Api itu datang lewat tengah malam, dan datangnya bukan kebetulan — datangnya di malam ketika jadwal jaga pusat berada di titik paling tipisnya, dan itu artinya mereka membaca jadwalnya.
Gudang pakan di sisi belakang pusat yang terbakar: stok pakan sebulan untuk semua satwa, dedak dan pelet dan susu formula untuk Ara, tersimpan di bangunan kayu yang berdiri agak terpisah dari kandang-kandang. Api bekerja cepat di kayu tua, dan Sari yang terbangun oleh bau membangunkan semua dengan teriakan, dan mereka memadamkannya dengan air tandon dan ember-ember dan tangan-tangan yang tidak sempat berpakaian — api mati sebelum menjalar ke kandang-kandang, tapi gudang dan isinya habis.
Barisan ember itu berdiri dalam hitungan detik, karena latihan kebakaran yang pernah mereka susun setelah listrik pusat diputus dulu ternyata meninggalkan tubuh yang hafal: tandon air di sisi dapur, ember-ember seng yang tergantung di paku-paku sepanjang dinding, dan tangan-tangan yang tahu ke mana harus lari tanpa ada yang berteriak perintah. Jamil memimpin barisan di sisi dinding yang menghadap kandang, memutus api sebelum merayap ke atap yang bersebelahan, sementara Bujang dengan dua karung goni basah memukul-mukul api kecil yang melompat ke tanah. Renung sendiri berlari ke kandang-kandang begitu barisan ember berdiri, dan menemukan satwa-satwa itu dalam keadaan yang membuat dadanya sesak: Tunggak menempel di sudut kandangnya dengan tangan menutup telinga, Item berputar-putar kecil dengan nafas pendek, dan Ara menjerit-jerit di kandangnya dengan suara yang belum pernah Renung dengar dari anak gajah itu — suara takut yang memanggil induk. Sari sudah lebih dulu di sana, di dalam kandang Ara, dengan asap di rambutnya, menenangkan anak gajah itu dengan tubuhnya sendiri sebagai tembok antara Ara dan cahaya api.
Api mati sebelum subuh, dan tidak ada satu pun satwa yang terluka — tapi semua menghabiskan sisa malam dengan mata yang tidak tidur, dan Renung berjalan dari kandang ke kandang memeriksa nadi dan nafas satu per satu sampai fajar, karena asap bisa membunuh paru-paru kecil dua hari setelah apinya sendiri sudah mati.
Tidak ada korban. Tidak ada satwa yang tersentuh. Tapi stok pakan sebulan menjadi abu, dan di abu yang masih hangat, Renung menemukan titik apinya: bukan dari listrik, bukan dari dalam — dari luar, dari sisi dinding yang menghadap hutan, dengan bau yang bukan bau kayu terbakar biasa, bau akseleran yang sudah ia kenali dari laporan-laporan kebakaran hutan yang disengaja.
Titik apinya ia periksa dengan senter ketika langit mulai kelabu: rumput kering di kaki dinding gosong setengah lingkaran, dengan pusat gosongnya di satu titik yang menghadap hutan, dan bekas itu tidak turun dari atas seperti kalau atap terbakar lebih dulu, melainkan naik dari bawah seperti sesuatu yang disiram dan disulut di tanah. Bau akselerannya masih menempel di abu yang basah — bau minyak yang manis dan tajam, yang menempel di belakang hidung dan tidak mau pergi. Jamil menemukan satu kaleng kecil yang penyok tiga puluh langkah ke arah hutan, terlempar, dan tidak menyentuhnya: ia memotretnya, menandai posisinya dengan ranting, dan melaporkannya ke Iptu Mahmud dengan jadwal yang rapi, karena bukti yang dipungut dengan tangan sendiri adalah bukti yang hancur di meja pengadilan.
Mahmud datang sebelum tengah hari dengan dua orangnya, dan memotret dan mengantongi kaleng itu dengan prosedur yang tidak tergesa, dan sebelum pergi ia berkata satu hal yang dicatat Renung: pembakaran yang membaca jadwal jaga adalah pembakaran yang direncanakan dari dekat, dan perencana dari dekat selalu punya mata di sekitar sasaran. Mulai malam itu jadwal jaga pusat tidak lagi ditempel di papan, melainkan dihafal dan diubah setiap tiga hari — jerat di atas meja tidak bisa membaca jadwal yang tidak pernah ditulis.
Mereka membaca jadwal jaga, dan mereka membakar pakan satu bulan satwa-satwa itu sebagai jawaban atas warung yang berbalik.
Dan kampung menjawab sebelum pusat sempat menghitung kerugiannya.
Kabar gudang yang terbakar berjalan ke Talang Rambai dengan fajar, dan sebelum siang, truk-truk kecil dan motor-motor mulai datang dari kampung — bukan dengan kata-kata, dengan muatan. Dedak dari koperasi kampung. Pelet dari warung yang menyimpan stok. Susu formula yang dibelikan emak-emak patungan dari kota kecamatan, dibawa dengan dua motor dan satu daftar tulisan tangan. Pak Lurah Bahrum datang dengan satu truk penuh dan satu kalimat: "Pusat kita dibakar karena kampung kita berbalik. Maka kampung kita yang mengisi kembali gudangnya, dan biar mereka yang membakarnya membaca ini: kampung yang dibakar gudang pakannya adalah kampung yang gudangnya terisi dua kali lipat seminggu kemudian."
Daftar tulisan tangan emak-emak itu kemudian ditempel Sari di dinding kantor pusat, dan tidak pernah dilepas lagi: nama-nama perempuan kampung yang berbaris ke bawah dengan jumlah yang kecil-kecil dan tulus, ada yang dua ribu, ada yang lima ribu, ada yang berupa dua kaleng susu dan sekantong gula. Renung membacanya di pagi kedua dengan mata yang panas, dan menulis di buku catatannya satu kalimat pendek: gudang mereka dibakar kayu, dan diisi kembali dengan sesuatu yang tidak bisa dibakar.
Dan gudang itu terisi kembali dalam seminggu — bukan dengan stok sebulan, dengan stok lebih dari sebulan, dan dengan satu perubahan yang lahir dari apinya: gudang pakan baru yang dibangun dari batu dan seng, bukan kayu, dengan gotong royong tangan-tangan kampung yang datang bergantian, dengan Wak Saleh yang datang membawa semen di truknya dan tinggal memasang tiang tanpa diminta.
Renung berdiri di depan gudang baru itu di akhir minggu, dengan abu gudang lama yang sudah dibersihkan di sampingnya, dan menulis di buku catatannya dengan tangan yang mantap: mereka membakar stok pakan sebulan untuk menghukum kampung yang berbalik, dan kampung menjawab dengan gudang batu dan stok dua kali lipat dan Wak Saleh yang memasang tiang dengan tangannya sendiri. Sindikat salah membaca kampung ini, dan kesalahan membaca itu adalah kesalahan termahal mereka sejak gudang kelapa sawit tua: mereka mengira kampung itu barang yang bisa dibeli dan ditakuti. Kampung ini ternyata bukan barang. Kampung ini orang, dan orang yang dibakar gudangnya membangun yang lebih kuat dari batu.