Mereka tidak mendengarnya datang.
Sari masuk lewat pintu belakang — pintu dapur yang engselnya sudah dilepas dan belum dipasang lagi, pintu yang tidak berderit karena tidak punya lagi bahan untuk berderit. Pak Joko melihatnya duluan dari ujung koridor, dan mandor itu melakukan sesuatu yang akan Sari ingat lama: dia tidak menyapa. Dia hanya menatapnya sebentar, dengan sesuatu di matanya yang lebih tua dari proyek ini, lalu kembali ke waterpass-nya seperti orang yang memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari sandiwara siapa pun.
Lirikan itu bukan keterkejutan. Lirikan itu kasihan.
Dan Sari menyimpannya, seperti dia menyimpan semuanya sekarang: di katalog, di laci, di tempat yang rapi.
Di ruang keluarga, di bawah lampu kerja, revisi ketujuh sedang berlangsung. Karin dengan tabletnya. Gilang dengan kopi dan kemeja yang dilepas jasnya — di rumahnya sendiri dia selalu melepas jas, tapi biasanya tidak dengan kancing atas yang terbuka sebanyak itu. Mereka berdiri di sisi meja triplek yang sama, bahu hampir bersentuhan, membicarakan sesuatu yang Sari tidak bisa dengar dari koridor.
Bukan tile. Bukan handle pintu. Bukan chi.
Sari mendengarkan dari balik dinding dempul, dengan napas yang dia latih agar tidak terdengar, dan menangkap potongan-potongan yang datang seperti serpihan kaca:
'...weekend ini bisa...' — suara Karin, pelan.
'...suite pameran material, aku yang urus...' — suara Gilang, lebih pelan.
'...jangan bilang ke—' — dan potongan itu tidak selesai, karena Pak Joko, di ujung koridor, menjatuhkan meterannya dengan bunyi yang terlalu nyaring untuk disebut tidak sengaja.
Percakapan itu berhenti.
Dan ketika Sari melangkah masuk ke ruang keluarga dengan langkah yang keras dan disengaja, yang dia temukan adalah dua orang yang sudah berdiri dengan jarak yang wajar, dengan tablet yang menampilkan sampel keramik, dengan wajah-wajah yang sudah berganti kostum.
Profesional dadakan.
'Bu Sari!' Suara Karin, cerah seperti lampu display. 'Ibu tidak bilang mau datang.'
'Rumah saya,' jawab Sari, menarik kursi lipat dan duduk di antaranya, di kursi ketiga yang tidak disiapkan untuk siapa-siapa. 'Saya tidak perlu bilang untuk pulang ke rumah saya. Lanjutkan. Saya ingin belajar soal tile.'
*
Revisi malam itu berjalan empat puluh menit, dan empat puluh menit itu adalah empat puluh menit paling steril dalam sejarah desain interior. Karin menjelaskan grout dan porositas dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Gilang mengangguk pada hal-hal yang tidak perlu diangguki. Dan Sari duduk di kursi ketiganya, mendengarkan, mencatat sesekali, dan mengamati dua orang yang berusaha sangat keras untuk tidak saling menatap.
Orang yang tidak bersalah tidak perlu berusaha untuk tidak saling menatap.
Saat Karin pamit — lebih awal dari biasanya, dengan alasan yang muncul terlalu siap — Sari menahannya di pintu dengan satu kalimat yang tidak naik satu oktaf pun:
'Weekend ini ada pameran material?'
Karin berhenti. Sepersekian detik — tapi Sari kurator, dan kurator dilatih melihat sepersekian detik. 'Ada, Bu. Di Senayan. Pak Gilang mungkin mau lihat langsung beberapa sampel.'
'Sampelnya pakai suite?' tanya Sari, masih dengan nada membaca label karya. 'Saya dengar pameran tahun ini mewah.'
Karin tersenyum — senyum yang retaknya hanya terlihat di pinggir. 'Standar akomodasi vendor, Bu. Selamat malam.'
Dan dia pergi, dengan parfum mahalnya, dengan helm putihnya, dengan langkah yang tidak secepat yang dia inginkan tapi lebih cepat dari yang dia rencanakan.
*
Malam itu juga, di atas meja triplek, di antara dua kotak takeaway yang tidak jadi dibuka, Sari mengatakannya.
'Kita ganti desainer. Bayar putus kontrak. Saya tidak nyaman.'
Gilang meletakkan sumpitnya — perlahan, dengan kendali yang menandakan dia sedang menahan sesuatu yang lebih besar. 'Karin sudah empat puluh persen jalan. Ganti sekarang rugi. Kamu menghambat proyek karena perasaan.'
'Perasaan,' ulang Sari. 'Bukan bukti. Belum.'
'Board saya juga menunggu rumah ini siap untuk jamuan investor.' Gilang berdiri, dan suaranya mulai membawa bariton kantornya. 'Jangan bawa ego ke RAB, Sar. Rumah ini untuk kita. Jamuan itu untuk perusahaan. Kamu mengorbankan dua-duanya untuk satu lirikan yang kamu bangun sendiri di kepalamu.'
Sari tidak berdiri. Itu penting — orang yang berdiri ingin terlihat menang, dan dia sudah selesai dengan sandiwara kemenangan. Dia menatap suaminya dari kursi lipat, di tengah debu, dengan suara yang datar seperti meja notaris.
'Baik. Kalau tidak mau ganti desainer, maka aturan mainnya berubah: setiap revisi malam, saya ikut. Setiap site visit, saya tahu itinerary-nya. Setiap perubahan fee, saya baca dokumennya. Kamu tidak bisa menolak — saya pemilik bersama, dan saya admin grup vendor. Kamu sendiri yang membuatnya begitu.'
Gilang menatapnya lama. Lalu tersenyum kaku, senyum orang yang menghitung ulang sesuatu. 'Boleh. Jangan interogasi orang kerja.'
'Saya kurator, Gilang. Saya tidak menginterogasi.' Sari mengambil kotak takeaway-nya, masih utuh, dan berjalan ke pintu. 'Saya hanya memeriksa keaslian.'
*
Di apartemen kecil di belakang galeri — apartemen stok dan arsip yang sudah lama tidak dia tempati — Sari menelepon nomor yang disimpannya sejak lama tapi tidak pernah dia kira akan dia pakai untuk ini.
Bimo. Pengacara kontraknya dengan para seniman. Orang yang paling tenang yang dia kenal, dengan kantor kecil di Kuningan dan kemampuan mendengar yang membuat orang menceritakan lebih banyak dari yang mereka rencanakan.
'Hipotetis,' kata Sari, duduk di lantai apartemen yang bau kertas dan terpentin. 'Suami, desainer interior, fee mungkin membengkak, mungkin kartu perusahaan. Kalau nyata, kamu ada?'
Ada jeda sebentar. Lalu suara Bimo, datar seperti selalu: 'Hipotetis diterima. Simpan chat grup. Jangan putus kontrak emosional tanpa sebab tertulis. Kita butuh benturan kepentingan plus bukti pembayaran aneh.'
'Benturan kepentingan,' ulang Sari, memandangi langit-langit apartemen yang tidak perlu direnovasi apa-apa. 'Kedengarannya seperti istilah untuk rumah tangga.'
'Semua rumah tangga adalah benturan kepentingan yang berhasil dikelola,' jawab Bimo. 'Yang gagal dikelola jadi klien saya.'
Sari menutup telepon itu, dan menulis di catatannya, di lantai apartemen yang dingin:
*Revisi malam non-teknis. Hapus pesan. Tolak ganti desainer. Weekend: suite pameran material. Pak Joko: lirikan. Bimo: siap.*
Lalu dia menambahkan satu baris lagi, lebih pelan, lebih jujur:
*Saya tidak tahu lagi kapan saya mulai mengarsipkan pernikahan saya sendiri.*
Denah di dinding Menteng masih menjanjikan ruang keluarga yang hangat.
Tapi kalender revisi menjanjikan sesuatu yang lain — dan Sari mulai membaca denah itu seperti membaca kontrak yang tidak setia.
Kontrak yang tidak setia tidak pernah ditandatangani di atas meja notaris. Ia ditandatangani di malam-malam yang dijadwalkan saat pemiliknya sedang tidak ada — dan baru bisa dibaca setelah lampunya diganti dengan lampu yang lebih terang.
To black.