Revisi itu datang bertubi-tubi seperti hujan yang tidak diundang.
Warna cat ruang keluarga — yang sudah dipilih berdua, yang sudah dicat setengah — tiba-tiba harus 'dinaikkan satu tone'. Handle pintu yang sudah dipesan dari Jepara harus diganti model minimalis. Tinggi kitchen set yang sudah diukur dari tinggi badan Sari direvisi dua senti ke atas — dua senti yang tidak berarti apa-apa untuk memasak, tapi berarti dua minggu tambahan dan tiga juta tambahan.
Dan yang paling aneh: fengshui.
'Energi ruang,' kata Gilang di meja triplek, menggeser denah kertas dengan serius. 'Karin bilang aliran dari pintu utama ke dapur terlalu lurus. Chi-nya bocor.'
Sari memandanginya dengan tatapan yang biasa dia simpan untuk karya palsu dengan sertifikat meragukan. 'Chi. Kamu. Gilang Mahendra. Yang dulu mentertawakan Pak RT karena memutar posisi gerbang demi fengshui.'
'Orang bisa berubah.'
'Orang berubah karena alasan. Alasanmu apa? Pintu lurus mengganggu akidah perusahaan?'
Dan itu baru tiga revisi dari tujuh.
Ada lagi: posisi jendela kamar utama yang tiba-tiba perlu 'disesuaikan dengan matahari pagi' — padahal selama dua bulan tidak ada yang peduli pada matahari pagi. Lampu taman yang harus diganti merek Jerman. Rak built-in di ruang kerja Gilang yang desainnya direvisi empat kali, masing-masing dengan pertemuan langsung, masing-masing di malam hari.
Sari memeriksa satu hal kecil di sela semuanya: dia bertanya pada Pak Joko, santai, sambil menyerahkan kopi pagi ke para tukang — kebiasaan yang tidak pernah berubah dari awal proyek.
'Pak, revisi kemarin malam itu bahas apa saja? Lama sekali sampai jam sebelas.'
Pak Joko menerima kopi itu dengan dua tangan, menyesapnya, dan menjawab dengan hati-hati orang yang sudah bekerja di rumah orang selama tiga puluh tahun. 'Bahas rak, Bu. Rak itu empat kali revisi.'
'Empat kali untuk satu rak?'
'Kalau saya boleh jujur, Bu,' kata mandor itu, menatap kopinya, 'raknya dari awal sudah benar. Kayunya jati, ukurannya pas. Saya tidak tahu apa lagi yang direvisi.'
Sari mengangguk seperti orang yang mendengar kabar cuaca. Tapi di katalognya, satu baris baru terbentuk: rak yang sudah benar, direvisi empat kali, di malam hari, tanpa ada yang berubah.
Orang tidak merevisi rak empat kali. Orang merevisi alasan untuk bertemu empat kali.
Gilang tidak menjawab. Dia melipat denah itu dengan gerakan yang sedikit terlalu rapi, dan malam itu revisi ketujuh dalam dua minggu dijadwalkan — Kamis malam, tentu saja, malam di mana Sari punya jadwal tetap bertemu kolektor.
Hampir semua revisi dijadwalkan malam. Atau Sabtu. Atau Minggu sore. Selalu pada jam-jam di mana Sari berada di galeri, di jalan, atau di luar kota untuk akuisisi karya — seolah kalender revisi itu disusun oleh orang yang hafal kalender istrinya lebih baik dari kalender proyeknya.
Mungkin memang begitu.
Sari memeriksanya malam itu juga, di kamarnya yang separuh kardus, dengan kalender proyek di satu layar dan kalender galerinya di layar lain. Dia menyilangkannya seperti menyilangkan dua koleksi: dan polanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Revisi malam jatuh tepat pada malam-malam pertemuannya dengan kolektor. Site visit dijadwalkan pada minggu-minggu akuisisinya. Tidak ada satu pun pertemuan 'teknis' yang dijadwalkan pada jam di mana dia kosong dan bisa datang.
Kalender tidak berbohong. Kalender hanya mencatat niat orang yang menyusunnya.
Sembilan tahun menjadi kurator mengajarinya membaca komposisi — dan komposisi ini, dengan segala keteraturannya, terlalu sempurna untuk tidak disengaja. Orang yang menyusunnya tahu persis kapan dia tidak ada. Dan orang yang tahu persis kapan dia tidak ada adalah orang yang pernah tahu persis kapan dia pulang.
Suaminya. Yang dulu menghafal jadwalnya untuk menjemputnya. Sekarang menghafalnya untuk menghindarinya.
*
Di grup WhatsApp vendor, Sari masih admin.
Itu satu-satunya hal teknis yang lolos dari perhitungan siapa pun: grup yang dibuat di awal proyek, berisi Pak Joko, vendor keramik, vendor kayu, Karin, Gilang, dan Sari — dengan Sari sebagai pembuat grup dan adminnya. Tempat untuk menyamakan jadwal kirim material dan memastikan tidak ada tukang yang menunggu kunci.
Tapi grup itu, Sari mulai perhatikan, hanya ramai di permukaan.
Pesan Karin untuk Gilang sering keluar dari jalur: *Call me, bukan di grup.* — dikirim, dilihat, lalu dihapus untuk semua orang. Gilang membalas di grup dengan kode yang membuatnya terlihat rapi: *OK privately.* Privately. Di grup proyek rumah tangga mereka sendiri, ada kata 'privately', dan kata itu berdiri di sana seperti tamu yang tidak membawa kado.
Sari mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan akan dia lakukan dalam pernikahannya: screenshot.
Setiap pesan yang keluar jalur. Setiap 'dihapus untuk semua orang' yang terlambat — karena Karin Oktavia, dengan segala keahliannya soal warm tone dan aliran chi, tidak pernah secepat tangannya Sari. Beberapa kali, tangkapan layar itu berhasil. Beberapa kali, pesan itu hilang lebih dulu, dan yang tersisa hanya tulisan kelabu yang justru lebih jujur dari pesan mana pun: pesan ini telah dihapus.
Orang menghapus pesan untuk dua alasan. Salah kirim. Atau benar kirim.
Dan tidak ada orang yang salah kirim tujuh kali dalam dua minggu. Tidak di grup yang sama. Tidak dengan kode yang sama. Tidak dengan nama yang sama di ujung kalimatnya.
Sari menyimpan semuanya di satu folder di ponselnya, dengan nama yang tidak mencurigakan: *Foto RAB*. Karena kalau Gilang suatu hari membuka ponselnya — dan lelaki seperti Gilang tidak pernah membuka ponsel istri yang menurutnya 'jarang datang' — yang akan dia temukan hanya foto-foto rencana anggaran biaya.
Bukan rencana anggaran biaya.
*
Kamis malam itu, Sari membatalkan janji dengan kolektornya.
'Maaf, Pak Harsa. Ada urusan rumah yang tidak bisa ditunda. Minggu depan saya yang menjamu.'
Dan dia pulang ke Menteng, ke revisi ketujuh, ke meja triplek dan dua orang yang tidak tahu bahwa malam ini ada kursi ketiga yang akan terisi.
Dia tidak memberi tahu siapa pun.
Karena kejutan, Sari belajar dari seni instalasi, hanya bekerja kalau tidak diumumkan di katalog.