Pagi datang tanpa damai.
Sari bangun di kamar yang gordennya sudah dilepas, dengan matahari yang masuk lebih dulu dari kesadaran, dan mendapati rumah itu sudah berbunyi: langkah tukang di lantai bawah, bunyi bor yang ditahan-tahan, suara Pak Joko mengoordinasikan sesuatu dengan suara yang selalu terdengar seperti orang berdoa. Rumah setengah jadi tidak pernah benar-benar tidur. Dia hanya berpura-pura, seperti penghuninya.
Di meja triplek, ada kopi yang sudah dibuatkan. Gilang selalu membuatkan kopi di pagi hari — kebiasaan sembilan tahun yang tidak berhenti hanya karena semalam mereka tidur di dua ujung rumah. Kebiasaan adalah hal terakhir yang mati dalam sebuah pernikahan. Jauh lebih lambat daripada cinta.
Gilang sendiri sudah rapi, kemeja biru, gelang jam yang selalu dia putar saat berpikir. Dia mengangkat cangkirnya seperti mengangkat bendera gencatan.
'Meeting pagi. Saya pulang malam. Karin datang jam sembilan untuk ukur ulang kitchen set.'
'Di rumah ini,' kata Sari, menyesap kopinya tanpa berterima kasih, 'ada dua orang yang tinggal. Tapi jadwalnya hanya diumumkan ke satu.'
Gilang menatapnya di atas cangkir. 'Kamu masih soal semalam.'
'Saya masih soal semalam selama semalam itu belum dijelaskan dengan bahasa manusia, bukan bahasa RAB.'
'Karin desainer. Saya klien. Klien yang teliti. Itu yang kamu lihat.' Gilang meletakkan cangkirnya, dan suaranya berubah satu tingkat lebih halus — perubahan yang Sari kenali sebagai mode persuasi, mode yang biasa dipakai untuk investor yang ragu. 'Sar. Sembilan tahun. Kamu benar-benar mau merusak pagi karena satu gestur lighting?'
Sembilan tahun.
Gilang selalu memakai angka itu seperti tameng, seolah durasi adalah bukti, seolah sembilan tahun tidak bisa berdiri di atas kebohongan selama tiga bulan. Sari memandanginya — lelaki yang dulu dia pilih di antara semua lelaki, yang melamarnya di rooftop kantornya yang belum jadi, yang berkata 'kita bangun semuanya dari nol, Sar, kamu dan saya, dari nol' — dan untuk pertama kalinya dia bertanya-tanya kapan tepatnya 'dari nol' itu berhenti berarti 'bersama' dan mulai berarti 'sendirian'.
'Saya berangkat ke galeri,' katanya, mengambil tasnya. 'Pameran ditunda, tapi pekerjaannya tidak. Dan Gilang — kalau Karin datang jam sembilan, pastikan Pak Joko ada di ruangan yang sama. Untuk kepentingan semua pihak.'
'Kamu menitipkan pengawasan pada mandor.'
'Saya menitipkan saksi pada rumah saya sendiri,' jawab Sari dari ambang pintu. 'Kalau tidak ada apa-apa, saksi tidak akan melihat apa-apa. Kamu yang selalu bilang begitu ke dewan: transparansi itu gratis kalau bersih.'
Dan dia pergi, meninggalkan Gilang dengan kopinya, di tengah rumah yang setengah jadi, dengan kalimatnya sendiri yang baru saja dipinjam dan dikembalikan dalam keadaan lebih tajam.
*
Di galeri, hari itu berjalan seperti hari-hari lain: telepon dengan vendor pendingin, kurator tamu yang harus dihibur, staf yang harus dijaga semangatnya. Sari melakukan semuanya dengan kemampuan seorang profesional yang sudah lama berlatih memisahkan ruangan-ruangan di kepalanya — ruang kerja di sini, ruang rumah di sana, ruang luka di laci yang paling bawah, terkunci.
Ada satu momen yang lolos dari pemisahan itu. Tengah hari, di pantry galeri, staf termudanya — Laras, yang baru tiga bulan bekerja dan masih percaya bahwa semua rumah tangga orang sukses itu bahagia — bertanya sambil mencuci cangkir: 'Bu Sari, renovasinya sudah sampai mana? Pasti seru ya, bangun rumah bareng suami.'
Dan Sari, yang sudah menata wajahnya sepanjang pagi, mendapati dirinya menjawab satu detik terlalu lambat.
'Sampai dempul,' katanya akhirnya. 'Rumah itu selalu paling jelek saat dempul. Putih, kasar, belum menentu. Tapi dempul itu bukan hasil akhir. Dia cuma lapisan sebelum yang sebenarnya.'
'Ibu ini ya,' Laras tertawa, 'ngomongin rumah saja kayak ngomongin karya.'
'Karena memang sama,' jawab Sari, dan tersenyum yang seharusnya. 'Semua yang dibangun terlihat jelek di tengah jalan. Yang penting siapa yang masih berdiri di dalamnya saat selesai.'
Laras mengangguk-angguk dengan kekaguman yang polos, dan Sari kembali ke mejanya dengan kalimatnya sendiri yang menggantung di kepalanya seperti lampu kerja yang bergoyang.
Siapa yang masih berdiri di dalamnya saat selesai.
Tapi malamnya, ketika galeri sudah kosong dan lampu-lampu pameran sudah dimatikan, dia duduk sendirian di depan instalasi utama yang gagal dibuka hari itu: sebuah karya tentang rumah kosong, rangka kayu berbentuk denah rumah tanpa dinding, dengan satu lampu kecil menyala di tengahnya.
Senimannya menyebutnya 'Rumah yang Menunggu'.
Sari memandanginya lama. Rangka tanpa dinding. Lampu yang menyala untuk tidak ada siapa-siapa. Dan dia berpikir: aku sedang hidup di dalam karya ini, dan tidak satu pun dari kita yang membayar tiket.
Ada satu hal yang dipelajari semua kurator cepat atau lambat: karya tidak pernah berbohong tentang dirinya sendiri. Lukisan palsu selalu menyatakan kepalsuannya — di sapuan kuasnya, di retakan catnya, di cara tuanya yang dipaksakan. Yang dibutuhkan hanya cahaya yang tepat dan mata yang mau melihat. Pernikahan, dia mulai paham malam itu, bekerja dengan cara yang sama. Sembilan tahun, dan semua tandanya mungkin sudah lama ada di sana, menunggu cahaya yang tepat.
Malam ini cahayanya datang. Bentuknya lampu kerja yang bergantung pada kawat, di ruang keluarga yang dindingnya masih dempul.
Dia membuka ponselnya, membuka catatan kemarin, dan menambahkan satu baris:
*Pagi: kopi seperti biasa. Kebiasaan mati paling lambat. Gilang: mode persuasi. Karin jam 9 — saya titipkan Pak Joko. Transparansi gratis kalau bersih.*
Kemudian dia berdiri, mematikan lampu terakhir, dan mengunci galeri.
Di jalan pulang ke Menteng, dia memutuskan satu hal: mulai besok, dia akan datang lebih sering. Bukan untuk membuktikan — untuk melihat. Ada bedanya. Orang yang membuktikan mencari sesuatu. Orang yang melihat hanya mencatat apa yang ada.
Dan Sari Mahendra sudah sembilan tahun menjadi kurator. Dia tahu betul: yang palsu selalu ketahuan di ruang pamer yang cukup terang.
Maka tugasnya sekarang sederhana, sesederhana prosedur pemeriksaan karya yang datang tanpa sertifikat: sediakan cahayanya. Selebihnya, biarkan benda itu bicara sendiri. Benda selalu bicara. Hanya pemiliknya yang sering berharap mereka diam.