari mencuci tangannya di wastafel yang belum terpasang penuh, dengan air yang keluar dari selang, dengan gerakan yang pelan dan teliti, seperti orang membersihkan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata.
Di depan pagar, Pak Joko mengantarnya sampai ke mobil — hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya — dan berdiri di sana sejenak dengan tangan yang memainkan ujung kaosnya.
'Bu,' ucapnya akhirnya, pelan, tanpa menatap. 'Saya tukang. Saya tidak tahu apa-apa. Tapi saya sudah membangun banyak rumah. Rumah yang penghuninya bertahan itu bukan yang dindingnya lurus, Bu. Yang pondasinya jujur.'
Sari memandanginya. 'Terima kasih, Pak Joko.'
'Kopinya enak, Bu,' jawab mandor itu, dan berbalik ke dalam, ke rumah yang pondasinya sedang dipertanyakan, dengan langkah orang yang sudah menyampaikan apa yang bisa disampaikannya tanpa mengkhianati siapa pun.
Sari menyalakan mesin mobilnya. Hard disk di tasnya terasa lebih berat dari beratnya — seolah seluruh rumah masa depan orang lain itu ikut masuk ke dalamnya, menunggu untuk dibuka di ruang yang tepat, di depan orang yang tepat, pada waktu yang tepat.