Kopi gratis itu mulai beredar di warung Talang Rambai di minggu yang sama ketika berkas dua zaman itu mulai berjalan ke atas, dan tidak ada yang namanya kebetulan di kawasan ini.
Orangnya tidak pernah mengaku siapa-siapa. Seorang lelaki yang rapi, datang dengan motor bagus, duduk di warung dan membayari kopi orang-orang — bukan semua orang, melainkan orang-orang yang bicaranya paling didengar di kampung: Wak Saleh, dua tetua yang berpengaruh di balai kampung, dan para pemilik kebun di sisi hutan. Ia tidak pernah menyebut yayasan, tidak pernah menyebut konsesi, tidak pernah menyebut apa pun yang bisa dicatat. Ia hanya mendengarkan, dan mengangguk, dan sesekali meletakkan satu kalimat dengan hati-hati seperti meletakkan jerat: sayang sekali pusat itu lebih sibuk dengan binatang daripada dengan kebun orang. Atau: di tempat lain, pusat seperti itu sudah diganti orang-orang yang lebih peduli warga.
Renung melihatnya sendiri satu kali, dari seberang jalan, ketika ia pulang dari memeriksa Item dan berhenti sebentar untuk membeli gula. Lelaki itu duduk di bangku sudut warung, dan tidak ada satu pun dari caranya yang bisa dicatat sebagai kesalahan: ia memesan kopi seperti semua orang, membayar dengan uang pas, tidak pernah mengeluarkan telepon, tidak pernah menulis apa pun. Motornya diparkir menghadap keluar, kebiasaan orang yang tidak ingin membuang waktu kalau harus pergi. Yang dikerjakannya hanya satu, dan dikerjakannya dengan kesabaran yang nyaris terlihat secara fisik: mendengarkan. Ia mendengarkan Wak Saleh bercerita tentang kambingnya sampai selesai, sampai detail yang ketiga kalinya diulang, dan tidak memotong satu kali pun — dan ketika ia akhirnya bicara, kalimatnya pendek, seolah hanya menimpali, padahal dari seberang jalan Renung bisa membaca bahwa setiap kalimat pendek itu jatuh persis di titik ketika kemarahan lawan bicaranya mulai mencari arah.
Dan pemilik warung, seperti dituturkan Bujang, tidak pernah merasa ada yang berubah: pelanggan baru yang murah hati, itu saja, orang baik yang suka mentraktir. Kopi di warung itu tidak pernah semahal itu sebelumnya — beberapa cangkir sehari, dibayar tunai, tanpa bon, tanpa jejak.
Jerat di hutan ditaruh di denai yang sudah dipelajari, tulis ayahnya di catatan tua yang selalu dibawanya. Jerat di atas meja ditaruh di percakapan yang sudah dipelajari. Keduanya tidak terlihat oleh yang melanggarnya, dan keduanya bekerja karena korbannya melangkah masuk dengan kakinya sendiri.
Bujang melaporkannya ke Renung dengan wajah yang mengenal pekerjaan itu dari masa lalunya sendiri: "Itu kerja mereka, Pak. Aku yang dulu diajari cara begini. Kopi gratis bukan untuk membeli orang. Kopi gratis untuk membeli tempat duduk di kepala orang — supaya kalimat-kalimat yang kau tanam di sana diterima seperti pikiran mereka sendiri. Wak Saleh tidak tahu dia sedang dibayar. Dia akan bersumpah tidak pernah dibayar. Tapi kalimat-kalimat yang diucapkannya minggu depan adalah kalimat-kalimat yang ditanam di warung ini minggu ini, dengan harga beberapa cangkir kopi dan satu telinga yang sabar."
Dan kalimat-kalimat itu mulai berjalan, seperti yang dibaca Bujang: Wak Saleh mulai membawa soal kambing-kambingnya ke setiap pembicaraan, dengan kemarahan yang lebih keras dari biasanya dan dengan detail-detail yang bukan miliknya — jumlah satwa di pusat, biaya operasional yang disebut-sebut, pertanyaan mengapa uang untuk binatang tidak untuk ganti rugi kebun. Dua tetua mulai mengangguk-angguk di balai kampung tentang perlunya meninjau keberadaan pusat. Dan di warung, pelan-pelan, kabar mulai berubah bentuk: pusat yang membawa harimau, pusat yang menahan gajah, pusat yang membakar kebun secara tidak langsung dengan menarik binatang-binatang itu ke dekat kampung.
Sari membawakan bentuk-bentuknya dari pasar, dengan rincian yang membuat Renung tidak bisa tidur lebih cepat malam itu: emak-emak yang biasanya membicarakan harga garam dan minyak kini menyelipkan pusat di sela-sela tawar-menawar, dengan kata-kata yang sama persis dari satu meja ke meja lain — bukan kata-kata pasar, kata-kata warung yang sudah dihafalkan tanpa sadar. "Yang paling berbahaya bukan yang marah," kata Sari. "Yang paling berbahaya adalah yang mengulang tanpa tahu dia mengulang. Dia akan mempertahankannya seperti pendapatnya sendiri, karena dia memang mengira itu pendapatnya sendiri."
Jamil menambahkan satu hal yang dicatat Renung dengan garis bawah: orang yang dibayar untuk mendengar tidak pernah berhenti di satu warung. Mereka berputar — warung di Talang Rambai, warung di simpang jalan kebun, kedai kecil di dekat balai — dan kalimat yang sama tumbuh di tempat-tempat yang berbeda dalam minggu yang sama, supaya orang yang mendengarnya di dua tempat mengira seluruh dunia sedang membicarakannya. Padahal yang membicarakannya satu mulut yang berpindah-pindah, dengan motor yang bagus dan kopi yang tidak pernah putus.
Renung membacanya dari dua arah — dari Bujang dengan matanya, dan dari Sari dengan telinganya di pasar — dan mengenali strateginya dengan dingin: front sungai mereka kalah di gudang, front kertas mereka kalah di pemeriksaan, dan sekarang front ketiga dibuka dengan harga paling murah dari semua front: opini kampung, dibeli dengan kopi dan telinga yang sabar, dengan Wak Saleh sebagai corong yang tidak perlu dibayar karena kemarahannya sudah menjadi bahan bakar gratis.
"Mereka tidak menyerang pusat lagi," kata Renung di kantor pusat, di depan Jamil dan Sari. "Mereka menyerang tanah tempat pusat berdiri: kampung yang mulai berdiri di belakang kita. Kalau kampung berbalik, semua yang kita menangkan di sungai dan kertas tidak berarti apa-apa — pusat tanpa kampung adalah satu bangunan kecil di tepi hutan yang bisa dibakar kapan saja dengan alasan apa saja. Front ini tidak bisa dilawan dengan surat, tidak bisa dilawan dengan pembukuan. Front ini hanya bisa dilawan dengan satu hal yang tidak bisa mereka beli dengan kopi: kerja yang bisa dihitung warga, dibuktikan, satu demi satu, sampai kopi mereka terasa seperti kopi dibandingkan dengan yang nyata."
Jamil mengangguk, dan menambahkan satu kalimat yang menjadi kompas busur itu: "Kampung tidak pernah dimenangkan dengan jawaban, Nung. Kampung dimenangkan dengan dibuktikan di kebun mereka sendiri. Maka jawablah perang warung ini di kebun Wak Saleh, bukan di warung."