Ancaman ke ibu Bujang menjadi nyata di minggu yang sama, dengan cara yang sudah menjadi tanda tangan mereka: tidak besar, tidak bisa ditangkap, cukup untuk mengirim pesan.
Rumah panggung ibu Bujang di ujung kampung dilempari batu dua malam berturut-turut — jendela samping pecah di malam pertama, dan di malam kedua, satu bungkusan kain dilempar ke terasnya yang berisi sesuatu yang membuat perempuan tua itu tidak membukanya sendiri melainkan memanggil tetangga: potongan sling baja berpilin tujuh, dengan satu kertas tanpa tanda tangan yang tulisannya dicetak, bukan tulisan tangan: anakmu salah memilih kawan.
Renung datang ke rumah panggung itu sebelum siang, dan memeriksa potongan sling itu dengan sarung tangan sebelum ada tangan lain yang menyentuhnya: baja pilin tujuh, diameter yang sama dengan jerat-jerat yang mereka cabut dari hutan, potongan ujungnya rapi bekas gunting hidrolik, bukan bekas ditarik sampai putus. Sama. Selalu sama. Jerat yang dulu dipasang di denai untuk kaki harimau kini dilempar ke teras seorang ibu — jerat di hutan dan jerat di atas meja akhirnya berdiri di satu teras yang sama, dan Renung menyimpan potongan itu dalam kantong bukti dengan tangan yang menahan sesuatu yang besar di dadanya.
Ibu Bujang sendiri duduk di dapurnya dengan ketenangan yang membuat semua orang di rumah itu justru lebih sedih: perempuan tua yang seumur hidupnya menjual sayur di pasar kecil, yang membesarkan anaknya sendirian sejak suaminya pergi, yang selama ini menunduk setiap kali nama anaknya disebut orang di warung — duduk dengan kerudung rapi dan berkata kepada Renung dengan suara yang tidak bergetar: "Dulu mereka mengambil anakku dengan janji upah. Sekarang mereka melempari rumahku karena anakku pulang. Berarti anakku benar-benar sudah pulang, Nak. Orang jahat tidak melempari rumah orang yang masih mereka miliki."
Bujang membawanya ke Renung dengan tangan yang gemetar bukan karena takut — karena amarah yang sudah melewati takut — dan berkata kata-kata yang keluar seperti batu dari dadanya: "Mereka menyentuh rumah emak saya. Dua malam. Dengan sling yang mereka pakai untuk jerat harimau, dilempar ke teras perempuan tua yang tidak tahu apa-apa. Pak. Aku sudah selesai dengan ancaman. Aku tidak mundur satu langkah pun, dan aku tidak akan bersembunyi, dan kalau mereka datang lagi, aku berdiri di depan rumah itu sendiri."
Dan kampung menjawab sebelum Renung menjawab.
Pak Lurah Bahrum mengumumkannya di warung sore itu juga, dan jawabannya bukan pengumuman: jaga rumah ibu Bujang bergilir, dua orang setiap malam, dari pemuda-pemuda kampung yang mendaftarkan diri tanpa disuruh — termasuk, dan ini yang membuat Bujang berdiri lama di warung dengan mata yang tidak bisa ia kendalikan, dua pemuda yang dulu paling sering mengejeknya sebagai pemandu pemburu. Jadwal jaga ditulis di papan warung, dan rumah panggung itu dijaga dengan lampu dan orang-orang yang datang dan pergi, dan ibu Bujang menerima semuanya dengan tangan di dada dan air mata yang ia hapus dengan ujung kerudungnya.
Dua pemuda itu berniat menebus sesuatu, dan semua orang di warung tahu apa yang ditebusnya tanpa ada yang menyebutnya: bertahun-tahun mereka yang paling keras mengolok Bujang sebagai kaki tangan pemburu, yang menggeleng kalau Bujang lewat, yang pernah memindahkan bangkunya ketika Bujang duduk di warung yang sama. Dan malam pertama jadwal jaga itu, keduanya datang ke rumah ibu Bujang membawa parang dan termos kopi, dan berdiri canggung di tangga sampai Bujang sendiri yang turun dan menyalakan rokok untuk mereka bertiga tanpa satu kata pun tentang masa lalu. Yang dibicarakan mereka di pos jaga itu, seperti diceritakan salah satunya kemudian di warung dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan apa-apa, adalah hal-hal yang tidak pernah mereka bayangkan: cara membaca jerat, titik-titik sandar di sungai, dan betapa Bujang hafal setiap jengkal hutan itu seperti hafal telapak tangannya sendiri — pengetahuan yang dulu dipakai untuk membawa pemburu masuk, dan sekarang dipakai untuk membuat pemburu tidak bisa masuk.
Dan kampung menjaga bukan hanya malamnya. Pagi-pagi, ibu Bujang tetap berjalan ke pasar kecil dengan keranjang sayurnya seperti biasa — ia menolak berhenti berjualan, dan berkata bahwa orang yang berhenti hidup karena dilempari batu adalah orang yang menganggap batu itu menang — dan tanpa pernah diumumkan, langkahnya ke pasar itu selalu punya kawan: kadang emak-emak yang kebetulan searah, kadang pemuda yang kebetulan lewat dengan motor, kadang Bujang sendiri yang berjalan sepuluh langkah di belakang sambil membawakan payung ibunya. Pasar kecil itu menyaksikannya dan membaca pesannya dengan benar: kampung ini tidak sedang menjaga seorang ibu yang lemah. Kampung ini sedang berjalan bersama seorang ibu yang tidak mau kalah.
Dan Bujang berdiri di depan warga yang berkumpul di warung itu, dan berkata kata-kata yang kemudian dicatat Renung di bukunya dengan garis bawah:
"Dulu saya membawa orang-orang itu ke kampung ini, dengan mata saya, dengan jalan yang saya tunjukkan. Kalian tahu itu. Kalian tidak pernah melupakannya, dan kalian benar tidak melupakannya. Dan sekarang mereka datang ke rumah emak saya karena saya berhenti memandu mereka — dan kalian menjaga rumah itu seperti rumah kalian sendiri. Saya tidak tahu cara membayar ini, Wak. Saya hanya tahu satu: saya tidak mundur, dan saya tidak sendiri lagi — dan itu bukan karena saya berani. Itu karena kalian."
Dan warung itu menjawabnya dengan cara kampung yang tidak tertulis: dengan kopi yang diletakkan di depannya tanpa kata, dengan tangan-tangan di bahunya saat ia lewat, dengan dua pemuda yang dulu mengejeknya berdiri di jadwal jaga malam pertama rumah ibunya dengan parang di pinggang.
Renung menuliskannya malam itu, dengan tangan yang hangat di tengah perang yang dingin: hari ini ancaman mereka pecah di tengah kampung yang memilih berdiri, dan Bujang berdiri di tengahnya dengan air mata yang tidak ia sembunyikan lagi. Mereka melempari rumah seorang ibu dengan sling dan kertas cetak, dan kampung menjawab dengan jadwal jaga di papan warung dan dua pemuda yang dulu mengejek berdiri dengan parang. Ancaman hanya bekerja pada orang yang berdiri sendirian. Dan tidak ada lagi yang berdiri sendirian di kampung ini.