Dengar pendapat itu diminta Wak Saleh, dan disetujui Pak Lurah Bahrum, dan menjadi malam balai kampung paling penuh sejak malam sorakan untuk Tunggak — tapi kali ini penuh dengan listrik yang berbeda, penuh dengan kemarahan yang sudah disiram kopi berminggu-minggu.
Mereka datang sebelum magrib dan terus datang sesudahnya: pemilik kebun dari sisi hutan, emak-emak dengan pakaian pergi ke balai, pemuda-pemuda yang berdiri di belakang karena bangku sudah penuh, dan orang-orang yang biasanya tidak pernah datang ke dengar pendapat mana pun tapi malam itu datang karena ada kemarahan di udara dan kemarahan selalu lebih menarik dari gotong royong. Lampu balai menyala semua, dan suara orang menunggu itu seperti air sebelum riam — rendah, merata, dan bergerak ke satu arah. Renung duduk di sisi dengan map pembukuan di pangkuannya, dan Jamil di sebelahnya tidak bicara apa-apa, hanya mengangguk sekali ketika mata mereka bertemu: kalau malam ini kalah, tidak ada malam kedua.
Wak Saleh berdiri lebih dulu, dan kemarahannya adalah kemarahan yang tulus dibakar oleh kalimat-kalimat yang ditanamkan: dua kambingnya yang dimakan harimau, tiga petak ubi yang dihabiskan gajah, dan sekarang — katanya, dengan detail yang disuplai warung — pusat yang menggemukkan binatang-binatang itu dengan uang yang seharusnya untuk ganti rugi orang-orang kebun. Di belakangnya, dua tetua mengangguk, dan di sisi-sisi balai, suara-suara mulai bergerak ke arah yang sudah dirancang warung.
Di antara yang duduk, Renung membaca wajah-wajah itu satu per satu dengan mata yang sudah terbiasa membaca gejala: pemilik kebun sebelah Wak Saleh mengangguk bukan karena setuju, melainkan karena takut terlihat membela pusat di depan tetangganya; dua pemuda di barisan belakang menunggu dengan wajah yang belum memutuskan; dan di dekat pintu, beberapa emak menyimak dengan tangan dilipat di dada — tanda yang dikenalinya dari pasar, tanda orang yang mendengar dengan hati-hati karena urusan perutnya ikut dibicarakan. Kemarahan di balai itu nyata, tapi kemarahan yang nyata pun punya tepi, dan tepinya malam itu belum bulat.
Dan Renung berdiri, dan tidak menjawab kemarahan itu dengan kemarahan, dan tidak menjawabnya dengan binatang.
Ia menjawabnya dengan pembukuan.
"Wak Saleh benar tentang dua hal," katanya, dan balai kampung itu mereda karena tidak mengharapkan kalimat itu. "Kambingnya dimakan harimau, dan ubinya dihabiskan gajah. Itu benar, tercatat, dan tidak pernah saya bantah satu kali pun. Yang tidak benar adalah satu hal: bahwa tidak ada yang menggantinya. Maka malam ini saya tidak membawa penjelasan. Saya membawa pembukuan ganti rugi — resmi, dari dana konflik satwa-warga yang sudah disetujui balai, bukan janji, bukan rencana, uang yang sudah ada."
Ia membukanya di depan balai kampung itu: daftar kejadian konflik satu tahun terakhir, dengan nilai yang dihitung dari harga pasar di warung kampung sendiri — bukan dari harga pusat, dari harga yang dipakai warga setiap hari. Dua kambing Wak Saleh, dengan nilai yang tercatat. Tiga petak ubi, dengan nilai per petak yang dihitung bersama tetua kampung. Dan satu kolom yang membuat balai itu berbisik: jadwal pembayarannya, mulai minggu ini, dengan kuitansi yang ditandatangani dua pihak.
Angka-angka itu dibacakannya satu per satu, keras dan pelan, dengan cara orang membaca di pasar: dua ekor kambing betina umur dua tahun, harga warung sekian per ekor; tiga petak ubi dengan hasil sekian kaleng per petak, harga kalengnya harga yang dipakai emak-emak minggu itu. Tidak ada satu pun angka yang dibulatkan ke bawah. Dan ketika seorang ibu di barisan tengah mengangkat tangan dan bertanya pertanyaan yang ditunggu semua orang — dari mana uangnya, dan kalau habis bagaimana — Renung membuka lembar yang menjawabnya: dana konflik satwa-warga yang disahkan kabupaten tahun itu, dengan sisa dan sumbernya tertulis, dengan jadwal peninjauan ulangnya, dan dengan satu baris yang membuat beberapa orang bertukar pandang: dana itu sudah dua tahun berdiri dan tidak pernah sekali pun ditawarkan ke kampung ini oleh siapa pun sebelum pusat membukanya di balai malam itu.
"Uang ini bukan dari kantong saya," kata Renung. "Uang ini memang uang konflik, hak kampung yang berbatasan dengan hutan, dan selama ini tidak ada yang memberi tahu kampung bahwa hak itu ada. Sekarang sudah ada yang memberi tahu, dan kuitansinya ditandatangani dua pihak supaya tidak bisa hilang di jalan."
"Dan untuk yang belum terjadi," lanjut Renung, mengangkat lembar berikutnya, "saya tidak membawa janji harimau tidak akan datang lagi. Saya tidak bisa menjanjikan itu, dan siapa pun yang menjanjikannya menipu Wak Saleh. Yang saya bawa adalah kandang dan parit dan jadwal jaga — dibangun bersama, di kebun Wak Saleh dulu yang pertama, karena kebunnya yang paling dekat denai. Bukan untuk mengusir harimau dari hutan. Untuk membuat kambing Wak Saleh lebih mahal dijerat daripada rusa di hutan. Harimau menghitung seperti kita menghitung, Wak. Yang termudah yang dimakannya. Mari kita buat kambing itu bukan yang termudah lagi."
Balai kampung itu berdiri di antara dua arah — kemarahan yang sudah dibayar kopi dan pembukuan yang berdiri dengan kuitansi — dan Pak Lurah Bahrum berdiri di tengahnya dengan keputusan yang membuat malam itu berbalik: "Pembukuan ini dibaca di depan semua orang, dan ganti rugi ini dibayar mulai minggu ini, dan kandang itu dibangun dengan tangan-tangan kampung sendiri yang dibayar dari dana yang sama. Yang menolak dibuktikan, silakan berdiri dan katakan sekarang, di depan pembukuan yang terbuka, bukan di warung dengan kopi gratis."
Tidak ada yang berdiri. Dan Wak Saleh, yang datang dengan kemarahan yang disiram kopi, pulang dengan lembar ganti rugi di tangannya dan sesuatu yang baru di wajahnya — bukan percaya, belum percaya, tapi keraguan pertama pada kalimat-kalimat yang ditanamkan di kepalanya.
Malam itu Renung menulis: warung dibalas dengan pembukuan di balai kampung, dan satu malam tidak memenangkan perang warung — tapi satu malam menghentikannya dari kekalahan. Kopi mereka masih beredar, dan kalimat mereka masih ditanam, dan besok pekerjaan sesungguhnya dimulai: membuktikan di kebun, dengan tangan, sampai kopi itu terasa seperti kopi.