Kehadiran adalah bentuk perlawanan yang paling sopan.
Sejak malam kursi ketiga itu, Sari ada di setiap revisi. Setiap yang malam. Setiap yang akhir pekan. Dia datang dengan map kulitnya, dengan catatan yang rapi, dengan pertanyaan-pertanyaan teknis yang dia pelajari diam-diam dari internet dan dari staf galerinya yang pernah merenovasi — karena kurator yang baik tidak pernah masuk ke ruang pamer tanpa tahu isi katalognya.
Dan atmosfer revisi-revisi itu berubah menjadi sesuatu yang akan dia kenang kelak sebagai teater paling disiplin yang pernah dia saksikan.
Karin manis. Selalu manis. Manis yang diasah, manis yang diukur — sapaan 'Bu Sari' yang datang dua detik lebih cepat dari yang diperlukan, penjelasan yang dialamatkan ke Sari padahal matanya ke Gilang, pertanyaan 'Ibu keberatan?' pada hal-hal yang tidak mungkin dikeberatkan siapa pun tanpa terlihat gila.
Gilang formal berlebihan. Suami yang sembilan tahun dia nikahi, yang dulu memanggilnya 'Sar' sambil melempar kunci, sekarang memanggilnya 'kamu' dengan jarak yang dilapisi kertas, seperti berbicara dengan dewan. Seolah formalitas adalah pagar yang cukup untuk menyembunyikan halaman.
Dan di antara mereka, Pak Joko bekerja dengan kepala yang tidak pernah terangkat — mandor yang tiga puluh tahun mengukur kerataan dinding, yang sekarang mengukur sesuatu yang lain dengan waterpass-nya, dan tidak suka pada hasil ukurannya.
Sari mencatat semuanya. Jam mulai. Jam selesai. Topik yang dibicarakan saat dia ada di ruangan — selalu teknis, selalu grout dan porositas dan warm tone — dan topik yang terdengar saat mereka mengira dia ke kamar mandi.
Kamar mandi di rumah itu masih berfungsi. Sari menggunakannya sebagai strategi: izin, berjalan ke koridor, lalu berhenti di sisi dinding dempul yang ketebalannya tidak cukup untuk suara yang tidak dijaga.
Malam kedua: potongan kata '...hotelnya yang biasa...' dari Gilang, dan tawa Karin yang ditutup cepat.
Yang biasa. Sari mencatatnya dengan dua garis bawah. Kebiasaan tidak terbentuk dalam satu malam. Kebiasaan adalah bukti dari malam-malam yang tidak pernah diumumkan.
Malam keempat: '...kalau approval-nya keluar, kita tidak perlu—' dan sisanya tertelan langkah Sari yang sengaja dia keraskan.
Setiap kali dia masuk kembali, percakapan itu sudah pindah ke tile. Profesional dadakan. Seperti dua aktor yang mendengar bunyi tirai.
Dan Sari tidak membuatnya mudah untuk mereka. Di malam kelima, dia datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dia siapkan seperti seorang kurator menyiapkan pemeriksaan: berapa selisih harga grout epoxy dengan grout biasa per meter persegi, kenapa porositas keramik dinding harus berbeda dari lantai, dan apakah warm tone yang mereka pilih punya kode warna yang bisa dicocokkan ulang kalau pabriknya berganti batch.
Karin menjawab semuanya dengan benar — dia memang desainer yang bagus, Sari tidak pernah menyangkalnya, dan itu bagian yang paling menyebalkan — tapi dia menjawab dengan keringat di pelipisnya, dengan mata yang memeriksa Gilang di setiap jeda, dengan kesadaran penuh bahwa istri yang seharusnya tidak mengerti apa-apa ini sedang membacanya seperti membaca karya yang meragukan.
'Ibu serius sekali malam ini,' ucapnya, dengan tawa yang dikemas.
'Saya selalu serius pada hal yang saya biayai,' jawab Sari, menulis satu angka di catatannya. 'Kebetulan proyek ini sebagian besar dibiayai galeri saya. Jadi anggap saja saya sedang merawat investasi.'
Gilang mengangkat wajahnya dari tablet. 'Sebagian besar dari galeri? Sar, kita tidak pernah menghitung siapa membiayai apa.'
'Kita tidak pernah menghitung,' kata Sari, tanpa mengangkat wajah dari catatannya. 'Aku mulai berpikir kita seharusnya menghitung. Angka membuat semua orang jujur. Kamu yang mengajari saya itu — di tahun kedua kita menikah, saat kamu memeriksa bon belanjaan bulanan.'
Malam itu berakhir lebih cepat dari jadwal. Karin mengemasi tabletnya dengan alasan yang bahkan tidak dia beranikan untuk terdengar meyakinkan, dan Gilang berdiri di ruang keluarga yang setengah jadi dengan wajah orang yang baru menyadari bahwa istrinya sudah berhenti menjadi penonton.
Dan Sari menuliskannya di catatan malam itu, di apartemennya, dengan sesuatu yang mendekati puas:
*Malam kelima: saya bertanya angka. Mereka kehilangan naskah.*
*
Yang tidak mereka tahu: Sari tidak membutuhkan potongan-potongan itu lagi.
Potongan-potongan itu hanya mengonfirmasi apa yang sudah dia putuskan di malam pertama, di kamar yang separuh kardus — bahwa pertanyaannya bukan lagi 'apakah', melainkan 'seberapa jauh'. Dan untuk pertanyaan 'seberapa jauh', seorang kurator tidak mengandalkan kuping di balik dinding.
Seorang kurator mengandalkan arsip.
Malam kelima, pulang dari revisi yang paling steril dari semuanya, Sari duduk di apartemen belakang galerinya dan menulis satu hal yang sudah berminggu-minggu mengganjal di kepalanya — sesuatu yang dia perhatikan sejak awal tapi belum berani dia sentuh:
Laptop proyek.
Laptop yang selalu ada di meja triplek itu, laptop yang dipakai Gilang dan Karin bergantian untuk moodboard dan denah, laptop yang tidak pernah dia buka karena tidak pernah ada alasan untuk membukanya.
Password-nya, dia hampir yakin, masih tanggal anniversary mereka. Gilang tidak pernah mengganti password apa pun seumur hidupnya — bukan karena percaya, tapi karena sombong. Sombong pada nostalgia, sombong pada keyakinan bahwa tidak ada yang akan berani memeriksanya.
Orang yang yakin tidak akan diperiksa adalah orang yang menyimpan semuanya di tempat yang sama.
Sari menuliskannya di catatan, dengan jari yang stabil:
*Laptop proyek. Password anniversary. Sombong pada nostalgia. Cek saat mereka site visit.*
Kemudian dia menatap langit-langit apartemennya, dan untuk pertama kali sejak malam gestur lighting itu, dia merasakan sesuatu yang bukan sakit: rasa ingin tahu seorang kurator yang menemukan ruang penyimpanan yang belum pernah dibuka.
Ruang penyimpanan selalu berisi dua hal: karya yang dilindungi, atau sampah yang disembunyikan.
Besok, atau lusa, dia akan tahu yang mana.
Dan Sari mematikan lampu apartemennya malam itu dengan satu kepastian kecil yang menemaninya tidur: bahwa teater mereka memang disiplin — tapi tidak ada teater yang sanggup dimainkan selamanya. Semua pertunjukan punya malam terakhir. Dan malam terakhir itu, dia sendiri yang akan menentukan tanggalnya.